ASMARALOKA

ASMARALOKA
ASMARALOKA - Part 07



...ASMARALOKA - Part 07 ...


...***...


"WAGELAK, gue bangga punya temen kayak lo, Al!" ujar Elang sambil menepuk pundak Aloka dengan bangga.


Aloka hanya tersenyum menanggapinya. Ia juga tak menyangka jika rencana yang Ia jalankan bersama dengan keempat temannya bisa berjalan dengan mulus seperti ini. Sosok yang Ia pikir sulit untuk didekati, ternyata lebih mudah dari yang dibayangkannya.


"But, you must be careful. She's not like you see," ucap Titan membuat kesenangan keempat temannya terganggu.


"Tan, lo nggak seneng apa kalo rencana kita berhasil?" tanya Elang heran.


"Bukan gitu, Lang."


"Iya nih. Lo kenapa sih, Tan?" tambah Sakha.


"Gue cuman nggak mau Aloka terjerumus," jawab Titan.


"Terjerumus apaan, sih, Tan. Aloka nggak bakal jatuh cinta sama cewek kayak Asmara. Lo kan tahu sendiri gimana tipe cewek yang disukai sama Aloka."


"Ya kalo enggak. Kalo iya?" tanya Titan memukul argumen Elang.


"Astaga, Titan!! Kalo pun nanti Aloka jatuh cinta sama tuh cewek jadi-jadian, tinggal bilang aja apa susahnya," ucap Aji. "Hidup jangan dibuat ribet, deh, ampun!"


"Nah, kembarannya Kim Taehyung aja udah setuju, Tan. Nggak usah lo pikirin, biar Aloka aja yang pikirin!" ucap Elang.


Titan kemudian menatap Aloka khawatir. Saat dengan orang terdekatnya, Titan akan menampilkan sosok yang berbeda dengan apa yang Ia tampilkan sewaktu dihadapan orang-orang. Titan akan berubah dari sosok dingin yang tak tersentuh menjadi sosok penyayang.


Aloka yang mengetahui kekhawatiran Titan tersenyum menanggapinya. "Gue nggak janji kalo gue nggak bakal jatuh cinta sama tuh cewek, tapi satu hal yang bisa gue pastiin. Gue bakal jaga hati gue baik-baik," ucap Aloka berusaha menenangkan kekhawatiran Titan.


Yah, siapa yang tahu masa depan akan seperti apa. Aloka tak punya hak atas takdirnya, tapi ia masih punya kewajiban untuk merubah nasibnya.


"Rencana lo selanjutnya apa, Al?" tanya Elang mengubah suasana melankolis yang menjijikan ini.


"Entahlah," Aloka mengangkat bahunya. "Gue nggak kepikiran buat langkah selanjutnya."


"Lah, terus lo ngambil keputusan gimana? Spontan gitu?"


Aloka mengangguk. "Males gue mikirnya."


"Lo nggak tahu ya, Lang?"


"Tahu apa?" tanya balik Elang.


"Kalo Aloka tuh terinspirasi sama iklan terkenal."


"Apaan?"


"Rucika; mengalir dari hulu ke hilir."


Elang memukul kepala Sakha. "Goblok! Beda merek, cok!"


"Santai kali!" balas Sakha sambil mengusap kepalanya.


"Anak IPA nggak bisa bedain merek!" timpal Aji.


"Kayak lo bisa aja, Ji!" bela Sakha.


"Lah, gue mah tahu. Lagian gue lebih pinter daripada lo. Peringkat gue lebih tinggi dari lo!"


"Yaelah, peringkat 34 dari 36 siswa aja bangga lo!"


Aji mencebikkan bibirnya. "Biarin!"


"Sama-sama peringkat bawah aja sombong!" sindir Elang.


"Emang lo pinter, Lang?"


"Ooooohh, jangan ditanya dong! Gue masuk IPA aja jalur orang dalam!" jawabnya bangga. "Kalo nggak ada Titan, gue bakalan masuk sekolah negeri."


"Kenapa emangnya? Bukannya masuk negeri gampang ya masuk PTN," ucap Sakha.


"Nggak mau ah! Sekolah negeri banyak titipan."


"Kita juga titipan kali, Lang! Ngaca!!" semprot Aji. Aloka, Elang, dan Sakha sontak tertawa. Yah, namanya juga manusia.


BRAK!!


Suara dobrakan pintu terdengar begitu keras. Membuat Aloka, Elang, Aji, Sakha, dan Titan berdiri. Apa yang sebenarnya terjadi hingga tempat kekuasaan mereka diganggu seperti ini. Yah memang mereka sudah jadi incaran para gadis dan pria, hanya saja tak ada yang berani bersikap lancang seperti ini.


Alis Aloka terangkat saat melihat banyaknya orang yang memasuki ruangan ini. Berbeda dengan Elang, Sakha, dan Aji yang sudah menggeram marah. Berbeda pula dengan Titan yang menatap datar.


Orang yang berani melakukannya hanyalah satu orang;


Ariel Noah Pratama.


Anak ketua DPR yang sok-sokan. Mari kita jabarkan bagaimana soknya manusia ini.


Pertama; Ariel sok tampan. Memang tampan sih tapi kan tetap Aloka yang di hati. Jika disuruh memilih, cewek-cewek pasti akan memilih Aloka.


Kedua; Ariel sok kaya. Jika dibandingkan dengan kekayaan Elang, Sakha, Aji, Titan, maupun Aloka, kekayaan Ariel tidak ada gunanya. Entah uangnya halal atau tidak.


Ketiga; Ariel sok kuat. Cih! Sok kuat katanya. Tanding tinju dengannya saja tepar mau menghadapinya lagi. Sekarang malah membawa pasukan kataknya. Dan,


Keempat; Ariel sok berkuasa. Kakek Titan menerima Ariel hanya karena orangtuanya adalah ketua DPR RI. Hal itu hanya sebagai formalitas belaka. Dan kekuasaan Ariel atas sekolah ini benar-benar tidak sah. Atas dasar apa Ia berkuasa? Apa hanya karena Aloka tak ada hingga membuatnya semena-mena? Atau karena Titan yang lebih mengalah?


Cih! Menjijikan.


Sejak SMP, baik Aloka maupun Ariel tak pernah bisa menjadi teman. Mereka berdua bagai minyak dan air yang tak pernah bisa bersatu. Aloka dan Ariel sama-sama berebut tempat pertama di sekolah. Tapi karena posisi Aloka yang memang unggul dalam berbagai bidang membuat Ariel iri, dengki, syirik, dan berbagai perasaan seperti itu. Sebenarnya Aloka sendiri tidak menganggap Ariel sebagai saingannya. Toh mereka bisa sama-sama membangun sekolah ini agar lebih baik tanpa bersaing. Hanya saja mungkin Ariel yang selalu dinomorsatukan dalam keluarganya tiba-tiba menjadi nomor dua, pasti membuatnya kaget dan marah. Maka dari itu, semua yang Aloka lakukan pasti membuatnya meradang.


Dan kini masalah keduanya malah semakin bertambah saat Ariel memutuskan untuk melakukan kudeta dan menentang kepemimpinan Aloka atas sekolah ini. Ia bahkan mengajak sekolah lain untuk terlibat dalam masalah pribadi mereka. Ini tak bisa dibiarkan. Aloka tak bisa membuat nasib tiga sekolah hancur hanya karena beban keluarga ini.


"Mohon maaf, kita lagi tak menerima tamu. Jadi silakan minggat dari sini!" ucap Elang dengan senyuman manis, tapi tidak dengan kata-katanya.


"BACOT!!" balas Yoga ngegas.


Elang menggeram. Sebenarnya bisa saja membuat Yoga masuk rumah sakit dan masuk ICU. Tapi Aloka menyuruhnya untuk tidak melakukannya. Jadi Elang bisa apa?


"Ihh, kok masnya ngamok tuh macam mana," sahut Sakha.


"Kita nggak mau basa-basi! Jadi jangan banyak bacot!" jawab Melvin.


"Yah, yang ngebacot bareng sama lo tuh siapa? Orang kok pede mu negeri! Nggak punya malu apa!!" balas Aji tak kalah ngegas.


"Nih, banci ngapain lagi?"


Ucapan Melvin membuat Elang dan Sakha saling berpandangan dengan mulut mereka berdua menganga. Astaga, Aji pasti akan membacok Melvin.


"Apa yang lo bilang!!!" Mata Aji melotot.


"Banci!" ulang Melvin. "Lo kan bencong, banci, ngondek, pengecut...." Melvin menjeda kalimatnya. Ia lalu beralih pada Yoga, "Apa lagi ya, Yog?" tanyanya sok bodoh. emang goblok.


"Melvinnnnn!" desis tajam Aji. "Lo bilang gue banci, bencong, ngondek! Lo akan lihat gimana banci ini bikin lo nggak bisa hidup lagi!"


Melvin tertawa keras beserta antek-anteknya. "Eh, guys! Si banci ini berani ngancam gue?? Gue? Melvin Candrana dilawan!"


Kini giliran Aji yang tertawa keras. "Hahaha! Jaga mulut lo! Jangan sampai keselek ludah sendiri."


Melvin akan melayangkan pukulannya pada Aji, tapi Ariel menahannya. Cowok itu mengode pada Melvin agar tidak terpancing amarah. Dan Aji? Oh jangan tanyakan bagaimana lidah Aji menjulur ke arah Melvin berusaha mengejeknya. Siapa yang banci sekarang? Melvin jawabannya.


Ariel menatap Aloka penuh permusuhan. Kedua tangannya mengepal. "Apa yang lo rencanain sebenarnya?" tanyanya penuh penekanan.


"Rencanain apa?"


"Ngedeketin cewek orang, seorang Aloka nggak punya mainan lain apa?" kekehnya.


Oh, tentang Asmara rupanya.


"Gue nggak ngedeketin cewek orang perasaan," gumam Aloka sok polos.


Ariel mendengus. "Asmara! Dia cewek gue!"


"Hah!" Mulut Aloka menganga menampilkan wajah terkejutnya. "Jadi... Asmara pacar lo?"


"Nggak usah sok nggak tahu! Lo ngedeketin dia pasti punya hubungannya sama gue! Dengerin baik-baik Aloka. Gue nggak akan ngebiarin lo ngerebut Asmara gitu aja! Nggak selama dia belum gue buang!" Jari telunjuk Ariel mengarah padanya.


"Lo kesini cuman ngancem gue dan bawa seluruh anak IPS kesini?" Tawa renyah Aloka terdengar. Ia lalu menepuk pundak Ariel cukup keras. "Ternyata semakin lo tua semakin kecil nyali lo, ya, Riel."


Ariel menggeram.


"Oh ya! Asmara pulang sama gue nanti!"


***


TBC


...


...