ALTA

ALTA
ALTA_02



...   "Deo, Ara takut... Deo, Ara takut hiks...  dia jahat sama Ara... bukan Ara bukan hiks maaf."...


..."Akara Taralia"...


                       ***


Tara keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan baju sekolah lengkap dengan tas berwarna abu-abu yang ia sandang dengan sebelah tali. Tara menghentikan langkahnya takkala melihat Deo yang sudah menunggunya di bawah.


"Pagii kapten Bayi," ucap Tara sedikit berteriak.


Deo yang merasa namanya terpanggil menoleh keatas dan membalas sapaan Tara. "Pagi Queen manja."


Tara berlari menghampiri Deo dengan tergesah-gesah.


"Tara sayang, jangan lari-lari nanti kamu jatuh gimana hmm," ucap Deo sembari jongkok membenahkan tali sepatu Tara yang terlepas.


"Heheh maaf Bayi, Tara salah." balas Tara dengan gemasnya.


Deo dan Tara keluar dari rumah yang bernuansa elegan dan sangat memanjakan mata.


                      ***


Sebuah mobil sport memasuki perkarangan sekolah, semua pasang mata menatap kagum sepasang pemuda yang baru saja keluar dari mobil sport berwarna hitam itu.  Tak sedikit juga para siswa siswi mulai membicarakan sepasang remaja yang sangat mereka kagumi.


"Anjir kapal gue lewat... kiyaaa kapan ya kapal gue berlayar," heboh siswi dari pojokan.


"Yang satu tampan, keren ditambah dingin, yang satu cantik gemoy, ceria, huwaa gue meleleh... kiyaaa emak anak mu di gusur dari bumi, anak mu mau pindah ke mars aja kiyaaa..."


Deo dan Tara memasuki koridor sekolah di susul dengan enam inti bacham yang baru saja datang. Hawa mencekam yang sangat mencekap menjadi daya tarik sendiri bagi Deo,  tidak ada seorang pun yang berani menatap mata Deo kecuali Tara.


"Kapten, Tara laper heum," gerutu Tara dengan wajah yang tertekuk.


"Queen Ala mau makan apa biar Aa Leo  pesenin, tapi Ala harus tium pipi Aa dulu," ucap Leo sembari memajukan pipinya di depan Tara.


"Mau Ara gebuk," sinis Tara sambil memperlihatkan wajah yang sangat menakutkan ya menurut dia sendiri, tapi tidak dengan orang-orang yang melihat itu. Sangat-sangat gemoy siapa saja yang melihat pipi Tara pasti ingin merasakan sensasi kenikmatan dari gembul nya pipi chuby Tara.


"Awww Dimas takut, kiyaaa Ara marah kiyaa," goda Dimas sembari tertawa terbahak-bahak.


"Mbak imas lebay ah."


'Deg, niat mau bercanda malah ngenak banget evribady, hiks hati mungieil imas tersentil bundaaa hiks huwaa.' Batin Dimas.


"Ara gak boleh ngomong gitu yah, kasian tu oma imas tersentil dengan perkataan manis Ara," canda Teo.


"Hiks kalian ini berdosa banget... gue lakik woy bukan cewek... yang satu manggil gue mbak,yang satunya oma, dimana jiwa laki gue ha... lakik woi lakik," oceh Dimas.


Deo hanya tersenyum simpul melihat kekocakan sahabat-sahabatnya itu.  Tara melangkahkan kakinya meninggalkan ketujuh lelaki yang sedang bercanda ria.


                       ***


Tara terkejut ketika tangannya ditarik paksa oleh seseorang yang tidak ia kenal.


"Ka-kamu siapa?" gugup Tara saat cengkraman di tangan Tara semakin menguat.


Orang yang mengguakan pakaian serba hitam itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Tara. Tubuh Tara sudah bergetar hebat, ketika Tara ingin berteriak orang dengan pakaian serba hitam itu lebih dulu memberi Tara sebatang coklat dan selembar kertas yang di tempelkan di balik bungkus coklat itu. Tara terduduk dengan tatapan kosong, ntah apa yang ada di fikiran Tara sekarang dia hanya diam membisu tak mengeluarkan sepatah katapun, dengan air mata yang terus membasahi pipi chabi Tara.


Di lain sisi Deo dan enam pemuda lainnya tengah bingung mencari keberadaan Tara.


"Tara lo di mana," teriak leo.


"Ta-Tara, WOI TARA DISINI," teriak Leo saat melihat Tara yang sudah terduduk lemas.


Deo dan yang lain berlari menuju sumber suara, betapa terkejutnya Deo saat melihat orang yang sangat berharga dalam hidupnya duduk lesu dengan tatapan kosong. Dengan cepat Deo langsung memeluk tubuh mungil Tara dan mengusap pelan pucuk rambut Tara..


"Tara sayang kamu kenapa... Tara sayang udah jangan takut Deo disini."


Tara hanya diam, semua inti Bacham merasa gagal menjaga Queen nya. Tak lama Tara mengangkat sebelah tangannya dan memperlihatkan sebatang coklat dan kertas yang sudah di remas dan tak berbentuk lagi.


"Bangsat, siapa yang berani-beraninya ngasi Tara coklat," umpat Teo.


"Hidup lo dalam bahaya," sinis Dimas.


"Gak akan gue biarin lo hidup tenang Bangsat," sahut yang lainnya.


                 


Di dalam pelukan Deo Tara hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, hati Deo terasa sangat hancur ketika melihat Tara hanyut dalam ruang gelap yang Deo pun tak tau.


"Ara jangan gini dong hiks... Deo takut hiks... Ara Deo nggak suka Ara diemin Deo hiks... Ara sayang... Deo pengen peyuk..." manja Deo. Teo, leo dan yang lainnya hanya diam termenung melihat ketua mereka mencoba membujuk Tara agar mau kembali seperti semula, namun nihil Tara tetap diam dan tidak mau membalas pelukan Deo.


Tara menggerakkan badannya dengan susah payah dan mulai mengucapkan beberapa patah kata sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


"Co-coklat... bu-bukan gue... i-tu bu-bukan gu-gue," setelah mengatakan itu kesadaran Tara hilang sepenuhnya.


Semua yang melihat hal itu merasa panik, bingung serta tanda tanya yang menyelimuti benak mereka.


Siapa? Mengapa? Gue? Salah? Apa maksud semua ucapan Tara, hal itu menjadi tanda tanya di fikiran mereka. Dengan cepat Deo menggendong tubuh Tara dan berlari menuju mobilnya dan segera ia rebahan kan tubuh Tara.


Dengan sigap Teo melajukan mobil Deo dengan kecepatan di atas rata rata. Teo? Mengapa Teo, pasti pertanyaan ini terlintas di fikiran semuanya, ya Teo yang mengendarai mobil Deo di karenakan Deo tidak ingin meninggalkan Tara berbaring sendirian.  Deo terus saja mengusap tangan Tara dengan lembut dan sesekali memanggil Tara.


"Tara bangun sayang."


"Sayang nya Deo gak boleh gini oke, kan udah janji sama Deo... Ara itu kuat Ara harus bisa lawan orang jahat," oceh Deo seperti anak kecil.


"Bundanya bacham nggak boleh sakit gini nanti anak-anak pada nangis loh, nanti Deo sedih gimana, Bunda bangun ya, jangan buat Deo sama Anak-anak Bunda khawatir," oceh Deo saat mendapati Tara yang tidak kunjung sadar.


***


Sesampainya di rumahsakit Mutiara Rentara....


"Dokter Handrik mana, buruan keluar anj," teriak Deo.


"Pa-pak Deo, maaf pak ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter yang bername tag Dr. Handrik.


"Buruan periksa gadis gue, cek kondisinya, gue nggak mau tau apapun caranya gadis gue harus cepat sadar," ucap Deo dingin.


"Bisa tunggu di luar sebentar pak, saya akan memeriksa kondisi pasien," ucap Dr. Handrik.


Dr. Handrik memasuki ruangan Tara, dan langsung memeriksa kondisi Tara, tak lama berlalu Dr. Handrik keluar dari ruangan Tara dengan selembar kertas.


"Pak Deo bisa ikut saya sebentar," ucap Dr. Handrik. Deo mengikuti Dr. Handrik keruangannya dan mulai membahas tentang Tara.


Di luar ruangan enam pemuda lainnya tengah sibuk mondar mandir sembari sesekali melihat ke arah ruangan Tara.


"Tara lo knp si," lirih Leo.


"Sory Ara gue teledor jagain lo," sesal Angga.


"Ra gue gk becus jagain lo argh," ucap Dimas prutasi.


Aldo yang tadinya hanya diam tidak mengeluarkan sepata katapun kini mulai membuka suara.


"Gue mau masuk," ucap Aldo singkat.


"Bahah hemat bener om," cicit Dimas.


Aldo hanya membalas Dimas dengan dheman, Aldo memasuki ruangan yang bernuansa putih, manik matanya tertuju ke satu orang yang masi setia menutup matanya, Aldo duduk di sebelah Tara.


"Ara adek nya Aldo bangun, tuh kasian anak-anak pada sedih, Ara nggak kasian hum," bisik Aldo di telinga Tara.


                         


...****************...


..."Tara lo harus kuat, lo nggak boleh sakit, lo bunda bacham lo tau itu kan, bunda bacham gk lemah gini."...


..."Aldo."...