ASMARALOKA

ASMARALOKA
ASMARALOKA - Part 05



...ASMARALOKA - Part 05 ...


***


...............


...


ALOKA menatap sebuah rumah bergaya minimalis dengan warna putih. Rumah itu terlihat asri dengan aksen warna hijau yang menghiasi halaman depan. Ini adalah rumah kakeknya, ayah dari orang tuanya. Meski memiliki kekayaan yang banyak, kakeknya tak pernah ingin untuk tinggal di rumah mewah milik ayahnya saat Ia tinggal di Indonesia.


Dengan penuh kerinduan, Aloka memasuki rumah tersebut. Nenek dan kakeknya tengah duduk bersama menikmati teh dan kue kering buatan neneknya. Aloka hanya diam memperhatikan mereka. Ia tak ingin mengganggu dua sejoli yang tengah menikmati waktunya bersama. Lihatlah bagaimana kakeknya mengecup pipi neneknya.


"Aduh, romantisnya," celetuk Aloka membuat dua orangtua itu menatapnya.


"Aloka!" panggil Irma senang. Aloka menghampirinya dan memeluknya erat. "Nenek senang kalo kau ada disini."


"Aloka juga, Nek. Lama banget nggak lihat muka cantik nenek," balasnya. Ia melepas pelukannya lalu merangkul pundak Irma, membiarkan kepala wanita itu menyender di dadanya.


"Hei, cucu laknak! Jangan menggoda istriku," ucap Indra kesal.


"Astaga, kakek! Apa salahnya menggoda wanita tercantik di dunia? Toh Nenek tidak menolaknya. Benarkan, Nek?" Aloka mencubit dagu Irma.


Indra memukul Aloka dengan tongkatnya. "Kau ini!"


"Kakek apa kabar?"


"Kau tak pernah mau menjengukku. Hanya Ardhani yang sering kesini setiap hari."


Aloka berjongkok. "Kakek, Aloka kan ada di Inggris."


"Kau sangat tidak menyayangiku," ucap Indra sambil membuang wajahnya.


"Aloka, kakekmu ini jadi orang yang gampang marah beberapa bulan ini. Kau harus punya sesuatu untuk meredakan amarahnya," ucap Irma.


"Kakek, Aloka punya sesuatu untuk Kakek." Aloka membuka tasnya. Ia mengeluarkan sekotak mika dan menaruhnya dipangkuan Indra. "Aloka bawain asam jawa kesukaan Kakek."


Indra mengambil kotak mika itu dan menaruhnya di meja. Ia kemudian beralih pada Aloka. Indra mengusap pipi Aloka lalu menepuknya pelan. "Kau memang cucu laknat!" ucapnya terharu.


"Jadi Kakek tak marah lagi?"


Indra menggeleng. "Jika aku marah padamu, anakku akan berhenti mengirimiku uang karena dirimu." Perkataan Indra membuat tawa Aloka terdengar. Ia bangkit dari jongkoknya.


"Kau akan pulang, Alo?" tanya Irma. Sorot matanya terlihat jelas bahwa Ia tengah takut.


"Enggak, Nek. Selama Aloka ada di Indonesia, Aloka akan tinggal bareng sama nenek dan kakek."


"Benarkah?!" Raut wajah Irma berubah begitu saja. Ia menatap bahagia ke arah cucunya dan jawaban cucunya membuatnya langsung memeluk Aloka.


"Nenek akan memasakkan makanan kesukaanmu. Nenek nggak mau tahu, kau harus makan!"


"Tapi, Nek-"


"Sudah, Aloka. Istriku itu tak pernah mau mendengarkan bantahan dari siapapun. Lebih baik kau duduk di samping ku," ucap Indra seraya menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.


"Cerita kan, bagaimana keadaan ayah dan ibumu."


"Papa sama mama baik-baik aja, Kek. Mereka juga sering tanya keadaan kakek sama om Barata."


"Ayahmu itu jahat sekali. Seharusnya jika dia merindukan ayahnya, dia harus datang sendiri ke sini. Bukan malah tanya sama Barata," keluh Indra.


"Gimana lagi, Kek. Grandma Alexandra nggak bisa ditinggal."


"Haish! Kakek nggak percaya sama Grandmamu itu."


"Kata grandma, jangan mempercayai kakekmu!"


Hubungan dekat antara Indra dan Alexandra seringkali disalahartikan oleh neneknya, Irma. Indra hanya menganggap Alexandra sebagai adiknya karena kedua orangtua mereka yang merupakan rekan bisnis. Alexandra adalah sahabat baik untuk Indra. Semua keputusan yang diambil oleh Indra, Alexandra memberikan pengaruhnya. Bahkan saat akan menikah, Alexandra memberi saran pada Indra agar menikahi Irma. Dengan catatan bahwa suatu saat anak mereka akan menikah.


"Grandma mu itu sangat unik!" ujar Indra sambil membayangkan bagaimana masa lalunya.


"Ya, kalo nggak baik, grandma pasti udah larang Aloka buat pulang ke Inggris."


Kepulangan Aloka benar-benar sulit. Alexandra sedang sakit dan Ia sangat menginginkan jika cucunya ada disana. Akhirnya Aloka meminta kakaknya Lokan untuk menjaga Alexandra karena itu Aloka memilih untuk pulang ke Indonesia. Ia benar-benar merindukan teman-temannya.


Namun, Ia tak menyangka jika kepulangannya ke Indonesia adalah keputusan yang paling tidak tepat di sepanjang hidupnya.


"Ada apa, Nak?"


Lamuan Aloka tersentak. Ia menoleh pada Indra lalu tersenyum, "Nggak ada apa-apa, Kek. Cuman keinget wajah-wajah temen-temen."


"Kenapa temen-temen mu? Nggak ada yang berubah, kan?"


Aloka menggeleng. "Bukannya berubah malah makin parah, Kek," keluh Aloka.


"Itu yang namanya persahabatan. Kau harus menjaganya baik-baik. Membangun suatu hubungan itu tak semudah menghabiskan masakan Nenekmu. Teman-temanmu itu sangat konyol. Tak mudah untuk menemukan orang yang sama."


"Yah... mereka sangat konyol," gumam Aloka.


...


...


"Bagaimana, Alo? Enak?"


Entah berapa kali Aloka menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Masakan Irma memang the best. Aloka tak pernah merasa seenak ini saat makan bersama keluarganya. Mamanya, Isabella, tak bisa masak. Selama di rumah, pembantu lah yang menyiapkan segala makanan dan itupun saat keluarganya kumpul. Anton, ayahnya selalu pergi ke luar kota bersama Isabella untuk mengecek pabrik mereka yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Lokan adalah seorang pilot. Melihatnya di rumah merupakan hal yang paling dinanti-nanti. Sedangkan dirinya, Aloka sering menghabiskan waktu bersama keempat sahabatnya atau bersama dengan kakek dan neneknya. Hidupnya benar-benar sesepi ini.


"Irma, jangan bertanya pada Aloka. Dia sedang asik makan," ucap Indra saat melihat betapa lahapnya Aloka makan. Aloka hanya menunjukkan isyarat melalui tangannya bahwa makanan ini sangatlah lezat.


Setelah makan, Aloka, Indra, dan Irma menghabiskan waktu mereka di ruang televisi hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam. Irma sangat suka menonton serial India dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Entah apa yang membuat Irma sangat menyukainya, padahal keduanya sama saja. Apa karena Ichcha dan Tapasya?


"Kau akan menginap atau pulang?" tanya Indra ditengah-tengah ramainya suara televisi. Ternyata sudah diganti acara dangdut.


"Kau akan pulang? Jam segini?" cecar Irma penuh kekhawatiran.


"Aloka nggak tahu, Nek. Mau pulang nggak ada orang di rumah, mau nginep disini nggak bawa baju."


"Pakai baju Kakekmu aja, Alo," balas Irma.


"Aduh, Nek. Bajunya kakek itu bikin Aloka pusing. Campuran bau balsem sama bau tanah," canda Aloka.


"Kau ku pecat jadi cucu jika menggodaku terus!" ujar Indra yang membuat Aloka menyengir.


"Aloka ke kamar dulu," pamitnya.


Aloka menapaki tangga kayu yang ada di belakang ruangan. Indra dan Irma sudah cukup tua. Mereka tak pernah menggunakan tangga ini. Meski begitu, Irma sangat rajin membersihkannya. Ia tahu jika cucunya yang tersayang akan selalu pulang ke sini.


Sebuah pintu bertuliskan Aloka Ganteng Wiraguna membuatnya berhenti melangkah menyusuri lorong tua ini. Aloka tak tahu jika dirinya sangat alay pada sama itu. Ia membuka pintu kamar masa kecilnya. Poster NASA langsung menatap nyalang ke arah Aloka. Aksen kamar ini penuh dengan berbagai benda langit. Mulai dari bintang, tata surya, rasi bintang, hingga berbagai cacatan tentang asteroid. Aloka ingat, betapa sukanya ia pada astronomi. Selalu dengan bangga Aloka menceritakan bagaimana keinginannya untuk melihat luar angkasa pada Anton. Akan tetapi, posisi Aloka yang merupakan pengganti Lokan membuatnya harus mengubur cita-citanya dalam-dalam. Lokan memilih untuk menjadi pilot dan melupakan tugasnya sebagai anak pertama yang mewarisi hampir seluruh kekayaan keluarga Wiraguna. Lokan dan ambisinya. Sangat cocok!


Aloka membaringkan tubuhnya ke ranjang kecil yang ada disana. Atap kamarnya terbuat dari kaca. Itu membuatnya leluasa untuk melihat jutaan bintang yang terlukis di langit malam. Perlahan-lahan matanya terpejam. Keindahan ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan untuk Aloka. Lupakan fakta bahwa Ia masih mengenakan kaus oblong polos dan celana sekolah. Ia terlalu malas untuk kembali ke rumah meski hanya sekadar mengambil setelan baju.


...


...


***


TBC