
...ASMARALOKA - Part 01...
...
...
SEBUAH ruangan bercahaya minim dipenuhi sorak-sorai yang bergemuruh. Berbagai barang berserakan bersamaan dengan suara televisi yang memekakkan. Malam ini adalah malam dimana mereka bisa berpesta dengan tenang karena suasana rumah yang sepi, ditambah jika ruangan yang dipakainya merupakan sebuah basement yang kedap suara.
"Gila! Natasha Romanov seksoy banget," ucap seorang cowok berambut hitam legam, namanya Elang. Pencinta musik Rapp dan EDM.
Tayangan dari film Avengers dimana saat itu Scarlett Johansson tengah diikat membuat rasa keterangan mereka untuk melihatnya semakin bertambah.
"Scarlett mah nggak ada duanya, bro!" balas Sakha, cowok berjambul.
"Kita udah nonton film ini berkali-kali, tapi kenapa tetep aja seru, ya?" Aji, cowok bergaya boyband Korea Selatan itu berdecak kagum.
"Semua film Marvel tuh bagus-bagus, tahu!" Elang mencomot satu tusuk sate ayam yang tadi sempat mereka beli di warung depan perumahan
"Lo kenapa diem aja sih, Al? Nggak biasanya lo anyep kayak gini," celetuk Aji pada cowok berwajah barat di sebelahnya. "Jangan-jangan waktu lo ke Inggris, lo kena jampe-jampe fans lo gara-gara nggak pulang-pulang!"
Aloka memukul kepala Aji. "Jangan suudzon!" Ia menegakkan badannya, mengambil sekaleng soda didepannya.
"Lo nggak kena virusnya Titan, kan?"
Cowok bertopi hitam memandang tajam ke arah Aji. "Jangan bawa-bawa gue!" ucapnya tajam.
Aji menyengir. "Peace." Ia menunjukkan dua jarinya. "Lagian lo, Tan, nggak bosen apa hidup lo hampa kayak gitu?"
Aloka menyemburkan minumannya. Ia lalu menatap waspada kearah Titan yang tengah memasang wajah datar. Bak Gunung Merapi yang sudah di tahap awas. Aji ini memang otaknya ketutup sama rambut jamurnya makanya kalau bicara asal jeplak tanpa mikir dulu. Nih lagi, Elang dan Sakha malah asik ngurusin Natasha Romanov daripada mencegah perang antara kaum dewa dan iblis.
"Aji Nugroho yang gantengnya kayak Sehun BTS, tolong deh, kalo ngomong jangan kayak soal fisika, nggak dipikir dulu," ucap Aloka menyadarkan.
"Eh, Aloka! Sehun tuh bukan dari BTS, tapi dari BLACKPINK," ujar Elang tiba-tiba menanggapi.
"Lo nonton-nonton aja! Nggak usah ikut campur," Aji merenggut rambut Elang lalu menghempaskannya. "Sehun, tuh bukan dari BTS ataupun BLACKPINK. Dia itu anggota EXO!"
"EXO? Yang lagunya aye aye aye itu, Ji?" tanya Sakha sambil memperlihatkan bagaimana dance lagu tersebut. Membuat Aloka dan Elang sontak tertawa. Sedangkan Aji, dia hanya mendengus.
"Udah, udah!" Tawa Aloka tersendat-sendat seiring dengan waktu. Kelakuan Sakha yang absurd membuatnya tak bisa berhenti tertawa.
"Lah, bengek nih orang."
"Bukan, Lang! Tapi Flu babi."
Candaan mereka memang agak aneh. Saling menghina sudah mendarah daging di persahabatan mereka. Aloka hanya menggelengkan kepalanya saja. Dua tahun berlalu dan teman-temannya tak ada yang berubah.
"Al, lo nggak ada gandengan apa di Inggris? Secara lo, kan, good looking," ucap Elang.
"Mager gue cari cewek. Ribet."
"Gue pikir lo nggak laku, Al," ucap Sakha menghina.
"Serah!"
"Titan aja punya pacar, lo masak nggak punya, sih, Al? Lo, kan, playboy cap buaya darat. Cewek mana, sih yang nggak kepincut sama lo?"
"Titan punya pacar?!" teriak Aloka tak percaya. Titan bukan orang yang mudah bersosialisasi, agak aneh jika ada cewek yang tahan dengan sikap super duper ekstra dinginnya.
"Yaelah, biasa aja kali, Al. Dalam dua tahun tuh semua bisa berubah dalam sekejap, dan kemungkinan Titan punya pacar juga besar," ucap Aji.
"Lo beneran punya pacar, Tan? Siapa?" tanya Aloka pada Titan yang sejak tadi diam saja.
"Ardhani," jawabnya.
"ARDHANI!!!" teriak Aloka sekali lagi. Hingga Ia mengaduh saat sekaleng soda menimpuk di pelipisnya. Aji pelakunya.
"Biasa aja, Al!" kesalnya. "Kuping gue sakit lo teriak berkali-kali!"
Aloka masih terus menggosok pelipisnya yang memerah karena ulah Aji. Cowok satu ini benar-benar bar-bar. Aloka harus berhati-hati dengan Aji jika ingin nyawanya selamat.
Pertemanan Aloka, Titan, Aji, Elang, dan Sakha sudah terjalin sejak mereka SMP. Aloka sudah tahu siapa Ardhani, gadis cantik yang sudah menarik perhatian seluruh sekolah karena sifat lemah lembutnya. Dan menjadikan gadis itu sebagai kekasih adalah hal yang mustahil. Ayah Ardhani adalah seorang pensiunan jenderal, jelas jika ada laki-laki yang datang pasti tak akan pulang hidup-hidup.
"Sejak Titan kalah taruhan, Al," jawab Elang. Film Avengers yang mereka tonton sudah selesai ternyata. Elang lalu mematikan televisi dan mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
Dahi Aloka mengerut. Ia tak tahu dengan apa yang diucapkan oleh Elang. "Taruhan? Taruhan apa?"
"Gini, loh." Elang mulai menjelaskan semuanya, "Semenjak lo pulang kampung ke Inggris dua tahun yang lalu, kita jadi jarang kumpul. Apalagi saat itu kita udah kelas tiga dan mau ujian. Waktu yang biasanya kita habiskan bersama jadi berkurang dan lo tahu sendiri, kan, Al. Titan tuh jarang kumpul kalo nggak lo paksa. Makanya gue, Sakha, sama Aji mutusin buat deketin dia sama cewek supaya hidupnya nggak monokrom. Dan pertama kali masuk SMA, kita bertiga akhirnya bisa paksa Titan buat kumpul lagi. Otomatis waktu itu kita gunain untuk rencana kita. Entah Titan yang goblok atau dia punya rencana lain, dia terima ajakan kita buat ngajak Ardhani and the genk buat kumpul bareng. Nah, gue waktu itu udah sadap semua sosial media punya Titan. Makanya Titan bisa deket sama Ardhani. Gue berperan penting dalam hal ini." Elang menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum puas. Sombong!
"Terus... yang ketemu sama Om Barata siapa? Lo, Lang?"
"Ya, Titan, lah! Masak gue, bisa-bisa gue digorok hidup-hidup sama dia," jawab Elang lalu tertawa.
"Lo diapain sama Om Barata, Tan? Kok bisa diizinin buat pacaran sama Ardhani?" tanya Aloka penasaran.
Semua tatapan kini mengarah pada Titan. Menatapnya penasaran. Titan menghela napasnya panjang. "Rahasia."
"Ihh, kok rahasia, sih, Tan!! Emang lo ngeselin abis!" Aji melemparkan bantal pada Titan. "Kalo bukan karena kita, lo nggak bakal punya pacar.
"Iya, Tan. Lo main rahasia-rahasiaan," sahut Sakha.
"Entar gue ceritain," balas Titan. Yah, mau bagaimana jika Titan sudah bicara lebih dari satu kata berarti itu tidak boleh dibantah.
Keheningan mulai melanda. Tak ada diantara mereka berlima yang ingin membuka suara lagi setelah Titan berkata. Aji sudah mulai memasang earphone-nya dan mendengarkan lagu boyband Korea kesukaannya, Titan mulai bermain dengan ponselnya begitupun dengan Aloka dan Sakha. Hanya Elang yang diam saja, tanpa melakukan apapun. Kuota ponselnya sudah habis dan Wi-Fi di rumah Aji sudah dimatikan oleh pemiliknya karena Ia ketahuan menggunakannya untuk mendownload ribuan film action.
Setelah beberapa menit hanya diam, sebuah bohlam lampu menyala tiba-tiba ada diatas otaknya. Aha! Elang punya ide.
"Guys! Gue ada ide, nih!"
Satu persatu dari mereka menatap Elang penasaran.
"Apalagi sih, Lang? Ide lo tuh nggak ada yang bener tahu nggak!" Aji mendengus.
"Ya Allah, Aji. Nggak boleh kayak gitu. Gue yakin kalo kali ini ide gue bagus untuk posisi kita di sekolah," balas Elang.
"Lang! Ide lo yang terakhir kali aja bikin kita hampir ketangkep polisi gara-gara meretas komputernya guru-guru buat cari bocoran soal. Untung waktu itu ada Titan yang nyelametin kita," ucap Sakha.
"Kha," Elang menepuk pundak Sakha. "Gue jamin kalo rencana gue berhasil, kita bakal ditakuti sama satu sekolah."
"Maksud lo apaan, Lang? Bicara yang jelas," desak Aloka.
"Buat ngejalanin rencana ini, gue butuh pengorbanan dari lo, Al." Elang menatap Aloka tajam.
Dahi Aloka semakin mengerut. Ia bingung dengan apa yang diucapkan oleh Elang. "Rencana apa, sih, Lang? Gue harus ngapain biar rencana lo berhasil?"
Elang kemudian memberi isyarat agar keempat sahabatnya mendekat. Ia kemudian memberi tahu tentang rencananya tersebut.
"NGGAK! GUE NGGAK SETUJU!!" tolak Aloka kemudian. Ia menatap tajam ke arah Elang. "Kalo lo pengin ngejalanin ini, terserah! Tapi jangan bawa-bawa gue!"
Elang menghembuskan napasnya. Ia mengusap wajahnya kasar. "Al, cuman lo yang bisa ngelakuin ini."
"Kita bisa minta sama sepupu gue kalo tujuan lo cuman itu. Kita juga bisa menghemat waktu. Tapi untuk ngelakuin proses itu gue nggak mau, Lang. Konsekuensi besar dan gue nggak mau!"
"Konsekuensinya emang besar, tapi itu bisa menguntungkan lo juga, Al. Coba pikirin, deh. Kalo lo berhasil, lo juga yang menikmati hasilnya, Al."
"Tapi, Lang...." Aloka menggeram rendah.
"Lo coba dulu, Al. Kan, kalo berhasil bagus," ucap Elang meyakinkan.
"Tapi, kalo gue kejerumus gimana?" Suara Aloka merendah bersamaan dengan tingkat kepercayaan dirinya yang menurun.
Namun, bukan Elang namanya jika tak bisa meyakinkan orang agar bisa melakukan sesuai dengan kemauannya. Posisi Aloka memang lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya, tapi untuk mengendalikannya adalah sesuatu hal yang mudah. Makanya, Aloka memberi tugas pada Elang agar selalu bisa mempengaruhi musuh mereka agar tunduk dibawah kepemimpinan mereka.
"Percaya sama gue. Kalo lo sampai benar-benar terjerumus, lo hanya punya dua pilihan. Balik kearah dimana lo mulai atau tetap masuk dan mencari jalan sendiri untuk tak terjebak disana."
...***...
TBC