Avella'S Adventure In Prisalia

Avella'S Adventure In Prisalia
Shining Shyskies Festival



“Kau nggak memaksanya, kan?”


Avella menggeleng lelah.


“Nggak menjebaknya juga?” tanya Ash dengan pandangan menuduh.


“Nggak! Harus berapa kali kubilang, sih? Dia ingin jadi Sailor dengan keinginannya sendiri. Jadi kita berjanji akan pergi bersama. Yah, meskipun katanya masih harus menunggu izin ibunya. Menurutmu, ibunya bakal membolehkannya?”


Ash mengalihkan pandangannya dari Avella, ia memang terbiasa berpikir dengan melihat ke sekitar. Lalu melihat kembarannya lagi. “Nggak,” katanya dengan seringai lebar. “Mungkin karena kamu paksa jadi dia berkata seperti itu. Kesimpulannya, dia ngga akan meminta izin ibunya. Dan karena itu, ibu Cysther tak memberikan izin apa-apa karena memang dia tak tahu apapun.”


Menyebalkan! Avella benar-benar tak mengerti bagaimana warga desa berkata bahwa Ash adalah pemuda yang menawan. Tak lihat saja sikapnya kalau bersamanya, hanya tahu cara membuatnya kesal.


“Memangnya kenapa kamu tak percaya, sih?”


“Habisnya selama ini yang kulihat gadis itu tak terlalu suka keluar rumah. Aku hanya tak bisa membayangkan ia tiba-tiba ingin jadi Sailor, meninggalkan kenyamanan Sea Glass Bubble. Ah, bukan itu saja, sih, dari kecil kamu seperti punya ‘kutukan’ untuk membujuk seseorang. Bayangkan, kalau kamu jadi aku, apa kamu tak curiga?”


“Tidak,” jawab Avella tanpa repot-repot berpikir. “Ah bagaimana kalau begini, jadi sebenarnya … Cysther awalnya tak ingin jadi Sailor karena tak ingin memperlambatku. Dia berkata seperti itu tadi.”


“Oh, kalau begitu aku percaya,” kata Ash menyeringai. “Itu sesuai dengan karakternya. Memang tak terbayangkan, tapi semua orang bisa berubah ke hal yang sama sekali tak diduga. Ah, tetap saja, Sailor itu aktivitas yang berat. Aku pernah dengar ada orang yang sudah lulus dari pelatihan dengan peringkat tinggi tapi kembali ke rumah belum sebulan berangkat menjelajah. Ada banyak beban yang ditanggung, serta bahaya yang mengintai di sepanjang jalan. Lalu bukannya gratis, Ella, tapi di awal akan diberi uang saku yang sebenarnya tak akan cukup dalam waktu satu tahun. Jadi dalam perjalanan harus benar-benar berhemat, padahal kan, namanya perjalanan, ada saja sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Itulah kenapa banyak yang menyerah sebelum satu tahun masa tugas.”


Mendengar perkataan Ash, Avella mau tak mau mulai menyadari bahwa hal yang akan ia hadapi tak akan seindah yang ia bayangkan. Ia tak akan makan masakan ibu yang lezat, bahkan makanan biasa saja mungkin tak akan ia bisa cicipi kalau keuangan menipis. Belum lagi dengan nyamuk yang akan mengganggu mereka saat tidur. Dinginnya air di pagi hari saat mengenai kaki. Serta salju yang terlalu dingin hingga membuat ujung jarinya mati rasa dan bibirnya membiru. Lalu ancaman penyamun, teror para pembunuh, serta tipu daya penipu, yang pastinya akan mengincar para Sailor muda yang naif dan membawa uang saku banyak.


“Sepertinya perlu kusiapkan matang-matang,” kata Avella sambil mengernyit. “Tapi jangan ragukan Cysther, dia sangat cerdas dan kreatif. Kita pasti bisa saling membantu di perjalanan. Lagipula, bukannya anggota kelompoknya tak hanya kita saja? Aku akan mencari orang lain yang mau jadi Sailor di Acclais.”


“Kamu mau ‘memantrainya’.”


Avella tertawa. “Kau tahu, bukan salahku kalau aku terlalu memikat sampai orang-orang menuruti perkataanku,” candanya. “Lalu, apa yang kamu mau lakukan setelah ulang tahun keenam belas kita? Kamu masih bersikeras tak mau jadi Sailor?”


Mata Ash menggelap lagi, bibirnya terbuka. Namun terdengar teriakan ibu yang menyuruh mereka turun. Avella melihat Ash lagi, tapi pemuda itu sudah beringsut turun dari kasur. “Kau mau terus di situ? Ayo turun.”


ʕ ˵• ₒ •˵ ʔ


Shining Skysies Festival adalah festival tahunan yang diadakan di Shyskies Meadow di Acclais. Setiap malam pertengahan musim semi mereka akan merayakannya. Untaian lampu menghiasi pohon-pohon di sekeliling padang rumput. Sebuah panggung didirikan pada satu sisi, dengan bunga-bunga bulan bercahaya yang menghiasi tepiannya.


Festival ini dikhususkan untuk menikmati indahnya bulan purnama. Shyskies yang pada malam hari gelap gulita, saat ini menjadi bercahaya dengan cahaya bulan. Avella datang bersama keluarganya, sama sekali tak berpikir tentang kodok yang ia temui pagi tadi yang pastinya akan kesal karena tiba-tiba banyak manusia yang melewati tempat tinggalnya.


Musik mengalun di udara. Avella melambai pada Cysther, yang mencolok dengan rambutnya yang dicat warna cyan. Gadis itu kelihatan cantik, memakai gaun putihnya, serta jepit rambut bintang laut yang selalu ia gunakan. Ia mengajak keluarganya berada di dekat keluarga Avella.


“Kamu kelihatan cantik, aku takut dewi bulan akan mengutukmu karena iri,” ucap Avella, tak repot-repot berbisik karena suasana sudah sangat ramai. Ibu-ibu dengan wajah merah bergosip dengan tawa melengking. Anak-anak kecil berkejaran, bahkan ada yang sudah menangis saja.


“Sssh, jangan bicara keras-keras. Aku takut dewi bulan akan mendengar idemu,” kata Cysther.


Mereka mengobrol beberapa saat hingga akhirnya Mr. Fireboots, kepala desa Acclais, naik ke atas panggung dan menyampaikan ucapannya. Setelah itu, tibalah acara utama, yaitu pertunjukan musik dengan para penduduk desa menikmati sambil memakan kudapan. Kerlipan bintang dan lampu menemani mereka. Avella melihat ke belakang ke arah hutan, berkali-kali merasakan ada yang melihat dari dalam kegelapan sana.


“Jangan dilihat, atau mereka akan terlalu malu dan pergi. Pura-pura saja kamu tak merasakan keberadaan mereka.” Imajinasi Avella mengarah pada peri-peri hutan yang tertarik pada musik. Namun segera diruntuhkan oleh Cysther. “Mereka hewan-hewan liar. Kata ayahku, tak hanya manusia yang senang merayakan festival ini, tapi juga para hewan.”


Thisaly memainkan biolanya dengan menawan, membuat padang rumput dipenuhi bisikan penuh pujian. Ia mengenakan gaun bertumpuk berwarna ungu, membuatnya terlihat seperti peri musim semi. Setelah ia turun dari panggung, seorang gadis lain naik. Ia membawa sebuah gitar dan usianya sebaya dengan Thisaly. Avella pernah melihatnya beberapa kali, namun tak terlalu akrab. Kalau tak salah, namanya Xylia. Ia mengenakan gaun yang berwarna hitam dengan topi bertepian bundar berwarna sama, dan dua helai bulu burung gagak menyembul di belakang.


“Selamat malam, warga desa Acclais. Aku akan menyanyikan The Sisters of Dark Forest, semoga kalian menikmati,” lalu ia mulai menggerakkan jemarinya pada gitarnya. Suaranya mengalun indah. Sayangnya, tiba-tiba musik iringannya bersuara aneh lalu hilang. Gadis itu terpaku saat melihat senar beberapa senar gitarnya putus.


Warga desa terkesiap, menyaksikan peristiwa tak biasa ini. Beberapa orang memang akan mengalami kecelakaan di panggung, namun tak sefatal yang dialami Xylia. Melihat hal ini, tentunya mereka akan membicarakannya selama berhari-hari tanpa mengindagkan topik lain.


“Nona Xylia, sepertinya gitarmu rusak. Kamu bisa meminjam gitar milik kontestan lain supaya bisa terus bermain. Tak apa-apa,” ucap pemandu acara.


Namun, Xylia seakan punya pikiran lain. Matanya menatap lurus-lurus pada Thisaly, yang duduk dengan manis seperti putri kecil dalam dongeng. Jarinya menunjuk ke arahnya. “Kamu yang merusak gitarku!”