
...“Jika aku tidak di takdirkan untuk bahagia, maka akan ku buat semua orang yang ku sayang mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.”...
_Akara Taralia_
*********
Lara melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan yang sudah di penuhi siswa siswi yang sedang melakukkan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang tidur, nyanyi, ghibah, berkomedi, menghayal, memikirkan masa depan, bahkan ada yang cosplay menjadi ultraman.
“Akulah ultraman, diriku siap membasmi hatimu dan menjadikan hatimu sebagai ruang lingkup untuk cinta dan kasi sayang yang tertanam hanya untuk diriku seorang,” oceh salah satu siswa yang menyamar menjadi ultraman dengan menggunakan sarung sebagai costumnya dan peci debagai penahan sarung yang ia jadikan costumnya. Ya kalau di liat-liat lebih cocok di sebut maling berpeci dari pada ultraman si.
“Awok awok awok ngik ngik ngik huwak huwak huwak tintin brum citt ctak jduwar.”
Kira-kira begitulah sekilah bunyi suara dari kelas yang menyimpan berbagai macam satwa yang sulit untuk di jelaskan.
Kebisingan itu seketika terhenti ketika kedatangan beberapa pemuda yang saat mendengar langkah kakinya saja seseorang dapat berfikir bahwa nyawa mereka sedang berada di peng ujung tebing yang sangat curam dan sangat mustahil untuk mereka selamat jika berada di binggir tebing itu, semuanya seakan-akan terbius tak ada lagi kebisingan yang melebihi pasar yang isinya sekte yang tak terkalahkan, ya siapa lagi kalau bukan sekte emak-emak.
“Ah, kenapa diam,” ucap Tara yang baru bangun dari tidurnya dikarnakan dirinya tak mendengar sepatah katahpun dari umat yang ada di dalam ruang lingkup yang terbilang cukup kecil itu karna hanya dapt menampung tiga puluh empat siswa dan beberapa lemari buku dan tak lupa lemari tempat penyimpanan barang-barang keramat milik seisi kelas.
“Stt Ra lu mau bunuh kami hah, tu liat ekor lu datang. Emang si tampan-tampan tapi kayaknya kalah kesereman seekor singa di buat tu para ekor lu, apalagi Deo beh seprti menantang maut,” ujarnya dengan nada berbisik.
Tara hanya menganguk kemudian menatap satu persatu ekornya yang baru saja datang dengan rambut acak-acakan namun seragam yang lumayan rapih.
“Umm.” Lagi-lagi Tara mengangguk kemudian mendeket kearah para inti Bacham yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menenteng tas yang ada di tangan mereka masing-masing.
Deo berjalan mendekat kearah Tara kemudian tanpa izin sang empu dirinya langsung mengangkat tubuh mungil ara kedalam dekapannya kemudian mebawa Tara keluar menuju atap sekolah.
Lara yang memang sudah pasrah saat dirinya di bawa Deo ntah kemana pun itu hanya tenang sambil menjilati setangkai permen yang ada di tangannya.
“Yum enyyak,” oceh Tara.
Mereka kini sudah sampai di atap sekolah dengan pemandangan yang lumayan menyejukkan hati dan angin sepoy-sepoy yang menambah kegembiraan di dalam benak bereka. Tara di dudukkan tepat di tengah-tengah para inti Bacham.
“Bunda Aldo kangen huwaaa,” ucap Aldo yang baru saja ingin memeluk badan mungil Tara namun berhasil di halang keras oleh Deo.
“Enak aja, Bunda punya gue tadi gue yang bawa buna,” sinis Deo tak ingin menyerahkan Tara pada wakil nya itu.
Aldo menatap Tara dengan tatapan penuh permohonan namun sayang di sayang Tara hanya mementingkan permen yang ada di tangan mungilnya itu.
“Hiks buna ndak sayang kami lagi ya, buna lebih sayang sama permen itu ya,” ucap Aldo dengan mata yang mulai berkaca-kaca kemudian beralih menatap nyalang ke arah permen yang Tara pegang.
“Awas aja lu permen, gue bunuh lu,” lanjut Aldo kesal.
Semua inti Bacham menatap nyalang ke arah seonggok permen yang tak berdosan dan bernyawa itu, rasa ingin memusnahkan dan membom nuklir seonggok permen itu mulai terlintas di fikiran Aldo. Ini saat yang tepat untuk merebut kembali kasih sayang bundanya dari permen itu.
“Apa kita harus menggunakan cara itu,” saran Teo membuka suara.
“Saran Tet?” ucap Rio penasaran.
Teo menatap ke arah Rio yang sudah menunggu jawaban dari dirinya.
“Kamu nany, kamu bertanya-tanya, kamu tercandu-candu, ni yah aku kasi tau tau tapi sebelumnya jangan lupa join live gue nanti ya, dan jangan lupa tab-tab tu layar tenang aja nanti gue kasi tau rwrr.” Canda Teo.
Plak!
Dua keplakan berhasil mendarat di kepala mulus Teo.
“Encoy cepmek berulah,” canda Rio.
“Dahlah tuker lagi nama gue, kalian tau nggak si emak gue susah payah motongin kambing buat akikah gw, eh lu pada dengan seenak burid ganti-ganti nama gue,” ucap Teo memelas.
Rio memutar bola mata malas dan lagi-lagi menempeleng kepala sahabat kesayangannya itu. “Mak lu kan agen kambing asu, mana udah terkenal sampai luar kota lagi.”
“Eh, iya juga ya. Btw ngomong-ngomong kalian tau nggak si entong kemarin baru melahirkan lagi anak nya tiga mana beda-beda lagi warnanya. Buset tu kambing enak bener ya, asal nyoblos, nggak takut apa ntar dia nggak perawan lagi,” oceh Teo.
“Ntah lah, rusak-rusak,” balas Rio dan di angguki ke delapan inti lainnya.
Lah tadi niat nyabukannya mau buat strategi buat musnahin seonggok permen lolipop yang tak bersalah, ada apa ini miskah mengapa mereka malah membahas tentang kambing yang beranak dan perawan. Apakah mereka sudah melupakan seonggok permen yang sudah hampir kandas di makan Lara, nah kemudian mengapa melupakan seorang gadis yang sedang menikmati permen itu sambil menyaksikan kegabutan dari ekor-ekornya.
Ini masi menjadi misteri mereka di karnakan tiga ekor anak kambing yang di lahirkan tadi memiliki corak yang berbeda, akankah mereka menemukan suami dari si kambing. Nah saksikan di episode yang akan datang.
Setelah selesai mendiskusikan persoalan kambing tadi sampai memakan waktu yang lumayan lama yaitu lima belas menit lewat setengah detik sedikit, berhasil membuahkan hasil yang sangat-sangat di luar logika dan nalar siapa saja, jadi hasil kesimpulan dari rapat dadakan meraka yaitu... jawabannya juga akan terjawab di live Teo nanti, jadi jangan lupa gabung dan tab-tab layar ya gays awok awok awok.
Tara yang bosan turun dari tempat duduknya dan jongkok di sebelah Deo sembari sesekali menimbrung percakapan mereka.
“Deo ngantuk,” cicit Tara.
Deo yang peka akan situasi mengangkat tubuh mungil Tara dan kemudian menidurkannya di pangkuannya.
Tara menatap manik mata Deo kemudian memberikkan pendapat pada Deo dan kawan-kwan.
“Kalau udah selesai rapat anak kambingnya di kasi nama cencen,cuncun sama cencun yah,” usul Tara dan di beri acungan jempol pada semua inti Bacham.
“Good, yaudin Ara bobok dulu ya papay.”