ASMARALOKA

ASMARALOKA
ASMARALOKA - Part 06



...ASMARALOKA - Part 06 ...


...***...


ASMARA memejamkan matanya. Berusaha untuk memendam amarahnya yang sudah berada di langit ketujuh. Ibarat gunung api yang akan mengeluarkan lavanya. Asmara mengusap wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa jengahnya ia saat sosok yang tak diinginkannya selalu nampak di hadapannya. Aloka terus mengikutinya seperti anak ayam yang patuh pada induknya. Apakah cowok ini tak punya pekerjaan lain selain merecokinya?


"Al, lo nggak keracunan makanan, kan?" tanya Renatta, gadis berkacamata bulat itu memandang Aloka dengan heran.


Lihatlah! Semua pasang mata tengah menatap ke arah meja mereka. Setelah kejadian di depan kelas XI IPA 3 kemarin, tak henti-hentinya semua murid membicarakannya. Entah itu memuji keberanian Aloka atau mengolok-olok Asmara yang terlalu Nokia untuk Aloka yang iPhone.


"Udahlah, Re. Nggak usah dipikirin."


"Lo tuh aneh tahu, nggak? Kemarin bikin keributan di kelas kita sekarang bikin keributan lagi di kantin. Lo nggak tahu kalo hampir semua orang ngeliatin meja kita kayak gitu? Baru aja kemarin masuk, udah bikin ulah," ujar Renatta panjang lebar dikali tinggi dibagi volume. Namun tak dihiraukan oleh Aloka. Dia masih setia memandangi Asmara dengan intens.


"Al, daripada lo disini, mending lo ke lapangan. Temen-temen lo pada latihan basket buat turnamen bulan depan."


Untuk kali ini Aloka menoleh saat suara lembut Ardhani menyapa telinganya. "Bisa diatur, Ar. Lagian gue kapten basketnya dan untuk turnamen depan kecil buat gue."


"Kebiasaan lo!" timpal Renatta kesal.


"Kenapa, sih, Re? Lo judes banget sama gue?" tanya Aloka heran. Sebenarnya Ia sudah tahu apa yang membuat Renatta mode on saat bertemu dengannya. Namun, menggoda gadis itu adalah hal yang menyenangkan untuknya.


"Retoris banget pertanyaannya."


"Elah, nggak salah lagi gue nanya, orang gue nggak tahu jawabannya."


"Nggak usah munafik deh, Al! Bosen gue sama drama lo!"


"Siapa yang lagi drama sih, Re? Gue kesini karena males bareng sama mereka. Kali-kali gue sama kalian, nggak pernah kumpul kayak gini," ucap Aloka penuh alasan.


"Gue kepikiran kalo lo bener-bener keracunan racun tikus, deh, Al," celetuk Firda, cewek berambut panjang dengan wajah seperti boneka. Bisa Aloka bilang jika Firda adalah gadis tercantik di sekolah ini setelah Ardhani tentunya.


"Mati kering, dong, Fir."


"Bukan racun tikus, Fir. Racun sianida!" balas Renatta ketus.


"Emang gue Jessica apa?!" balas Aloka tak kalah ketus. Membuat Renatta memelototinya dan dibalas oleh Aloka.


"Liat kalian kayak gini bikin gue berasumsi kalo kalian jodoh!" ucap Martha.


"Martha!"


"Dih!"


"Gue jodoh sama dia?! Mending gue jadi perawan tua!"


"Ihh, gue juga nggak mau jodoh sama cewek jadi-jadian kayak lo! Bisa-bisa gue dimutilasi Aji. Dia kan pacarnya Aji!"


"Gue bukan pacarnya Aji!" ucap Renatta setengah teriak.


"Lo pacarnya Aji!" kekeuh Aloka.


"Nggak!"


"Iya!"


"Enggak!"


"Iya, Re!"


"Aloka! Gue bunuh lo sekarang juga!!!!" teriak Renatta. Ia sudah mengangkat garpunya dan bersiap mencolok Aloka. Aloka menjulurkan lidahnya. Itu membuat Renatta menggeram kesal. Ia melemparkan garpunya dan mendengus.


"Udah, dong. Kalian ini nggak ada bosan-bosannya apa?"


"Ih, kok gue?!" balas Aloka tak terima.


"Iya, Lo! Nggak ada yang lebih nyebelin dari lo!" ngotot Renatta.


"Lo yang lebih ngeselin!"


"Kok jadi gue?!"


"Emang lo yang salah!"


"Bangsat, lo, Al!" umpat Renatta tiba-tiba. Membuat keheningan seketika melanda di meja mereka. Renatta tak pernah mengumpat jika tidak didepan Aloka. Semua yang ada di Aloka membuat Renatta darah tinggi.


"Loh. Bangsat kok teriak bangsat."


Renatta akan meluapkan amarahnya jika saja Ardhani tidak menghentikannya. Ardhani lalu beralih pada Aloka. "Al. Mending lo pergi aja, daripada bikin huru-hara disini, kasihan yang lainnya."


Aloka mengangkat bahunya. "Oke." Ia lalu bangkit dan meraih tangan Asmara. "Ayo, sayang!" ucapnya membuat segalanya jadi runyam.


...


...


"Lepasin!!"


Asmara menghempaskan tangan Aloka dengan kasar. Kondisi taman yang sepi membuat Asmara leluasa mengacak-acak Aloka. Bagaimana tidak? Jika sepanjang mereka berjalan, anak-anak SMA ATMADJA menatap mereka. Bisa Asmara pastikan jika besok rumor tentang dirinya akan tersebar.


"Mau lo apaan, sih! Nggak puas apa bikin berita aneh-aneh tentang gue kemarin!" seru Asmara mengeluarkan unek-uneknya.


"Stttt." Aloka mendesis. "Bisa diem nggak sih?! Cerewet banget jadi cewek!"


Hah! Asmara menganga! Gampang banget nih cowok. Setelah membuat Renatta kesal, sekarang Asmara yang kesal karenanya. Memang cowok ini titisan dakjal.


Tak ingin mendapat masalah baru lagi. Asmara akhirnya memilih untuk beranjak dari sana. Namun, Aloka menghalanginya.


"Ehhhh....., lo mau kemana?" tanyanya sambil memegang tangan Asmara.


"Bukan urusan lo!" jawab Asmara ketus.


"Ckk! Gue yang bawa lo kesini dan lo nggak pamit dulu sama gue?"


Asmara mengerutkan keningnya. "Kenapa gue harus pamitan sama lo?"


Dengan sombong, Aloka melipat kedua tangannya di depan dada. Ia lalu berjalan membelakangi Asmara. "Semua yang ada di sekolah ini adalah milik gue, dan semua yang ada di sini harus sesuai dengan izin yang gue berikan. Termasuk lo yang mau pergi dari taman ini. Tanpa izin dari gue, lo nggak boleh keluar satu mili pun!"


Permainan apa yang dilakukan titisan dakjal ini. Entah mengapa firasat Asmara tentang Aloka benar-benar buruk. Ia harus menjauhi cowok ini saat ini juga.


"Terserah! Mau sekolah ini milik bapak lo, milik tetangga lo, gue nggak peduli."


Aloka membalikkan badannya. Suara kekehan penuh tanda keluar dari mulutnya. "Lo pasti peduli." Ia mengambil jarak mendekati Asmara. "Cewek kayak lo, kekuasaan itu penting. Am I right?"


Asmara termangun. Aura Aloka begitu tajam dan mengintimidasi. Ia tak tahu apa yang Aloka pikirkan hingga bisa menilainya serendah ini. Ingin rasanya telapak tangannya ini membentur pipi Aloka, menjambak rambutnya, dan menendang aset miliknya.


"Pulang sekolah bareng sama gue! Nggak ada bantahan sama sekali!"


Setelahnya Aloka pergi meninggalkan Asmara yang masih terdiam. Aroma Aloka yang benar-benar manly membuatnya tak mampu untuk mengangkat kakinya dari sini. Apa yang terjadi padanya?


...***...


TBC