
...ASMARALOKA - Part 03 ...
...***...
KANTIN SMA Atmadja adalah tempat favorit bagi Aloka dan teman-temannya. Selain bisa makan dengan sepuasnya, mereka juga bisa ngeceng i adik-adik kelas mulai dari yang gampang baper sampai sok-sok jutek padahal sekali kedip langsung klepek-klepek. Dasar cewek!
Tingkat keplayboyan duo garong itu semakin meningkat semenjak masuk SMA. Aloka tak henti-hentinya menertawakan Sakha dan Elang yang terlihat sangat konyol. Mungkin efek lari maraton tadi. Saat ini mereka hanya berempat. Titan tak lagi bergabung sejak menjadi pacar Ardhani. Laki-laki itu jadi bucin akut yang kemana-mana harus nempel sama Ardhani. Aji sedang mengenakan earphone sambil menatap ke arah lapangan dimana anak-anak kelas 12 tengah melaksanakan ujian praktek. Mengajak bicara Aji sama saja masuk ke kandang singa. Aloka yakin jika Aji akan koar-koar jika Aloka mengganggunya.
"Al, lo udah ketemu belum sama orangnya?" tanya Aji setelah sekian lama asik dengan dunianya sendiri.
Aloka menggeleng. Padahal sejak tadi Aloka berusaha untuk mencari siapa yang dimaksudkan oleh Elang. Seseorang yang bisa menjamin kekuasaannya di SMA ini. Sebenarnya Aloka tak terlalu peduli. Ia akan lulus dari sini setahun lagi dan toh semua murid juga sungkan padanya. "Gue belum tahu terlalu kenal sama anak-anak sini. Kebanyakan kan bukan alumni SMP Atmadja."
"Gue agak nggak yakin, deh," ujar Aji tiba-tiba. Ada nada kekhawatiran yang kentara di kalimatnya.
"Maksudnya?"
"Gini, loh, Al. Lo kan baru datang ke sekolah ini yang otomatis cuman anak-anak Atmadja asli yang kenal sama lo, kayak yang lo omongin tadi. Dan nih orang bukan dari Atmadja. Gue takut kalo dia malah maki-maki lo dan bikin yang nggak-nggak." Aji mengungkapkan kekhawatirannya yang membuat Aloka terdiam.
"Iya juga, sih!" Setelah Aloka pikir-pikir, agak aneh rasanya jika langsung to the point sama orang asing. "Terus, gue harus gimana dong, Ji?"
"Hmmm, lo nggak ada niatan buat cari profilnya? Circle kita kan cukup pro sama yang namanya cari-cari informasi. Lagian lo nggak cari ignya aja? Elang, kan udah ngasih."
"Ignya di private. Males gue follow duluan. Nge-chat Ardhani malah ditanyain aneh-aneh."
"Iya, sih aneh. Secara seorang Aloka bisa kepo sama cewek adalah keajaiban dunia," kekeh Aji.
"Ji, Al. Kita berdua beri cilor nya Mang Ujang, ya," pamit Sakha yang diangguki oleh Aloka. Ia dan Elang kemudian pergi ke salah satu warung disana.
Siapa dia?
Otak Aloka benar-benar berhenti disini. Tak ada satupun orang di sekolah ini yang memberitahu padanya tentang orang yang Ia cari. Sepertinya, Elang sudah menyuruh satu sekolah memusuhinya.
Suara gaduh terdengar dari arah pintu masuk. Aloka dan Aji membalikkan badannya guna melihat siapa yang membuat kegaduhan itu.
Ariel Pratama.
Mendengar nama itu membuat sudut bibir Aloka tertarik. Sudah lama Ia tak menemui laki-laki berbadan tegap itu. Orang yang selama ini mengibarkan bendera perang untuknya.
Dibelakang Ariel ada dua orang yang sama tengilnya. Yoga dan Melvin. Mereka bertiga menatap Aloka remeh. Sedangkan, Aloka? Dia hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Aloka bangkit saat Ariel berada di samping mejanya.
"Setelah sekian lama, si tikus muncul juga," celetuk Ariel. Seketika kantin sunyi dan senyap. Tak ada seorangpun yang bisa membuka suara mereka jika dua kekuatan besar SMA Atmadja berhadapan.
"Gue rasa waktu lo untuk sembunyi udah cukup." Ariel memajukan wajahnya hingga membuat jaraknya dengan Aloka tinggal beberapa sentimeter. "Dan pengecut kayak lo, nggak pantes di sini." Ucapan Ariel benar-benar mengusik ketenangan para siswa di kantin.
Sedangkan Aloka hanya terkekeh. "Lo yang cocok disini?" tanyanya membalik keadaan. "Gue baru tahu kalo sekolahnya Titan nerima murid bodoh kayak lo," sindir Aloka sambil menekan kata bodoh.
Ariel mengepalkan tangannya. "Terserah. Yang penting, gue berkuasa atas sekolah ini dan lo harus tunduk dibawah kaki gue!"
"Gue rasa lo yang harus tunduk dibawah gue!" Tiba-tiba Aloka meraih tengkuk Ariel hingga membuat cowok itu membungkuk setengah badan dihadapannya. Sontak hal itu membuat semua orang membulatkan matanya. Keajaiban yang tercipta membuat beberapa dari mereka mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut. Sosok Ariel menunduk! Wauw....
"Gue terima salam dari lo," ucap Aloka sambil tersenyum jenaka.
Tangan Aloka terhempas kuat. Wajah Ariel memerah karena menahan marahnya yang sudah diujung tanduk. Tanganya terkepal kuat. Ariel bersiap menyerang Aloka jika saja Ia tak ditahan oleh sebuah tangan yang ada di dada Ariel.
"Cukup!" Titan menatap tajam ke arah Ariel. "Pergi!" Suara Titan naik satu oktaf.
"Titan... Titan... buat apa gue pergi? Gue bayar SPP dan jangan lupakan fakta kalo keluarga lo makan dari sumbangan gue," ejek Ariel membuat rahang Aloka, Titan, Aji, Elang, dan Sakha mengeras. Berbeda dengan Yoga dan Melvin yang tertawa terbahak-bahak.
"Tan!"
Titan menoleh pada Aloka.
"Biar gue aja yang ngadepin cowok kayak dia. Seorang raja kayak lo nggak pantes ngadepin kacung kayak dia." Mata Aloka tak lepas dari Ariel.
"Kacung?" Yoga bersuara. "Lo nggak lebih tinggi dari kita!"
Aloka hanya melirik Yoga. Cowok itu sama sekali tak penting. "Apa mau lo?" tanya Aloka langsung.
"Gue nggak mau apa-apa. Gue cuman mau nyapa si tikus yang suka sembunyi."
"Riel, lo tahu kan, kalo selama gue pergi, Titan yang ambil kekuasaan atas anak-anak Atmadja. Lo nggak berhak klaim sesuatu yang bukan milik lo." Aloka menepuk pundak Ariel. "Gue harap lo paham. Lo kan pinter," candanya. Ia lalu meninggalkan Ariel yang misuh-misuh.
...
...
Bruk!
Tubuh Aloka menabrak seseorang hingga orang yang ditabraknya jatuh
"ADUH!" ringisnya.
Aloka mengusap-usap dadanya yang terasa sakit. Ia lalu beralih pada orang itu. Ternyata seorang gadis berambut cokelat dengan panjang sebahu. "Heh! Jalan lihat tuh pake mata! Bukan kuping!" semprot Aloka.
Gadis itu menganga lebar, menatapnya marah. Ia lalu bangkit dari duduknya. "Lo tuh yang jalan nggak pake mata! Udah tahu lorong sepi masih aja nabrak! Oh, atau lo modus sama gue! Iya, kan? Ngaku lo!"
"Dih! Jijik banget gue modusin lo. Sampai kiamat gue nggak bakal ada niatan kayak gitu! Ogah banget!" kilah Aloka.
"Jangan sok! Kalo entar lo suka sama gue, gue bikin lo ngemis cinta sama gue."
"Heh, cewek! Dengerin baik-baik. Pasang kuping lo. GUE. NGGAK. AKAN. PERNAH. SUKA. SAMA. LO! Dalam mimpi pun nggak akan pernah!" Jari telunjuk Aloka mengacung pada wajah gadis itu. Matanya tetap menatap tajam mata yang menatap nyalang ke arahnya. Sungguh berani gadis ini.
Tangan Aloka segera Ia tepis. "Hah... Heh... Hah... Heh! Lo pikir gue merpati apa?!" kesalnya.
Aloka hanya mengangkan bahunya tak peduli lalu pergi meninggalkan gadis itu. Tapi tangan gadis itu dengan segera menggapai lengannya. Dari yang Aloka lihat, mata gadis itu memancarkan keinginan tahuan yang besar. Ada apa?
"Siapa lo? Gue nggak pernah lihat lo disini?" tanya gadis itu sembari memandang wajah Aloka lekat. Terpesona? Entahlah, Aloka benar-benar tak peduli. Wajahnya memang terlalu tampan. Blasteran surga dan neraka. Indah dan berbahaya.
"Lo tanya nama apa pangkat?"
Kening gadis itu mengerut. "Maksud lo?"
"Ya, lo nanya nama gue apa kedudukan gue disini?"
"Emang lo sepenting itu sampai punya kedudukan disini?" Gadis itu mendengus.
Aloka menarik lengannya hingga bisa bebas dari genggaman gadis itu. Ia lalu menjentikkan jarinya di kening gadis itu. "Lo pikir gue bukan siapa-siapa disini?" ujarnya kesal. Gadis itu masih meringis kesakitan sembari mengusap dahinya yang membekas merah.
"Lo siapa, sih!!" teriakan gadis itu menggema di sepanjang lorong laboratorium. Untung saja tak ada siapapun disini, jika ada Aloka tak bisa membayangkan bagaimana parahnya keadaan gadis ini karena terkena cakaran dari fans nya.
"Ahh, bukan dari Atmadja ternyata. Pantes lo nggak kenal sama gue," ucap Aloka membuat gadis itu semakin merana.
"Stop basa-basi. Cepet omong, lo tuh siapa?"
"Gue...." Aloka menjeda ucapannya. Semakin menyenangkan saat melihat gadis itu kesal. "Kepo!" ujarnya lalu pergi dari sana. Benar-benar pergi!
"HEIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!"
***
TBC
...
...