
Saat ini, Ira dan Revyan masih berada di luar gerbang belakang. Entah apa yang mereka lakukan saat ini dan entah apa yang ada dipikiran mereka. Padahal waktu terus berputar, namun mereka masih berada di luar sekolah. Tujuan awal mereka terlupakan hanya karena Revyan yang terus mengejek Ira.
Ira masih terus mengejar Revyan yang sedari tadi belum bisa ia dapatkan.
Namun tiba-tiba saja hujan turun mengguyur kota.
Langkah Revyan terhenti saat ia sadar bahwa Ira sudah tidak mengejarnya. Apa Ira lelah?
Revyan mencoba menoleh ke belakang dan didapati Ira berada cukup jauh dari posisinya sekarang.
"Woiii! Ngapain lo Ra?", tanya Revyan setengah berteriak saat melihat Ira yang sedang menjulurkan tangannya menahan beberapa rintik hujan yang jatuh tepat di atas telapaknya disertai senyum kebahagiaan.
"Ujan-ujanan", jawab Ira dengan polos.
Ira memang termasuk salah satu golongan gadis yang sangat-sangat menyukai hujan. Ia sama sekali tidak mempunyai kenangan pahit bersama hujan.
"Baru kali ini dia ga nyolot sama gua", ucap Revyan pelan, tetapi sepertinya Ira tidak akan bisa mendengarnya karena suara hujan yang cukup deras dan kini Ira malah sedang asik bermain hujan.
Mau tak mau, Revyan yang harus bergerak mendekat ke arah tempat Ira.
"Ra, balapan yuk?", ajak Revyan setelah sampai tepat di samping Ira.
Ira hanya menoleh dan mengerutkan dahi bahwa ia tidak mengerti.
"Iya balapan lari, yang menang boleh minta apa aja sama yang kalah. siapa yang sampe duluan ke motor gua, dia yang menang.setuju?", Revyan menjelaskan peraturannya.
"I agree, gua yang itung", pinta Ira.
"it's oke, it's oke", Revyan menyanggupi.
"Sok Inggris lo?", cibir Ira.
"Lah, lo yang mulai", elak Revyan.
Ira mulai menghitung, "Ya udahlah, ya udah. Satuuu.. Duaa Tii------", sebelum Ira selesai menghitung sampai tiga, Ira sudah mencuri start duluan.
"Gaaaa", lanjut Ira saat sudah berada cukup jauh bermaksud mengakhiri hitungannya.
"CURANG LOOO!!!", teriak Revyan sambil berlari berusaha menyusul Ira.
Ya kalian pasti tau siapa yang menang.
"Ujannya gede, dingin?", tanya Revyan.
Nih anak pakek nanya segala, ya jelas dingin lah, Koplakk!, ucap Ira dalam hati, setelah itu Ira menganggukkan kepalanya jujur.
Revyan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yups, jaket.
Nih anak peka juga ternyata, ga nyangka gua. dibalik sikapnya yang absurd parah, dia bisa peka sama cewek juga?, Ira terkagum-kagum dengan apa yang dilakukan Revyan, tepatnya dengan apa yang akan dilakukan Revyan.
Tapi ternyata, Revyan langsung memakai jaketnya sambil mengatakan 'Oohhh' dan mengangguk-anggukkan kepalanya untuk menanggapi jawaban Ira tadi.
Huhhhh!! Baru juga gua puji, ternyata cuman bilang oh. jaketnya? Malah dia yang pake. Dasar, emang nyebelin akut lo Rey, Ira kembali bergumam menyesali dirinya yang sudah memuji Revyan tadi.
"Lo ga minjemin jaket itu ke gua gitu?", sindir Ira.
"Nggak lah. B*go banget kalo gua pinjemin jaket ini buat lo. Masa iya Lo enak-enakan pake jaket gua, sedangkan guanya kedinginan? Lagian siapa lo harus pinjemin jaket? Kenapa? Geer ya loo?", Jawab Revyan sambil menggoda Ira.
"Nggak kok, gua ga geer, Lo nya aja yang kepedean. Lagian kalo pun lo mimjemin jaketnya ke gua juga, belum tentu gua mau pake!", Jawab Ira sedikit kesal, karena awalnya ia memang mengira Revyan akan meminjamkan jaketnya.
"Oh ya? Tapi bagus deh kalo gitu, jadi gua ga perlu repot-repot mimjemin jaket ini buat lo", Revyan kembali menggoda Ira.
"Buruan naikk!", Revyan meminta Ira untuk kembali menaiki motornya.
"Mau kemana lagi sih?'', tanya Ira yang malah diajak naik motor, padahal niat awal mereka ingin masuk ke sekolah dengan cara memanjat gerbang belakang.
"Udah buruan, jangan banyak nanya kaya emak-emak", lagi-lagi Revyan tidak menjawab pertanyaan Ira melainkan memaksa Ira.
Revyan bersiap menembus jalanan yang basah akibat terguyur hujan. Entah kemana lagi ia akan membawa Ira.
***
"Lo mau ngajak gua kemana sih? perasaan gua ga kenal jalan ini? Lo ga bakal culik gua kan?", tanya Ira yang panik sendiri.
Revyan tidak menjawab sama sekali, Ira mengira hujan yang memang semakin deras membuat Revyan tidak mendengar suaranya.
jadi, Ira bertanya lagi dengan sedikit berteriak.
"LO MAU BAWA GUA KEMANA?!", tanya Ira kembali.
"ADA, SATU, NAMANYA GHEA", Jawab Revyan sambil berteriak.
Nih anak ngeselin banget, gua nanya apaan dijawab apaan, ngaco! Mungkin ujannya emang gede kali ya, jadi dia ga bisa denger gua. Eh btw Ghea siapanya dia ya? mantannya? jadi dia punya mantan? satu doang? Most wanted kayak dia mantannya cuman satu? hah? apa mungkin? atau bukan mantannya? kalo bukan mantannya,Ghea siapa dong? pacarnya? Ah udah lah, Ya Tuhannn, semoga gua ga di apa-apain sama Rey, ucap Ira dalam hati.
"Ra! Iraaaa!!!" Revyan menyadarkan Ira yang sedari tadi terus bergumam dalam hati.
"Eh, kenapa?", Ira tersadar.
"Udah sampe, jawab Revyan dan mengisyaratkan Ira untuk segera turun.
Revyan membawa Ira ke sebuah rumah mewah dan besar dengan desain sederhana dan elegan Yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah Revyan.
"Rumah Lo?", tanya Ira tidak percaya.
bukan karena Ira merendahkan, tetapi karena dari penampilan Revyan yang terbilang sederhana. ia hanya mengunakan motor ninja pada umumnya, bahkan saat acara sekolah pun, Revyan tidak pernah membawa mobil ke sekolah.
Ira dapat mengambil kesimpulan bahwa Revyan bukanlah orang yang sering menghabiskan harta orang tua untuk hal yang tidak penting seperti kebanyakan anak dari orang kaya lainnya.
"Bukan, rumah orang tua gua", jawab Revyan sekenanya sambil menarik tangan Ira untuk masuk.
"Semlekomm....Buunnnn....Bundaaa!"
Al, salam yang benar dong, masa kayak gitu, Ngapain kamu? jam segini kok udah pulang?", ucap Karin yang belum menyadari kehadiran Ira.
"Eh iya maaf Bun, Al ulang deh, Assalamualaikum Bunda cantikk", ucap Revyan Sambil menyalami tangan Karin dan mencium keningnya. tidak lupa dengan senyum terpaksa.
"Tadi Al telat Bun, jadi ga bisa masuk deh. terus kan ujan juga, ya udah Al pulang aja", lanjutnya.
"Ehh ini siapa? Cantik banget. Ya ampun kasian kamu bajunya basah kuyup kayak gitu, pasti keujanan ya? Al pasti tidak meminjamkan jaketnya? Ya ampun kasiann", sapa Karin dengan hangatnya saat menyadari kehadiran Ira tanpa menanggapi Revyan.
"Ira tante, iya tadi keujanan tapi dikit kok", jawab Ira dengan senyum manisnya.
"Ya udah, ikut Bunda yuk? Ganti baju dulu. kasian, Ira pasti kedinginan?", ajak Karin menuju ke kamar.
Giliran orang cantik yang keujanan aja, langsung di ajak ganti baju. Lah giliran anaknya sendiri? Dibiarin! punya Bunda kadang-kadang ngeselin juga, gumam Revyan yang diacuhkan.
Seperti yang biasa mendengar suara hati anaknya, Karin tiba-tiba berteriak, "AL, KAMU JUGA GANTI BAJU, TERUS NANTI KITA MAKAN".
"Iya Bun", Revyan Juga menjawab dengan sedikit berteriak.
Tau aja sih yang gua pikirin, Dasar ya, Naluri seorang ibu katanya mah, eh naluri seorang Bunda haha.
Revyan langsung menuju kamarnya dan berniat mengganti pakaian.
.
.
.
.