ALVIRA

ALVIRA
Celaka!!



Kini Ira dan Felly sedang berdampingan menyusuri koridor kelas XI. Felly sudah bisa menyusul Ira yang tadi meninggalkanya.


Felly menemukan ruang kelas lebih dulu dari pada Ira.


"Ra kelas gua deh kayaknya, kalo gitu gua duluan ya? Dah Iraa", ucap rFelly sambil melambaikan tangan dan berjalan memasuki kelas barunya.


"Iya dahhh", ucap Ira membalas lambaian tangan dari Felly sesaat sambil terus berjalan mencari kelasnya.


"Kalo itu IPA 4, IPA 3, nahhh itu IPA 2", akhirnya Ira pun menemukan kelasnya.


Kelas Ira berada tepat menghadap ke arah lapangan upacara. Kelasnya juga tidak terlalu jauh dengan kantin dan toilet. lokasi yang strategis bukan?


Ira langsung memasuki kelas tanpa basa-basi lagi.


"Iraaa", teriak Amanda yang kegirangan karena ternyata Amanda sekelas lagi dengan Ira.


Ya kelas X kemaren, mereka adalah teman sekelas, lebih tepatnya teman sebangku.


"Manda? Lo kelas ini juga? Lo sekelas lagi sama gua? Yeayy!! Berarti gua duduk bareng lo lagi kan?", balas Ira sama-sama senang melihat Amanda berada di kelas yang sama.


"Yaahh, sorry ya Ra. Tadi lo lama sih, jadinya gua udah duduk duluan sama Tasya. Kenalin ini Tasya, sepupu gua Ra", ucap Amanda disertai rasa bersalah.


"Hai Ra", sapa Anastasya sepupu Amanda yang dijelaskan tadi.


"Ini?", tanya Ira bermaksud menanyakan sepupu yang baru saja Amanda bicarakan.


"Iya Ra, gua Tasya sepupunya Manda, Sorry ya Ra gua maen duduk gitu aja. Tapi kalo lo tetep mau duduk sama Manda ga papa kok, gua masih bisa cari tempat lain", ucap Anastasya yang juga merasa bersalah sambil mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan diri.


''Gua Ira, ga papa kok Sya lo duduk sama Manda aja, tapi gua duduk dimana dong?", tanya Ira pada Amanda.


"Tenang aja Ra, bangku di depan kita masih ada yang kosong kok. pas banget kan?", ucap Amanda yang langsung menyeret Ira ke tempat duduk yang di maksud.


Seketika Ira langsung mendudukkan diri di sana.


"Ya udah deh gua duduk di sini aja, nanti juga masih ada murid lain kan?", jawab Ira merasa tenang karena sudah mendapatkan tempat duduk, apalagi tempat duduknya tidak jauh dari Amanda. Tepat di depan Amanda.


"Ada kok Ra, pasti. Kalo ga ada, lo boleh tuker tempat sama gua kok", sahut Anastasya bermaksud menebus rasa bersalahnya.


"Oke oke, gampang itu", jawab Ira segera menyimpan tas di atas meja.


Seorang anak laki-laki kelas XI tengah berada di kelas XII IPA 3. Sedang apa dia? Salah masuk kelas? Atau dia loncat kelas? Tentu saja jawabannya tidak.


"Ya pokoknya gua juga ga tau jelas sih siapa tuh orang, tapi nyebelinnya tingkat dewa bro. Nyebelin abis dia!", Revyan tengah bercerita tentang kejadian yang menimpanya tadi pagi. Ya, anak laki-laki yang tengah berada di kelas XII IPA 3 adalah Revyan.


Cerita Revyan di sambit gelak tawa oleh ke tiga temannya.


"Ya habisnya salah lo sendiri juga, Sok-sokan tidur lagi segala. Udah tau waktunya upacara, malah masuk UKS, sakit juga kagak. masuk kandang singa itu namanya", eerce Akmal.


"Iya, dan cewek itu singanya!", tambah Revyan.


"Tapi dia cantik gak?", canda Reza. otak Reza ini memang sudah terkontaminasi dengan Ciwi-ciwi.


"Yehhh lu mah mikirin cantiknya mulu. Dasar bebek sawah lo!", itulah jawaban yang Reza daoat dari sosok Revyan.


Revyan memakai istilah 'bebek sawah' untuk tipikal orang seperti Reza. karena menurut Revyan istilah 'buaya darat' tidaklah cocok ditunjukkan seseorang yang playboy. Mengapa tidak cocok? karena menurutnya 'buaya' bukanlah hewan yang berganti-ganti pasangan melainkan salah satu hewan yang cukup setia. Berbeda dengan bebek sawah yang mampu berpasangan dengan puluhan bebek betina dalam satu waktu saja.


"Yeehh gua sih cuma nanya, kali aja gitu...", balas Reza sambil menarik turunkan alisnya.


"Kali aja, kali aja, mata lo picak!! Kalo di ingat-ingat sih emang lumayan cantik, tapi cantiknya kalah sama nyebelinnya. Ngeri gua, galaknya bukan maen dia, serem banget. kayak nenek sihir. Lebih serem dari bunda gua", jelas Revyan yang lagi-lagi di sambut gelak tawa oleh temannya.


"Eh btw namanya siapa?", celetuk Rovi.


"Ya elah si Abang dari tadi nyimak ternyata dia akwkwo.. ", cibir Reza.


"Gua serius, gua nanya", tajam Rovi.


"Apaan sih lo?", Rovi mulai kesal.


"kalo mau di masukin daftar gebetan sih saran gua jangan, terlalu G-A-L-A-K", canda Revyan.


"Siapa namanya?!", tukas Rovi yang tak kunjung mendapat jawaban.


"Oke oke, namanya sih Disti Disti gitu, ga tau lah gua" jawan Revyan seadanya.


PELAJARAN AKAN DI MULAI DALAM 5 MENIT..


"Ya udah guys gua ke kelas dulu deh, kalo-kalo ga mau bolos", pamit Revyan yang lagi-lagi di sambut tawa.


"Bye guyss...."


Sekarang Revyan sedang berdiri di depan kelas XI IPA 2 sambil menyandarkan tubuhnya di depan pintu kelas yang setengah terbuka.


Tentu saja Revyan adalah anak kelas IPA karena sebenarnya Ia memang anak yang cerdas, mungkin sangat cerdas, bahkan meski ia sangat sering bolos. di kelas X pun Revyan menduduki peringkat lima besar.


Ira yang melihat pemandangan di pintu pun langsung menyambar.


"Heh cowok rese! Ngapain lo berdiri di depan kelas gua? Gak denger peringatan tadi? Atau jangan-jangan lo budek?! Pelajaran udah mau mulai, sana lo pergi jauh-jauh dari sini!!", cerocos Ira.


"Sorry yah, pertama gua bukan cowok rese, kedua yang rese itu lo, ketiga ini tuh kelas gua, keempat pelajaran udah mau mulai kan? So, gua mau masuk", sambil berjalan Revyan terus mengoceh tak mau kalah dari Ira.


Revyan menaruh tasnya tepat di sebelah bangku Ira.


"Apa-apaan lo taro tas di sini? Ini bangku gua!'', ucap Ira sambil mengembalikan tas pada tangan sang pemilik.


"Gua mau duduk di sini, yang bangku lo itu cuman satu, bangku yang ini kosong kan? Lagian lo liat dong, semua bangku udah penuh kali", bela Revyan sambil duduk dan menaruh tasnya kembali di atas meja.


"Ishhh apaan sih, jangan duduk di---", ucapan Ira terpotong karena sudah ada guru yang masuk, dan kini Ira harus menerima teman sebangkunya.


"Pagi anak-anak, perkenalkan nama ibu, Susi Sungkawati, boleh di panggil ibu Susi. selama satu tahun ke depan, ibu akan jadi wali kelas kalian di sini. Karena ini pertemuan pertama, Ibu bebaskan dulu kalian sampai istirahat ke dua. Setelah istirahat ke dua nanti, kita mulai bahas peratuan main sama Ibu ya. Sampai sini ada yang mau ditanyakan dulu?", ucap bu Susi.


"Ga ada Buuu", jawab semua murid dengan cepat.


"Ya sudah kalo begitu Ibu tinggal dulu ya, setelah stirahat nanti Ibu kembali ke sini lagi".


Kemudia bu Susi langsung meninggalkan kelas.


Semua murid mulai asik berkenalan, terkecuali Ira, ia justru lebih memilih berpacaran dengan novelnya dari pada harus berkenalan dengan teman-teman barunya. Toh, nanti juga kenal sendiri.


Revyan yang melihatnya pun tidak dihiraukan sama sekali, sampai Revyan harus membuka percakapan lebih dulu.


"Heh! Gua panggil lo apaan? Masa cewek rese mulu sih?!", tanya Revyan disertai kekahan ramah.


"Ira", jawabnya cuek dan masih terfokus pada novelnya.


"Selain rese sama nyebelin ternyara nih anak juga jutek!", ucap Revyan dengan pelan namun masih bisa di denger oleh Ira.


"Apa lo bilang? Gua rese? nyebelin? jutek? Ngaca dong lo!'', ketus Ira dengan sorot mata tajam.


"Nggak nggak, udah deh lo lanjut baca aja ya, dari pada ngomel mulu", jawab Revyan pelan.


"Gua denger ya!", balas Ira dengan sorot mata penuh ancam.


Revyan melihat cover novel Ira, Ternyata Ira sedang membaca novel Code Breaker. salah satu novel terlaris di jepang yang kini sudah tersedia di beberapa perpustakaan ternama di Indonesia.


"Code Breaker ya? Udah baca sampe mana lo? Endingnya tuh si Hitome tuh mati loh terus Ogam---", penjelasan Revyan terpotong.


"Syuutttt!! Gua mau baca, bukan mau dengerin lo ngoceh!", potong Ira sambil melanjutkan membaca.


"Ya udah terserah deh, terserah", Revyan meninggalkan kelas sambil membawa kotak bekal yang belum ia habiskan tadi pagi.