
"Sebenarnya benda ini di sebut kristal mana,kristal ini yang menyelamatkanku di saat aku lahir dulu.Jadi mungkin tanpa kristal ini aku tidak akan bisa bertahan hidup",Jawab Rion sembari memegang kristal di dadanya.
"Mungkin kristal ini juga yang membuat ku memiliki kemampuan memulihkan diri dengan cepat".
"Aura mana kristal ini membuat perasaan ku tidak nyaman, seperti aura mana yang ku kenali,tapi milik siapa ya?",batin ibu Erika dengan khawatir sembari menggigit kuku kari tangannya.
"Mungkin lebih baik jika tidak ku tanyakan lebih dalam".
"Omong-omong, apakah paman dan bibi adalah kesatria kerajaan?",tanya Rion.
"Darimana kau tahu jika kami kesatria kerajaan",jawab Ayah Erika.
"Tentu saja,dari zirah dan pedang yang paman dan gunakan",ujar Rion.
"Terlebih lagi yang menguatkan fakta jika paman dan bibi kesatria kerajaan adalah hal yang paman bicarakan tadi,bukankah Paman datang kemari untuk perwakilan dari kerajaan Altrais?".
"Wah...Kau begitu terobsesi pada kami ya Nak Rion",ucap Ibu Rion.
"Tentu saja aku ingin tahu banyak,itu semua dikarenakan aku ingin menjadi kesatria kerajaan",ucap Rion dengan bangga.
"Wah kau juga ingin menjadi kesatria kerajaan ya Rion,kita memiliki impian yang sama",ujar Erika dengan penuh semangat.
"Kalian tahu?, menjadi kesatria kerajaan itu tidak mudah sama sekali",ucap Ayah Erika.
"Kalian harus selalu dalam kondisi siap bertarung kapanpun, karena menjadi kesatria kerajaan bukan main-main,kalian harus selalu menjaga kerajaan agar dalam kondisi aman.
"Tentu saja akan kami lakukan",ujar Erika dengan bangga.
"Yah jalan kalian masih panjang untuk menggapai impian itu, karena itu cepatlah tumbuh dewasa ya",ucap Ayah Erika.
Mereka pun memakan sup dengan lahap dan di saat mereka telah selesai memakan sup,mereka pun memasang tenda dan hendak tidur.
"Rion!,tidurlah dengan kami semalam.Besok kami akan mengantarkan mu pulang", Teriak Ibu Erika.
"Apakah boleh?,aku telah banyak merepotkan kalian",ujar Rion.
"Tenang saja,kau disini sudah dianggap anggota keluarga oleh kami",ucap Erika seraya memasang senyum hangat yang menghiasi wajahnya.
"Erika benar!.terlalu berbahaya jika kau pergi sendirian melewati hutan belantara ini dan juga tubuhmu masih terluka oleh serangan beruang tadi siang",ujar Ibu Erika.
Mereka pun tertidur pulas di tenda masing-masing.
Dan di saat mereka tengah tertidur.Rion mengendap-endap pergi melewati tenda mereka.
Disaat beberapa langkah dari tenda,Erika memanggil Rion dengan keras,"Rion mau kemana kau?".
Rion yang terkejut pun menghentikan langkahnya dan berbalik arah menghadap Erika,"Aku ingin buang air kecil,kenapa kau harus berteriak seperti itu?".
"Owh... Maafkan aku, silahkan lanjutkan kegiatan mu itu",ujar Erika dengan wajah merah,semerah tomat.
Erika pun kembali untuk masuk ke tendanya.
Rion yang tanpa pikir panjang pun berlari meninggalkan tenda dan menuju kembali ke desanya.
Di tengah perjalanan Rion terkejut dengan Erika yang muncul secara tiba-tiba dari balik pohon,"Aku tahu kau akan berbohong,kau ingin pulang bukan?".
"Apa yang mendasari prasangka mu itu!?",tanya Rion.
"Apa yang mendasari prasangka ku?,disaat aku masuk ke tenda,aku merasa jika kau lama sekali,dan aku yakin kau ingin kabur bukan!?", jawab Erika.
"Tidak,aku tidak ingin kabur,aku benar-benar ingin buang air kecil",ucap Rion.
"Kau berbohong",ujar Erika.
"Tidak,aku tidak berbohong",ujar Rion.
"Kau bohong",ucap Erika.
"Tidak",ujar Rion.
"Kalau begitu ikut aku!",ucap Erika seraya menggandeng tangan Rion dan membawanya ke suatu tempat.
Mereka pun tiba di pinggiran danau.Pada danau tersebut nampak cahaya bulan dan bintang terpantul indah dari air danau,disana ternampak juga kunang-kunang yang lalu lalang mengitari Erika dan Rion.
"Kenapa kau mengajakku kemari?",tanya Rion dengan bingung.
"Eum... Kenapa ya, sebenarnya tidak ada hal spesial",jawab Erika seraya memandangi danau malam.
"Kau tahu!?,banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan dirimu Rion".
"Dikarenakan sekarang sudah tidak ada yang menghalangi, sekarang aku jadi bisa bebas berbicara denganmu",senyum hangat kembali terpampang di wajah Erika.
"Memang apa yang ingin kau bicarakan?",tanya Rion.
"Hei Rion,bagaimana menurutmu?indah bukan",tanya Erika.
"Apanya",tanya Rion dengan raut wajah tidak peduli.
Jtaak.
"Aduh,kenapa kau memukul kepalaku",tanya Rion dengan memelas.
"Itu hukumanmu ,karna kau tidak peka dengan keadaan",jawab Erika.
"Yang ku maksud adalah lihatlah sinar rembulan yang menyinari danau ini".
Rion pun menatap apa yg dikatakan Erika.
"Bagaimana, indah bukan?",tanya Erika.
"Kau benar,bagaimana kau bisa tau ada tempat ini?",tanya Rion.
"Sebenarnya ,aku pernah pergi kesini.Disaat pertama kesini,aku bersama dengan nenekku,dia mengajakku kesini disaat aku yang sedang sedih karna kematian anjingku",jawab Erika.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya",ujar Rion dengan menyesal.
"tidak ,kau tidak salah",jawab Erika dengan senyum.
"Hei Rion,Bukalah baju dan perban yang terbalut di tubuhmu itu",ucap Erika.
"Hei,apa yang ingin kau lakukan dasar mesum",Jawab Rion sembari menyilangkan tanganya.
"Apa yang kau pikirkan,tentu saja aku tidak melakukan hal yang kau pikirkan",ujar Erika dengan wajah yang memerah malu.
"Wah...Ternyata memang benar kemampuan pemulihanmu memang cepat",ucap Erika yang terkejut dengan pemulihan tubuh Rion.
Erika pun mendekati Rion dan menyentuh kristal di dadanya,"apakah sakit?",tanya Erika.
"Tidak,itu tidak sakit sama sekali",jawab Rion dengan wajah yang memerah.
"Apakah ada orang lain di desamu yang mengetahuinya?",tanya Erika.
"Selain Ayah dan Ibuku tidak ada yang tahu sama sekali",jawab Rion.
"Bagaimana jika seluruh desamu mengetahui rahasia mu ini?", tanya Erika dengan penasaran.
"Mungkin penduduk desa akan menganggap ku aneh dan menjauhi ku,karena seperti yang kau lihat.Mengerikan bukan!?",jawab Rion.
Erika pun menurunkan tanganya dari dada Rion dan membuka baju bagian belakangnya,"kau tahu Rion bukan kau saja yang memiliki rahasia".
Seketika keluarlah sepasang sayap dari punggung Erika.
Rion yang melihatnya pun wajahnya terkagum-kagum dan memerah, dikarenakan bak melihat bidadari disinari oleh cahaya rembulan.
"Sama mengerikannya bukan!?", anak-anak seumuranku ketakutan melihat ku seperti ini bukan hanya anak-anak saja ,bahkan para warga di kota menghinaku dan menganggap ku menjijikan".
"Kau tahu Rion?,aku tidak ingin jika hanya kau yang membuka rahasia mu terhadap ku",ucap Erika dengan senyum paksa nya.
"Orang-orang disekitar ku menganggap ku monster karena hal ini".
"Orang tua ku juga tak luput dari hinaan karena keanehan ku ini".
"Aku memanglah monster yang memang pantas mendapatkan ini semua kan".
Tanpa pikir panjang Rion pun memeluk Erika dengan erat,"tidak Erika!,kau bukan monster!,hanya orang-orang bodoh yang melakukan seperti itu,mereka tidak mau memahami hal-hal yang asing dan berbeda dari mereka".
"Menurutku hal tersebut membuatmu terlihat seperti seorang bidadari ketimbang monster".
"Erika tetaplah menjadi dirimu sendiri apa adanya".
Seakan tak terbendung lagi,tangis Erika pun pecah di pelukan Rion,Erika pun menangis cukup lama di pelukan Rion.
"Hei Rion",panggil Erika.
"Ya"jawab Rion.
"Jika sudah dewasa nanti,apakah boleh aku menjadi istrimu?"tanya Erika dengan pipi yang masih basah.
Raut wajah Rion pun seketika memerah semerah tomat.
"A...A...Apa maksudmu!?",jawab Rion dengan gugup.
"Sudah kubilang,maukah kau menjadi suamiku? ",tanya Erika sekali lagi dengan malu.
"Bagaimana kau bisa menanyakan hal seberharga itu kepada orang yang baru kau temui beberapa jam yang lalu",tanya Rion.
"Kau tidak mau ya?",tanya Erika seraya memelas.
"Bukan begitu",jawab Rion.
"Apa karna aku jelek",ujar Erika seraya memelas.
"Sudah kubilang bukan begitu",jawab Rion dengan lantang.
"Sebenarnya kau satu-satunya anak seusiaku yang tidak takut melihat sayapku ini",ucap Erika.
"Kalau begitu baiklah" jawab Rion dengan serius.
"Baiklah apanya?",tanya Erika
"Baiklah,aku akan menjadi suamimu di masa depan nanti"jawab Rion serius dengan wajah yang mulai nampak merah.
"Apa kau bilang tadi?",tanya Erika.
"Sudah kubilang,baiklah aku akan menjadi suamimu di masa depan,kau puas!"jawab Rion yang tersipu malu
"Tapi aku berbohong padamu,hahaha dasar pria mereka sangat mudah termakan rayuan",ejek Erika.
"Ja...Ja...Jadi tadi semua itu bohong?" ,tanya Rion dengan gagap.
"menurutmu?", jawab Erika.Rion pun duduk termenung dengan malu.
"Ah rasanya aku ingin mati",gumam Rion yang terduduk lemas.
"Kalau begitu janji ya",ucap Erika dengan membungkukan kepala di samping Rion.
"Hah jadi tadi bukan bohong",tanya Rion.
"Tentu saja bukan,mana bisa aku berbohong kepada orang yang menerima permintaan ku dengan sungguh-sungguh",jawab Erika dengan raut muka merah.
"Hei Rion bagaimana jika kita bertukar sesuatu?,sebagai tanda janji kita".
"Bertukar sesuatu ya?,hmmm....bagaimana jika kita bertukar kalung kita",jawab Rion
"Ya menurutku itu ide yang bagus",ujar Erika.
Mereka berdua pun saling bertukar kalung.
"Hei kenapa kau memasang fotomu sendiri di kalungmu sendiri,bukankah seharusnya yang dipajang foto seseorang yang berharga bagimu?",tanya Erika seraya memperlihatkanya ke Rion.
"Terserah aku lah,bukankah kau sendiri juga sama",jawab Rion yang juga memperlihatkanya kepada Erika.
"Jika begitu, sebagai simbol dari janji kita.Ingatlah terus janji yang kita buat ya Rion"ucap Erika seraya tersenyum lebar ke arah Rion.
"Tentu saja",jawab Rion.
"Hei Erika sampaikan kepada ayah dan ibumu jika aku pulang"teriak Rion sambil berlari kedalam hutan dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Baiklah Rion"jawab Erika dengan senang.
Disaat di perjalanan menuju desa.Rion terus memikirkan hal yang dia alami tadi seraya tersenyum seolah tidak percaya telah mengalami segala hal tadi,"Aku harus memberi tahukan hal ini kepada Ayah dan Ibuku,jika anak mereka telah menjadi calon suami bagi anak orang",gumam Rion dalam hati.
Sesampainya Rion didepan desa,Alangkah terkejutnya Rion ketika mendapati desanya terbakar dan diserang oleh para mayat hidup dan kerangka.
"Apa-apaan semua ini!?",ucap Rion dengan panik