
"Ini gawat,apa yang harus kulakukan!?",ucap Rion dengan panik.Rion pun bergegas berlari menuju Pixie dan mengangkat tubuh Pixie yang masih lemas .
"Hei Pixie, apakah kau memiliki suatu mantra yang dapat menyembunyikan keberadaan kita",bisik Rion,terlihat keringat dingin pun mulai mengalir di dahi Rion.
"Itu tidak mungkin.Sekalipun aku menggunakan mantra ilusi,ibumu akan tetap tahu keberadaan kita.terlebih lagi aku kehabisan mana akibat reaksi mana yang terjadi tadi",jawab Pixie dengan lemas.
"Apapun itu lakukanlah sesuatu!?".
"Baik-baik aku akan mencoba melakukan sesuatu", Pixie pun mulai merapalkan mantra di tangan Rion, tiba-tiba muncullah sebuah lingkaran sihir dari bawah kaki Rion.Rion pun terteleportasi kedalam kamarnya bersama Pixie.
"Hahh... Selanjutnya bergantung padamu Rion,aku mungkin akan disini lebih lama,hingga mana ku pul-", Pixie pun tertidur lemas ditangan Rion.Sontak Rion pun bergegas menuju ranjang tidur nya dan menyelimuti dirinya dengan selimut sembari menyembunyikan Pixie di balik selimut.
Disisi lain,Ibu Rion membuka ruangan rahasia di balik lemari buku,"Ini aneh,aku tadi merasakan keberadaan seseorang di ruangan ini,tapi kenapa mendadak tidak ada?. Ruangan ini sudah ku lapisi dengan sihir ku,sehingga hampir mustahil bagi penyelundup untuk melarikan diri", Ibu Rion pun bertanya-tanya dalam hati memikirkan siapa yang berada di ruangan rahasia tersebut.
Ibu Rion pun memasuki ruangan rahasia tersebut dan berjalan mendekati kotak besar di sudut ruangan,"Hmm...Segel yang kupasang juga tidak berubah sedikitpun,apa yang sebenarnya terjadi.Apa perlu ku beritahu Reinhard!? ".Ibu Rion pun keluar dari ruangan tersebut dan lebih memilih bungkam terhadap kejadian tadi.
Di kamar Rion.Rion pun dapat menghela nafas,karena dia dapat lolos dari ibunya,"Huhhh...hampir saja".
"Hei keluarkan aku dari sini,tolong aku", terdengar suara dari balik selimut.
Rion pun membuka selimutnya dan sontak Pixie terbang keluar selimut dengan terengah-engah.
"Apa kau ingin membunuh ku!?,aku tidak bisa bernafas disana",ucap Pixie.
"Ssst...Pelankan suaramu.Apa kau ingin ibuku tahu kau disini",jawab Rion.
"Tentu saja tidak!,.Terlebih lagi kenapa baumu seperti bau kaos kaki basah!?,aku hampir tidak bisa bernafas disana",keluh Pixie.
"Apa boleh buat bukan.Ibuku membuat ku panik dan aku hanya terpikirkan untuk menyembunyikan mu dibalik selimut ku",ujar Rion.
Tak lama kemudian,terdengar suara aneh dari perut Pixie,yang membuat raut muka Pixie memerah karena malu.
"Hahahaha...Suara apa itu tadi",ejek Rion sembari tertawa pelan.
"Apa boleh buat bukan,kau membuatku menghabiskan banyak mana ku dan itu membuat ku lapar",ujar Pixie dengan muka merahnya.
"Tenang saja sebentar lagi fajar tiba,dan saat sarapan tiba aku akan membawakan mu makanan",ucap Rion.
Fajar pun tiba,makanan telah tersedia di meja makan.Ibu Rion pun memanggil Ayah Rion dan Rion untuk sarapan bersama.
Ayah Rion keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk menuju pintu belakang rumah untuk menimba sumur sembari mencuci muka.
Dan Rion pun juga keluar dari kamarnya menuju meja makan dan mengambil beberapa biskuit dan berry secara diam-diam memasukannya ke dalam bajunya, kemudian duduk di salah satu bangku.
Ayah Rion yang selesai menimba sumur pun juga bergabung ke meja makan,tak lama kemudian ibu Rion menghidangkan sebuah daging rusa bakar yang di lapisi madu,"ini dia hidangan utama kita di pagi hari ini,hehe ibu hebat bukan",ucap Ibu Rion dengan seringai hangat menghiasi wajahnya.
"Wah..Ibu adalah yang terhebat",Jawab Ayah Rion dan Rion dengan mata berbinar binar.
Mereka pun makan daging rusa itu dengan lahap tanpa tersisa sedikitpun.
"Ah ini surga dunia",ucap Rion sambil terbaring kenyang di bangku makan.
"Bagaimana masakan Ibu?,enak bukan",ujar Ibu Rion dengan bangga seraya mengangkat tangannya ke pinggang.
"Memang tidak bisa di pungkiri, masakan mu yang terbaik sayang!, mengingat dulu kau yang buruk dalam masak",ucap Ayah Rion dengan nada ejek.
"Jangan bawa-bawa masa lalu itu lagi",ujar Ibu Rion Mengerutkan alisnya cemberut membelakangi Ayah Rion.
"Wah tampaknya Ibu sedang marah",ucap Rion.
Mereka berpelukan cukup lama disana.
"Apa kalian harus selalu bermesraan didepan anak kalian",ucap Rion dengan muka datar.
Sarapan pun usai.Rion bergegas menuju kamarnya,saat Rion membuka kamarnya, Rion pun mendapati Pixie terbaring lemas di atas kasurnya dengan wajah yang sangat pucat.
"Rion ini perpisahan kita,aku tidak sanggup lagi sampaikan salamku ke orang tuamu",ucap Pixie.
"tidak usah berlebihan begitu",ujar Rion sembari memberikan biskuit dan berry dari balik bajunya ke Pixie.
Pixie pun melahap makanan yang diberikan Rion dengan lahap,Dan di saat dia selesai makan,dia pun berpamitan kepada Rion,"Dengar Rion!,Dalam beberapa hari ke depan kau tidak akan bisa memanggilku.Itu semua dikarenakan mana ku yang masih terganggu akibat konsentrasi mana dari kristal di dadamu itu".
"Benarkah!?,akan membosankan jika begitu",jawab Rion seraya memasang wajah kecewa.
Pixie pun berteleportasi dan menghilang didepan Rion.Tak lama kemudian Ibu Rion masuk ke kamar Rion dan itu membuat Rion terkejut,"Waah....Ibu".
"Rion apa yang kau lakukan, teman-teman mu memanggil mu dari tadi",ucap Ibu Rion.
"Baiklah,tunggu sebentar, biarkan aku merapikan tempat tidur ku", jawab Rion dengan keringat dingin.
Tak lama kemudian pun Rion keluar dari rumahnya, terlihat lima orang anak menunggunya dibalik pintu.
"Kenapa kau lama sekali Rion!?",Tanya seorang gadis berambut cokelat dengan raut muka cemberut.
"Sudahlah Vivi.Mungkin saja dia menjadi kucing penakut, karena kalah dariku kemarin",ucap seorang bocah berambut pirang jabrik dengan nada mengejek.
"Hei Mike,bisakah kau ulangi perkataan mu lagi!?",ujar Rion dengan menahan amarahnya.
"Sudah kubilang,kau itu kucing penakut",jawab Mike.
"Apa kau datang hanya untuk mengajak ku berkelahi",Ujar Rion seraya mengepalkan tangannya.
"Siapa takut,mari kita lihat siapa yang lebih kuat",Jawab Mike yang juga mengepalkan tangannya.
Mereka pun berkelahi dan beradu tinju satu sama lain.
"Sudahlah teman-teman,kita sudahi pertengkaran ini oke",ucap seorang bocah bertubuh gempal dengan cemas.
"Tidak bisa Aron,si bodoh ini sudah melampaui batasnya",ujar Rion.
"Siapa yang kau panggil bodoh!?",jawab Mike.
"Hah mereka mulai lagi",keluh Vivi.
Tak lama kemudian seorang gadis berambut hitam maju melerai mereka dengan cara menarik telinga kedua orang tersebut,"Sudahlah kalian berdua.Hentikan pertarungan konyol kalian,ayahku sudah menunggu".
"Aduh duh duh,apa yang kau lakukan Sophia", ucap Rion seraya merintih kesakitan.
"Sophia sakit kau tahu",ucap Mike yang juga merintih kesakitan.
"Memangnya ada apa sampai kepala desa memanggil kami?",tanya Rion sambil menahan sakit.
Sophia pun melepaskan telinga mereka berdua dan menjelaskan bahwa ayahnya membutuhkan bantuan mereka.
"Jadi, kalian mau bantu?"