Avella'S Adventure In Prisalia

Avella'S Adventure In Prisalia
Two Dancing Souls



Avella mencuci piring sambil bersenandung. Semalam ia sudah memikirkan ide ala-ala detektif untuk memecahkan kasus gitar ini. Namun, ia tak dianugerahi kecerdikan dan tipu muslihat seperti Ash. Jadi ia kembali pada bakat naturalnya, yang Avella tahu, cara ini kemungkinan besar akan berhasil!


Avella sibuk membayangkan adegan yang akan terjadi hari ini, tak mempedulikan suara ayah dan Ash di belakang rumah. Ia mengelap satu persatu piring, lalu ia letakkan pada rak. Setelah itu, ia mengusap tangannya yang basah pada celemek.


“Semuanya sudah jadi, Ibu letakkan dalam keranjang, ya,” kata Mrs. Liesl Silverflip, sembari menata satu persatu kue pesanan Avella. Ada setoples biskuit, dua buah muffin, dua buah apel, dan satu teko teh dengan dua cangkir kecil. “Tapi sebenarnya ada apa, sih? Ini untuk Cysther, ya?”


“Bukan! Aku ingin—ah, ini rahasia. Tapi kalau berhasil aku akan beritahu Ibu. Tenang saja, Ibu pasti akan bangga padaku.”


“Salah,” ucap Liesl tiba-tiba. “Kalau kamu tak berhasil, kamu juga berhutang cerita pada Ibu. Ingat, Ibu sudah bangun lebih pagi untuk membuatkanmu macam-macam ini.”


“Baik, baik, baik Ibu,” tawa Avella. Ia mengambil keranjang piknik yang telah ditutup dengan sapu tangan oleh ibunya. Rupanya keranjang itu cukup berat. Setelah ia menyesuaikan genggamannya pada gagang keranjang, ia mencium pipi Liesl. “Nah, aku berangkat dulu, ya! Aku tahu harusnya aku berpamitan dengan ayah. Tapi ia sedang berdebat dengan Ash, jadi sudah pasti tak akan mendengarku. Dah, Ibu!”


Avella berjalan melintasi barisan lilac yang tumbuh di depan rumah. Udara pagi hari ini sangat segar. Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Embun pagi hinggap di ujung rerumputan, menunggu waktu mereka untuk meluncur ke tanah atau menguap karena sinar matahari. Acornite Treehouse adalah tetangga paling dekat Lilacbell Cottage. Suara merdu biola mulai terdengar. Thisaly memang selalu berlatih musik pagi-pagi, bersamaan dengan kicauan burung-burung flycatcher saat terbang mencari makan.


“Thisaly! Selamat pagi,” sapa Avella.


Gadis itu menjawab sapaannya. Seekor tupai juga merunduk dari balik dahan, memamerkan moncong berkumisnya. “Selamat pagi, Avella. Kamu membawa keranjang piknik, tumben sekali. Apakah kamu akan melukis lebih jauh dari biasanya?”


“Tidak. Aku tak bawa peralatan melukisku hari ini, lihat, kan? Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang rahasia. Kalau kukatakan keras-keras aku takut itu tak akan jadi rahasia lagi.”


“Oh, apa itu? Jangan buat aku penasaran. Aku akan turun,” ucap Thisaly sembari menyandarkan biolanya pada pohon. Lalu gadis kecil itu menuruni tangga dan menginjakkan kakinya pada rerumputan.


Setelah Thisaly turun dan menatapnya dengan mata bulatnya, Avella berbisik ke telinganya. “Apakah kamu pernah dengar bahwa selama ini ada seseorang yang tinggal di bawah Shyskies Meadow?”


“Belum pernah,” kata Thisaly, tiba-tiba merasakan degup jantungnya yang lebih cepat. Hal-hal misterius selalu membuatnya gugup. “Apakah yang kamu katakan benar? Tapi kenapa ia tak pernah keluar? Apa ia tak ingin makan kue duchess di Ellory Bakery? Dan apa ia tak takut pada tikus tanah?”


Avella tertawa. “Aku tak tahu pasti jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu itu. Yang aku tahu, kalau rumor itu benar adanya, ia pasti mendengar permainan biolamu semalam. Ia harusnya ingin keluar, tapi terlalu malu untuk bertemu banyak orang. Dan omong-omong, selamat ya, untuk kemenanganmu semalam.”


“Terimakasih,” ucap Thisaly dengan senyum kaku. Pandangannya teralih tak nyaman. Ia pasti mengingat kejadian semalam, saat dituduh oleh Xylia merusak gitarnya. “P-perkataan Xylia semalam itu tak benar.”


Tuh, kan. Avella tersenyum dan mengusap rambut cokelat Thisaly. “Aku percaya. Jangan terlalu dipikirkan. Tak ada yang tahu diri kita selain kita sendiri, Thisaly. Tak usah takut dengan tuduhan orang lain. Yang penting, kamu tahu benar bahwa kamu tidak bersalah. Pandangan orang lain tak akan mengubah apapun.”


Thisaly mengangguk-angguk setuju. Lalu, matanya menelisik keranjang piknik yang dibawa Avella. “Dengan apa kamu akan mencari rumah itu? Kuharap kamu tak akan menggalinya. Ka-kalau aku jadi dia, aku akan marah sekali kalau tiba-tiba ada orang yang menggali rumahku.”


“Tentu saja tidak, hahaha. Bisa jadi dia sepemarah tikus mondok. Aku takut akan disekap dalam rumahnya. Tapi, tiap rumah pasti memiliki pintu masuk. Aku akan mencarinya.”


“Aku tak menyangkal. Tapi … aku sudah membawa camilan dan teh. Pekerjaan akan terasa tak terlalu menyedihkan kalau ditemani makanan enak, bukankah begitu? Kamu mau ikut, Thisaly?”


Gadis itu terlihat berpikir, memutar-mutar tumit sol sepatu birunya. Ia memang kelihatan ingin ikut, tapi ada sesuatu yang menahannya.


“Dengan bayaran muffin bluberi khas Lilacbell Cottage?”


“Aku mau!” seru Thisaly, memamerkan keceriaan di wajah manisnya.


Avella tersenyum puas. Ah, anak kecil mana yang akan menolak diberikan camilan manis. Avella bahkan berpikir bahwa anak-anak kecil secara kolektif memimpikan berenang di kolam permen buah dan makan cupcake sepuasnya. Itulah yang ia simpulkan tiap kali melewati Ellory Bakery. Karena selalu ada anak kecil yang menangis sambil menarik-narik rok ibunya.


“Baiklah, kamu minta izin dulu ya, pada Mrs. Icewings,” kata Avella.


Dengan patuh, Thisaly menaiki tangga menuju rumah pohonnya. Keluarga Icewings memiliki rumah pohon yang megah dan menawan. Ada beberapa ruangan yang tersebar dari dahan paling rendah hingga dahan paling tinggi. Semuanya dihubungkan oleh tangga ataupun lorong kayu. Beberapa saat kemudian, Thisaly keluar dari pintu dengan pipi memerah.


“Kata Ibu boleh, tapi harus kembali untuk makan siang,” ujarnya.


“Bagus! Ayo kita mulai,” ucap Avella.


Mereka pun berjalan menyusuri jalan berbatu lebar yang merupakan jalan utama Desa Acclais. Matahari bersinar cerah, namun segera ditutupi oleh awan-awan putih, yang membuat suasana pagi itu lumayan teduh. Di kanan jalan, kabut berkumpul menjadi satu. Tapi sebenarnya, udara sama sekali tidak dingin. Dan sebenarnya, kabut itu adalah kabut buatan. Di tengah-tengah kabut itu adalah rumah Mr. Moss. Kabut itu baru akan menyebar kalau Mrs. Moss sudah mengerjakan seluruh aktivitas paginya, mulai dari memasak, mengelap seluruh kaca, sampai menggosok sapi peliharaan mereka.


Avella mengamati kabut itu. Pantas saja gerobak Mrs. Ellory sampai menabraknya.


Mereka berjalan menyeberangi aliran sungai kecil. Hingga akhirnya mereka tiba di Shyskies Meadow. Avella meletakkan keranjangnya di atas tunggul pohon. “Katakan pada teman-teman kecilmu, ya, Thisaly, mereka tak boleh mencuri.”


“Tentu!”


“Nah, ayo kita menjelajahi padang rumput ini. Kalau kamu menemukan satu blok rumput yang aneh, katakan padaku. Itu pasti jalan masuk menuju rumah di bawah tanah. Lebih baik jangan mencari yang dekat pohon, karena siapapun orang itu, ia pasti tak mau tidurnya terganggu akar pohon yang tumbuh dan menerobos tembok rumahnya.”


Thisaly terkikik. “Baiklah.”


Mereka pun melakukan pencarian. Dan Avella sesungguhnya amat ingin mengambil buku jurnalnya di rumah dan melukis saja. Rumor yang ia dengar itu pasti bohong. Tak mungkin ada orang yang tinggal di dalam tanah selama lebih dari lima belas tahun dan tak keluar lagi. Mencari satu blok rumput yang aneh di antara sekian banyak tumbuhan di padang rumput berhektar-hektar ini akan sangat sulit. Namun, ia harus melakukan yang terbaik kalau Thisaly juga melakukan yang terbaik.