Alisa

Alisa
#7 : Kertas-Kertas



Aku tidak tahu apakah diriku ini harus bersyukur atau menyesal setelah memberinya nama. Sejak saat itu, ada saja ulahnya agar aku memanggil namanya. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, akan tetapi dia terlihat sangat senang dengan julukan barunya itu.


Seperti saat ini. Tepat ketika aku membuka pintu kamarku, aku melihat sebuah pemandangan yang cukup menguji kesabaranku. Kamarku seperti kapal pecah, walau aku tak pernah sungguhan melihat benda besar melayang itu pecah dengan mataku sendiri.


Kertas-kertas yang selalu ku kumpulkan di sebuah kotak kardus lepas dari kandangnya, berserakan memenuhi lantai kamar dan tempat tidurku. Dadaku bergemuruh, rasa kesal muncul kembali di benakku. Aku sangat-amat-mengetahui siapa gerangan pelaku kekacauan ini.


Akan tetapi, aku mencoba untuk menahan amarahku yang mulai memuncak. Berusaha agar tidak terpancing oleh tingkah lakunya yang bisa membuatku darah tinggi di usia muda. Yang benar saja, aku masih sebelas tahun! Dan diri ini harus menghadapi seorang anak yang selalu membuat tensiku meninggi.


Sabar Hana, jangan terpancing ... jangan terpancing ...


Namun, oh, apa itu? Aku melihat beberapa lembar kertas yang jika ditilik lebih cermat, berasal dari bahan berbeda. Agak tebal dan sedikit kekuningan. Seperti bahan dari kertas sketchbook kesayanganku.


Wah, kalau tidak salah aku harus susah payah menabung selama sebulan untuk mendapatkannya. Sekarang, kertas itu sudah berserakan saja di lantai kamarku. Ikut menghiasi kekacauan kamar.


Sungguh, habis sudah ...


"AALLIIIIISSAAAAAAA!"


»»——⍟——««


"Ayolah, aku minta maaf, Hana."


Kali ini aku sedang berada di kelas. Esok harinya setelah kejadian sketchbook kesayanganku wafat oleh anak aneh itu.


Guru telah selesai menyampaikan materinya beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, bell pulang sekolah masih belum berbunyi. Jadilah kami di beri tugas untuk dikumpulkan saat pulang nanti, sementara Pak Reno sudah meninggalkan kelas tanpa membawa buku yang sempat dibawanya. Tanda agar kami tidak keluyuran keluar karena waktu belajar masih belum usai.


Alisa muncul di hadapanku dan langsung mengoceh minta maaf tiada habisnya. Ditambah ruangan kelas yang mulai berisik karena tidak ada guru, telingaku berasa berdengung.


Andai diriku sedang tidak dijauhi, ingin rasanya aku berputar-putar di kelas untuk menambah kericuhan. Akan tetapi, melihat tatapan para teman perempuanku sekarang, aku jadi tidak mood melakukannya.


Hingga akhirnya aku memilih diam di bangku. Tidak adil rasanya, mereka bisa berteriak-teriak sesukanya, sementara aku tidak bisa ikut-ikutan atau mereka akan menatapku aneh. Seperti berkata 'Apa, sih, gaje?'


Jadi yasudahlah, bodo amat. Aku masih bisa membaca buku yang kupinjam dari perpus ditemani alunan musik dari mulut Alisa. Aku sedang tidak mau meladeni anak aneh itu, masih marah karena sketchbook kesayanganku di hancurkan olehnya.


"Kenapa kau marah seperti ini, sih? Padahal kau juga, kan, suka merobek buku itu kalau mau menggambar," celotehnya lagi di depanku.


Aku agak menurunkan bukuku untuk menatapnya dingin. Sementara Alisa menatapku penuh penyesalan. Dia sedang melipat tangannya di meja dengan dagu yang ikut menempel di atas tangannya. Anak itu berdiri di atas lututnya, karena bangku yang kutempati berada di depan. Sehingga tidak ada kursi yang bisa diduduki oleh anak aneh itu.


Bukan itu yang kurobek, tapi buku satunya, runtukku dalam hati. Tidak ada niat sama sekali untuk mengutarakannya pada Alisa.


Setelah beberapa detik, aku kembali menaikan buku yang kubaca. Mengabaikannya. Jika aku melihatnya lebih lama, mungkin kekesalanku akan semakin memuncak. Lalu mulai membentak-bentak lagi bagai orang gila.


"Huft, yasudahlah kalau kau tidak mau memaafkanku," dengusnya kesal karena aku sama sekali tidak mengubrisnya. Walau aku bisa merasakan penyesalan di balik dengusannya itu.


Yah, maaf saja. Jika aku meladenimu sekarang, teman-teman akan mengganggapku orang gila.


Sebenarnya, itu hanya alasan saja sih. Aku memang sedang tidak ingin meladeninya. Ukh, dia benar-benar keterlaluan pada sketchbook kesayanganku itu.


Dia akhirnya menghilang tanpa kusadari, aku terlalu fokus pada buku yang kubaca. Akhirnya, satu keributan telah pergi, aku bisa membaca buku sedikit lebih tenang.


Hari ini aku tidak ada mood untuk bersosialisasi sama sekali, bahkan pada makhluk aneh semacam Alisa sekalipun. Sejak peristiwa kapal pecah di kamarku, aku jadi tidak karuan. Perasaanku sedang buruk-buruknya.


Aku jadi teringat pada mendiang nenekku. Entah kenapa aku jadi merindukannya. Aku merindukan pelukannya saat diriku sedih. Aku merindukan sambutannya saat pulang sekolah. Aku bahkan merindukannya saat nenek mengomeliku untuk mandi sore, saat aku sedang asyik-asyiknya bermain.


Aku jadi ingat bagaimana nenek menyemangatiku agar menabung, untuk membeli sketchbook. Saat itu aku sangat sedih karena ibu tidak mau membelikanku sketchbook yang mahal itu. Hingga nenek memberikanku ide untuk menyisihkan uang jajanku untuk membelinya.


Sebulan aku menyisihkan uang jajan untuk menabung. Hingga akhirnya aku melompat-lompat kegirangan sambil memeluk nenek karena dapat membeli benda yang teramat kuinginkan. Selama beberapa hari aku terus menggambar di sketchbook itu, untuk ditunjukan pada nenek agar dia memujiku.


Hingga belum setengahnya aku isi, nenek sudah dipanggil. Semenjak hari itu pula aku tidak menggambar lagi di sana. Entah kenapa, aku tidak mau mengisi sketchbook itu lagi. Namun aku tetap menyimpannya, dan tidak mau jika benda itu hilang atau rusak.


Aku menghela napas panjang, menyadari bahwa benda kesayanganku itu sudah habis dirobek oleh kutu kupret antah berantah itu. Aku sangat marah padanya, tapi tidak berani untuk membentaknya habis-hahisan lagi. Takut anak itu melakukan hal yang tidak-tidak.


Akhirnya aku menggelengkan kepalaku pelan. Kemudian kembali membaca buku yang sedari tadi kugenggam.


Tidak ada hal menarik lainnya selama belasan menit ke depan. Aku terlalu fokus, tenggelam dalam kisah fiksi hingga tak sadar dengan keributan kelas. Hingga bell pulang berbunyi bersamaan dengan Pak Reno yang datang kembali ke kelas. Seketika suasana menjadi seperti kuburan.


Beliau menyampaikan sepatah-dua patah sebagai penutup. Mengatakan bahwa tugas tadi dikumpulkan minggu depan saja, memancing sorak-sorai dari teman-teman sekelasku. Sementara aku menghela napas kecewa, tugasnya sudah kuselesaikan tadi sebelum membaca buku.


Selanjutnya, mataku mengikuti langkah Pak Reno menuju pintu kelas. Saat beliau menutup pintu, kelas kembali menjadi pasar malam bahkan lebih heboh. Ketika aku memalingkan pandanganku ke arah depan, jantung serasa hampir copot karena Alisa lagi-lagi muncul tanpa peringatan. Apalagi dengan tingkahnya saat ini.


Dia terlihat sangat marah, hingga aku bertanya-tanya dengan tingkah anehnya itu. Seharusnya aku yang marah di sini, kenapa dia jadi ikut-ikutan marah begitu? Akhirnya aku hanya menatapnya terheran-heran, walau agak ngeri. Aku bingung harus merespon tingkahnya ini dengan apa.


"Punggungmu, Hana," lirihnya pelan, sambil menunjuk arah punggungku dengan dagunya.


Aku segera meraba punggungku, lalu merasakan benda tipis berlapis-lapis menempel di sana. Aku terkejut, lalu menarik semua lembaran itu dari punggungku.


Itu lembaran kertas, berisikan tulisan-tulisan yang amat menyayat hati di permukaannya. Aku segera meremas lembaran-lembaran itu dengan keras. Kemarahan segera menguasaiku.


"SIAPA YANG MENEMPEL INI?" bentakku amat keras, hingga membuat seluruh kelas terdiam karenanya. Kulihat Sufi yang sebelumnya tertidur di bangku belakang paling ujung terbangun juga.


Akan tetapi, bukan jawaban yang kuterima. Setelah beberapa detik terdiam, semuanya malah tertawa mendengar bentakkanku. Mengetahui hal itu, hatiku terasa amat ngilu.


Melihat ekspresi mereka yang menikmati reaksiku sekarang, amarah dan rasa malu menguasaiku saat ini. Bercampur aduk di benakku. Mereka kira ini sangat lucu apa?


Tanpa sadar air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Rasanya aku ingin menangis saking malunya. Apalagi mendengar suara tawa mereka di seluruh penjuru ruangan kelas. Menertawakanku.


Tidak sudi untuk memperlihatkan air mataku di depan mereka. Aku segera melempar kertas-kertas itu ke sembarang arah. Mengambil ransel sekolahku dan berlari keluar kelas. Tidak peduli dengan buku-buku yang belum sempat aku masukkan atau resleting tas yang tidak menutup dengan benar, yang paling penting sekarang adalah pulang. Menjauh dari semua orang.


Aku mengayuh sepedahku secepat yang kubisa. Tanganku menggenggam erat stang sepedah. Aku menggigiti bagian dalam bibirku. Susah payah aku menahan air mataku agar tidak keluar.


Jangan menangis ...


"Jelek!"


"Sok Rajin!"


"Hitam!"


"Hana si kucel!"


"Kacamata norak!"


Aku masih mengingat beberapa tulisan mereka yang tak sengaja tertangkap mataku. Kenapa mereka melakukan hal menyebalkan seperti itu?


Jangan menangis ...


Aku sampai di depan rumah. Kakiku menendang gerbang rumah hingga terbuka dan melempar sepedahku ke arah taman di halaman rumah. Aku tidak peduli jika ibu akan marah karena hal itu.


Jangan menangis!


Aku membuka kunci pintu dan masuk kedalam rumah. Membanting pintu kamar dan menutupnya kembali tak kalah kerasnya. Apa salahku hingga mereka berbuat seperti itu? Aku malu sekali.


Jangan menangis!


Tubuhku merosot kebawah dengan punggung masih menyandar ke pintu. Nafasku masih tak beraturan. Badanku bergetar hebat, menahan rasa marah, malu dan sedih yang bergolak di hatiku. Aku memeluk lutut dan membenamkan wajahku di sana.


Jangan menangis!


Mataku rasanya panas sekali. Hingga tanpa sadar sebutir air mata meluncur keluar. Selanjutnya, isakkanku keluar, saat itu pula aku segera menahannya. Akan tetapi aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Akhirnya aku hanya menangis dalam diam.


Nenek, aku mau pindah sekolah!


—————————————————————————————


Thanks for read! ( ✧o✧)/


Jika cerita ini menarik hati kalian, jangan lupa tinggalkan jejak :3


Tak perlu sungkan untuk menyampaikan kritik, saran dan pendapat di kolom komentar! ^^


More like+comment \= Semangat penulis bergelora! \= Cerita berjalan lancar~


Salam hangat!


penapendek*