
..."Kamu boleh menjadikanku bahan pelampiasan, tetapi ingat satu hal di balik aku yang mudah kau tindas ada sisi gelap yang takkan mampu kau sentuh."...
...~Akara Taralia~...
...****************...
Tara memalingkan pandangannya, dan beralih menatap Deo. "Satu lagi bayi plis," rengek Tara.
"No baby, nanti perut kamu sakit," tolak Deo.
Tara memanyunkan bibirnya, ia memalingkan pandangannya dan beralih menatap Satria.
"Ia...," panggil Tara namun sang empu masi tetap fokus ke makanan yang ada di hadapannya.
Tara beralih menatap Bara yang masi fokus ke hanpone nya. "Ara... hiks Anak-anak bunda nggak ada yang denger huwaa, buna marah ni," tangis Tara pecah saat Bara juga tidak menggubris panggilannya.
Aldo, Deo, Dimas dan yang lain beralih menatap Tara.
"Bunda kenapa hm... siapa yang udah buat buna Aldo nangis?" tanya Aldo lembut.
Tara menunjuk satu persatu pemudah yang ada di hadapannya dengan wajah tertekuk.
"Buna mau makan sambel lagi jadi gue larang," ucap Deo membuka suara.
"Bunda..." panggil Aldo sembari melirik ke arah Tara.
Tara memalingkan pandangannya sambil tertawa. "Heheh, cuma lima sendok kok," ucap Tara.
"Cuma Bun cuma... Aldo nggak mau Bunda sakit, udah jangan makan sambel banyak-banyak bunda, makan itu aja," finis Aldo.
Tara memanyunkan bibirnya. "Heum."
Tara menghabiskan makanannya dengan lahap sembari menggoyang-goyangkan kepalanya kekiri dan kanan."nyam enak," oceh Tara. Saat Tara hendak menyuapkan sendok trakhir kedalam mulutnya, tiba-tiba segelas es dan semangkuk bakso sengaja di tumpahkan dan habis membasahi baju Tara.
Byur!
"Ups, sory tangan gue licin," ucap Pelita sembari memutar bola matanya malas.
"Hahaha gini doang, nggak usah minta maaf kali, lu pantes di giniin dasar anak nggak tau diri," hina Tasya di depan semua inti Bacham dan yang lain.
"Hiks... pa-panas, maaf bukan Tara hiks... Deo pa-panas... Aldo pa-panas hiks...," dengan sigap Aldo mengangkat tubuh mungil Tara dan membawanya meninggalkan kantin sekolah.
"Hahaha anak nggak tau diri, trus aja cari mu--"
Byur!
Belum sempat Pelita menghabiskan ucapannya Dimas terlebih dahulu menuangkan segelas minuman miliknya dan satu mangkuk bakso di atas kepala Pelita.
"Ups, sory tangan gue licin," ucap Dimas dan pergi meninggalkan kantin sekolah.
Byur!
Lagi-lagi pelita dan Tasya mendapat kejutan geratis, seluruh pemuda yang ada di meja itu menuang semua minuman dan kuah bakso yang ada di meja mereka.
"Sory tangan gue licin," ucap Taro dan pergi meninggalkan Pelita dan Tasya yang sudah basah dengan kuah bakso dan minuman para inti bacham.
"Hahaha... lu salah cari lawan, ratu sekolah mau di lawan, abis hidup lo huuu," sorak se isi kantin.
"Argh sial, ini semua gara-gara lo anak sialan," geram Tasya dan pergi meninggalkan kantin dengan perasaan marah bercampur malu.
***
"Papa... Tara tadi nyiram Tasya sama Pelita di kantin hiks... badan Tasya jadi panas semua hiks," adu Tasya pada Papanya.
"Anak sialan nggak tau diri, berani-beraninya dia main-main dengan anak saya," emosi Hendra yang sudah tak terbendung lagi.
Hendra berjalan menuju kamar Tara dan melihat Tara yang sedang asik membereskan kamarnya.
"ANAK SIALAN SINI KAMU... BERANI-BERANINYA KAMU MAIN-MAIN DENGAN ANAK SAYA!" bentakan Hendra.
Plak!!
Dug!!
Bugh!!
Satu tamparan beserta tendangan kuat yang Tara terima di bagian pipi dan perut berhasil membuat Tara terduduk lemas, ia hanya bisa tertunduk dan menahan rasa sakit yang ia dapat dari pukulan Hendra.
"NGGAK USAH NGELES KAMU, INI BELUM SEBERAPA!!" bentak Hendra dan mengambil gesper yang ada di atas nakas Tara.
Ctak!
Ctak!
Ctak!
Tanpa rasa ampun Hendra memukuli tara dengan membabi buta ia tidak memikirkan nasip anak tirinya itu dan terus memukuli Tara hingga ia puas dengan pukulannya.
"A-ampun p-pah," ucap Tara terbata-bata sambil menahan rasa perih yang ada di sekujur badannya.
"DIAM KAMU!"
Ctak!
Di rasa sudah puas Hendra meninggalkan Tara yang sudah terduduk lemas di sudut kamar.
"Sttt ahh... bu-bunda Ta-tara sa-salah la-lagi ya," cicit Tara terbata-bata, dengan air mata yang terus membasahi pipinya yang penuh dengan bekas tamparan ia berjalan menuju kasurnya.
Tara membaringkan tubuhnya dan menetralkan rasa skit yang ada di sekujur badannya. "Stt sakit," ringis Tara.
'Bunda, Papah mukulin Tara lagi hiks... sakit Bun... Bunda, Tara mau ikut Bunda hiks...' batin Tara.
"No no no Tara nggak boleh lemah, Tara nggak boleh sedih, luka gini aja nggak ada apa-apanya buat Tara," ucap Tara dan menghapus air matanya.
...****************...
Malam itu adalah malam yang begitu mengrihkan untuk seorang Tara, entah mengapa dirinya selalu mendapatkan sakit yang begitu perih dari seseorang yang dia anggap istimewah. Gadis itu kini tengah bersiap-siap dengan sedikit polesan liptin dan babycrim untuk menutupi bekas sabetan Gesper dari ayah itu. Dengan memasang topeng yang biasa ia kenakan sehari-hari dirinya kini berjalan keluar kamarnya dengan senyum yang selalu terukir di bibir manisnya itu.
“Pagi kakak, Papah, mama,” sapa Tara sambil menyunggingkan senyum palsunya.
“Cih caper,” cibir Tasya.
Tara yang mendapati respon yang kurang mengenakkan dari kakak tirinya hanya menyunggingkkan senyum dan beralih untu menempati salahsatu kursi kosong yang ada di ruang makan itu.
“Heh ngapain kamu duduk disini hah!” ketus Tasya.
“Umm, Tara juga mau gabung makan kak,” ucap lara dengan wajah yang tertekuk.
Tasya yang mulai bosan dengan Tara mengambil posisi berdiri dan dengan santainya mendorong Tara hingga dirinya terjatuh kelantai yang sudah ia bersihkan sedari pagi buta.
Awss!
“Lu nggak cocok makan bareng keluarga gue, dan udah berapa kali gue bilang jangan pernah ikut ngumpul sama keluarga gue. Oh iya sebagai hukuman untuk lo karna udah mempermalukan gue dan adik gue, lu nggak boleh makan selama sebulan, gue nggak trima penolakan, FAHAM!” ketus Tasya.
“Ta-tapi kak!”
“Nggak ada tapi-tapi, keluar lu sekarang gue muak liat mukak lu,” lanjut Tasya.
Lara mengikuti apa kata kakak tirinya itu, dirinya yang memang dari semalam belum makan berejalan tanpa menghiraukan suara-suara yang keluar dari dalam perutnya itu. Dirinya tanda menyimpan dendam berjalann keluar dengan senyum yang masi terukir mantap di bibir mungilnya.
“Nggak papa Tara kuat,” ucap nya menyemangati dirinya sendiri.
Hah mengapa? Mengapa kau masi memakai topenng itu, apakah kau tidak lelah selalu berpura-pura seperti itu. Mengapa mereka selalu menyakiti gadis malang itu, sebenarnya di mana letak keadilan untuk gadis malang itu? Di mana letak itu semua?