
"Akara Taralia, gue sayang banget sama lo."
***
"Akara, jangan macem-macem mau gue anboxsing hum."
"Ampun Mas Deo ganteng."
***
"Tara lo dimana."
"Taraaaa loo jgn kemana-mana."
***
"TARA LO BOHONG SAMA GUE, TARA JAGAN TARA ARGH." Bentak Deo.
"Deo lu nggak boleh gini bangkit De bangkit."
...****************...
..."Ara nggak mau Deo kenapa-kenapa, Ara sayang Deo, Deo jangan nakal ya."...
..._AKARA TARALIA_...
... ***...
"Shtt... argh, pelan-pelan Ra," ringis Deo saat Tara menekan kuat kapas yang ada di tangannya.
Tara tidak mengindahkan perkataan Deo, semakin Deo berteriak dan meminta agar pelan-pelan semakin kuat pula Tara menekan luka Deo.
Akara Taralia--- seorang gadis mungil yang memiliki pipi cabi serta tampang yang sangat cantik, berumur 18 tahun dan sifat yang sangat cerewet namun sangat polos membuat siapa saja gemas melihatnya.
"Ara maaf jangan ngambek gitu dong, nanti Deo beliin coklat deh buat Ara," bujuk Deo sambil menahan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.
Mendengar kata coklat mata Tara membelalak tidak percaya. " Coklat, Deo lupa kalau Ara nggak suka coklat, Deo lupa ya," omel Tara sambil memperkuat tekanan kapas yang ada di tangan nya.
"Awsss... maaf Ra, Deo lupa kalau Ara nggak suka coklat, ampun Raa.." rintih Deo saat merasakan pedih yang luar biasa.
"Bodo amat."
"Bunda tolong Anak mu ini huwaaa Bunda, Deo nggak mau di obatin Tara, Bunda tolong Deo..." rengek Deo.
"Sett Deo diem, siapa suruh sok-sokan jadi ketua gang siapa suru berantem-berantem, mau jadi pahlawan kesiangan ha, diem jangan panggil-panggil Bunda, Bunda udh tenang di sana," oceh Tara.
Deo yang mendengar penuturan Tara menunduk dan bergumam. "Maaf Deo salah, maaf Ara... Deo nggak nakal ngulangin itu lagi... maaf Bunda maaf hiks."
Tara yang melihat Deo mulai meneteskan air mata merasa iba dan mulai melebarkan tangannya.
"Sini peyuk Ara... jangan nangis ihh Deo jelek, masak ketua gang nangis... huh lemah," ledek Ara.
"Bayi besar Bunda jangan nakal ya... Bunda nddak mau Bayi besar bunda kenapa-kenapa... puk puk puk... tidur Deo oo tidur Deo kalau ndak tidur digigit hantu," lantunan suara Tara seakan memanjakan telinga Deo. Deo terlelap dan melupakan semua sakit yang ia rasa.
Aldeolandr Rantara--- seorang pemuda tampan yang di kenal dengan kesadisannya dan sifatnya yang brutal membuat ia sangat ditakuti dan di segani orang. Deo memimpin sebuah gang yang bernama Bacham yang beranggota 500 orang lebih tidak termasuk anggota inti dan wakil ketua. Walau terkenal bringas namun ketika bersama Tara sifatnya berubah derastis.
Tara lah alasan Deo untuk bertahan Tara juga alasan Deo untuk hidup, jadi jika ada seseorang yang berani mengusik Tara maka Deo tak segan-segan menghabisi nyawa orang tersebut.
***
Di tengah gemuru petir dan derasnya hujan, sekelompok pemuda tengah berkumpul dan mendiskusikan suatu hal yang sangat penting, terliahat raut wajah bingung dari ketujuh lelaki yang tengah berkumpul itu, hingga satu kejadian yang membuat mereka mengalihkan pandangan dan tertuju kepada gadis mungil yang ada di balik pintu.
Tuk!
"Awss... Deo hiks huwaaa," suara tangisan Tara menggelegar di seluruh penjuru ruangan, Deo dan keenam pemuda lainnya sangat khawatir dan berlari menghampiri Tara.
"Tara lo nggak papa?" tanya pemuda-pemuda tersebut kompak, terlihat dari semua raut wajah pemuda-pemuda yang mengerubungi tara terlihat begitu khawatir dan cemas.
"Telfon 113 buruan," pekik leo.
"Njir ngapain lu telfon pemadan, goblok banget si lu astaga, Tara sakit bukan kebakaran goblok... Dim telfon polisi buruan Dim," titah Angga.
Plak!
"Goblok lu pada," geram Dimas sambil menggeplak kepala Leo dan Angga.
"Lu pada bisa diem nggak," bentak Teo.
Semua hening hanya terdengar suara jam dinding dan deru nafas para inti Becham yang terdengar.
Teo Albara-- wakil ketua Bacham yang di kenal dengan hawa dingin yang ia keluarkan dan ketampanan yang terpancar dari dirinya.
Leo, Angga, Dimas, Aldo, Dan Taro ialah inti Becham.
Para inti Bacham sangat sensitif jika di sangkut pautkan dengan Tara. Tara sudah mereka anggap sebagai Queen Bacham yang sangat mereka jaga, Tara sudah seperti berlian dan inti dari Bacham yang harus mereka jaga dengan baik.
"Baaa, hahahah kena tipu hahah," tawa Tara yang berhasi mengerjain tujuh pemuda yang ada di sekeliling nya.
Tuk!
"Jangan nakal sayang, jangan buat kami khawatir," seru Deo sambil mengetuk pelan kening Tara.
"Abisnya daritadi pada fokus sama ludo," cicit Tara sambil memajukan bibirnya 5 centi.
"Bahaha bocil mulutnya kayak bebek bahaha," ledek Leo.
Tara yang mendengar kata bebek itu matanya berbinar dan mulai mencari keberadaan unggas air itu.
"Bebek, mana bebek kiyaaa bebek," teriak Tara.
"Berani beda." Gumam inti Becham.
***