Avella'S Adventure In Prisalia

Avella'S Adventure In Prisalia
The Drunk Butterfly



Avella menyapukan ujung kuas pada salah satu halaman jurnalnya. Selesai sudah lukisannya! Avella tersenyum lebar, menjatuhkan punggungnya pada rumput-rumput meadow yang tebal. Ia mengangkat buku jurnalnya untuk mengamati lukisannya sekali lagi. Bisa dibilang, ini adalah lukisannya yang paling ia sukai di tahun ini.


Namun senyum Avella memudar. Lukisan kupu-kupu yang sedang mengambil nektar dari setangkai bunga itu memang mengesankan. Tapi berapa kali ia sudah melukis tentang kupu-kupu? Ia ingin melukis hal-hal lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia ingin menangkap hewan-hewan menakjubkan lain dalam halaman bukunya.


Avella tak sabar segera berusia lima belas. Ibu bilang, saat itu ia bisa bertualang. Ia bisa keluar dari desa Acclais dan pergi kemana pun yang ia mau.


Avella menaikkan kakinya pada tunggul pohon, saat ia merasakan sentuhan lembut di telapak kakinya. Ia buru-buru bangkit, dan terkejut melihat seekor kupu-kupu biru yang masih hinggap di atasnya sembari menimba nektar dari bunga yang Avella letakkan di situ.


“Kau masih di sini? Hahaha, kamu bisa pergi. Aku sudah selesai melukismu. Terimakasih!” ucap Avella sembari menggesekkan jemarinya pada sayap lembut kupu-kupu itu. Namun, si kupu-kupu hanya menggetarkan sayapnya. Kepalanya tenggelam dalam lingkup mahkota bunga amsonia. “Baiklah kalau kamu masih mau menikmati sarapanmu. Tak ada orang yang suka kalau sarapannya diganggu, aku yakin kupu-kupu juga seperti itu. Kalau begitu aku yang akan pergi dulu. Aku harus menemui Cysther, dia tak boleh dibiarkan tenggelam dalam rajutannya sepanjang hari. Kau setuju, kan?”


Avella merapikan buku dan peralatan melukisnya. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan Shyskies Meadow. Ia mengangkat roknya begitu melewati aliran air sungai. Seekor kodok duduk di salah satu batu dengan mata terpejam. Baru saat kaki Avella tak sengaja mencipratinya dengan air, matanya terbuka, dan menatap Avella dengan kesal.


Tak berapa jauh dari aliran air, ia tiba di sebuah kolam alami. Rumput red fercue mengelilinginya. Avella menuju sebuah titik semak dan menyibak rumput yang menghalanginya. Ada sebuah tiram berwarna putih di dasar tanah. Avella membukanya.


Dalam tiram itu, ada sebuah mutiara. Avella pun menekannya, lalu menunggu beberapa saat.


Air kolam mulai beriak. Kemudian sebuah kubah merah muda muncul dari dalam air. Sebuah jembatan kini muncul dari tepi kolam menuju kubah tersebut. Avella melambaikan tangannya pada Cysther yang menyapanya dari salah satu jendela.


Rumah-rumah di Acclais memang masing-masing memiliki keunikannya tersendiri. Arsitek adalah salah satu pekerjaan yang paling maju dan kompetitif di Negeri Prisalia. Secara alami, kebanyakan penduduk Prisalia memiliki kemampuan merancang dan membangun bangunan. Kemampuan itu diwariskan secara turun-temurun, sehingga tak heran kalau semakin tahun, semakin banyak bangunan-bangunan unik yang bermunculan.


Dan Avella ingin melihatnya secara langsung. Ia tak seperti Ashfern, saudara kembarnya, yang sudah puas hanya dengan melihat gambarnya dalam majalah arsitektur langganan sang ayah. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri dan menjelajahinya dengan kakinya sendiri.


“Avella, kemari, ayo masuk!” panggil Cysther dari ambang pintu. Rambut merahnya yang dihiasi bintang laut-bintang laut mungil melambai terkena angin.


Avella melangkah menyeberangi jembatan menuju rumah Cysther. Gadis itu tengah menunggunya, dan seperti biasa, tangannya tak lepas dari hakpen dan gulungan benang.


Ia menunjukkan hasil rajutannya pada Avella selama mereka berjalan masuk, sebuah bidang biru persegi dengan motif bunga berwarna putih. “Aku akan membuat selimut. Menurutmu, apakah mungkin aku bisa membuat rumah dari rajutan? Ah, harusnya aku tak perlu bertanya, karena tak mungkin, kan?”


“Tentu saja bisa! Tak ada yang tak mungkin Cysther. Mungkin kamu bisa merancang rumah yang sebagian besar berasal dari rajutan. Aku akan dengan senang hati berada di dalam rumah seperti itu seharian.”


Cysther tertawa. “Aku tak percaya. Kamu selalu ingin keluar dan berpetualang. Ah, apa yang kamu lukis hari ini?”


Setibanya di kamar Cysther, mereka duduk di atas karpet. Selagi Avella membuka jurnalnya, perhatiannya teralihkan pada kondisi kamar Cysther. Kamar Cysther memang selalu berantakan, namun dalam artian menyenangkan. Proyek-proyeknya, yaitu persegi dengan motif bunga berserakan di lantai. Cysther berkata akan menggabungkan semuanya dan menjadikannya selimut!


“Bagus sekali. Kelihatannya kamu sudah bisa mengontrol air. Aku sangat mengagumimu, tahu. Aku adalah pengagummu nomor satu!”


Avella tertawa. “Aku juga pengagummu nomor satu, Cysther. Aku memang mengagumi semua orang di Acclais, tapi jumlah spesial kukhususkan untukmu.”


“Kamu dan mulut manismu sangat berbahaya,” ucap Cysther.


“Oh iya, tapi ada yang aneh. Kupu-kupu itu tetap berada pada posisi ini setelah aku selesai melukis. Waktu kusuruh pergi pun, ia diam saja. Malah menenggelamkan kepalanya dalam bunga amsonia.”


“Itu memang sangat aneh,” ucap Cysther, lalu matanya menyipit. “Tunggu, kamu bilang bunga amsonia? Apakah kamu baru memetiknya?”


“Tidak, aku saja tak tahu mau melukis apa di Shyskies. Jadi tidak membawa apapun selain peralatanku. Aku menemukannya di antara rerumputan.”


“Dia mabuk!” tawa Cysther. “Kamu membuat seekor kupu-kupu mabuk. Kau tahu, mungkin bunga itu sudah dipetik oleh anak-anak kecil sejak lama dan nektarnya mulai berfermentasi. Aku membayangkan kupu-kupu yang masalah hidupnya terlalu pelik sampai tenggelam dalam berbotol-botol whisky. Tapi memangnya, apa masalah hidup bagi seekor kupu-kupu? Aku sangat iri bahwa mereka tak perlu merasakan kikuk saat bersosialisasi.”


“Mungkin masalah yang sangat pelik, seperti ingin menggulingkan kupu-kupu monarki yang semena-mena,” kata Avella, yang membuat Cysther tertawa. “Tapi aku harap dia bisa mendapatkan kebahagiaan sementara dari halusinasi saat mabuk.”


Kedua gadis itu memang memiliki kepribadian berbeda. Cysther lebih senang di dalam rumah. Ia mungkin akan selamanya berada di dalam rumah kalau tak ada Avella yang akan mengajaknya keluar. Sementara itu, Avella sangat suka menjelajah. Ia ingin tahu segala hal dan bercita-cita mengelilingi Prisalia. Namun perbedaan-perbedaan itu tak membuat mereka merasa asing dengan satu sama lain.


“Avella, rencananya apa yang ingin kamu lakukan setelah kita 15 tahun?” tanya Cysther.


Wajah Avella mencerah. Ia senang berbicara tentang mimpi-mimpinya, apalagi dengan sahabat sebaik Cysther. “Aku ingin pergi dari Acclais, Avella. Aku tahu desa ini amat menyenangkan, tapi aku ingin melihat dunia. Aku ingin tahu bagaimana orang-orang di luar sana, dan tumbuhan apa yang akan kutemui, serta hewan mengesankan mana yang belum kulihat. Bagaimana denganmu?”


“Kurasa aku akan berguru pada Profesor Atlas.”


“Siapa dia? Maksudku, aku tak kenal dia, karena kamu tahu, kan, aku belum pernah melihat katalog guru.”


Sistem pendidikan di Prisalia memang unik. Anak-anak di usia 8-14 tahun akan belajar dengan seorang guru pilihan mereka sendiri. Pelajarannya bersikap umum dan mendasar. Di usia 15, mereka sudah dianggap dewasa, sehingga bisa menentukan minat mereka sendiri. Bagi mereka yang masih ingin berguru, guru-guru spesialis mulai ditawarkan pada mereka dalam katalog guru, dan sistem pembelajarannya akan mengikuti bagaimana kehendak para guru itu. Namun bagi mereka yang ingin melihat dunia juga diperbolehkan, karena Prisalia percaya bahwa pengalaman akan menumbuhkan pengetahuan terbaik.


Cysther tersenyum memahami. “Dia adalah Profesor yang menekuni bidang kelautan,” ucapnya, lalu menyandarkan dahi pada telapak tangannya. “Sebenarnya aku tak tahu. Aku hanya terpikir antara merajut dan mempelajari laut. Merajut adalah hal yang amat kusukai di dunia ini, tapi aku takut tak akan menyenangkan lagi kalau dipelajari dengan seorang guru. Kalau kelautan, aku memang lumayan suka, tapi bagaimana kalau sebenarnya itu adalah rasa suka karena kebiasaan? Karena … lihat rumahku, aku bahkan berada dalam rumah di bawah air dengan tema laut dalam. Sebenarnya hal ini sudah kupikirkan lumayan lama, dan setelah kuutarakan padamu, jadi terdengar konyol.”


“Tidak konyol sama sekali. Tapi sepertinya aku tahu apa yang bisa memudahkanmu dalam memilih. Kau harus ikut aku berpetualang!” ucap Avella dengan binar di matanya, sangat kontras dengan binar ketakpercayaan dalam mata Cysther.