Avella'S Adventure In Prisalia

Avella'S Adventure In Prisalia
Twins Time



Bunga matahari di tepi kolam telah menghadap ke arah barat saat Avella menginjakkan kaki di rerumputan tepi danau. Mengobrol dengan Cysther selalu membuatnya lupa waktu, mungkin karena rumah bawah airnya yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda waktu berubah. Selamanya tetap terang dengan lampu-lampu dari tiram atau cahaya yang menghiasi rumput laut. Atau obrolan mereka yang terlalu seru. Cysther mungkin kelihatan pendiam, tapi kalau sudah dekat, ia akan jadi orang lain yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Ia selalu punya hal lucu untuk dikatakan, bereaksi dengan ekspresif, dan kepolosannya pada sesuatu yang akan membuat Avella akan tertawa keras.


Acclais di sore hari pada musim semi memang indah. Cahaya matahari memberikan lapisan keemasan pada permukaan atap-atap rumah dan pucuk tumbuhan. Avella tergoda untuk melukis sekali lagi. Namun mempertimbangkan kemarahan ibu, akhirnya ia terus mengayunkan kakinya.


Alunan biola menemani langkah kakinya. Avella mendongak, dan melihat seorang gadis di atas sana. Thisaly. Gadis itu tengah duduk di dahan pohon sembari memainkan biola, seekor tupai tertidur di dekat roknya. Ia tersenyum lebar saat melihat Avella, permainannya berhenti. “Kau tak boleh mendengar ini, ini untuk festival besok,” ucapnya dengan senyuman nakal.


“Sayang sekali sudah terlambat, aku sudah mendengarnya dari tadi,” kata Avella. “Menurutku, kamu akan membuat semua penduduk Acclais mabuk dengan musikmu besok.”


Thisaly mengulum senyum, pipinya memerah. “Semoga benar seperti itu. Aku akan senang kalau penduduk desa bisa terhibur karena permainanku.” Ia memang sangat manis. Gadis berumur sebelas tahun itu memang amat disayangi penduduk desa. Selain karena tingkah lakunya yang menyenangkan, juga karena fitur wajahnya yang membuat seseorang takjub sekali melihatnya. Kedua matanya bulat dengan jarak yang dekat, sehingga menghasilkan kesan imut. Bibirnya semerah ceri, dan hidungnya kecil. Pada tiap perkumpulan, ia akan jadi pusat perhatian. Berbeda dengan Avella dan Cysther. Bagi mereka, Avella terlalu liar, dan Cysther terlalu membosankan.


Saat Avella melangkah menjauhi rumah pohon keluarga Thisaly, samar-samar suara permainan biola yang merdu terdengar lagi. Tak disangka mengingatkan Avella tentang pelajaran musik yang pernah ia terima dari seorang governess. Apakah ia akan bisa selancar Thisaly kalau ia serius berlatih dulu?


Namun Avella segera menghempaskan pikirannya begitu ia sampai di Lilacbell, rumahnya. Ia ingat hanya mampu melihat dunia luar selama berjam-jam selama pelajaran bermusik, dan itu membuatnya kesal. Not-not balok membuatnya pusing. Dan ia tak bisa memainkan lagu paling sederhana sekalipun, akhirnya ibu memberhentikan pelajarannya.


Lilacbell Cottage mungkin tak terlalu unik jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di Acclais. Kalau dilihat-lihat, hanya seperti pondok perkebunan pada umumnya, dengan dinding batu dan semak lilac di sekeliling rumah. Kawanan angsa liar bahkan berjalan di depan rumah menambah suasana. Namun, sebenarnya tak seperti itu. Saat masuk ke dalam, kamu mungkin perlu menanyakan peta panduan dulu supaya tak tersesat. Lilacbell memiliki mekanisme unik yang hanya dipahami oleh keluarga mereka. Seperti katrol sederhana pada papan untuk mengantarkan seseorang dari lantai dasar ke lantai dua. Atau lorong rahasia yang mengantarkan ke dalam ruangan rahasia. Masih banyak misteri-misteri lain yang hanya diketahui oleh ayah Avella (sebagai pembangunnya), sehingga warga desa tak mau lagi menyarankan pertemuan di Lilacbell (hal yang sangat disyukuri ibu Avella), karena tak hanya sekali dua kali mereka mengalami insiden di rumah itu.


Avella memeluk Ibu yang sedang memasak untuk makan malam. “Harumnya sangat enak. Ibu masak apa?” tanyanya.


“Kaserol kentang, kamu suka, kan?”


“Suka! Apapun yang Ibu masak aku pasti suka. Aku mau bilang bahkan kalau Ibu masak lumpur pun, aku— AW! Kenapa Ibu memukulku?”


“Kamu selalu bicara hal-hal aneh. Lihat apa kamu masih mau makan kalau Ibu benar-benar masak lumpur. Sudah sana mandi, lalu bantu Ibu menyiapkan makan malam.”


Avella pun melakukan apa yang disuruh ibu. Ia masuk ke dalam kamarnya, yang terlihat seperti ruangan di dalam kanvas karena lukisan-lukisannya yang memenuhi dinding. Terdapat sebuah ranjang di sudut ruangan, dengan tirai lebar yang menutupi pandangan. Di sudut ruangan, ada sebuah tangga kayu. Avella menaikinya setelah ia selesai mandi.


Di belakang meja itu ada sebuah pintu, itu merupakan pintu kamar Ash. Avella membukanya. Ash tengah membaca buku, tentu saja. Tak sadar dengan kehadiran seseorang yang diundang di kamarnya. Semenjak lulus dari kelas Mr. Marsh ia menjadi senang menenggelamkan diri pada buku-buku. Ia hanya keluar sesekali, untuk meminjam buku ke perpustakaan desa, atau membeli buku, atau bermain dengan teman-temannya kalau mereka memaksa. Meskipun mereka kembar, tetapi mereka belajar dari guru yang berbeda, sehingga ia tak terlalu akrab dengan teman-teman Ash.


“ASH!” pekik Avella, yang menjatuhkan dirinya pada kasur Ash.


“SETAN MANDI!” teriak Ash dengan mata membelalak. Ia sungguh terkejut dengan kucing hitam yang jatuh ke kasurnya tiba-tiba ini. Kalau saja ia bukan saudarinya, sudah ia pukul dahi orang itu dengan buku tebalnya.


Avella malah tertawa liar. Ia memegang perutnya dan kakinya menjejak-jejak. Ia lihat sekali lagi rona muka Ash, lalu kembali tertawa dengan lebih liar dari sebelumnya. “Hahaha, setan mandi. Bukannya kalau setan mandi mereka artinya bunuh diri, ya? Mereka kan terbuat dari api, hahaha.”


“Diam ya, diam. Atau akan kukunci pintu ke arah kamarmu itu. Jangan bikin spreiku berantakan. Astaga, kakimu pasti kotor habis keluyuran seharian,” keluh Ash dengan kesal. Helai rambut hitamnya turun mencapai mata bersamaan dengan hatinya yang mencelos membayangkan kasurnya penuh dengan lumpur dari kaki Avella.


“Enak aja, aku sudah mandi, ya!” ucap Avella di sela tawanya. “Dan aku bukannya keluyuran, aku main ke rumah Cysther. Dan di sana aku dapat pencerahan! Dengarkan aku. Jadi, aku serius soal aku mau melakukan petualangan, karena aku akan jadi Sailor. Dan aku tak perlu khawatir soal biaya lagi, karena semuanya gratis. Kalau aku berhasil menulis jurnal dengan baik, nanti aku bisa menang dengan gelar Sailor Prisalia. Aku bisa makan dengan gratis seumur hidup! Oh iya, kamu mungkin nggak tahu apa itu Sailor, jadi, Sailor itu—“


“Aku udah tahu,” ucap Ash setengah tertawa. “Kamu baru menyebutnya sekarang, jadi, selama ini kamu nggak tahu, ya?”


“Aku tahu, aku tahu— yah, aku ngga tahu, sih,” desah Avella, mulai menampilkan wajah menyesal. Bagaimana bisa selama ini ia selalu berkata tentang pergi berpetualang, tapi tak tahu sama sekali soal Sailor. Mungkin ada yang salah dengan pola pikirnya. Atau … Avella melirik tumpukan buku di sisi ranjang Ash, ia yang selama ini malas membaca informasi.


“Sudahlah, lagipula kamu sudah tahu sekarang. Nggak ada bedanya. Lalu, apa lagi yang mau kamu ceritakan?” tanya Ash.


Mata Avella berkilau lagi. Ia bangkit dan duduk menghadap Ash, tangannya memegang kedua lengan pemuda itu. “Aku dan Cysther berjanji akan jadi Sailor bersama!”


Lalu mata Ashfern menggelap.