ALVIRA

ALVIRA
Telat



"Terus aku berangkat gimana dong Ma?", tanya Ira pada Vina.


Karana pagi ini Rovi sudah berangkat lebih dulu, sedangkan Ira baru aja selesai menyantap sarapan paginya. Entah kenapa Rovi ada urusan atau memang karena ia malas menunggu Ira. Ya, kalian tahu Ira. bersiap dari pukul 05:00 WIB pun baru akan selesai pukul 06:30 WIB. Mungkin yang namanya perempuan apalagi gadis memang seperti itu.


"Kamu maik angkot aj ya sayang, tadi katanya Abang kamu ada urusan, jadi ga bisa nunggu kamu, makanya dia duluan deh. salah kamu juga suka lama kalo siap-siap jadi pas ada urusan dadakan kayak gini yang ada kamunya di tinggalin kan?", tutur Vina meminta Ira untuk menaiki kendaraan umum saja pagi ini.


Ada urusan? Apa ada urusann? Bilang aja malas nunggu gua! Emang selama itu gitu? Ya wajar kali yang namanya cewek kalo siap-siap lama. Gua jamin pacar dia aja pasti lama kalo siap-siap. Kayak yang ga punya pacar aja sih?!! Kayak yang ga tau cewek,!! umpat Ira dalam hati.


"Yaah Mama, kenapa ga ditahan dulu Bang Rovinya tadi? Udah siang, malah suruh naik angkot, makin siang dong aku, Ya udah deh, kalo gitu aku berangkat sekarang sebelum makin siang, Tapi puangnya bareng Bang Rovi kan?", tanya Ira ketus, karena memang Ira malas untuk bersedak-desakan di dalam angkot.


"Duuhh udah gua berangkat siang, malah disuruh naik angkot otomatis gua bakal kesiangan doongg... Ish nyeselin banget sih! Nggak Abag, Nggak Mama, sama aja. Sama-sama ngeselin! Angkotnya mana lagi? Udah siang niihh, bikin gua tambah kesel aja", Ira terus mengerutu sambari menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang.


Sudah sepuluh menit lebih Ira menunggu angkutan umum untuk ditumpanginya, namun masih saja belum ada satu angkutan pun yang menghampirinya.


Tuhaann tolongin guaa, gua ga mau kesiangaaann. ini baru beberapa hari gua sekolah, masa udah harus kesiangan sih? Aduuhh, Tuhan tolonggg. Pleasee kasih gua satu angkot aja tuhan, gua ga minta banyak. Cukup satu aja. Nggak satu juga gapapa deh, yang penting ada. biar gua cepetan berangkat. Mana kaki gua udah pegel lagi nih. Ayo doongg angkoott, batin Ira.


Sepertinya Tuhan belum mendengarkan batin Ira, Sampai saat ini pun tetap belum ada angkutan yang menghampirinya.


Untuk mengusir rasa bosan, Ira memilih mengeluarkan earphone dan benda pipih dari sakunya. Kemudian Ira membuka tas untuk mengambil novel.


Ira mulai berjalan sedikit demi sedikit sambil membaca novel dan menyumpal sebelah telinganya dengan earphone yang di ambil tadi.


Tiba-tiba,


𝑻𝒊𝒊𝒊𝒕𝒕𝒕𝒕𝒕....


Suara kelakson terdengar nyaring dibelajang tubuh Ira, mungkin beberapa meter dari tubuh Ira. jelas saja itu mengganggu konsentrasi Ira yang sedang asik membaca sambil menyusuri jalan.


"Apaan sih?! Gak jelas deh. Orang gua udah dipinggir juga", gerutu Ira merasa semakin kesal.


Biasanya kelakson mengisyaratkan seseorang yang berada di tengah jalan untuk menggeser dirinya agar sedikit lebih ke pinggir. padahal Ira sendiri tidak merasa sedang berada di tengah jalan.


𝑻𝒊𝒊𝒊𝒕𝒕𝒕𝒕.. 𝑻𝒊𝒊𝒊𝒕𝒕𝒕𝒕𝒕


Klakson terus berbunyi dan terpaksa Ira harus melepaskan earphone yang tengah digunakan saat ini.


Ira membalikkan tubuhya ke belakang berusaha untuk menegur orang yang sedari tadi membunyikan klaksonnya


"Apaan sih BERISIKKK!!! Gua udah di pinggir, kurang apalagi? Kurang pinggir juga? Lo pengen gua nempel di tembok biar ga ngalangin jalan lo?! lo pengen gua jalan kayak kepiting ?!", dumel Ira pada orang yang menaiki motor itu.


Ira berani langsung mendumel padanya karana Ira sudah melihat seragam yang dikenakan orang itu sama dengan seragam yang Ira kenakan, itu berarti ia juga salah satu murid di Mahardika High School.


Meski begitu, Ira tetap tidak tahu siapa orang yang sedang berada di atas sepeda motor itu karana wajahnya tertutup helm full face yang ia gunakan.


"Mau bareng gak?", ucap orang itu sembari membuka helmnya.


Ternyata Revyn. Ya, dia adalah Revyan.


"GAK!!!", jawab Ira dengan mantap, meski ia tahu kalau ia tidak berangkat bersama Revyan sekarang, dapat dipastikan ia akan terlambat masuk sekolah. Namun Ira tidak peduli. Dirasa, menolak Revyan memang pilihan yang terbaik, toh nanti juga pasti ada angkot lewat kan?


"Yakin? ini udah siang loh? Lagian mau sampe kaki lo segede kaki gajah pun kalo nunggu angkot disini pun gabakal dapat. Tapi ya terserah aja, gua cuman nawarin, kasihan aja kalo lo harus dateng telat. Gua cuman berusaha berbaik hati, kalo orang yang mau gua tolong, gua ga maksa", ucap Revyan penuh kemenangan.


"Kenapa ga bakal ada angkot? Libur?", tanya Ira dengan polosnya.


"Udah cepetan naik! Mau ga nih??", suruh Revyan tanpa menjawab pertanyaan Ira.


Tanpa menjawab lagi Ira segera menaiki sepeda motor Revyan, karena ditakutkan ucapan Revyan benar. Ia tidak mau menunggu lama-lama lagi. yang tidak pasti, yaa seperti angkot itu yang katanya tidak akan ada sampai kapanpun. meski baru katanya.


Ya jelas ga bakal dapat angkot lah kalo nunggunya di sini, orang ini bukan tempat nunggu angkot. dasar Ira. Lawak banget!!, ucap Revyan dalam hati sambil terkekeh pelan.


"Kenapa lo?", tanya Ira yang ternyata mendengar kekehan Revyan.


"Nggak, nih pake", jawab Revyan sambil memberikan helm lain untuk Ira kenakan.


"Udah", instruksi Ira setelah ia selesai memakai helm yang Revyan berikan tadi.


"Yaaaahhh.. Udah diturup lagi.Naik lagi Ra", ucap Revyan yang melihat gerbang depan sudah tertutup.


Jelas saja sudah tertutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 07:45 WIB. sedangkan dalam aturannya, gerbang ditutup pukul 07:15 WIB.


Nah kan? ikut dengan Revyan saja, Ira masih telat. apalagi jika dirinya menolak tadi.


"Nggak, gua ga mau bolos, gua tetep mau masuk!", tolak Ira.


"Emang mau masuk kali, siapa juga yang mau bolos. Tapi ga lewat sini. Gua ga mau dihukum! Ya kalo lo mau dihukum sih terserah", jawab Revyan tanpa kesan memaksa sedikitpun.


Terus mau lewat mana lagi kalo bukan lewat sini?! Dikira ada pintu doraem--" kali ini ucapan Ira yang terpotong, atau munking sengaja dipotong.


Udah buruan, jangan bawel! Mau naik atau gua gendong??! sebelum makin siang nih, panas tau", paksa Revyan.


"Iya iya, gua naik. Dikira gua bocah?!", terpaksa Ira menuruti Revyan, dari pada harus di gendong kan?


Revyan membawa Ira ke gerbang belakang seperti biasa yang ia lakukan jika gerbang depan ditutup.


Setelah sampai, Revyan dan Ira segera turun dari sepeda motornya. Revyan mengisyaratkan Ira untuk memanjat terlebih dahulu dan nantinya Revyan akan menyusul.


"Serius lo? Mau lewat sini? Lo kira gua apaan?!", tanya Ira yang tidak habis pikir Revyan mengajaknya memanjat pagar belakang.


"Ya iya emangnya lo mau dihukum hah? Lo mau masuk BP? ya kalo gua sih ga masalah, toh gua udah biasa keluar masuk BP. tapi lo? banyak yang bilang kan katanya kalo lo itu murid teladan, emang baru katanya sih", jelas Revyan sedikit menggoda Ira.


Revyan langsung mendapatkan sebuah pukulan yang mendarat tepat di lengan kirinya.


"Ya ga gitu juga, tapi kan gua cewek Rey. Masa manjat-manjat! Kayak tarzan dong?!", Ira tidak mau memanjat, ia rasa ini ide konyol.


"Emang ia kan?", goda Revyan.


"Iihhh", Lagi-lagi Revyan mendapatkan pukulan dari Ira.


"Pokoknya gua ga mau manjat!", putus Ira.


"Halahhh masa cewek kayak lo ga bisa manjat ginian? Ini mah kecil, secara kan lo---", Revyan terus menjelaskan supaya Ira mau menurutinya meski disertai godaan-godaan kecil. Namun Ira malah memotong.


"Apa?! Apa?! Gua apa hah?!!, potong Ira yang tidak terima akan diejek oleh Revyan.


"Secara kan lo galak, tenaga lo juga bakal kuat, KAYAK SAMSON!!!!!", ucap Revyan dengan tampang watados sembari berlari.


"APA LO BiLANG? AWAS YA KALO GUA BISA NANGKAP LO!!", teriak Ira sambil mengejar Revyan.


"LO GA BAKAL BISA NANGKAP GUA!!", Revyan membalas teriakan Ira sambil terus berlari.


Namun ternyata dugaan Revyan salah, akhirya ia tertangkap oleh Ira.


"Bilang ap lo tadi? bilang apa lo?!", ucap Ira sambil sesekali memukul dan mencubit Revyan dengan sangat keras tanpa ampun.


"Aww aaww.... sakit dong Ra, lagian sih lo PMR kok tenaganya sangat kuat? Ga sekalian aja ikutan ekskul kuli", lagi-lagi Revyan mengejek Ira sambil berlari.


"Reeyyyy!!!! Awas lo yaaaa", Ira kembali mengejar Revyan.


.


.


.


.


.