ASMARALOKA

ASMARALOKA
ASMARALOKA - Part 04



...ASMARALOKA - Part 04...


...***...


"LO dari mana aja, sih, Al?"


Elang langsung menggeruduk masuk ke dalam lab fisika kelas XI. Dibelakangnya ada Titan, Aji, dan Sakha.


Tempat favorit Aloka adalah lab fisika. Ia pernah masuk ke dalam lab ini saat SMP dulu karena lomba OSN dan lab fisika SMA Atmadja memang lengkap.


Aloka menutup buku novel thriller nya dan menatap Elang yang sudah duduk di depannya. "Kenapa, sih, Lang?"


Muka Elang memerah. "Kita harus balas tuh mermaid. Gue nggak terima kalo kita diginiin," ujarnya sembari memukul-mukul meja. AC yang ada di ruangan ini sepertinya tak meredakan amarahnya.


"Sure. Kita pasti bales semua perlakuannya sama kita dan anak-anak lain. Gue yakin kalo selama ini Ariel menggunakan alasan itu untuk menyakiti semua orang."


"Rencana lo?" tanya Titan yang ada disampingnya.


"Gak tahu!" Aloka mendesah. "Males gue sebenarnya kalo punya urusan sama Ariel. Heran, kayak nggak ada musuh lain aja!"


"Ya mau gimana lagi, Al. Kita satu sekolah lagi sama tuh belut," ucap Sakha. Ia nampaknya sedang sibuk dengan neraca yang ada disana.


"Kita harus tegas! Banyak masa depan yang dipertaruhkan," ucap Elang semangat.


"Heh, Elang. Semangat boleh, tapi kita juga harus pikir matang-matang. Ariel bukan lawan yang bisa kita remehkan," balas Aji.


"Gue denger beberapa dari anak-anak SMA MAHAPRAJA dan SMA WIYATA gabung sama gengnya Ariel?" tanya Aloka. Ia tadi mendapatkan kabar dari pemimpin dua SMA itu. Jika beberapa dari anggota mereka sudah melakukan kudeta.


"Iya! Koalisi kita cuma SMA NUSANTARA aja yang fix," jawab Elang.


"Emang mereka mau bantu kita? Secara kan itu sama saja ngerusak hubungan mereka sama dua sekolah itu."


"Tapi, Ji. Kalo mereka gabung sama Ariel, itu nggak mungkin banget. Lo tahu sendiri gimana Revan kalo tahu anggotanya berontak kayak gini," ucap Elang mengusir keraguan dari Aji.


"Yap. Revan adalah pilihan yang tepat buat kita ngadain koalisi," sahut Sakha. "Toh lagi, pasukan Jose dan Louis udah banyak yang ikut Ariel. Dengan begitu kekuatan kita tiga banding satu."


"Bener, sih. Cuman beberapa bulan ini Revan nolak ajakan tempur. Dan kita nggak mungkin maksa dia buat terlibat sama masalah ini. Bisa-bisa dia marah dan hancur deh hubungan kita."


Aloka masih terdiam. Mendengarkan pendapat dari teman-temannya dan menentukan pilihan apa yang akan Ia ambil kedepannya. Ariel sudah membuat tiga sekolah yang dulunya hanya ada satu kubu kini terpecah belah. Aloka tak paham. Apa sebenarnya tujuan Ariel melakukan semua ini? Untuk mengambil posisinya? Itu mungkin opsi yang paling rasional untuk hal ini.


"Kalo lo gimana, Tan?" tanya Aloka pada Titan yang sejak tadi hanya diam.


"Gue?" Aloka mengangguk. "Tunggu aja dulu," jawabnya.


"HEH!!"


Elang, Aji, dan Sakha langsung memberikan tatapan tak percayanya pada Titan.


"Allahuakbar, Tan. Lo nggak ada saran lain apa?" semprot Aji.


"Iya, Tan. Lo main tungga-tunggu aja. Ini emergency!" tambah Sakha.


"Tan, kita udah nunggu selama dua tahun dan lo bilang tunggu?" Elang mengusap wajahnya kasar. "Gilak!"


Tiga temannya sudah menyatakan ketidaksetujuannya pada keputusan Titan. Oh, jadi ini alasan kenapa selama dua tahun ini sejak Ia menyerahkan tanggung jawabnya pada Titan membuat sekolah dalam keadaan adem ayem.


"Alasan lo apa, Tan?"


Titan menghembuskan napasnya. Ia tengah berusaha mengucapkan sebuah paragraf. "Selama ini Ariel nggak pernah keterlaluan. Dan gue rasa nggak ada salahnya dengan itu."


"What do you mean?" Alis Aloka terangkat.


Ia menghembuskan napasnya lagi. "Ariel nggak melakukan apapun yang bersifat membahayakan nyawa satu pun. Dan kita akan gerak saat dia udah kelewat." Napas Titan terputus-putus.


"Lo ngomong segitu aja bengek ya, Tan? Gimana kalo dongengin anak lo nanti? Sesak napas ada," cibir Aji. Lambe Turah mode on.


"Kalo lo bilang biarin Ariel? Kenapa lo tadi nahan Ariel?" tanya Aloka.


"Gue nggak suka kekerasan. Apalagi di lingkungan sekolah gue."


"Waduh, pamer kekayaan check!"


"Gue nggak pamer," kilah Titan akan pernyataan Aji.


"Serah!"


"Tan, are you hidding something from us?" tanya Aloka, menaruh curiga pada Titan.


Titan menggeleng. "Absolutely not."


Aloka menghembuskan napasnya. Dadanya serasa sesak. Masalah yang baru muncul benar-benar membuatnya gerah. AC dalam ruang tak membantunya sama sekali. Bagaimana Ia akan menyelesaikannya saat mungkin Ariel sudah membangun koalisi yang sangat banyak mengalahkan gabungan miliknya? menyingkirkannya? Mungkin, itu hal yang paling rasional untuk saat ini.


"Oh, ya, Al. Gue denger dari anak-anak, lo udah ketemu ya sama dia?" tanya Elang membuat Aloka mengerutkan keningnya.


"Siapa?"


"Asmara Wiratmoko, orang yang gue maksud."


Mata Aloka membulat. Siapa itu Asmara Wiratmoko? Sampai saat Aloka belum pernah bertemu dengan gadis itu. "Apaan, sih, Lang. Gue aja belum pernah ketemu dia."


"Lo pernah!" ucap Elang ngeyel.


"Siapa, sih?"


"Orang dibilangin Asmara!"


"Gue nggak ketemu sama tuh cewek, Lang."


"Lo ketemu, Al!"


"Enggak!"


"Enggak!"


"Enggak!"


"Enggak!"


"Enggak!"


"Gitu ae terus, sampe kiamat." Aji memutar bola matanya lalu bangkit dari duduknya. "Udah jam segini, kalian nggak mau balik ke kelas?"


...


...


"Ihh, gue sebel sebel sebel!" Asmara menghentak-hentakkan kakinya sambil melayangkan pukulannya di udara. Wajahnya cemberut. Kesal, marah, gedek, bercampur menjadi satu.


"Emangnya siapa cowok itu? Sok penting banget!" gerutunya di sepanjang perjalanan menuju kantin.


Asmara tak pernah menerima penghinaan seperti tadi. Ia adalah putri sekolah ini. Tak ada satupun orang yang berani memperlakukannya seperti itu. Asmara bersumpah tak akan memaafkan cowok sok kegantengan itu.


Dengan kesal Asmara memasuki kelas XI IPA 3. Ia langsung menuju ke arah teman-temannya yang memberikan tatapan heran akan kelakuan Asmara.


"Lo kenapa, sih, Ra? Kesel gitu," ucap Ardhani, cewek berparas cantik yang ada di samping Asmara.


"Ar, lo tahu nggak, ada cowok yang super duper nyebelin! Kesel gue," jawab Asmara.


"Siapa emangnya?"


"Enggak tahu! Pokoknya orangnya nyebelin banget! Masak gue diperlakukan semena-mena sama dia."


Ardhani mengerutkan keningnya. Ia tak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Asmara. "Gue kenal semua orang dan nggak mungkin gue nggak kenal sama orang yang lo maksud. Jadi siapa orangnya?"


"Gue nggak tahu, Ar." Asmara mengerang kesal. "Orangnya tinggi, nggak ganteng, nyebelin, dan sok-sokan."


Siapa dia? Hanya dua orang yang ada dipikiran Ardhani. Orang sok-sokan hanya dua orang; Ariel anak kelas XI IPS 5 dan Aloka anak kelas XI IPA 1.


"Aloka?"


Asmara langsung menoleh. "Siapa tuh, Aloka?"


"Aloka Wiraguna. Anak kelas XI IPA 1."


"Lo kenal, Ar?"


"Siapa, sih yang nggak kenal sama Aloka. Dia tuh sepupu gue paling nyebelin, sok-sokan, kayak yang lo omongin tadi."


Asmara belum pernah mendengar nama Aloka sebelumnya. Memang tadi pagi Ia agak bingung kenapa sekolah mendadak heboh dan mengatakan jika pangeran sekolah sudah balik. Dan sebelumnya Ardhani juga mengatakan jika orang yang Ia sayangi akan balik sekolah lagi.


"Kok gue nggak kenal, ya sama dia?"


Pertanyaan Asmara membuat Ardhani tertawa. "Ya, lo nggak kenal lah, Ra. Orang dia pindah ke Inggris dua tahu yang lalu."


"Kata orang dia pangeran sekolah, kok gue nggak pernah denger namanya sebelum ini?"


"Titan sama teman-temannya jaga privasinya Aloka. Semenjak Aloka pergi, memang semua terasa private banget. Toh, lagi Ariel ngelarang semua murid buat bahan Aloka. Jadi nggak ada yang berani bicarakan tentang Aloka lagi."


"Ariel?" Asmara mengulang kembali kata-kata Ardhani. "Kok Ariel? Emangnya dia punya dendam apa sama si Aloka Aloka itu?"


"Gue nggak bisa ngelanggar batasan gue, Ra. Sorry banget, ya," ucap Ardhani penuh sesal.


Asmara menghela napasnya. Sudah cukup ke kepoannya tentang cowok sok-sokan bernama Aloka Wiraguna itu. Nggak penting sama sekali!


"Ra, lo dicariin sama Aloka nih!" ujar Bagus, ketua kelas XI IPA 3. Hal itu langsung mengundang tatapan tak bersahabat dari cewek-cewek yang ada disini.


"Aloka nyariin cewek?"


"Ihh, masak Aloka kita mau ketemu sama cewek nggak jelas itu?"


"Diguna-gunain nih pasti."


"Ya jelas, dong. Kalo nggak begitu, Aloka nggak akan kesini."


Kuping Asmara terasa sakit mendengar ocehan tak bermutu dari cewek-cewek nggak jelas kayak mereka. Ia menatap Ardhani yang menyiratkan ketidaktahuan akan hal ini. Apa yang dilakukan cowok itu hingga membuatnya jadi bahan bullyan seperti ini? Awas saja kalau yang mau diomongin nggak penting!


Asmara berjalan menuju pintu diikuti oleh Ardhani dan semua murid XI IPA 3 yang kepo. Ia menghiraukan tatapan-tatapan itu dan bertemu dengan Aloka. Saat mencapai luar kelas, Asmara benar-benar terkejut saat banyaknya cewek-cewek yang mengerumuninya. Asmara dan Ardhani bertukar pandang. WTF!


"Hai!" sapanya membuat cewek-cewek mendesah.


"Aduh, Aloka. Gue melting nih."


"Baper gue!"


"Aloka sweet banget!"


"Uwuwu."


Alis Asmara terangkat. Semurahan ini cewek-cewek Atmadja yang terkenal cantik-cantik itu. "Apa?!" ketusnya.


Senyum Aloka mengembang bak roti brownies. Sangat manis. "Emm, gue kesini nggak apa-apa, kan?"


Ingin sekali Asmara mencakar wajah Aloka. Bisa-bisa dia datang kesini tanpa mempedulikan bagaimana kehidupannya nanti di sekolah ini. Lihatlah, bagaimana para perempuan itu menatapnya tajam.


"Nggak!"


"Ihh, lo siapa bisa ngelarang Aloka datang kesini?!" sinis Ana, cewek berambut ikal berwarna coklat. Teman sekelasnya yang selama ini selalu mencoba membuat Asmara kesal.


"Jadi, gue nggak boleh datang ke sini?" ulang Aloka.


"Nggak!"


"Tamu itu raja lho, Ra. Lo nggak boleh nolak," ujar Elang di belakang Aloka yang membawa sebuket coklat bermerek di tanganya.


"You think I care?" tanya Asmara. "Not," sentaknya membuat Elang terkejut.


"You'll care," ucap Aloka. Ia maju selangkah hingga jarak antara wajahnya dan wajah Asmara berjarak tiga sentimeter. "Finally, I've found you," bisiknya.


...***...