
Revyan masih berjalan menyusuri lorong, meninggalkan UKS beserta isinya.
Sebenarnya Revyan masih ingin berada di sana untuk menunggu sampai upacara selesai, tapi apalah dayanya yang tidak siap bertemu pak kumis di hari pertama ini.
Masa sih baru hari pertama udah mau berurusan sama BP aja?, gumam Revyan.
Bukan karena Revyan penakut. Ia hanya tidak ingin berita kenakalannya sampai ke telinga sang bunda. Ia tidak ingin bundanya mengetahui bahwa sebenarnya Revyan sering terlambat, sering bolos dan sebagainya di sekolah.
"Dasar cewek rese, Nyebelin banget sih! padahak kan cuman numpang tidur!! Lagian cuman bentar, sampe upacara kelar juga gua bakalan ke kelas kok!", Revyan terus mengumpati Ira sambi menuju ke mading untuk melihat kelas baru.
Kebetulan, mading berada di gerbang utama yang jaraknya agak jauh dengan lapangan upacar. jadi tidak akan ada yang mengetahui jika Revyan bolos upacara sekarang.
Sulis.. Rena.. Raehan... Novi... yahhh ga ada", kini Revyan sedang mencari namanya, ia melihat setiap absen kelas mulai dari bawah karena namanya berada di huruf R.
"Teo.. Rika.. Revyan, nahh ini dia. kelas apa gua? Ohhh kelas XI IPA 2, oke oke", akhirnya Revyan menemukan namanya yang terpampang jelas di absesi XI IPA 2.
kalo di pikir-pikir cewek tadi lucu juga, cantik lagi, gumam Revyan.
"Eh apaan sih, kok gua jadi mikirin tuh cewek? Iihh ngeri", Revyan terus bermonolog sendiri.
UPACARA SELESAI, BARISAN DAPAT DI ISTIRAHATKAN..
"Untuk seluruhnya, istirahat di tempat, grak", komando pemimpin upacara menutup upacara hari ini.
"Huuhh, lumayan banyak juga ya tadi yang sakit Feyy?", ucap Ira pada Felly setelah selesai menjalankan tugas.
"Iya Ra banyak banget, gua sampe kewalahan. Cape gua! Coba aja tadi di Rey jadi tidur di sini, pasti gua ga bakalan cape kayak gini. karena nih ya kalo liat muka Rey itu, aduuhhhh meleleehh. dia tuh obat cape gua, ralat deh obat segalanya dia mah", Felly mulai meracau.
"Apaan sih Feyy? mulai deh", ucap Ira memutar malas kedua bola matanya.
Entah mengapa setiap mendengar nama Revyan disebut, Ira pasti saja mengurutu tidak jelas.
"Heheee", Felly memamerkan deretan giginya yang putih bersih.
"Udah ah Fey gua mau liat mading dulu, mau liat kelas baru gua", Ucap Ira sambil membawa tas dan meninggalkan Felly begitu saja.
"Ra tunguuuu... kebiasaan deh lo", teriak Felly dengan ketus karena terlalu sering ditinggalin oleh Ira. sahabatnya yang satu ini memang tidak pernah berubah, dari dulu sangat senang meninggalkan Felly.
Felly pun segera menyusul Ira menuju mading.
Saat ini, Ira sudah berada di depan mading yang dimaksud. Sedangkan Felly? Mungkin ia masih berlari mengejar Ira dibelakang
"Ira... Ira... Ira... Ira...", Ira tengah sibuk mencari namanya.
"Hhh.. hhh.. hhh.. udah Ra... lo... lo... kebi... asa... an... deh... pasti... aja... lo...ningg... lin... gua...", racau Felly yang baru sampai dengan nafas yang masih tersegal-segal.
"Ngomong apa sih lo tuh Fey? makanya ga perlu lari-lari, santai aja kali. cape kan lo?", ejek Ira disertai tawa renyahnya.
"Atur dulu napas lo, atur dulu", titah Ira menenangkan Felly.
"Oke, tadi gua bilang loh tuh kebiasaan deh, pastiii ninggalin gua. kanapa sih. seneng banget kayaknya",pekik Felly
"Nah gitu dong, ngomong yang jelas", Ira masih saja mengejek temannya itu. ralat, sahabatnya.
"Ya elah, ini juga gara-gara lo kali Ra, lo yang ninggalin gua, jadinya gini deh. kok pikun sih!?", Felly berdecak sebal.
"Iya deh iya, sorry Felly sayanggg. Abisnya lo ngoceh mulu, sebal kan gua jadinya, Makanya kalo ga mau ditinggal jangan kebanyakan ngoceh cantik", ucap Ira minta maaf meski masih di sertai tawa penuh kemenangan.
"Tau ahh, ngambek gua", sinis Felly memasang muka sebal dan langsung menghampiri mading untuk mencari namanya juga.
Ira hanya melirik pada Felly beberapa detik kemudian kembali terfokus untuk mencari namanya di mading.
..."Felly... Felly... Fell... nah ini dia, oke gua kelas XI IPA 4", tak butuh waktu lama, kurang dari lima menit saja Felly sudah bisa menemukan namanya lebih dulu dari Ira....
"Lo udah nemu belom Ra?", tanya Felly kemudian sambil menghampiri Ira lagi.
Sedangkan Ira masih sibuk mencari namanya yang tak kunjung ditemukan.
"Ira... Ira... Ira... aduhhhh kok nama gua ga ada sih?", Ira mulai berdecak kesal.
Ira bilang namanya tidak ada di daftar. apa mungkin?
"Syukurin tuh Ra, kualat sekarang lo ninggalin gua. jadinya gini kan? Dikeluarin kali lo dari sini!", sejarang giliran Felly yang tertawa puas membalas Ira.
"Ishhh apaan sih lo? Gua sriuss... Kok ga ada nama Ira ya disini?! Apa gua perlu lapor ke TU?", Ira benar-benar takut jika namanya benar-benar tidak ada di daftar.
"Masuk kelas IPS kali lo", canda Felly meski sebenarnya hal ini sangat tidak mungkin terjadi. Tidak ada alasan kuat yang mengharuskan Ira pindah ke kelas IPS, terlebih lagi dengan kecerdasan Ira yang tidak bisa diragukan lagi di kelas IPA.
"Masa iya gua masuk IPS? gua coba cari deh", putus Ira pada akhirnya dan mulai mencari namanya di deretan kelas IPS.
"Eh neng namanya siapa sih?", tanya Felly masih terus menertawakan Ira.
"Ya Ira lah, gua ga pernah ganti nama kok sampe sekarang nama gua masih Ira.", jawab d Ira dengan ketus sambil terus mencari namanya yang masih tidak ditemukan.
"Sejak kapan nama lo Ira hah? Nama lo itu ADHISTY VIELLYN ZAFIRA PUTRI", ucap Felly sambil menekankan setiap katanya dengan keadaan tidak bisa menahan tawa. Anggap aja ini balasan untuk Ira karena terlalu sering meninggalkan Felly.
Eh iya juga, nama gua adhisty, pantes aja ga bakal nemu nama Ira, gumam Ira yang heran karena bisa sampai lupa nama sendiri.
"Ya udah, gua cari lagi deh", putus Ira.
"Abidzar.. Aldi.. Azkia.. oke bukan. Abell... Adelyn... Adhisty Viellyn... nai ini dia, XI IPA 2 oke sip", seru Ira girang. Akhirnya Ira dapat menemukan kelasnya sekarang.
"Ketemu Neng Ira?", tanya Felly dengan nada mengejek.
"Iya, udah, yuk ke kelas", seperti biasanya, Ira selalu saja meninggalkan Felly.
..."Tuh kan kebiasaannnnn!!", teriak Felly yang segera menyusul Ira....