ALTA

ALTA
Alta_04



Terdengar suara deru motor dari luar rumah Tara, dengan segera Tara berlari menghampiri seseorang yang berbalut jaket hitam dengan menggunakan hellem di kepalanya.


"Malam Bayi besar." Sapa Tara sambari menjinjitkan kakinya.


"Aiss Bunda jangan lari-lari nanti jatuh luka gimana hm, kebiasaan banget si, tuk!" omel Deo dan mengetuk pelan kening Tara.


"Heheh maaf Bayi, Tara salah."


Deo berlutut di hadapan Tara dan mulai membenahkan tali sepatu Tara yang terlepas. "Stt Queen Bacham nggak boleh minta maaf oke," ucap Deo sambil berdiri dan mengangkat tubuh mungil Tara agar bisa naik ke atas motornya.


"Tara bisa sendiri iss, Tara udah besar hum," omel Tara saat tubuh mungilnya di angkat Deo dan didudukkan nya di atas motor kesayangan Deo.


"Ututu umur aja yg dewasa tapi badan masi kayak anak tk blek," ledek Deo.


Deg!


"Deg, astagfiruallah ngenak bener loh By, hati mungiel Ara tersentil hiks, Bayi kalau ngomong suka bener dehh, aaa jadi gemes Ara mutilasi ya," oceh Tara.


Deo yang mendengar tutur kata Tara bergidik ngerih, tak disangaka ternyata Queen mereka keturunan piscopat. "Astagfirullah berdosa banget anda," ucap Deo.


"Nggak Bayi Bunda bercanda, yaudah rembo go," teriak Tara sambil mengangkat tangannya.


"Ehh kok rembo sih?" Tanya Deo.


"Avv sepi kebesaran, kalau rembo kan mirip bebek ucul Ara suka," seru Tara semangat.


Haduh ada ada aja makhluk neptunus satu ini, harus di perbanyak sabarnya yak Deo.


                       ***


Beberapa menit berlalu~~


Kini Deo sudah sampai di halaman Bascam dan memarkirkan motornya dengan rapih di sebelah motor-motor anggota Bacham lainnya.


"Assalamualaikum Anak-anak, Bunda sampai," teriak Tara semangat.


"Waalaikum salam, malam Bunda," teriak seisi ruangan.


"Ais kalau udah Bunda dateng ribut semua ni ruangan," cicit seorang pria yang sedari tadi menunggu kedatangan Tara.


"Sabar bro, ini Demi Bunda," sahut laki-laki yang ada di sebelahnya.


"Idih sapa lo, monmaap kita nggak kenal ya," balas lelaki yang biasa di panggil Bara.


"Kita sekarang kan saudara yang di angkat sama Bunda Tara, lupa lo idih parah sih," cicit pria yang biasa di panggil Satria.


Albara Pratama- Anak ke delapan Tara sekaligus ketua dari gang Blacksit yang perna Tara taklukin dan akhirnya berdamai dengan gang Bacham.


Satria Dratama- Anak ke sembilan Tara sekaligus ketua dari gang Elang putih dimana gang ini di kenal sangat bengis dan kasar tapi ntah kenapa seorang Tara bisa menaklukkan gang berhati iblis ini dan akhirnya berdamai menjadi satu di Bacham.


Why, kenapa Tara? Pasti pertanyaan itu muncul di benak setiap orang. Ya Tara lah alasan ketiga gang itu bergabung dan menjadi satu, bagai mana bisa? Pertanyaan itu bakal terjawab di part selanjut nya. Lanjut keceritanya~~


"Ehh Ada tamu, allo Bang Sat, allo Bang Ra," sapa Tara.


"Emm Bunda, jangan panggil Bang sat yak, kan ia anak Bunda jadi panggil ia aja," jelas Satria.


Bara yang mendengar penuturan Tara hanya menahan tawa sambil mengejek Satria. "Preff bahaha BANGSAT nggak tu." Ledek Bara sambil menekan kata-kata bangsat nya.


"Diem lu tuyul," geram Satria.


"Udah-udah jangan gaduh Bunda nggak suka," lerai Tara.


"Heheh iya maaf Bun, oh iya ini es crim kesukaan Bunda tadi Bara mampir sekalian ini buat Bunda," ucap Bara sembari menyodorkan es crim rasa strrowbery dan vanila blue beserta berkas-berkas yang ia bawa dari rumah.


"Ini berkas apa Ra?" Tanya Tara bingung.


"Ini surat emm tadi kata papah kasi surat ini sama Queen kamu," jelas Bara dengan mengukuti logat papahnya.


"Ehh ini surat kepemilikan pabrik es crim yang ada di blok kanan itu, seriusan ini buat Bunda tapi buat apa?! Mana udah di ganti alih lagi jadi milik Tara, nggak salah ni Ra?!" Ucap Tara bingung.


Bara hanya bergeleng. "Nggak, kan Bunda suka es crim, dari pada beli satu-satu bagus sama pabriknya, ets tapi Bunda nggak boleh makan sering-sering es crimnya ntar sakit prut," tutur Bara.


"Bun, ini ia bawain cemilan sama sepatu keluaran terbaru sepertinya cocok kalau Bunda yang pakai," ucap Satria.


"Um makasi buat semuanya, heheh Bunda jadi anu," ucap Tara tak enak hati.


...****************...


"Bunda Aldo mau bobok, elusin kepala Aldo," rengek Aldo seperti anak kecil.


"Aldo malam ini nggak pulang lagi hum?!" tanya Tara dengan lembut.


Aldo bergeleng kuat saat mendengar perkataan Tara. "Aldo nggak mau kesitu lagi, Aldo nggak mau... itu bukan rumah Aldo, ayah jahat sama Aldo Ibu juga... Aldo nggak mau Aldo mau tidur sama Bunda Ara," cicit Aldo pelan.


Tara memberi ruang agar Aldo bisa merebahkan badannya di samping Tara, Aldo dengan cepat merebahkan badannya di sofa dimana Tara duduk.


Aldo mulai memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpinya. Belaian tangan yang memanjakan di tambah lantunan sholawat yang keluar dari bibir mungil Tara sangat mendukung Aldo untuk tetap terlelap di dalam belaian malam.


Bisikan lembut terdengar di selip telinga Aldo, ia tersenyum kecil mendengar bisikan lembut yang di bisikan Tara. "Anak Bunda semangat ya... tidur yang nyenyak... mimpi indah sayang... besok Aldo harus balik kerumah oke... selamat malam kesayangan Bunda...."


'Andai Bunda gue mirip kayak lu Ra, mungkin gue nggak bakal kayakgini,' batin Aldo dan terlelap dalam tidurnya.


Setelah memastikan Aldo tertidur Tara keluar dengan cara mengendap-endap, Tara melihat sekeliling mencari keberadaan Anak-anaknya yang lain.


"Deo... kalian lagi pada ngapain," sapa Tara .


Deo berbalik dan tersenyum saat melihat Tara berdiri di ambang pintu. "Hay princes... gimana bayinya udah tidur."


Tara mengangguk pelan saat Deo mengajukan pertanyaan padanya. "Udah hehe... Tara boleh gabung nggak?"


"Boleh dong sini gabung Ra udah lama lu nggak sholawatan bareng kita, kuy lah sholawatan kangen gue," oceh Dimas.


"Hmm baru juga kemarin Ara sholawatan ehh malah Ara di tinggal tidur," seru Tara.


Tara berjalan menghampiri para pemuda yang tengah asik menikmati api unggun yang mereka buat di depan bescam Becham. Tara mendudukan bokongnya di tikar tepat dimana Deo duduk, ia menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Deo, dengan perlahan Tara mulai melantunkan sholawat dan membuat semua pemuda yang mendengar lantunan lembut dari bibir mungil tara merasanyaman dan tenang.


"Gue nggak nyesel jadi anak lo Ra," cicit Satria.


***


...Dr. Handrik~...


||Hallo, saya mengingatkan sekali lagi besok anda harus datang cekup dan jangan sampai terlewatkan lagi, sudah tiga kali berturut-turut anda tidak control dengan saya dan saya mengingatkan lagi obatnya jangan lupa di minum.


Read!!


Ia hanya membaca pesan yang dikirim oleh Dr. Handrik tanpa mau membalasnya, dengan perasaan yang campur aduk ia melempar beberapa butir obat yang ada di tangannya.


"Argh, capek gue harus ketergantungan sama obat gini," frustasi nya.


***


Pagi ini Tara merasa sangat bahagia ntah apa yang membuat ia bahagia. "Pagi para kaum mageran, Tara comback," teriaknya dan membuat seisi kelas melihat Tara yang berada tepat di ambang pintu.


"Pagi sayangnya Lona," hinsteris Ilona sahabat dekat Tara. "Eh bentar, buntut-buntut lu yang lain kemana Ra? Tumben nggak ikut," sambung Lona.


"Ada tu di belakang," balas Tara.


Ilona melirik kearah yang di tunjukan Tara padanya dan terlihatlah beberapa orang pemuda yang tengah bercanda guraw tepat di belakang Tara. "Oh itu... nggak capek Ra?" tanya Ilona.


Tara mengernyitkan dahinya. "Capek? kenapa harus capek?" tanya Tara.


"Tuh di ikutin terus," balas Lona.


"Hmm nggak."


...****************...


..."Lantunan lembutnya suaramu berhasil menjadi obat penenang yang sangat ampuh, hangatbya kasi sayangmu menjadi candu yang tak bisa ku hilangkang, tetap seperti ini jangan pernah berubah dan tetap menjadi obat penenang kami."...


...~satria dratama~...