
...ASMARALOKA - PART 02...
...***...
.........
BARU kemarin rasanya Aloka menginjakkan kakinya di depan sebuah gedung dengan lambang anak panah yang siap meluncur ke udara. Tulisan SMA ATMADJA tercetak jelas dimana-mana seakan-akan menjelaskan betapa bangganya mereka akan nama tersebut. Kompleks sekolah ini terdiri dari empat sekolah tingkat dimana SD dan SMP berada dalam satu gedung, SMA terletak di gedung utama, sedangkan perguruan tinggi terletak di belakang gedung ini dengan sekat tembok besar yang membatasi empat tingkatan pendidikan tersebut....
Sejak SD, Aloka bersekolah di yayasan ini. Orangtuanya sangat dekat dengan keluarga Atmadja -pemilik yayasan sekolah ini. Papa dan Mamanya sering berdonasi demi kelangsungan pendidikan disini. Makanya, yayasan Atmadja mendapat kehormatan bisa bersanding dengan tiga yayasan pendidikan di kota ini; YAYASAN NUSANTARA, YAYASAN WIYATA, dan YAYASAN MAHAPRAJA.
Gedung sekolah ini sangat besar. Saat memasuki gerbang utama, kamu akan melewati lapangan luas dengan rerumputan di sampingnya. Perlu menggunakan kendaraan seperti; mobil atau motor agar cepat sampai ke pintu utama gedung. Di sebelah kanan ada lahan parkiran terdiri dari lima lantai dan di sebelah kiri ada hamparan lapangan olahraga yang terdiri dari; lapangan sepakbola, lapangan voli, lapangan basket, dan lapangan tenis.
Bangunan gedung sekolah ini bermotif bangunan Eropa yang memiliki arsitektur yang instagramable. Dengan motor klasik berwarna metal, Aloka masuk ke dalam pelataran gedung sekolah. Beberapa siswa melihatnya seakan-akan dia adalah harta karun yang diinginkan selama ini.
"Aloka udah balik?! Beneran?"
"Hey! hey! Aloka udah balik!!"
"Aloka!!"
"Prince Charming School balik!!"
Orang-orang mulai berbondong-bondong menuju halaman depan guna melihat si prince charming itu. Elang, Aji, dan Sakha yang ada di kantin juga ikut terkejut saat mendapati jika teriakan heboh tentang Aloka sampai meninggalkan kantin yang biasanya selalu ramai di pagi hari.
Hal-hal tentang seorang Aloka Wiraguna akan menjadi perbincangan hangat. Dulu saat Aloka harus pergi ke Inggris untuk pulang kampung, satu yayasan tiba-tiba saja berduka. Seperti ada pembakaran mayat para korban perang, mata mereka tak pernah mengering saat Aloka menyampaikan ucapan terakhirnya. Dan kali ini, kedatangan Aloka seakan mengeluarkan warga sekolah dari duka mendalam mereka selama dua tahun.
"Gue yakin, kalo bentar lagi kantin ini bakal rame lagi," ucap Elang penuh percaya diri.
"Elah, yakin banget kalo kantin bakalan rame. Aloka aja biasanya langsung ke kelas," ucap Sakha.
"Percaya deh sama gue, Kha. Gue tuh punya insting yang kuat." Elang menunjuk ke pelipisnya.
Aji mencibir, "Serah lo, deh, Lang. Nggak guna batah omongan lo."
"Ya dong! Elang Pradyumna yang ganteng sedunia gituloh!"
"Udin kali, ah!"
"Gue udah kirim chat ke Aloka buat ke sini dulu," ucap Elang.
"Pede banget kalo Aloka bisa kesini. Yakin banget!" seru Sakha tak percaya.
"Nih, orang kagak percaya banget sama gue."
"Gue udah berhenti percaya sama lo gara-gara kejadian kemarin. Sorry to say, Lang, tapi apa yang lo rencanain kemarin bener-bener nggak ngotak tahu nggak?"
"Kalo ngotak namanya bukan Elang, Kha. Udah lo diem aja, biarin otak Elang yang katanya jenius itu menjawab segalanya," sahut Aji sambil menyeruput teh botolnya.
"Sampai kapan, Kha, lo nggak ngakuin kalo otak gue jenius? Aji aja ngakuin kalo gue udah setingkat Issac Newton."
"Lo kejatuhan duren?"
Kening Elang mengernyit heran, "Kok duren? Hubungannya apa?"
"Ya, kan, kalo Issac Newton itu kejatuhan apel, sedangkan di sekolah kita nggak ada pohon apel. Adanya pohon duren di kebon belakang, mungkin aja lo kejatuhan duren terus jadi nemu teori tak berujung itu. Secara lo kan masuk kategori Bolang; Bocah Ilang," ucap Sakha agak menyebalkan.
Elang menganga. Ucapan Sakha sangat menyebalkan. "Lo mah, bukan friend gue!"
"Emang Thomas and Friends apa? Dan sejak kapan gue ngakuin lo sebagai temen gue?"
"Omo! Ampun deh, Sakha, Elang! Kalian jangan banyak berdebat napa? Samnyang gue jadi nggak enak rasanya gara-gara air liur kalian nih," kesal Aji sambil bersungut-sungut.
"Mencret baru tahu rasa, lo! Pagi-pagi udah makan yang pedes-pedes. Otak diasah, bukan malah lidah!" jawab Elang membuat kekesalan Aji meningkat.
"Besok-besok gue bakal bikin plakat besar supaya kalian berdua nggak bisa masuk ke basement gue!" Aji menunjuk Elang dan Sakha dengan sumpitnya. "Gue bakal ganti password Wi-Fi rumah gue supaya lo nggak bisa main ML sama PUBG lagi!" Ia lalu bergantian pada Elang. "Dan gue ngelarang lo pake komputer gue lagi!"
"Ya ampun, Ji! Gue pake komputer lo juga demi kebaikan bersama juga. Kalo gue dapet bocoran soal, kan bagus buat kita," ucap Elang.
"Jangan ngadi-ngadi lo! Terakhir kali lo pake komputer gue, malah lo buat kriminal!"
"Kalo itu bukan kesalahan gue, Ji. Guru-guru aja yang sok suci."
"Bukan itu, Lang! Seminggu yang lalu lo bobol bank. Gue sampai dimarahi bokap sama nyokap gara-gara lo! Untung yang lo bobol bank milik bokap gue."
Elang menyengir. "Kalo itu gue sorry banget, Ji. Gue belum dapet jatah bulanan dari Mami."
"Lo pernah bobol bank, Lang?" tanya Sakha dengan nada tinggi. Untung saja kantin sepi.
"Hehehe..." Elang menggaruk tengkuknya. "Gue cuman ambil lima ratus ribu aja, Kha. Gue butuh banget sneaker yang baru launching," ucapnya tanpa dosa.
"Beneran makhluk laknat kau, Lang!" Sakha menggelengkan kepalanya.
"Kalau bukan laknat, bukan Elang namanya," celetuk Aloka dari arah belakang.
Senyum kemenangan kini terhias pada wajah Elang. Ia bangkit dan merentangkan tangannya guna memeluk Aloka. "Welcome back to school, Man! I'm really really miss you."
"Nggak usah munafik lo! Kemarin malem aja kita ketemu!" Aloka menghempaskan tangan Elang. Ia lalu mengambil duduk di sebelah Aji yang masih asik makan Samnyang nya. Ia kemudian terbatuk-batuk. "Eh, buset! Nih samnyang nyengak banget, anjir!" Aloka menegak air mineral yang ada di meja itu.
"Bodo amat!" ketus Aji.
"Nggak mules tuh perut?" tanya Aloka setelah menegak air mineral full.
"Makanya, Lambe aja kalah sama dia," jawab Aloka menanggapi candaan dari Elang. "Atau jangan-jangan lo yang bikin akun Lambe?" Aloka menatap tak percaya pada Aji.
"Mimi peri dong?" sahut Sakha.
Aji memutar matanya jengah. Ia baru saja menghabiskan empat cup samnyang yang kemarin dia beli. Bibirnya memerah karena pedas. "Jangan drama deh kalian! Alay banget kayak gitu jadi topik pembicaraan." Aji kemudian bangkit. "Gue mau bye dulu,"
"Yah, uke-uke marah!" teriak Elang yang tak dihiraukan oleh Aji. Cowok berkulit putih itu tetap melangkah pergi dari kantin.
"Jangan kek gitu. Kasian Aji," ucap Aloka melunak.
"Lo kayak nggak tahu gimana kita aja, Al. Semua yang kita ucapin cuman bercanda kali," jawab Elang.
"Tapi yang diomongin Aloka ada benernya. Kalo Aji beneran marah, kita nggak bakal punya akses ke basecamp lagi. Aji juga nggak bakal keluar uang lagi kalo kita hangout. Secara kan, Aji lebih loyal daripada kita berempat," ucap Sakha.
"Lo nggak pengen seloyal Aji, Kha?" Alis Aloka terangkat, berniat menggoda Sakha.
"Nggak, lah! Bisa-bisa gue dicoret dari ahli waris kalo ngehabisin uang sebanyak itu. Kalian kan kalo makan kayak babi; rakus!" tolaknya mentah-mentah.
"Kha..." Aloka memajukan tubuhnya. Ia mulai memberikan tatapan serius hingga bisa membuat Sakha merinding. Firasat Sakha jelek, nih...
"Gue nggak pernah maksa lo buat temenan sama kita." Meskipun nada santai, tapi perkataan Aloka bisa membuat hidup Sakha akan berakhir sekarang juga. "Dan kalo lo nggak mau temenan sama kita it's fine." Aloka memberikan senyuman termanisnya sebelum meninggalkan Sakha yang sudah mengompol.
...
...
"Heh, Mia Khalifa! Bagi contekannya!"
Seorang gadis berambut panjang dengan kacamata bulat memasang wajah marah pada Elang. "Nama gue Mila! Bukan Mia Khalifa!"
"Nama lo bagusan Mia Khalifa. Mila terlalu jelek," bantah Elang. "Bagi contekannya!"
"Nggak. mau!" ucapnya penuh penekanan.
"Ayolah Mia! Nggak gue traktir nanti! Ayolah...," pinta Elang dengan puppy eyes miliknya.
Mila menghela napasnya. "Elang sayang, lo kan hacker, kenapa nggak lo bobol aja komputer guru buat cari bocoran jawabannya kayak waktu itu. Lo kan pinterrrrrrr banget," sindir Mila. "Kalo gitu gue mau balik dulu, mwahhh," Ia memberikan kissbye lalu pergi.
"Hihhh! Jijik gue," ucap Elang sambil mengusap tengkuknya yang meremang.
"Lo sih godain milo. Coba godainnya jasjus nggak jijik pasti," ucap Sakha sambil tertawa.
"Terus gimana, dong? PR matematika gue belum kelar lagi. My baby honey sweety darling ayang Uni Sulistyowati marah dong sama gue nanti," ucap Elang cemberut
"Lah, Bu Uni pacar ke berapa lo, Lang? Kemarin Bu Ratna, sekarang Bu Uni. Lo suka sama ibu-ibu apa gimana, Lang?" tanya Sakha.
"Wooooo, ya jelas dong, Kha. Ibu-ibu lebih berpengalaman."
XI IPA 1 yang tadinya ribut gara-gara tingkah Elang dan Sakha yang selalu saja aneh, mendadak hening seketika. Posisi Elang dan Sakha yang membelakangi papan tulis tak tahu jika Bu Uni sudah datang dan menatap mereka yang semakin asik bergoyang.
"ELANG! SAKHA!!" teriak Bu Uni membuat mereka berhenti sejenak sebelum akhirnya membalikkan badannya.
"Eh, Bu Uni yang cantiknya sedunia."
Senyuman tak berdosa menghiasi wajah Elang sembari menatap guru berkonde besar yang terlihat seperti bangsawan dari keraton. Tatapan Bu Uni semakin menajam seiring dengan mendekati Elang dan Sakha.
"Lari lapangan sepak bola lima puluh kali putaran!" titah Bu Uni. "NGGAK ADA BANTAHAN!" ucapnya lagi saat menyadari bahwa Elang dan Sakha akan membantahnya. Dengan wajah bersungut-sungut, Elang dan Sakha melepas almamater mereka lalu pergi ke lapangan bola yang ada di depan sekolah. Tingkah mereka berdua membuat Aloka tertawa. Ada juga orang yang seaneh mereka berdua.
"Kita lupakan mereka lalu lanjut materi minggu kemarin," ucap Bu Uni lalu mulai menuliskan beberapa materi tambahan.
Aloka yang tak tahu apapun segera menyenggol Titan yang berada disebelahnya. Cowok berwajah dingin itu mendongak. Alisnya terangkat seorang bertanya apa yang Aloka butuhkan.
"Setelah ini gue pinjam cacatan punya lo," ucapnya. Titan membalasnya dengan anggukan singkat sebelum kembali menulis materi.
"Oh ya!" Gerakan seluruh siswa-siswi kelas berhenti saat suara Bu Uni terdengar di keheningan. Apa yang dilakukan Bu Uni selanjutnya membuat mereka penasaran. Sebelumnya, saat kejadian ini berlangsung, Bu Uni tiba-tiba memberikan ujian mendadak. Dan jumlah soal yang diberikan tidak main-main; 50 soal dengan sisa waktu 60 menit.
Bu Uni membalikkan badannya. Memang perasaan Aloka saja atau Bu Uni memang ingin melihat wajah tampannya? Titan? Tak mungkinkah. Melihat wajahnya yang nggak ada senyum-senyum sama sekali pasti buat orangtua yang udah lanjut kayak Bu Uni darah tinggi, terus besoknya stroke, Astaghfirullah, Al. Nyebut!
"Kamu bukannya yang dua tahun lalu bikin sekolah ini nangis kejer? Yang katanya mau ke Inggris?" Karena tak tahu banyak tentang sikap Bu Uni, makanya Aloka mengangguk dengan polos.
"Kenapa balik lagi ke sini? Guru-guru SMP kamu bilang kalo kamu itu biang masalah. Kenapa kamu nggak menetap di Inggris aja supaya kamu dapat pelajaran tata krama? Elang dan Sakha udah banyak bikin saya pusing. Jadi, kalo kamu bikin masalah, saya pastikan kamu akan keluar dari sekolah ini!"
Aloka meneguk ludahnya susah payah. Guru satu ini benar-benar membuatnya ngeri sendiri. Jika ditanya film apa yang cocok dengan Bu Uni, maka dengan jelas Aloka menjawab; Misteri Gunung Merapi, jadi Mak Lampir. Vibe nya ngena banget gilak!
"Si-siap, Bu," jawabnya.
"Bagus!" Bu Uni lalu melanjutkan kembali pengajarannya.
Waduh... kalo gurunya kayak gini semua gue nggak bakal tahan lagi? Aduh!
***
TBC
...
...