
“Avella, lihat ini,” ucap Thisaly dengan antusias. Kakinya menginjak satu lingkaran rumput yang tak seimbang. Avella dapat melihat dengan jelas bahwa satu petak itu bergoyang-goyang.
Jangan-jangan, rumor itu benar adanya!
Avella berjalan menuju area yang ditunjukkan oleh Thisaly. Ia berlutut. Benar, rumput di lingkaran ini seakan tumbuh pada tanah yang berbeda dari rumput di sekitanya. Ia menyibak rumput buttercup itu, mencapai lapisan tanah yang keras. Ia menggalinya. Tapi tak berhasil. Seakan-akan tanah dan rumput di atasnya sudah memadat dan menyatu dengan sesuatu di bawahnya.
Avella meraba ke tepian lingkaran itu. Dapat! Sensasi dingin besi menyapa ujung jemarinya. Dengan sekuat tenaga, ia membukanya.
Lempengan besi dan bunga-bunga di atasnya itu pun terangkat, menampilkan terowongan hitam di bawahnya. Avella dan Thisaly sama-sama melihat lorong itu dengan tak percaya. Cahaya matahari membuat mereka mampu melihat bagian dalamnya, meskipun remang-remang. Ada sebuah tangga menuju ke bawah. Lantainya berupa batu yang disusun dengan rapi. Namun, tak terlihat benda apapun di dalamya.
“Apakah kita akan turun?” tanya Thisaly dengan mata berbinar.
“Um, kelihatannya tak ada orang. Jadi … turun?” jawab Avella dengan tak yakin. Baru setelah Thisaly menurunkan kakinya, Avella terkesiap. “Jangan, biar aku dulu yang turun. Nanti kamu menyusul setelah aku yakin tak ada hal berbahaya di bawah,” ucapnya. Biar sesemangat apapun ia, ia tak boleh membahayakan keselamatan Thisaly. Mau tak mau ia berpikir, kalau sampai terjadi sesuatu pada Thisaly, yang menangis tidak hanya Mrs. Icewings, tetapi seluruh penghuni desa.
Kesimpulannya, gadis kecil di hadapannya ini terlalu berharga.
Jadi, Avella mengambil langkah awal. Jantungnya berdegup kencang. Ia berharap akan menemukan sesuatu yang menakjubkan di bawah sana, dan berdoa supaya tak ada ular berbisa yang menunggunya di bawah tangga.
Lorong tangga itu lumayan sempit. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Kegelapan menyelimutinya. Hingga sebuah sinar menghampirinya dari atas. “Kamu bisa pakai Ariel,” kata Thisaly sambil memberikan senternya pada Avella.
Avella meraih senter itu, yang rupanya, merupakan sebuah mainan. Avella tertawa saat melihatnya. Itu adalah mainan seekor tupai yang memegang kenari yang bersinar. Anak-anak kecil memang selalu membawa sesuatu yang tak terduga saat mereka pergi. Sinar Ariel tak begitu terang. Tapi cahaya sekecil apapun dalam kegelapan akan sangat berharga. Setidaknya, Avella bisa memperkirakan anak tangga mana yang akan ia pijak.
Akhirnya, tibalah ia di ruangan bawah tanah ini. Lorong tangga melebar hingga membentuk ruangan persegi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di bawah sini. Bahkan tikus mondok pun tak terlihat, setidaknya dalam jangkauan cahaya Ariel. Avella memeriksa tiap sudut ruangan, menahan kengerian kalau-kalau ada sosok mengerikan yang menunggunya. Tapi tak ada, syukurlah.
“Thisaly, kamu bisa turun. Di sini aman,” kata Avella.
Gadis kecil itu pun menuruni tangga dengan lincah. Mungkin karena sejak bayi ia sudah merayap di jaring-jaring penghubung ruangan di Acornite Treehouse. Ia sampai di dasar lebih cepat dari Avella. Kelembaban dan bau lumut mulai menyapa hidungnya. Tangan Thisaly meremas gaun Avella.
“Tak ada apa-apa, kok,” ucap Avella sambil menyentuh bahu Thisaly. “Mungkin ruangan ini adalah bunker,” ucapnya.
“Apa itu bunker?” tanya Thisaly sambil mengarahkan cahaya Ariel ke sekeliling ruangan.
“Bunker adalah tempat persembunyian kalau terjadi bencana atau perang. Oh, ada papan di sini …”
Sebuah papan yang menempel di dinding menarik perhatian mereka. Jelas-jelas papan itu digunakan untuk meletakkan catatan. Ada banyak paku yang menancap serta potongan-potongan kertas yang tak rapi. Sepertinya, ada seseorang yang mengambil catatan itu dengan terburu-buru. Bulu kuduk Avella pun berdiri. Memang pernah ada orang yang tinggal di sini.
“Baiklah, ayo naik,” jawab Thisaly dengan nada suara bergetar.
Avella menarik napas dalam-dalam setelah menghirup udara segar di permukaan. Area lebar selalu membuatnya nyaman. Ia tak memedulikan rumput yang menggesek kakinya dengan kasar. Jelas bahwa berada di alam terbuka beratus-ratus kali lebih baik daripada sebuah ruangan sempit dan kosong di dalam tanah. Tapi, mengapa ada orang yang berpikir sebaliknya?
Mereka berjalan menuju tepian padang rumput. Burung-burung kecil beterbangan begitu melihat kedua gadis itu datang. Avella memeriksa keranjangnya. Untung saja, camilannya masih aman.
Ia menggelar kain putih di atas rerumputan, lalu mengeluarkan makanan dari keranjang satu persatu. “Aku bawa terlalu banyak camilan, kamu harus membantuku menghabiskan semuanya,” ucap Avella.
Thisaly mengangguk bersemangat. Mereka menikmati kue muffin bluberi dengan teh assam. Udara pagi bertiup dengan lembut, merayu helaian rambut kedua gadis itu keluar dari jalinannya.
“Menurutmu, apakah ruangan itu sebaiknya kita laporkan pada Mr. Fireboots?” tanya Thisaly.
Avella berpikir sejenak. Memang menyenangkan untuk memiliki ruangan rahasia untuk mereka saja. Namun, siapa tahu Mr. Fireboots di tengah-tengah kesibukannya masih bisa memuaskan mereka dengan menguak misteri ruangan itu. Orang dewasa selalu punya jalan mereka sendiri untuk menyelesaikan sesuatu. Lagipula, di Desa Acclais, tak ada rahasia yang akan bertahan lama. Selalu ada mata-mata yang penuh ingin tahu, dan berita tersebar cepat seperti menyebarnya cahaya matahari saat pagi tiba. “Kita katakan saja pada Mr. Fireboots. Mungkin ia tahu banyak tentang ruangan itu. Ia sudah hidup lebih lama daripada kita.”
“Benar. Rumah itu menurutku sangat aneh, Avella. Hanya satu ruangan saja tanpa dapur dan tempat tidur. Tak ada lampu juga. Rasanya seperti berada di alam lain. Sangat tak nyaman dan tak bisa disebut dengan rumah,” kata Thisaly.
“Yang kamu katakan itu benar. Aku percaya kalau kita di bawah sana sedikit lebih lama lagi, kita akan menemukan sesuatu. Hanya saja—“
“Suasananya sangat mencekam di dalam,” ucap Thisaly.
“Benar!” ucap Avella bersemangat. Ia tersenyum lebar. “Inilah mengapa aku ingin menjadi seorang petualang, Thisaly. Terlalu banyak hal yang belum kita lihat di dunia ini. Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kutemui, mengalami perjalanan yang mendebarkan, makan makanan yang belum pernah aku cicipi sebelumnya. Seperti ruangan tadi. Bisa jadi itu hanya sekedar bunker, atau rumah seseorang, atau malah markas milik organisasi rahasia!”
“Kamu akan pergi sebentar lagi, ya? Kamu sudah menyelesaikan pelajaran dengan Mrs. Moon. Dari yang kamu katakan itu terdengar sangat menyenangkan, tapi kalau harus meninggalkan rumah, pasti akan kesepian juga.”
“Benar, sih. Rasa ingin pulang pasti ada. Oleh karena itu banyak petualang yang menyerah sebelum tugas mereka selesai. Tapi, tenang saja. Aku sudah mengajak Cysther untuk ikut bersamaku! Ah, sebenarnya belum pasti juga, sih. Selain harus meminta izin pada ibunya, kita juga harus berkompetisi di akademi. Kalau kita berdua berhasil lolos, barulah kita akan memulai petualangan bersama!”
Thisaly mendengarkan penjelasan Avella dengan seksama. Ia memang merupakan gadis yang pintar. Namun, ada sesuatu yang kelabu di balik iris mata bulatnya. “A-apakah aku boleh bertanya?”
“Tentu saja. Apa yang mau kamu tanyakan?”
Bibir Thisaly bergetar. Terlihat bahwa keraguan sedang menguasainya. Kemudian, ia membuka mulutnya, suaranya lirih namun cepat. “Bagaimana kalau hanya Cysther yang lulus, sementara kamu tidak?”