ALTA

ALTA
Alta_06



..."Kita main halus ya sayang, ini perimgatan pertama dan terakhir kamu persiapkan badan empuk mu buat jadi santapan kucing besar ia, ia mainnya nggak kasar kok. Berani sentu Queen ia maka harus berani bertanggung jawab."...


...~satria~...


"Bayi Bunda rewel yak, sini-sini peyuk Bunda... ehh bentar." Tara menghentikan perkataannya. "Deo nggak pakai minyak telon hum," Lanjut Tara.


"Minyak telon Deo abis hehe," jawab Deo.


Peraturan yang di buat oleh Tara setiap anak-anaknya harus memakai minyak telon tidak ada penolakan dan tanpa terkecuali.


"Humm... yudah nanti kita beli oke."


Deo mengangguk dan mengangkat tangannya hormat. "Siap mama... Deo mau peyuk dulu," manja Deo.


"Ututu cini-cini peyuk."


                            ***


"Woii katanya ada anak baru," teriak salah satu siswa yang baru saja datang.


"Ahh serius lo, cewek cowok?" tanya Dimas memastika.


"Dua cewek, dua cowok," selip Deo.


Semua mata tertuju pada Deo yang tengah asik tertidur di pangkuan Tara. "Kenapa pada liatin gue," sinis Deo.


Semua mata yang tadinya terfokus pada deo kini beralih menjadi tertunduk.


"Ah De sabilah ckck sama gue," oceh dimas.


Deo memutar bola matanya malas dan kembali tertidur sambil menikmati lembutnya tangan Tara. Dimas berdecak sebal saat Deo mengacuhkannya.


"Sayang... Bunda mau tanya," cicit Tara.


Deo membuka matanya dan berbalik menatap mata Tara, dua manik mata mereka saling bertemu. "Iya Bun, Bunda mau tanya apa," balas Deo.


Kringg~~


Kringg~~


Tara mengurungkan niat nya untuk bertanya pada Deo ia lebih memilih merapihkan mejanya karna bel masuk telah berbunyi. "Nggak jadi."


"Bunda mau nanya apa hum?"


Tara hanya bergeleng sebagai jawaban dan menundukkan kepalanya. Tak lama kemudia guru yang mengajar di kelas Deo masuk dengan membawa empat murid yang heboh di bicarakan tadi.


Keempat murid yang berada di samping guru itu masing-masing memperkenalkan dirinya.


"Hay nama gue pelita pindahan dari bekasi," ucapnya dengan nada yang di imut-imutkannya.


"Hay nama gue Tasya."


"Gue satria."


"Gue Bara."


Setelah memperkenalkan diri, mereka berempat berjalan menuju kursi yang ada di belakang Deo dan Tara. Pelita yang melihat saudari tirinya duduk dengan peria tampan dengan tidak kemanusiawianya menarik kerah baju Tara dan mendorong nya hingga tersungkur.


"Minggir lo bangsat," hina Pelita.


Deo dan kedelapan pria yang melihat perlakuan Pelita sudah tidak bisa membendung emosinya, jika menyangkut dengan Tara mereka tidak lagi memandang setatus orang tersebut mau laki-laki mau perempuan bakalan habis di tangan mereka. Tara menenangkan ke sembilan peria itu dengan senyuman dan dengan berkata. "Tara nggak papa jangan di perpanjang."


Tara memilih untuk bangkit dan pindah ke bangku Aldo yang tepatnya ada di belakang bangku Deo, namun sayang sebelum Tara menduduki bokongnya Tasya lebih dahulu mendorong tubuh Tara agar menjauh dari Aldo, lagi-lagi Tara terhayung kebelakang hingga bokongnya menyentuh lantai.


"Awss," ringis Tara.


"Bunda nggak papa," panik ke sembilang pemuda itu.


"Alah gitu aja lemah, dasar anak nggak guna," sinis Pelita.


Semua mata tertuju pada Pelita termasuk Deo dan yang lain. " diem lo bangsat," sentak Satria yang emosinya takbisa di bendung lagi. "Sekali lagi lo sentuh Queen gue... habis lo di tangan gue," lanjut Satria mengancam dengan penuh arti.


Satria beralih menatap Bundanya dan mengangkat tubuh mungil Tara dengan perlahan, ia menjadikan pahanya sebagai bangku untuk Tara duduk.


"Bunda nggak papa kan?" tanya Bara khawatir.


Tara memberikan dua jari ibunya dan berkata. "Bunda baik," ucapnya.


Tak cukup sampai di situ Deo dan yang lain mengambil rangselnya dan beralih pindah di antara  Tara  dan yang lain.


"Loh kok pindah si ganteng?" bingung Pelita.


Deo hanya diam dan beralih duduk di belakang Tara dan di susul yang lainnya.


"Bunda ndak papa, ada yang sakit? Kita kerumah sakit yok," ucap Aldo saat sampai di meja tara. Tara memberi dua ibujarinya sebagai balas.


"Bundaa ayokk periksa ayook," rengek Aldo. "Aldo ndak mau bunda kenapa-napa," lanjut Aldo tertunduk.


"Bunda oke sayang, dah duduk," titah Tara.


"Tapi bun."


"Aldo."


"Iss iya iya," cicit Aldo. "Gue pastiin hidup lo nggak bakal tenang," sinis Aldo.


"Aldoo," panggil Tara.


"Iss iya bunda iya."


Semua siswa siswi yang melihat kelakuan Tara dan Aldo yang sangat menggemaskan, hanya menggigit jari dan menyubiti teman sebangkunya.


"Mampus, kelar sudah hidup lo," cicit Lona. "Jangan main-main sama Sahabat gue kalau masi pengen hidup, lo gak tau berapa orang yang bakal ngurus sisah hidup lo, kalau kata orang maut di tangan Allah kini berbalik mau lo ada di tangan meraka," lanjut Lona.


                            ***


Tara beralari kecil menuju kantin, di susul dengan kesembilan pemuda yang setia mengikutinya dari belakang seperti anak bebek. Saat sedang asik berlari, Tara tak sengaja menabrak punggung seorang peria dan membuat ia terhayun ke belakang,  Aldo yang melihat itu langsung bergegas menangkap tubuh mungil Tara agar tidak terjatuh kelantai.


"Bunda, liat-liat kalau jalan, ntar Bunda jatuh gimana hmm," ucap Aldo.


"Heheh maaf, buna nggak sengaja," seru Tara cengengesan. Tara membenarkan dirinya dan beralih menatap orang yang ia tabrak. "Anu... maaf ya saya nggak sengaja," ucap Tara pelan.


Siswa itu hanya mengangguk kemudian meninggalkan Tara yang masi menunduk sambil memainkan jemarinya.


Deo yang melihat Tara hanya diam membisu seketika mengangkat tubuh mungil Tara dan membawanya menuju kantin sekolah. "Buna jangan diem aja, katanya mau ke kantin," bisik Deo.


                      ***


Kantin sekolah sangat ramai di padati oleh kerumunan para siswa-siswi yang menunaikan kewajiban masing-masing. Deo mengangkat sebelah tangannya dan mulai berjalan menuju meja yang memang di siapkan khusus untuk inti bacham.


Tara melirik Deo yang hanya diam sembari memilih menu yang akan ia pesan. "Bayi, Buna mau baso," cicit Tara pelan.


Deo mengalihkan pandangannya menatap ke arah Tara. "Buna mau bakso," beo Deo.


Tara mengangguk pelan. "Iya, Tara pengen bakso," balas Tara sembari menunduk.


Deo tersenyum melihat tingkah laku Tara yang sangat menggemaskan. "Oke, siap bukbos," ucap Deo dan mengangkat tangan hormat. "Dim, bakso sepuluh," titah Deo pada Dimas.


"Gue," seru Dimas sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya sayangku," sahut Teo.


"Idih najis," cicit Dimas.


Beberapa menit berlalu, Dimas kembali dengan membawa senampan bakso, di susul seorang peria yang juga membawa senampan bakso beserta minuman yang mereka pesan.


"Silahkan dinikmati tuan-tuan," ucap Dimas layaknya seorang pelayan.


Deo dan yang lain mengambil satu persatu pesanan masing-masing, sedangkan Tara sibuk menyendoki sambal yang yang ada di hadapannya.


"Stop baby," bisik Deo di telinga Tara.


Tara memalingkan pandangannya, dan beralih menatap Deo. "Satu lagi bayi plis," rengek Tara.