ASMARALOKA

ASMARALOKA
ASMARALOKA - Part 08



...ASMARALOKA - Part 08 ...


***


...


...


BERITA tentang Aloka yang akan pulang bersama Asmara menyebar kemana-mana. Kini saat pulang sekolah, baik angkatan kelas X, kelas XI, dan kelas XII sudah memenuhi koridor kelas XI IPA. Melihat bagaimana gentleman nya Aloka saat akan mengajak seorang cewek pulang bersama.


Aloka sudah keluar dari kelas XI IPA 1 dengan hoodie warna putih dengan logo Jaguar hitam di dada kirinya. Logo resmi bagi geng JAGUAR, kumpulan pemuda dan pemudi dari empat sekolah swasta terbesar di kota ini. Revan, pemimpin JAGUAR sudah berkerjasama dengan Puma Original untuk outfit mereka semua. Baik dari baju, celana, topi, dan sneakers semuanya berasal dari brand Puma. Tak heran rasanya, mengingat bagaimana circle Revan. Ia bahkan bisa menjadi brand ambassador untuk merek terkenal itu.


Elang dan Sakha sudah bertugas untuk menghalau fangirl ini agar tidak mendekati jalan Aloka. Mereka semua benar-benar agresif, membuat Elang dan Sakha kewalahan. Hampir semua bagian tubuh Sakha dan Elang tercakar, ditendang, dijambak, dan lainnya. Biasanya hanya Titan yang datang ke kelas XI IPA 3 untuk menjemput kekasih tercintanya. Itupun bagi Elang dan Sakha bukan masalah mengingat betapa mengerikannya Ardhani saat tahu jika kekasihnya menjadi rebutan hingga disentuh seperti ini. Kejombloan Aloka memang petaka. Sering kali cewek-cewek ini bersikap murahan atau menggunakan Sakha, Elang, maupun Aji untuk bisa mencapai Aloka. Karena Aji sangat mengerikan maka dari itu hanya Sakha dan Elang yang terpaksa menjadi medianya.


"Al, cepet dikit napa, sih? Hancur nih muka gue!" teriak Elang sambil terus menahan cewek-cewek itu agar tidak maju.


Aloka menyengir. Sudah cukup dia bergaya slow motion ala-ala film action. "Iya, Lang!" Ia kemudian berlari untuk bisa mencapai pintu kelas XI IPA 3 dan menutup pintu itu seraya menguncinya agar bisa bersembunyi dari kerumunan itu. Aloka berusaha menormalkan napas dan degup jantungnya.


Akan tetapi...


"Aloka, kenapa kamu disini?"


Suara berat itu membuat Aloka terkaget-kaget. Ia tak tahu jika kelas ini masih ada guru dan Pak Kris, guru kimia itu tengah memandangnya heran dibalik kacamata kotaknya. Aloka menyisir rambutnya dengan kasar sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang berisikan murid-murid terpandai di sekolah ini.


XI IPA 3 memang menjadi kelas unggulan setelah XI IPA 1 yang seenaknya merubah putusan kepala sekolah. Aloka dan kawan-kawannya menolak secara terang-terangan saat XI IPA 1 ditunjuk menjadi kelas unggulan. Yang otomatis semua perlombaan akademik sains 50 persen akan berasal dari kelas ini.


Bukannya Aloka tak pandai, tapi dia memang tak pandai. Ia mengakuinya. Otaknya tak akan bisa sepintar Titan dalam mengerjakan soal matematika atau Elang yang kepintarannya digunakan untuk hal-hal yang memalukan. Namun, predikat kelas unggulan untuk kelas yang Ia tinggali selama tiga tahun membuatnya menelan dampak buruk. Pertama, jam pulang sekolah kelasnya akan diundur karena mendapat tambahan jam pelajaran. Kedua, guru-guru akan membandingkannya. Itu pasti! Dendam yang selama ini dipendam oleh semua guru akan tercurahkan kepadanya. Dan Ia selalu malas mendengar ceramah jika itu bukan dari kakek-neneknya.


"Aloka, bapak tanya sama kamu kok nggak dijawab?" tanya Pak Kris sekali lagi.


"Em-m... itu, Pak! Cewek-cewek di luar sana pada rebutin saya. Makanya saya sembunyi di sini," jawabnya yang malah terkesan sombong daripada apa adanya.


"Jadi ribut-ribut di luar itu gara-gara kamu?"


Aloka mengangguk. "Iya, Pak! Saya disini sebentar ya, Pak."


Pak Kris membuang napasnya. Aneh-aneh saja muridnya yang satu ini. "Baiklah. Kamu bisa duduk di kursi kosong itu atau mau duduk di meja guru sana." Pak Kris menunjuk sebuah kursi kosong yang ada di bagian belakang.


"Duduk aja, Pak." Aloka kemudian berjalan menuju kursi itu lalu duduk di sana.


Di depan Aloka ada Ardhani yang tengah menatapnya penuh selidik dan Asmara yang malah membuang muka dan tak mau melihatnya.


"Baik, kita akan lanjutkan lagi materi yang bapak sampaikan tadi...." Pak Kris mulai melanjutkan kembali kegiatan mengajarnya.


Kimia dan segala macam unsurnya.


Bisa-bisa kepala Aloka pecah mendengarkan suara Pak Kris yang melebihi suara adzan masjid samping rumah kakeknya. Apalagi materinya yang sama sekali tak Aloka tahu. Biasanya saat ulangan, Aloka pasti akan meminjam kertas ulangan Ardhani karena XI IPA 3 lebih cepat dalam penyampaian materi. Dan selama ini banyak guru-guru yang menuduhnya aneh-aneh. Padahal kan memang faktanya.


"Ardhani!" bisik Aloka memanggil nama Ardhani.


Ardhani menoleh. "Apa?"


"Nih, pelajaran kapan selesainya?"


Sambil melihat jam tangannya dan jam dinding yang ada di atas papan tulis, Ardhani menjawab, "Sekitar setengah lima."


What the heck! Ini masih jam 3 dan berarti Aloka membutuhkan satu jam setengah lagi untuk menguji kesabarannya. Di luar Elang dan Sakha sudah berteriak-teriak memanggil namanya agar keluar. Dan Pak Kris sepertinya tak mempedulikan keributan yang Elang buat. Mau keluar juga tak mungkin. Mau stay di sini juga males. Aduh.....


...


...


Pak Kris akhirnya mengakhiri sesi pembelajaran saat jam menunjukkan pukul setengah 6. Matahari sudah terbenam dan suasana dalam sekolah juga sudah sepi. Orang-orang yang biasanya membina ekstrakurikuler juga sudah pulang.


Aloka merentangkan kedua tangannya ke atas. Rasa pegal akibat menunduk membuat persendian tulangnya kaku. Namun, lebih dari itu Aloka bersyukur. Setidaknya apa yang Ia harapkan sejak tadi sudah terjadi kali ini. Pak Kris tak akan tahu bagaimana Aloka terus berdoa agar Tuhan bisa mengakhiri hidup- eh tidak, maksudnya pembelajaran Pak Kris.


Dengan segera Aloka berdiri. Menunggu beberapa saat sebelum akhirnya menarik tangannya agar segera mengikutinya.


"Eh-hh apa ini?" protes Asmara sambil memukul-mukul tangan Aloka.


"Lo nggak lupa sama janji lo kan?"


Asmara mengernyitkan dahinya. "Janji apa? Perasaan gue nggak ada janji sama lo!"


"Ckk!" Aloka berdecak. "Lo anak IPA tapi otaknya pikun."


"Siapa yang pikun?!!" seru Asmara tak terima.


"Lo!" Aloka kembali berdecak. "Lo udah janji sama gue buat pulang bareng! Nggak usah sok-sokan lupa!"


"Ihhhhh!!!!! Sejak kapan gue terima ajakan lo? Dan sejak kapan gue janji sama lo!"


Suara Asmara melengking tinggi. Kuping Aloka sakit saat mendengarnya. Gadis ini benar-benar berbeda dengan gadis lain yang berusaha mendekatinya. Mereka berusaha menjaga image agar Aloka menyukainya.


"Bisa nggak sih kalo ngomong nggak pake toa?"


"Nggak!" teriak Asmara.


Elang bangsat!


Jika saja bukan gara-gara rencana yang dibuat oleh pemakan bangkai itu, Aloka tak akan pernah terlibat dengan perempuan ini. Lebih baik Ia menjaga Grandma nya. Setidaknya Alexandra tak membuatnya menderita seperti ini.


Sekali sentak Aloka sudah kembali menyeret Asmara. Bodo amat dengan dirinya yang harus membuat gadis bar-bar ini tunduk dihadapannya.


Saat sampai di parkiran. Aloka langsung menyerahkan helmnya untuk Asmara pakai. Seperti biasa, gadis itu sudah menolaknya mentah-mentah. Asmara sudah meronta-ronta untuk dilepaskan dari cekalan Aloka. Banyak pasang mata yang menatap mereka.


"Lepasin gue sekarang juga!"


"Atas dasar apa lo minta hal itu ke gue?"


"Hah... lo udah bawa gue dengan seenaknya dan lo masih tanya atas dasar apa?! Gue nggak terima!"


"Penting buat gue?" Alis Aloka terangkat.


"Penting lah! Lo harus lepasin cekalan lo sekarang juga."


"Kalo gue nggak mau, lo mau apa?"


"Gue bakal teriak."


"Teriak aja," ucap Aloka santai. "Toh nggak ada yang berani sama gue."


Asmara menganga. "Lo tuh kenapa sih? Gue nggak ngerasa punya masalah sama lo, tapi lo kok nggak berhenti gangguin gue?" Ada nada putus asa yang bisa Aloka rasakan.


No! Not now.


Aloka tak bisa melepaskan cewek ini. Tidak sebelum apa yang menjadi tujuan mereka tercapai. Ia tak boleh egois dengan mempertaruhkan kehidupan teman-temannya. Ia harus bersikap baik agar Asmara bisa lebih sedikit sedikit jinak.


Menghembuskan napasnya, Aloka beranjak mengambil helm dan memasangkan di kepala Asmara dengan hati-hati.


"Gue belum pernah merasakan hal ini. Entah apa yang terjadi, tapi gue harap lo bisa sedikit lebih lembut," ucap Aloka seraya menampilkan senyuman termanisnya.


...***...


TBC