
"Hana, bangun."
Suara mama membangunkanku. Mataku terasa rapat sekali, hidungku mampet sebelah dan sepertinya mataku sembab. Aku baru sadar bahwa diriku tertidur di balik pintu setelah lelah menangis. Aku bahkan tidak sempat mengganti baju seragamku. Kamarku juga gelap, sinar matahari sudah tidak menerangi kamarku lagi. Langit telah berubah hitam saat mataku melirik jendela.
Tanpa aba-aba mama menyalakan lampu kamarku. Aku merenggut karena serbuan cahaya masuk ke mata. Mataku harus mengerjap-ngerjap beberapa kali karena terasa amat silau. Sementara ibu segera menutup jendela kamarku dengan gorden biru laut. Setelah penyesuaian beberapa detik, aku dapat melihat dengan jelas kembali.
Mama masih memakai seragam kerjanya. Sepertinya dia baru saja pulang kerja. Dia mendekatiku, lalu berjongkok, meraih kedua pundakku dan matanya menelisik setiap jengkal tubuhku. Seakan mencari sesuatu yang hilang di sana. Aku hanya menatapnya keheranan.
"Kenapa tidur di sini? Kenapa belum ganti seragam? Hana gapapa?" tanya mama tanpa jeda, matanya terus menelisik tubuhku. Aku dapat melihat sorot khawatir dari matanya.
Aku segera mengangguk. "Hana nggak papa, cuman ngantuk aja," jawabku, pura-pura menggosok-gosok mataku yang sembab, seakan gatal karena mengantuk. Entah kenapa aku tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Yakin?"
Aku mengangguk yakin.
"Nggak jatuh dari sepedah?"
Aku mengangguk lagi.
Mama melepaskan genggamannya, lalu melipat kedua tangannya di dada. Alisnya sedikit berkerut, entah kenapa perasaanku tidak enak. "Lalu, kenapa sepedamu bisa nyasar di taman kecil sana?"
Glek!
Oh iya, aku lupa.
Keringat dingin segera mengucur dari pori-poriku. Sekarang aku menarik kata-kataku bahwa aku tidak peduli jika mama marah. Tentu saja, akan mengerikan jika mama memarahiku. Aku menyesal, Kenapa aku melempar sepedaku tadi?
"Ta-tadi, ada angin topan dan ... sepedanya ke bawa sampai taman," jawabku asal.
...
Tentu saja mama tidak akan percaya. Dia masih terus menatapku intens. Menyadari hal itu, diriku semakin gelagapan. Aku mencoba untuk mencari-cari alasan lain. Akan terapi, mama tidak akan melepaskan tatapan intimidasinya itu jika aku tidak memberikan alasan yang bagus dan masuk akal, atau berkata jujur. Akhirnya aku tidak punya pilihan lain.
"Hana yang melemparnya," cicitku pelan. Mempersiapkan diri oleh hantaman amarah yang akan mama berikan sesaat lagi.
"Apa?" tanya mama memastikan, karena ucapanku begitu pelan hingga hampir tak terdengar.
"A—ada yang mengangguku tadi siang. Jadinya Hana marah, jadi sepedanya a—aku lempar, deh, ke taman karena ... kesal," aku diriku, setengah berbohong.
Aku masih tidak mau menceritakan apa yang terjadi di sekolah saat itu. Suaraku semakin mengecil, namun kurasa mama tetap bisa mendengarnya. Tubuhku semakin merosot di ujung pintu dan lantai, takut dengan reaksi mama yang akan marah.
Akan tetapi, mama hanya menghela napas pasrah. "Cepat ganti baju, Hana lapar, kan? Mama bawa banyak makanan." Lalu, dia bangkit dan keluar kamar.
Eh, mama tidak marah?
»»——⍟——««
Mama benar. Dia membawa banyak makanan. Cilok, gorengan, martabak, dan ayam goreng krispi masih terbungkus rapih di atas karpet ruang keluarga. Tampak menggoda dan mengundang raungan perut yang memang belum terisi sejak siang tadi. Air liur mulai memenuhi mulutku. Apalagi harum aroma dari masing-masing makanan memancingku untuk langsung melahapnya. Kalian tergoda? Silahkan comot kalau bisa.
Aku segera menghampiri makanan tersebut dan duduk di atas karpet. Sementara mama sedang mengambil piring dan mangkuk di dapur. Aku segera membuka kotak martabak, mencomot satu dan melahapnya dalam dua kali suapan. Lumeran coklat langsung tercoreng di jari dan ujung mulutku.
Mama tersenyum menghampiriku dengan tangan yang penuh piring dan mangkuk. Dia ikut duduk dan menata gorengan ke dalam piring, memasukan cilok ke dalam mangkuk, dan menyajikan ayam goreng krispi ke dua piring terakhir.
Aku hanya menyaksikan kegesitan mama sambil memakan martabak yang sudah kudekap di pelukan. Makanan favoriteku. Jika nenek mengetahui tingkahku ini, beliau akan melotot dan berkata, "bawa wadah*, terus ambil makanan secukupnya!" Akan tetapi, mama tampak tidak memusingkan hal itu.
Kami makan bersama setelahnya. Bercengkrama sana-sini, beberapa kali kehabisan obrolan. Hingga hidangan utama ludes, perbincangan kami sudah mentok. Akhirnya, kami hanya sama-sama terdiam sambil memandang televisi yang menayangkan film Spongebob. Aku masih asyik mengemili martabak yang tersisa, sementara mama mengemili cilok.
Aku jadi teringat dengan taman kecil di halaman rumah. Terutama pada pot-pot bunga yang berhamburan dan aku yakin beberapanya ada yang pecah. Mengingat hal itu, aku jadi merasa bersalah atas kebar-baranku itu.
Itu taman kesayangan nenek. Sejak kepergiannya mama menggantikan posisi nenek untuk merawat taman tersebut. Sesibuk apapun dia selalu meluangkan waktunya di akhir pekan untuk mengurus taman itu. Sementara aku dengan gampangnya menghancurkan taman kecil itu dalam sekali lemparan. Hanya karena kekecewaanku padanya.
"Ma, maafin Hana untuk ... tamannya," lirihku sambil menatap mama di sampingku perlahan. Masih agak takut-takut dan menyesal.
"Hmm," respon mama singkat, dagunya naik turun sekejap, kemudian menatapku dan tersenyum kecil. "Lain kali kalau marah, jangan sampai ngerusak sesuatu, ya? Libur nanti bantu mama beresin," lanjutnya.
Aku hanya menarik sebelah pipiku, ingin protes karena akhir minggu nanti aku dan beberapa teman sekomplek akan lari pagi, tapi tak bisa membantah karena kerusakan taman itu memang salahku. Akhirnya aku hanya mengangguk kecil.
Kami terdiam beberapa saat lagi, hingga mama bertanya, "gimana sekolahnya?"
Aku mematung mendengar pertanyaan mama yang selalu ingin kuhindari itu. Tidak tahu harus menjawab apa, kemudian hanya mencetus, "Baik, rame."
Walau aku bingung apa 'rame'-nya sekolah tadi. Selain ocehan Alisa yang selalu setia mampir di telinga. Namun, aku juga bingung harus menceritakannya bagaimana.
"Baguslah," jawab mama kemudian, agak kaku entah karena apa. Walau aku juga kadang seperti itu.
Selanjutnya kami terdian kembali. Selalu seperti itu, setelah tiga tahun ditinggal nenek, kami masih agak kesulitan untuk mengobrol. Kehabisan bahan obrolan, atau hanya diam berdua sambil nonton tv sudah menjadi kegiatan kami setelah kepulangan mama. Hingga aku memutuskan untuk mengerjakan PR di kamar atau tidur cepat. Tak jarang kami juga terlibat pertengkaran kecil.
Bahkan saat umurku lebih muda lagi, kenanganku lebih banyak dihabiskan bersama nenek. Ternyata dari dulu interaksi aku dan mama memang terbilang jarang, apalagi dengan papah. Mereka terlalu sibuk bekerja, hingga jarang sekali ada di rumah. Akan tetapi aku tetap menyayangi mereka, selalu berharap kami bisa berkumpul setiap hari. Jika masih bisa, bersama nenek juga.
"Bulan depan, Hana kangen?"
"Iya, papah bakal bawa banyak makanan nggak, ya?"
Mama tertawa kecil. "Tentu, kepiting, udang, lobster, ikan, Hana mau apa?"
"Hana maunya coklat, martabak coklat, kue coklat, " celotehku sambil mengitung jari, mengabsen satu per satu makanan kesukaanku.
"Dilaut adanya garem, bukan coklat, Hana," tawa mama mendengar celetukanku.
"Pokoknya Hana inginnya coklat," renggutku tak terima. Bukankah papah bisa membelinya di pelabuhan saat pulang?
"Iya, nanti mama bilang ke papah."
Aku tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk cepat. Membayangkan papah akan pulang dengan sekarung coklat, pasti menyenangkan. Aku akan membaginya dengan Alisa dan makan bersama dengannya sampai kekenyangan. Lalu menertawakannya jika giginya bolong-bolong karena coklat. Walau aku ragu gigi makhluk sepertinya bisa berlubang.
Mengingat Alisa, aku baru sadar dia tidak muncul lagi semenjak insiden kertas itu. Mengingat insiden kertas itu pula, suasana hatiku yang terbang ke langit mulai runtuh kembali. Dadaku serasa sesak mengingat suara tawa teman sekelasku tadi siang sebelum pulang sekolah. Rasanya aku malu sekali jika besok diriku harus bertemu mereka lagi.
Aku menatap mama. Agak ragu untuk mengutarakan hal yang sangat ingin kukatakan semenjak tadi. Mengingat jawabannya beberapa bulan yang lalu, aku ragu mama akan meresponnya sesuai yang kuharapkan.
Akan tetapi, aku sudah tidak tahan lagi bersekolah di sana. Bersama teman-teman yang gampang sekali dihasut oleh sosok bernama Rani. Sosok yang selalu memusuhiku entah karena apa.
"Ma, Hana ingin pindah sekolah," ujarku kemudian, dengan jantung yang berdebar-debar. Aku meremas celanaku saking gugupnya. Agak takut dengan respon mama selanjutnya.
Sudah kuduga. Kali ini mama menatapku serius. Badannya langsung berubah posisi, bergeser agar dapat menghadapku dengan benar. "Hana, bukankah kita sudah membahas hal ini sebelumnya?"
Melihat reaksi mama, rasa pesimistik langsung menyelimutiku. "T—tapi, Hana benar-benar ingin pindah sekolah."
mama menatapku beberapa saat. "Teman-temanmu lagi?"
Aku mengangguk. Agak sedih mendengar nada pertanyaannya.
"Mama sudah bilang, kan? Hana harus berani, Hana juga bisa bilang ke guru kalau ada apa-apa," tutur mama.
"Tapi ...," tidak semudah itu.
Bagaimana caranya aku melawan sekumpulan orang seperti itu? Aku sudah berani membentak, tapi mereka malah tertawa puas. Bilang ke guru juga masalahnya tetap balik lagi padaku. Hanya aku yang harus menyelesaikannya sendiri, tapi bagaimana? Belum pernah ada teman yang ikut membelaku di sekolah.
Aku menunduk. Entah kenapa air mataku menggenang lagi di pelupuk mataku. Melihat mama yang tidak mau mendengarkan keinginanku lagi. Sekali lagi rasa kecewa segera menyelubungi benakku. Kecewa bahwa, tidak pernah sekalipun juga mama berada di pihakku.
"Hana sudah kelas lima, tanggung, bentar lagi kelas enam, terus Hana lulus. Setelah itu Hana bisa pindah," bujuk ibu, yang malah semakin menusuk hatiku. Bagaimana mungkin aku harus bertahan selama itu?
"Tapi Hana maunya sekarang!" raungku tak terima, kemudian napasku sesenggukan. Akhirnya aku menangis lagi, sementara mama hanya menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kumengerti.
"Satu tahun setengah lagi, mama mohon, bertahan, ya?" Mama mengulurkan tangannya menuju puncak kepalaku.
Aku segera menepisnya kasar. Terlalu kecewa dengan respon mama yang tidak pernah berubah. Padahal sudah berkali-kali aku mengutarakannya. Sudah kuduga percuma, mengutarakan semua keinginanku itu sia-sia. Akhirnya hanya aku yang harus mengerti dan menghadapinya sendirian.
"Mama tidak akan pernah mengerti Hana!"
Setelah berucap demikian. Aku berbalik menuju kamar, dan membanting pintu keras-keras. Aku tahu itu salah, tidak sopan membanting pintu rumah keras-keras seperti itu. Akan tetapi aku terlalu kecewa untuk memedulikan hal itu. Untuk keduanya dalam sehari itu, aku menangis lagi di kamar, kali ini tanpa menahan isakan. Terlalu kecewa.
—————————————————————————————
wadah* \= tempat menyimpan makanan (kyak piring, mangkuk, atau apapun itu)
—————————————————————————————
Maaf, saya baru bisa up. Saya masih di rumah saudara sejak tiga hari lalu dan sibuk bantu motongin daging qurban. Jadi, yah, ceritanya ngga sempet aku up :')
Semoga kalian ga ikutan kecewa kyak judulnya, ya :')
—————————————————————————————
Thanks for read! ( ✧o✧)/
Jika cerita ini menarik hati kalian, jangan lupa tinggalkan jejak :3
Tak perlu sungkan untuk menyampaikan kritik, saran dan pendapat di kolom komentar! ^^
More like+comment \= Semangat penulis bergelora! \= Cerita berjalan lancar~
Salam hangat!
penapendek