
Sudah berlalu tiga hari, sejak Tim Penyerang Dungeon keluar. Amon berada di Rumah Kesehatan yang menjadi tempat penanggulangan cidera bagi para Petualang.
Tiga hari yang lalu saat mereka semua keluar, Zed sudah ada di depan kabut portal dan menyambut mereka.
Sedikit terkejut karena melihat kondisi Amon yang di papah oleh Jake dan Liane, lalu ia mengambil alih untuk membantu Amon karena yang lainnya termasuk mereka berdua juga terluka.
Dan saat ini, dia masih belum keluar dari rumah sakit karena cidera yang dialaminya paling parah meski tidak mengakibatkan kematian.
Amon duduk sambil bersandar di atas ranjang kamar, melihat ke arah jendela yang ada di sampingnya.
Cklek!
Ada seseorang yang membuka, pintu membuat Amon menoleh ke sumber suara. Ada seorang pria dengan senyum ramah, berambut merah tua panjang yang di kuncir longgar, bermata ungu, dengan mengenakan pakaian seperti militer di sana.
Dia adalah Zed, Master Petualang dari Rumah Petualang Flix yang ada di Ibukota Kerajaan Axian.
"Bagaimana keadaanmu, Amon?"
Zed bertanya sambil berjalan mendekatinya, lalu menarik sebuah kursi yang ada dan duduk di dekat Amon.
“Lebih baik.”
Amon menjawab dengan singkat, dengan nada dingin yang tak pernah lepas dari ucapannya. Tentu Zed tidak terganggu dengan itu, karena dia sudah mengetahui kepribadian dari Amon.
Bahkan dia mengetahui sedikit tentang masa lalu dan kemampuan Amon, sehingga keduanya bisa dibilang cukup 'dekat'.
"Bagus kalau begitu, tetapi ku pikir kau cukup gegabah karena menggunakan tubuhmu sebagai tameng."
Mendengar ucapannya, Amon mengangkat sebelah alisnya. Jika dipikir-pikir memang sepertinya begitu, refleknya tidak bisa berpikir dengan jernih padahal dapat menggunakan Wind Blade untuk memotong tangan Shredding Ant Queen.
Zed sudah mengetahui semuanya, setelah mendengar cerita Jake dan Liane. Bahkan untuk mengkonfirmasi lebih jelas, dia juga menanyakannya langsung pada Amon setelah perawatannya.
“Aku.. tidak tahu..? Saat itu tubuhku bergerak.. sendiri..?”
Amon memasang ekspresi rumit di wajahnya, dan Zed yang melihatnya menjadi tertawa.
"Hahaha, kau ini. Itu artinya kau peduli, dan tidak ingin seseorang terluka."
“Aku tidak peduli, itu hanya untuk membalas budi. Lagipula, memang lebih baik aku yang terluka karena aku tidak akan mati.”
Mendengar ucapannya, Zed tersenyum simpul.
"Salah, lebih baik jika tidak ada yang terluka. Tapi ini akan menjadi pelajaran untukmu agar tidak meremehkan misi, sekalipun kau pernah melakukannya beberapa kali."
“Ya, aku mengerti. Tapi setelah tertusuk itu, saat aku memejamkan mata sebentar. Aku melihat sebuah gambaran tentang sesuatu.”
Amon berkata sembari melihat keluar jendela, melihat banyak orang yang berinteraksi dan berlalu-lalang.
Tetapi tanpa di sadari Zed, dia menggenggam erat selimut ketika mengingat bayangan gambar itu.
"Oh, apa itu? Tidak biasanya kau melihat hal-hal seperti itu."
Zed merasakan ketertarikan, karena Amon biasanya memberikan kejutan tak terduga untuknya. Zed berpikir, bukan tidak mungkin Amon dapat melihat sekilas bayangan masa depan.
Karena Paladin Elite Kerajaan juga bisa melakukannya, untuk mempersiapkan yang dibutuhkan saat ada sesuatu di masa depan.
Meski hanya sekilas, tetapi informasi dari masa depan sangatlah berguna.
Karena itu Zed menunggu dengan antusias, akan tetapi kata-kata Amon selanjutnya membuatnya tertegun.
“Aku melihat, sekitar tiga tahun lagi kemunculan Dungeon akan tiba-tiba meningkat pesat. Bahkan Kerajaan Besar seperti Axian ini pun, menjadi porak-poranda..”
“..Aku tidak tahu kenapa, bisa tahu jika hal itu adalah tiga tahun mulai dari sekarang..”
“..Dan akan ada Bangsa kegelapan yang datang, yaitu Bangsa Iblis..”
“Satu hal yang pasti, dunia saat itu benar-benar sangat kacau.”
Suasana berubah menjadi tegang, jika saja hal itu diucapkan oleh orang lain pasti Zed akan menganggapnya sebagai bualan belaka. Tetapi ini Amon, orang yang memiliki hidup abadi dan bisa menghancurkan Kerajaan sendirian jika ia mau.
Bagaimana mungkin dia hanya menganggap hal itu sebagai angin lewat, karena informasi ini sangat mengejutkan.
Jika benar-benar akan terjadi hal seperti itu di masa depan, pasti akan memakan korban jiwa yang tak terhitung banyaknya dan Zed tidak mau hal itu sampai terjadi.
Memikirkannya saja sudah membuat Zed menjadi merinding.
Tetapi jika masih ada waktu selama tiga tahun ini, harusnya akan ada perkembangan dan perubahan jika persiapan di lakukan. Akan tetapi, otoritasnya masih kurang tinggi untuk berbicara tentang hal ini pada Raja.
Sementara jika ia mengajak Amon, pasti Amon akan di tertawakan karena membicarakan hal tidak jelas.
'Ini.. rumit.'
Tanpa sadar, Zed sudah langsung berpikir keras setelah mendengar ucapan Amon. Keringat terlihat bercucuran di dahinya, dengan ekspresi serius sambil memegangi dagu.
“Master Zed?”
Amon berkata dengan pelan, karena melihat Zed yang tengah serius berpikir. Membuat Zed sedikit tersentak, dan kembali dari lamunannya.
"Ah Amon, maaf.. Mendengar ucapan mu itu tanpa sadar aku langsung memikirkannya."
“Tidak apa, tetapi apa kau mempercayai itu?”
Amon merasa heran, bukankah hal itu terdengar seperti omong kosong. Sementara Zed sudah langsung berpikir keras, untuk menemukan solusinya hanya dalam sekali dengar.
"Tentu saja, selama ini aku tidak pernah melihat orang yang lebih jujur daripada kau. Lagipula, hal ini tidak terdengar sebagai candaan."
"..Apalagi, jika benar Bangsa Iblis kembali. Tidak terbayang seberapa banyak kerusakan yang akan terjadi."
Melihat ke arah Zed, membuat Amon semakin bingung, dan aneh dengan yang di maksud dengan 'Kepercayaan' antar sesama.
Sejauh ini dia selalu sendirian, dan tidak pernah ada yang ia percayai kecuali dirinya sendiri.
Meski terkadang tubuhnya menunjukkan sebuah reaksi yang reflek saat melihat ada seseorang yang dalam bahaya, tetapi di satu sisi juga dia benar-benar merasa tidak peduli.
Seperti ada dua kepribadian yang ada di dalam tubuhnya, dan keduanya sangat bertolak belakang sehingga membuatnya merasa aneh sendiri.
Namun Zed, pria ini hanya mengetahui sedikit tentang dirinya tetapi sudah sangat mempercayainya dan membuatnya menjadi termenung.
Ada rasa ingin percaya, tetapi masih ada rasa curiga dan waspada.
Ada kemauan untuk melindungi, tetapi ada juga kemauan untuk menghancurkan.
Ada kebencian yang dalam pada Bangsa manusia, tetapi dirinya juga seolah sulit untuk membenci mereka.
Rasa benci itu tumbuh karena perlakuan orang-orang yang ada di tanah kelahirannya dulu, sementara ada sisi lain yang juga menegaskan jika tidak semua manusia itu jahat.
Tidak ada yang selalu baik, dan tidak ada yang selalu jahat karena manusia memiliki hati.
Tetapi Amon, apa dia memiliki hati karena dia berbeda dengan manusia lainnya?
Atau sebenarnya dia bukan manusia?
Walaupun dia tidak peduli dengan semua hal sekalipun jika itu adalah nyawa seseorang, tetapi terkadang rasa empati muncul dalam dirinya.
Amon menggelengkan kepalanya pelan, tidak mau memikirkan hal itu lagi.
Kemudian dia teringat sesuatu yang lain, sehingga mengarahkan pandangannya pada Zed.
“Master Zed.”
"Ya?"
Zed sedikit terkejut karena Amon yang tiba-tiba memanggilnya, tetapi melihat ekspresi wajah Amon saat itu membuat Zed heran.
“Apa Master tahu tentang, seseorang yang bernama Kaisel?”
Sekali lagi, Amon membuat Zed terkejut dengan ucapannya. Bagaimana mungkin dia tidak tahu tentang Kaisel yang pernah memporak-porandakan dunia beratus-ratus tahun silam.
Dalam benaknya, Zed berpikir sesuatu sambil melihat ke arah Amon.
...Bagaimana dia tahu tentang Raja Iblis Kaisel, sementara pengetahuan umum saja dia tidak tahu? ...
.......
.......
...To Be Continued>>...
.......
.......