
Dengan jalan yang santai, Amon pergi menuju ke Desa Goth untuk melakukan pengecekan. Melihat situasi Desa karena kemunculan Black Viper yang mengancam banyak orang.
Suasana hutan yang ia lewati cukup sepi, hanya ada bunyi dedaunan pohon yang bergesekan karena angin.
Tidak ada bunyi binatang seperti pada umumnya, hal itu cukup aneh.
“Apa benar ada Black Viper? Bukannya habitat mereka di Hutan Bambu?”
Amon melirik sekeliling, melihat keadaan yang begitu tenang ini justru terasa aneh dan mencekam.
Menepis pikirannya, Amon telah sampai di depan pintu Gerbang Desa yang keadaan di dalamnya tidak jauh berbeda dengan keadaan luar.
Begitu sepi, tidak ada orang yang berlalu lalang melakukan kegiatan ataupun anak-anak kecil yang tengah bermain. Keadaan Desa Goth saat ini, sudah hampir seperti Desa Mati.
Iapun memutuskan untuk menuju rumah kepala desa, untuk meminta informasi dan izin dari beliau.
Cukup mudah untuk menemukannya, karena rumah Kepala Desa adalah rumah paling besar dan memiliki sebuah Emblem dengan Ukiran Daun yang merupakan tanda jika ia adalah Kepala Desa.
"Tok.. tok.. tok..!"
Amon mengetuk pintu dengan pelan, namun tidak ada yang merespon. Sekali lagi dia mengetuk pintu rumah kepala desa, dan itu berhasil.
Pintu terbuka sedikit, Amon bisa melihat setengah wajah pria paruh baya yang menjadi Kepala Desa dari Desa Goth.
“Maaf, saya ingin bertemu dengan kepala desa. Apa beliau ada di rumah?”
Amon berkata dengan sopan, sambil sedikit membungkuk. Namun tetap saja, tidak ada perubahan sedikitpun dari ekspresinya.
"I-itu saya, ada yang bisa saya bantu?"
“Saya adalah Petualang yang ingin melihat kondisi Desa atas permintaan yang ada di Papan Misi.”
Amon langsung mengatakan tujuannya yang membuat kepala desa menjadi terkejut, kemudian kepala desa membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkannya masuk untuk pembicaraan lebih lanjut.
“Permisi..”
Dia masuk ke dalam rumah kepala desa, dan pintu langsung kembali di tutup juga di kunci dengan menggunakan kayu.
Amon dipersilahkan duduk, kemudian kepala desa menyuruh istrinya untuk membuatkan minuman untuk Amon. Dia sama sekali tidak menolak, dan melanjutkan pembicaraan.
"Meski keadaan desa mendesak, tetapi apa benar anda yakin ingin mengeceknya? Sudah ada banyak korban hilang, saat mencoba mengecek kebenaran Black Viper itu."
Kepala desa bertanya dengan cemas, dia juga mengatakan jika keadaan desa menjadi begini setelah beberapa kali Ular Besar bersisik hitam muncul di sekitar desa.
Orang-orang yang pergi untuk berburu dan melihat keadaan pun juga ikut hilang, kemungkinan karena telah dimakan oleh Black Viper itu.
Meski dia ingin situasi ini cepat membaik, tetapi dia juga tidak ingin memperbanyak korban. Karena itulah dia menanyakan kembali pilihan Amon.
“Tentu saja, saya tidak akan pernah mundur.”
Mendengar jawabannya, kepala desa menghela nafas. Namun kali ini, entah kenapa melihat Amon yang memiliki keteguhan dan kemantapan hati membuatnya memiliki secercah harapan.
"Baiklah, tetapi berhati-hatilah."
Amon hanya mengangguk, kemudian ia pergi setelah meminum minuman yang dibuatkan istri kepala desa sebagai formalitas.
Dia pergi keluar desa, dan mulai mengelilingi desa untuk melihat keadaan.
Tetapi hasilnya nihil, Amon tidak menemukan apapun dalam radius satu kilometer dari desa. Menurutnya itu sudah cukup jauh, tetapi sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda Black Viper.
“Apa laporannya salah..?”
"Wush!"
Baru saja Amon berpikir tentang laporan permintaan itu, tiba-tiba ada ekor panjang dan besar berwarna hitam yang hampir mengenainya.
Untunglah respon Amon cepat, sehingga dapat menghindari serangan itu.
BOM!
Beberapa pohon bahkan tumbang setelah terkena serangan ekor itu, membuat Amon yakin jika kekuatannya sangat besar.
“Cukup pintar juga dia mengelabui mangsa,”
Amon mengalihkan pandangannya pada pemilik ekor itu, seekor Ular Berwarna Hitam dengan panjang kira-kira dua puluh lima meter dengan lebar tiga meter.
Mata merahnya memandang Amon dengan penuh hawa membunuh, dan rasa lapar. Dia mendesis dan menerkam Amon untuk memakannya.
“Lambat!”
Amon melompat ke atas, sehingga Ular itu berada di bawahnya. Dia memberikan satu pukulan di kepala Ular itu, dan melompat mundur ke belakang.
“Kurasa memang Black Viper, kenapa bisa ada di sini?”
Amon memasang kuda-kuda, karena dia tahu jika pukulannya tidak berefek apa-apa pada Black Viper karena Sisiknya yang sangat keras.
Dia hanya mengecek, ketahanan sisik Black Viper yang bisa menjadi penentu usianya. Dan dari perkiraan Amon, Black Viper itu sudah hampir dewasa karena sisiknya sudah sekeras Batu.
Akan semakin sulit dan berbahaya jika Black Viper sudah dewasa, karena sisik mereka akan sekuat baja.
Diperlukan usaha lebih untuk membunuh satu Black Viper Dewasa, dari pada membunuh tiga Black Viper Muda jadi lebih baik untuk membunuh Black Viper itu daripada semakin banyak korban.
Black Viper mendesis, lalu menyerang Amon sangat cepat. Tetapi tentu saja, Amon bisa menghindarinya dengan sangat mudah.
Selama beberapa saat, Amon tidak melakukan hal lain selain menghindari terkaman Black Viper itu.
“Hiss..!”
Black Viper menyerang menggunakan ekornya dan kemudian mengeluarkan cairan berwarna hijau menjijikkan dari mulutnya, untuk menyerang Amon.
Itu hampir saja mengenainya, karena Amon menghindari serangan ekor Black Viper terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, Black Viper menyemburkan nafas apinya dan tidak sengaja mengenai cairan racun sehingga terjadi ledakan.
DUAR!
Amon melompat mundur cukup jauh, dia di sisi lain Black Viper dan terhalang oleh Api yang timbul karena ledakan tadi.
“Jadi cairan racunnya bisa meledak jika terkena api..? Menarik, tapi sepertinya aku harus membunuhnya sekarang atau aku bisa terlambat.”
Kilatan cahaya biru terlihat dari matanya, Amon menarik keluar Belati Ganda miliknya yang terselip di pinggangnya. Melesat secepat angin, Amon menerobos api menuju Black Viper.
Sprint!
Kecepatan Amon bertambah sekitar lima puluh persen sehingga dia tidak terkena terkaman Black Viper yang juga cepat.
Dengan kedua Belati di tangannya, Amon mulai menyerang beberapa titik vital kelemahan Black Viper dan bagian yang lunak.
Hal itu membuat Black Viper mendesis marah, dan mengamuk.
WUSH! BOOM!
Amon melompat mundur, menghindari kibasan ekor Black Viper yang penuh tenaga.
“Merepotkan,”
CKRAK! PRANK!
Tepat setelah Amon berbicara, kedua Belati miliknya pecah karena tidak kuat menahan tekanan Amon dan sisik Black Viper yang sangat keras.
Tetapi itu tidak membuat Amon panik, justru dia dapat mempertahankan ekspresinya yang dingin itu tanpa menunjukkan ekspresi terdesak sedikitpun.
Strong!
Lonjakan energi keluar dari tubuh Amon, membuat rambut seputih saljunya berkibas. Dengan menggabungkan kekuatan Sprint dan Strong, Amon melesat dengan cepat menuju kepala Black Viper.
Black Viper yang tak sempat beraksi, tiba-tiba langsung merasakan rasa sakit yang menjalar dari matanya karena Amon menusuk mata Black Viper menggunakan tangannya.
Black Viper menggeliat, membuat Amon kehilangan keseimbangan di atas kepalanya sehingga turun ke daratan.
Ia menyaksikan Black Viper yang masih menggeliat dengan ekor yang dipukul-pukul kan ke sembarang arah karena tidak bisa melihat.
Sesekali ia menghindari serangan ekor Black Viper, sebelum bergerak dengan cepat ke atas Black Viper dengan tangan yang sudah terkepal kuat.
Hand Martial Arts; Sky fall!
Energi berwarna kebiruan melapisi tangan Amon, sebelum ia pukulkan sekuat tenaga pada kepala Black Viper.
Kieek!
Black Viper merasa kepalanya sangat berat, seperti dihantam oleh sesuatu yang sangat besar jatuh dari atas membuat kepalanya pecah karena tidak kuat menahan tekanan.
Bahkan kawah terbentuk karena kuatnya pukulan Amon, dalam radius tujuh meter.
“Selesai.”
Amon menepuk tangannya, dan mencari sumber air yang ada di sekitar menggunakan pendengarannya yang tajam.
Setelah itu, Amon berjalan kembali ke desa dan melaporkan jika keadaan sudah aman.
Awalnya kepala desa tidak percaya, tetapi Amon mengatakan lokasi bangkai Black Viper yang ia kalahkan jika kepala desa tidak percaya.
Setelah kebenaran terkonfirmasi, kepala desa mengumumkan hal itu membuat seluruh penduduk desa bersorak gembira karena ancaman telah hilang sehingga warga desa bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Amon langsung pamit begitu urusannya selesai, tetapi kepala desa menawarkan agar Amon tinggal lebih dulu untuk pesta perayaan.
“Tidak perlu, saya masih ada urusan.”
Tanpa menunggu balasan dari warga desa yang berkumpul di gerbang desa, Amon berjalan pergi membelakangi mereka.
Tidak ada yang tersinggung, karena mereka menganggap Amon sebagai penyelamat justru mereka berteriak mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan pada Amon yang pergi.
Tujuannya sekarang adalah pergi ke Lokasi Dungeon Kelas A berada, dan menurut waktu perkiraannya masih ada satu setengah jam sebelum penyerangan di mulai.
“Baguslah, aku bisa bersantai.”
Amon tidak terlalu tergesa-gesa untuk sampai, dia menikmati perjalanan tanpa hambatan sebelum tiba-tiba di hadang oleh beberapa bandit.
"Serahkan se—!"
Dalam sekedip mata, kepala beberapa bandit itu langsung hilang dari lehernya sehingga darah segar menyembur keluar.
Amon masih memperlihatkan ekspresi dingin dan tenangnya, sambil mengibaskan tangannya yang berlumuran darah seketika menjadi bersih kembali.
Tiada rasa bersalah, tidak ada yang perlu di takutkan. Sampah dan hama memang pantas di basmi.
Untuk apa merasakan penyesalan, karena..
...Hama yang mengganggu memang harus di basmi!...
.......
.......
...To Be Continued>>...
.......
.......