
..."Saya nyerah tapi saya harus tetap bertahan, saya bingung harus bagaimana."...
...~privat~...
***
"Bunda... cepat banget jalannya," omel Aldo saat ia sudah sampai di samping Tara.
"Heheh maaf, Bunda capek jadi duluan deh," cicit Tara seraya menepuk keningnya.
"Bunda kalau capek bilang sama Aldo, kan Aldo bisa gendong Bunda biar nggak capek... Bunda nggak boleh jauh dari Kami oke, nanti kalau Bunda kenapa-kenapa gimana hum," omel Aldo.
Tara hanya tertawa melihat tingkah Aldo yang seperti anak kecil. "Hehehe, iya iya sayang, balik kekelas gih nanti keburu masuk," selip Tara.
Aldo menggelengkan kepalanya dan membalas perkataan Tara. "Nggakkan sekarang kelas Aldo sama yang lain di sini."
Lona yang mendengar perkataan Aldo tercengang tak percaya. "Ehh ngapain lu masuk kelas kami... ehh mau modus lu ya... oh tidak bisa, dah balik lu sekarang," ucap Lona Bar-bar.
Aldo mengacuhkan perkataan Lona dan memasuki kelas dengan santainya.
"WOiiiii... KAmprettt keluar luu jangan duduk di bangku gue," teriak Lona.
Dimas dan yang lain yang baru sampai hanya menutup telinga dan menggelengkan pelan.
"Zama sekarang masi ada mak lampir ya Ra," oceh Dimas dan masi didengar jelas oleh Lona.
"WOiii, Ngomong apa lu tadi ha," ocehan Lona terhenti saat melihat siapa yang ada di depan nya. "De-deo ng-ngapain kemari, ehh anu kalian ngapain," lanjut Lona sambil tertunduk.
Deo mengangkat sebelah alisnya dan meninggalkan Lona yang menunduk ketakutan, dan Deo taklupa membisikan sesuatu di telinga Tara. "Cepat masuk Deo ndak mau bunda kenapa-kenapa," bisik Deo dan tersenyum simpul.
"Njir rasanya nyawa gue udah di ubun-ubun," oceh Lona saat Deo sudah tidak ada lagi di hadapannya. "Apa lo liat-liat," sentak Lona.
"Idih kenapa ni orang, dah ah bay," balas Dimas dan memasuki kelas. Sebelum Dimas melangkah kan kakinya kedalam kelas Lona terlebih dahulu menarik kerah baju Dimas.
"Ehh siapa yang izinin kalian masuk," galak Lona.
Tara mencoba menenangkan sahabatnya yang ingin memakan Anak-anak. "Udah Na udah."
"Pemilik sekolah ini," balas Dimas bangga.
Lona tertawa remeh saat mendengar penuturan Dimas. "Haha pemilik sekolah... mana orangnya ha tunjukin ke gue, mana gak ada... jangan ngehalu deh lu," balas Lona.
Dimas menunjuk Deo yang sedang menikmati lagu yang keluar dari handsad yang ia pakai. "Tuh."
"De-deo pe-pemilik se-sekolah ini," gugup Lona.
Taro yang baru datang menarik lembut tangan Tara dan membawa Tara masuk kedalam kelas. "Bunda masuk nggak boleh di luar," ucap Taro lembut.
***
Bel istirahat berbunyi semua siswa-siswi berhamburan untuk membubarkan para cacing yang berdemo di dalam perut mereka masing-masing.
"Bayi, Tara laper," rengek Tara pada Deo.
"Mau makan apa hmm," balas Deo.
Tara bergeleng pelan. "Tara mau kekantin bareng Lona," ucapnya lesu.
"Nggak boleh, Bunda mau apa biar Taro pesenin," selip Taro.
Tara tertunduk lesu sambil memainkan jemarinya. "Tapikan... Lona kasian kekantin sendiri," cicit Tara.
Deo menghela nafas kasar dan berbalik menatap Tara. "Nanti sekalian di beliin sayang, Bunda di kelas aja bareng Deo," bujuk Deo.
"Beneran?" tanya Tara ragu-ragu.
"Iya sayang."
Senyum Tara mengembang dan ia kemudian memanggil sahabatnya yang tengah termenung ntah kenapa. "Lonaa," teriak Tara namun nihil Lona tidak menjawab. "Lonaaaa," lanjut Tara.
"Ah iya gue, bakso satu," balas Lona linglung.
Dimas bingung dengan sikap Lona yang berubah derastis, ia berinisiatif untuk menanyakan kondisi teman sekelasnya itu, ralat teman barunya itu.
"Woi lo kenapa?"
"Gue masi syok bangsat, syok nii," balas Lona.
"Njir bar-bar bener lu jadi cewek."
"Diem lu... atau mau gue sunat heheh." setelah mengatakan hal tersebut Lona tertawa sinis.
Dimas memundurkan tubuhnya tak mampu memandang mak lampir yang ada di hadapannya. "Gue nyerah," oceh Dimas.
****
'Huff capek banget... argh males banget gue ke tempat itu isss,' batinnya dan ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk kesayangannya.
Tring!
Satu notiv masuk, ia segera membuka notiv tersebut dan membaca isi pesan dari sang pengirim
Dr.handrik~~
||saya mengingatkan kembali bahwa hari ini jadwal anda cekup,
Sekian
...****************...
Seorang gadis tengah duduk di tepi sofa sembari memakan cemilan dan memain kan hanponenya. Sepi... sudah menjadi teman sehari-hari Tara, tidak ada yang lebih menenangkan selain heningnya malam, sudah biasa baginya kalau harus sendirian, ayahnya, jangan di tanya Ayahnya pergi meninggalkan Tara sendiri demi istri dan anak barunya. Ibu tara sudah lama meninggal di karenakan ulah ayahnya sendiri namun Tara tak pernah membenci Ayahnya sedikit pun.
Saat sedang asik ngemil satu ketukan pintu terdengar di indra pendengaran Tara, ia bergegas membuka pintu, saat mengetahui siapa yang ada di balik pintu tersebut rasa senang bercampur kecewa menyelimuti fikiran Tara.
"DAsar anak gak tau diri buka pintu aja lama banget," bentak seorang peria yang biasa di panggil Hendra. Hendra ialah Ayah sambung Tara ia sangat benci gadis yang ada di hadapan nya itu.
"Ma-maaf yah," ucap Tara tertunduk.
Hendra memasuki rumah megah milik Tara yang di susul oleh kedua putrinya dan seorang wanita paru baya, ia dia istri baru ayah tiri Tara.
Dengan tidak indahnya seketika rumah Tara di penuhi dengan iblis-iblis yang tidak di undang itu.
"Taraa kamar lo pindah di kamar tamu ya... ini juga scincare buat gue lu gak usah pakai barang mahal nggak pantes tau nggak," teriak Pelita saudari tiri Tara.
Tara hanya mengangguk dan membiarkan saudari tirinya mengaduk-aduk isi kamarnya.
***
Jam menunjukan pukul enam pagi, Tara sudaah selesai membereskan sarapan untuk keluarga kecil ayahnya dan untuk dirinya sendiri.
Gbrak!
Hendra menggebrak meja makan saat melihat Tara menduduki dirinya di salah satu kursi tempat mereka berkumpul.
"Ngapain kamu disini!" bentak Hendra.
Tara tertunduk. "Ta-tara mau ikut makan yah," cicit Tara pelan.
"Haha nggak tau diri banget lu ya, kedapur sekarang lu nggak pantes makan di sini, lu itu cuma benalu oke," cerca Pelita.
"Benar kata Pelita, pergi lu dari sini," lanjut Tasya.
Tara memilih untuk meninggalkan keluarga kecil yang sedang menikmati masakannya dengan sangat bahagia. Tara tersenyum simpul dan beralih mengotak ngatik ponsel yang ada di tangannya.
Tak berselang lama suara deruman motor tedengar di indra pendengaran Tara, ia segera berlari menghampiri seorang peria yang baru saja data.
"Bayii... Ara kangen," pekik Tara.
Deo mentap Tara dengan tatapan yang begitu teduh dan membalas senyuman Tara. "Deo juga kangen Bunda... Bunda peyukk Deo kangen aaaa... Bundaa peyukk... tium di sini disini disini juga," manja Deo dan menunjuk seluruh wajah nya.