Avella'S Adventure In Prisalia

Avella'S Adventure In Prisalia
A Secretly Shared Dream



“Tak mungkin. Aku tak sama sepertimu, Avella,” ucap Cysther. “Aku mungkin akan terpaku sampai mati kalau melihat harimau. Aku tak bisa berenang. Aku tak mudah memulai pertemanan. Lalu bagaimana kalau sekawanan lebah menyerangku? Bagaimana kalau kita diculik lalu dijual ke luar negeri?”


Mata Avella malah makin berbinar. “Kamu punya imajinasi, Cysther! Aku tahu kamu juga ingin memiliki kehidupan mendebarkan yang pastinya, lebih baik daripada kehidupan desa yang membosankan ini. Soal kebimbanganmu itu, aku yakin setelah kamu melihat dunia, kamu akan menemukan hal yang kamu benar-benar suka. Aku jamin, kamu tak akan menyesal dalam perjalanan nanti!”


“Aku tak bisa memutuskan sekarang. Lagipula, memangnya kamu yakin aku tak akan memberatkanmu?”


“Tentu saja tidak! Kamu adalah sahabatku meskipun kamu berubah jadi koala. Kita akan membantu satu sama lain dalam perjalanan dan menghadapi bahaya bersama-sama.”


Avella menempelkan pipinya pada permukaan meja. “Aku tak tahu. Ibu menyarankanku untuk tetap tinggal di rumah. Ia lebih senang kalau aku menekuni kegiatanku merajut dan mencoba untuk menjualnya. Ia juga berkata akan membayar seorang governess untuk menyiapkanku dengan pengetahuan kehidupan rumah tangga. Ia saja tak senang dengan keputusanku untuk belajar dengan seorang guru lagi.”


Memang tak banyak gadis yang memilih jalan seperti Avella. Meskipun sudah terjadi Revolusi Prisalia, namun masih banyak generasi lama yang menganggap para gadis lebih baik berada di dalam rumah saja. Oleh karena itu, tak jarang gadis yang memilih berpetualang akan direndahkan oleh mereka. Namun tekad Avella sudah bulat. Dengan dukungan dari ayah dan ibunya, ia merasa sangat bersyukur.


“Kamu pasti yang lebih tahu tentang hal ini. Kamu harus mendengarkan kata hatimu, Cysther, dan juga saran dariku. Aku akan sangat sangat senang kalau kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama.”


“Baiklah,” ucap Cysther sembari tersenyum. Ia mengangkat kepalanya. “Membicarakan hal ini membuatku lemas. Tapi Avella, aku ingin bertanya, memangnya kamu tak tahu kalau para petualang itu disebut dengan Sailor?”


Avella malah mengernyitkan dahi. “Tak tahu! Tapi kenapa disebut dengan Sailor? Aku tak pernah dengar bahwa mereka menjelajah menggunakan perahu.”


Cysther tertawa, sudah ia sangka, Avella selama ini tak tahu apa artinya Sailor. Gadis itu terlalu bersemangat ingin meninggalkan Acclais tanpa mencari tahu tentang prosedurnya. Mungkin sifat inilah yang membuat ibu Avella memberi gadis itu sebuah jurnal, supaya ia dapat menata pikirannya. Selain itu, belum pernah ada yang menjadi Sailor di desa Acclais, sehingga Avella tak mendapatkan gambarannya.


“Itu hanya sebuah julukan, tak secara literal, tapi secara figuratif. Artinya bekerja sama dengan teman untuk dalam menghadapi ombak kesulitan dalam perjalanan. Intinya, kamu tak akan sendirian, tapi akan diberikan teman satu tim. Seperti dalam sebuah kapal, pasti ada beberapa pelaut, kan? Tak hanya satu. Dan semuanya saling bekerjasama, sehingga perjalanan mereka bisa sampai tujuan, “Jelas Cysther. “Kebetulan pamanku adalah seorang Sailor, aku akan memberitahumu lebih banyak. Para calon Sailor akan menjalani masa pelatihan selama enam bulan di provinsi nantinya. Pelatihan ini gratis. Murid-murid yang berhasil mendapatkan gelar Sailor akan diberikan dana untuk melakukan perjalanan selama satu tahun. Para Sailor harus menulis dalam jurnal tentang apa yang mereka pelajari setiap hari. Dan pamanku pernah berkata kalau kamp pelatihan ini sangat kompetitif dan sulit.”


Giliran Avella yang menganga, lalu tubuhnya seakan meleleh di meja. “Aku tak tahu kalau ada hal serumit itu. Maksudmu, aku harus menunggu lima belas tahun lebih enam bulan untuk berpetualang? Astaga! Lama sekali.”


“Yah, tak ada yang mau kan, melepas para pemuda tanpa ada pelatihan dulu ke alam liar. Di luar sana sangat berbahaya. Setidaknya mereka harus dibekali dengan ketrampilan mempertahankan diri dulu. Selalu ada harimau, ular, dan monyet liar di tiap arah yang ditempuh. Kamu bisa sih, melakukan perjalanan sendiri. Tapi akan sangat beresiko. Dan kalau menjadi Sailor, di akhir tahun nanti akan ada penilaian dari Istana. Pemenangnya akan menjadi Sailor Prisalia! Banyak sekali keuntungan yang akan ia dapatkan. Mulai dari uang sampai voucher gratis seluruh penginapan dan restoran di seluruh Prisalia seumur hidup.”


Mata Avella berbinar. Hadiah yang disebutkan Cysther sangat menggoda! “Ini betulan, kan?”


“Tentu saja! Paman selalu bercerita pada kami tentang berbagai hal yang ia alami selama perjalanan. Ia menemukan sebuah bunga langka, melihat burung bangkai, dan lain-lain. Katanya banyak sekali pelajaran yang ia dapatkan.”


Avella mengamati Cysther yang sedang bersemangat menjelaskan. “Kamu kelihatan tertarik, Cysther. Mengapa kamu tak ingin menjadi Sailor?”


“Cysther! Tak tahukah bahwa kamu tadi membantuku. Aku mungkin memang lebih tangkas, tapi kalau bukan karena pengetahuanmu, aku pasti sudah berperilaku impulsif. Bisa jadi aku akan menyelinap keluar Acclais pada malam ulang tahun kelima belasku karena ketaksabaranku. Aku yakin, kita akan melengkapi satu sama lain. Aku mempercayaimu, Cysther. Kuharap kamu juga percaya pada dirimu sendiri.”


Cysther mengerjapkan matanya. Air mata menggantung di bulu matanya seperti embun yang menghiasi daun. “Aku akan mencobanya.”


Avella tersenyum. Ia menghambur pada Cysther dan memeluknya. “Benar ya, kita akan menjadi Sailor bersama! Kita akan menjadi Sailor Prisalia dan bisa makan-makanan enak di semua restoran. Kita juga akan jadi kaya. Kamu tak perlu memikirkan uang untuk membeli benang sebanyak-banyaknya untuk membuat rumah dari rajutan sebesar apapun yang kamu mau.”


“Hahaha, iya! Aku akan mengatakannya pada ibu dulu. Jangan terlalu berharap.”


Kedua gadis itu berguling-guling di lantai. Rambut berwarna auburn dan cyan saling bertaut. Impian dan harapan melambung tinggi, melintasi kubah rumah keluarga Cysther yang meneteskan air kolam. Tak peduli bahaya dan kesulitan yang menantang, asalkan ada satu sama lain, semuanya akan baik-baik saja.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Avella tertawa dan bangkit dari tubuh Cysther. Ia menata rambut auburnnya yang berantakan. Ibu Cysther masuk ke dalam kamar sambil membawa sepiring kue dan dua buah cangkir teh. Harumnya menyatu dan menggoda perut kedua gadis itu.


“Kupikir kalian tiba-tiba jadi usia lima tahun lagi. Aku hampir memanggil penyihir,” canda ibu Cysther dengan wajah datar. “Ada paket untukmu, Cyster,” ucapnya sembari menyerahkan sebuah paket yang dibungkus dengan kertas cokelat.


Setelah mereka berdua lagi, Cysther mengambil sekeping kue buttercup dan tersenyum penuh arti pada Avella. “Ibuku belum pernah membuat kue ini sebelumnya. Ini resep baru.”


Avella balas tersenyum. “Ia sepertinya benar-benar tak ingin kehilanganmu. Meminta izinnya akan sulit.”


Cysther mengangguk dan tertawa. Ia membuka paketnya. Rupanya ada dua buah buku di dalamnya. Ia mengambil salah satu dan memberikannya pada Avella. “Ini untukmu.”


“Untukku? Apa ini?” ucap Avella tak percaya sembari menerima buku itu.


“Compiled Journals of Courageus Sailors. Ini adalah kumpulan catatan perjalanan terbaik oleh tiap Sailor tahun lalu. Ini diterbitkan secara resmi oleh Prisalia. Kamu bisa membaca panduannya di halaman-halaman depan. Seperti yang kuduga sebelumnya, kamu belum tahu tentang sistem Sailor. Jadi aku juga membelikannya untukmu.”


Memiliki sahabat sebaik Cysther memang sebuah keberuntungan yang tak terkira. Kadang-kadang, gadis itu tahu tentang apa yang ia butuhkan dibandingkan dirinya sendiri. “Terimakasih. Kamu benar-benar baik.”


Kedua gadis itu menghabiskan hari dengan membaca buku itu. Tertawa dengan kisah banteng yang dikira babi hutan, dan ikut sedih saat seorang teman terperosok ke dalam jurang dan meninggal dunia. Para Sailor mengalami kehidupan yang tak terduga. Dan hanya harapan dan kerjasama yang dapat menguatkan bahu dan hati mereka.