Amon's Deepest Hope

Amon's Deepest Hope
Chapter 001 - Beginning



Dalam tempat yang remang-remang, seorang anak laki-laki dengan wajah, tangan dan pakaian yang berlumuran darah tengah berdiri di depan seorang tubuh wanita yang tergeletak bersimbah darah.


Tetapi wanita itu belum mati, dia mengangkat satu tangannya hendak menggapai anak laki-laki yang mulai menangis itu.


"Amon.. ini bukan salahmu.. ya..? Kamu harus... terus hi.. dup,.. dan lindungi dunia ini.. untuk orang... yang kamu sayangi..,"


Wanita itu berkata dengan lemah dan senyuman hangat masih tak hilang dari bibirnya. Namun sedetik kemudian tangannya jatuh sebelum sempat menggapai anak laki-laki itu dengan tubuh yang mulai mendingin.


Anak laki-laki yang dipanggil Amon itu seketika jantungnya menjadi sesak, dan terduduk dengan tangisan keras di samping tubuh wanita itu.


...---...


“Hah!” Seorang pemuda berambut seputih salju yang sesaat kemudian masih tertidur, tiba-tiba membuka mata.


“Hah, hah.. hah..!”


Matanya membelalak dan nafasnya tersengal-sengal, karena mengalami mimpi buruk. Lebih tepatnya, ingatan masa lalu yang terus berusaha ia pendam dan lupakan selama ini.


Nafasnya masih memburu, pemuda itu memegangi kepalanya yang sedikit sakit. Keringat dingin juga merembes dari tubuhnya, membuat pakaian kaosnya menjadi basah.


Seperti yang ada dalam mimpinya dan wanita itu katakan, namanya adalah Amon atau lebih tepatnya Amon Kulshedra.


Untuk saat ini, sepertinya hanya itulah informasi tentangnya karena Amon juga tidak terlalu yakin benar pada dirinya sendiri.


“Dasar, apa.. dia tidak salah? Melindungi Dunia, untuk makhluk yang menjadi Musuh Terbesar Dunia? Heh,”


Amon berkata dengan dingin, bibirnya tersenyum dengan sorot mata penuh kehampaan dan kesedihan mengingat wanita itu.


Sudah berlalu dua belas tahun, sejak kejadian itu terjadi. Namun tetap saja, Amon masih belum bisa melupakannya tetapi justru terukir jelas dalam ingatannya.


Seseorang yang telah membawanya keluar dari kegelapan, namun justru ia hancurkan dengan tangannya sendiri sehingga dia semakin tenggelam dalam kegelapan tanpa secercah cahaya.


Bukan salahku katanya? Jangan bercanda, aku mendapatkan kesadaran ku kembali setelah menusukmu..


Amon sedikit tersenyum kecil, namun itu bukanlah senyuman senang atau bahagia. Itu penuh dengan kekosongan, kesedihan, dan kemarahan yang tak terjelaskan mengingat kata-kata terakhir wanita dalam mimpinya.


Sudahlah, menyesali ini tak akan mengubah apapun. Hari ini aku masih ada pekerjaan, untuk membersihkan Dungeon Kelas A dengan yang lain.


Amon menggelengkan kepalanya pelan, dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengganti pakaian serta memakai beberapa perlengkapan bertarung melawan Monster.


Sejak dua belas tahun lalu, senyuman telah hilang dari wajahnya kecuali senyum pahit atau hampa di saat-saat tertentu. Wajahnya selalu datar, dan Amon seperti tidak memiliki emosi karena dia tak segan membunuh siapapun.


Pekerjaannya menjadi Petualang dapat menghidupinya selama ini, setelah Amon keluar dari Hutan.


Hari ini akan ada Penyerangan Dungeon Kelas A yang tiba-tiba muncul tidak jauh dari Kota tempat ia menetap, dan meski Amon adalah Petualang Kelas E dia diperbolehkan ikut dengan izin khusus dari Master Petualang.


Hal itu karena sebuah alasan yang hanya diketahui beberapa orang, dan tidak dimiliki orang lain.


Amon keluar dari kamarnya, dan turun ke lantai bawah untuk keluar dari penginapan karena dia tidak mempunyai rumah sendiri.


Perlengkapan yang ia bawa tidak terlalu banyak, dan memakai jubah yang selalu ia pakai saat melakukan misi sebagai Petualang atau saat sedang berkelana.


Tatapannya masih sama, sayu dan sorot matanya menghadap kebawah seolah tidak ingin melihat dunia ini dengan wajah datar.



Dia berjalan menuju Rumah Petualang Flix yang ada di pusat Kota, Gedung terbesar yang ada di sana dengan dua lantai.


Saat Amon masuk, terlihat jika lobi gedung penuh dengan para Petualang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tentunya Amon tidak tertarik dengan hal itu.


Dia berjalan ke arah meja resepsionis perempuan yang biasa menangani urusannya.


"Selamat datang Tuan Amon, ada yang bisa saya bantu?"


Dia tersenyum cerah, begitu mengetahui jika Petualang yang datang adalah Amon. Semakin menambah pesonanya, karena meski dia hanya salah satu dari beberapa Resepsionis tetapi gadis itu cukup cantik.


Beberapa Petualang bahkan mengalihkan pandangan untuk melihat ini, tetapi Amon tetap dalam ekspresinya tak berubah sedikitpun.


Amon langsung mengatakan inti kedatangannya, tanpa berbasa-basi sedikitpun. Resepsionis perempuan yang ia panggil Iris dengan nama panjang Iris Albarsent itu hanya mengangguk karena dia sudah biasa dengan sifat Amon.


"Sebentar, aku akan mengeceknya.."


Amon mengangguk untuk merespon Iris, sementara Iris mencari berkas dan dokumen yang menjelaskan tentang Penyerangan Dungeon Kelas A yang dikatakan Amon.


"Itu masih siang nanti, sekitar lima jam lagi."


Iris mengatakan apa yang tertulis dalam lembaran kertas itu, dan mengatakannya pada Amon setelah membaca beberapa bagian.


“Begitu, jadi aku masih memiliki waktu untuk menyelesaikan satu Misi.”


Amon mengalihkan pandangan pada sebuah Papan yang cukup besar yang ditempeli banyak kertas penuh permintaan, itu adalah Papan Misi.


Ada tingkatan yang dijelaskan di kertas itu, tentang rekomendasi Kelas Petualang yang bisa melaksanakannya. Dari Petualang Kelas E yang paling rendah sampai Kelas S yang paling tinggi.


Amon tidak mempedulikan hal itu, dia melihat-lihat misi yang ada tanpa melihat rekomendasi Kelas Petualang nya.


Kemudian menunjuk salah satu kertas yang ada, dan membuat Iris mengalihkan pandangan untuk melihatnya.


“Melihat situasi sekitar Desa Goth, karena kemunculan Black Viper.”


Iris terkejut melihat misi yang di pilih Amon, itu adalah Misi Rekomendasi Kelas A karena Black Viper yang berukuran besar dengan racun mematikan dan dapat memiliki nafas api.


Meski itu hanya melihat situasi sekitar, tetapi sudah ada beberapa Petualang yang mengambilnya namun tidak kembali karena kemungkinan memang benar-benar ada Black Viper. Sebab itulah Iris menjadi cemas, entah mengapa.


"Tuan A-Amon, apa anda serius?"


“Tentu saja, lagipula Desa ini tidak terlalu jauh dari lokasi Portal Dungeon. Aku bisa langsung ke sana, setelah selesai.”


Amon masih tidak mengubah ekspresinya, dia berkata dengan keyakinan kuat tanpa emosi. Iris menghela nafas, memang sejauh ini dia tidak pernah melihat sekalipun Amon mundur.


Bahkan misi yang ia kerjakan biasanya adalah Misi sulit yang memakan korban, tetapi selalu saja Amon memberikan kejutan dan menyelesaikannya.


Oleh karena itulah, Iris menjadi kagum dengan sosok Amon dan berpikir jika Amon adalah seorang yang menjunjung tinggi kemanusiaan seperti Pahlawan.


Tetapi sayangnya, dia bukanlah Pahlawan dan justru sebaliknya.


Dia melakukan itu untuk mewujudkan harapan wanita yang pernah menyayanginya dulu, sambil mencari apa yang ia cari.


Karena dia sendiripun, tidak tahu apa yang sebenarnya dia cari selama ini.


Dengan sebuah pertanyaan yang tak pernah hilang dari pikirannya.


...Bisakah Musuh Terbesar Dunia, menyelamatkan Dunia?...


.......


.......


...To Be Continued>>...


.......


.......


...____...


^^^Amon^^^


^^^——————^^^


^^^@Irrasya^^^