
Seorang bocah berumur 10 tahun bernama Rion Arcania dengan rambut hitam pekatnya.Dia memiliki satu ambisi besar yang dia rahasiakan dalam hidupnya,yaitu menjadi kesatria kerajaan terhebat.
"Hei Rion,cepatlah keluar.Jika tidak cepat hari akan mulai malam",teriak seorang pria dengan perawakan kekar seraya membawa kapak.
"Iya sebentar Ayah,aku sedang mencari dimana sepatuku",jawab seorang bocah yang tak lain adalah Rion.
"Kenapa setiap kau keluar sepatumu selalu hilang?",keluh Ayah Rion.
Rionpun keluar rumah dengan wajah puas,"Kenapa kau terlihat begitu?",tanya Ayah Rion dengan heran.Tanpa berbasa-basi lagi mereka pun berjalan menuju hutan sembari menarik sebuah gerobak berisi kapak dan tali.
Disaat ditengah perjalanan."Rion,jadi sepatumu kau temukan dimana?",Tanya Ayah Rion.
"Tidak,sepatuku belum kutemukan",Jawab Rion.
"Lalu,sepatu siapa yang kau kenakan?,tunggu dulu sepertinya Ayah mengenali sepatu itu",ujar Ayah Rion seolah mengenali sepatu itu.
"Ini milik ibu",jawab Rion dengan memasang raut wajah bangga seolah tidak bersalah.
"Tunggu dulu,apakah kau mau melihat ibumu marah dan menjadi sosok mengerikan lagi",ujar Ayah Rion dengan wajah ketakutan.
"Tenang saja Ayah, ibu tidak akan marah"Jawab Rion dengan santainya.
"Apa yang kau rencanakan kali ini!?",Batin Ayah Rion dengan perasaan khawatir."Yah apapun itu jangan libatkan Ayah".
Sesampainya mereka di hutan,mereka pun segera menyiapkan peralatan dan mulai menebang.Ayah Rion mulai menjatuhkan beberapa pohon, sementara Rion mendapatkan tugas untuk memotong kayu yang sudah tumbang menjadi beberapa bagian kemudian mengikatnya.
Panas yang terik membuat Ayah Rion dan Rion kelelahan,"Hei Rion,kita istirahat sebentar!",ucap Ayah Rion dengan nafas terengah-engah, Ayah Rion pun terduduk di atas pohon yang telah ia tebang tadi.
Rion diam-diam pergi menuju tempat yang lebih sepi tanpa sepengetahuan ayahnya seraya membawa sebuah tongkat kayu, Rion pun membuka secarik kertas yang berisi gerakan-gerakan dasar tehnik pedang.
"Baiklah mari kita mulai dari aturan dasar.Pertama cabut pedang sebelum pertarungan dimulai.Kedua Amati lingkungan pertarungan.Ketiga percaya dengan insting dan waspada terhadap berbagai kemungkinan.ke empat bersikap tenang dan jangan gegabah.baiklah mari kita mulai"
Rionpun mulai memejamkan matanya dan mulai memperagakan berbagai serangan dan tepisan mengikuti apa yang ia ketahui dari kertas tersebut.Disisi lain Ayah Rion yang merasa hari mulai gelap memutuskan untuk mencari Rion.
"Rion kau dimana?ayo pulang hari sudah mulai gelap!",teriak Ayah Rion seraya menyusuri hutan.
Tanpa disadari Serangan Rion mengenai sesuatu hingga terdengar suara yang begitu keras.Rionpun membuka matanya dan terkejut karena pukulannya mengenai wajah ayahnya.
"Ah, apa yang kau lakukan!?",Bentak Ayah Rion seraya merintih kesakitan memegangi wajahnya.
"Eum...tidak ada",Rionpun bergegas membuang tongkat kayunya.
"Dasar bocah kurang ajar", seketika Ayah Rion memukul kepala Rion hingga meninggal kan benjolan di kepalanya.
"Hari sudah mulai malam.Mari pulang dan jangan lupa ikat kayu-kayu yang sudah kita tebang tadi ke gerobak!",ucap Ayah Rion dengan kesal.
"Dan juga,kayu yang kita dapatkan hari ini cukup banyak,jadi beberapa hari ke depan kita tidak perlu untuk datang kemari".
"Baik"ujar Rion dengan wajah memelas.
Hari pun malam,mereka pun berjalan pulang menuju rumah.
Sesampainya mereka di desa,mereka di hadang oleh seorang kakek-kakek,"Hai,kalian sudah kembali terimalah Ikan-ikan hasil tangkapan ku ini!".
"Tidak apa-apa,anggap saja ini adalah caraku berterima kasih kepada Rion Atas pertolongannya padaku saat tenggelam tempo hari",jawab Kakek Chen dengan ramah.
Rion yang berada di samping ayahnya hanya terdiam seraya memegang kepalanya yg benjol akibat pukulan tadi.
"Baiklah, jika begitu saya terima ikan-ikan ini,terima kasih kakek Chen"ucap Ayah Rion dengan rendah hati.
"Tidak perlu merendah begitu, harusnya akulah yang harus berterima kasih",ujar Kakek Chen tak enak hati.
Dan dari kejauhan seorang wanita paruh baya menghampiri mereka bertiga sembari membawa sebuah keranjang berisi makanan.
"Oh hai Rion,cobalah resep terbaru ku!","Hei Reinhard,bawalah masakan ku dan berikanlah kepada Rion!",ucap wanita tersebut.
"Tidak Silvia!,kau sudah memberikan banyak makanan kepada keluarga kami",ujar Ayah Rion.
"Tidak apa-apa, karena Rion lah penjualanku di balaikota terjual habis.Dia memberikan resep-resep yang hebat,kau tahu mungkin anakmu memiliki bakat menjadi koki", jawab bibi Silvia.
"Dia benar Reinhard, Rion bisa saja menjadi juru masak kerajaan"sahut Kakek Chen.
"Tidak!,aku tidak akan menjadi koki,karena aku akan menjadi seorang kesatria kerajaan!",jawaban spontan keluar dari mulut Rion.
"Tidak!,kau tidak boleh berhubungan dengan kerajaan!",ujar Ayah Rion dengan sontak menyeret pulang Rion meninggalkan Kakek Chen dengan bibi Silvia.
"Memangnya kenapa?, apa salahnya jika aku menjadi seorang kesatria kerajaan?", Tanya Rion dengan kecewa.
Mereka pun sampai di halaman Rumah."Dengar Rion!,ada satu dua hal yang lebih baik kau tidak ketahui",jawab Ayah Rion dengan tegas.
"Tapi kenapa?".
"Sudahlah Rion,Ayah yakin suatu saat kau akan mengerti apa yang ayah ucapkan".
Ayah Rion pun meletakkan peralatan dan gerobaknya di halaman rumah, kemudian masuk rumah bersama dengan Rion.Dan ternyata dibalik pintu terlihat seorang wanita dengan wajah mengkerut dan aura yang mengerikan.
"Jadi siapa diantara kalian yang menyembunyikan sepatu milik ibu?",tanya wanita itu dengan senyum mengerikan dan tangan menyilang seolah mengintimidasi.
Rionpun dengan spontan menjawab"Ayah memaksaku menggunakan sepatu Ibu,karena ibu membuang sepatuku".
"Apa yang kau katakan?!,sudah Ayah bilang jangan libatkan Ayah!",bisik Ayah Rion dengan perasaan was-was.
"Sayang aku punya pertanyaan",ucap Ibu Rion dengan senyum intimidasi.
"Ya apa itu?",ujar Ayah Rion dengan badan yang gemetar.
"Kenapa kau menyuruh Rion menggunakan sepatuku?!,kau tahu aku berjalan kaki ke desa sebelah untuk membeli benang tanpa menggunakan sepatu.Orang-orang menyangka aku tida bisa membeli sepatu dan juga,sejak kapan aku membuang sepatu milik Rion?!",Teriak Ibu Rion melampiaskan semua amarah dan kekesalannya.
Tak lama kemudian mereka melangsungkan makan malam seraya membahas pesanan baju dan pesanan alat rumah tangga,mengingat Ayah Rion yang seorang pandai besi dan Ibunya seorang penjahit.Dan kemudian mereka pun tidur.
Saat hendak tidur Rion menyelinap keluar kamar dan membuka sebuah lemari yang dibaliknya terdapat sebuah ruangan rahasia.
Rionpun masuk ke dalam ruangan rahasia dirumah itu dan menutup ruangannya dari dalam.
"Baiklah mari kita mulai".