ALEYA

ALEYA
Bagian Dari Masa Lalu



Aleya meminta izin mami nya untuk bermain dikebun belakang rumah. Tata tidak menjawab sepatah kata pun dia tak perduli.


"Mami ..."


Aleya menatap maminya yang masih diam. Dia benar-benar menunggu izin dari maminya untuk bisa bermain.


"Mami ... "


Tata menghentikan pekerjaannya. Matanya melotot tajam ke arah Aleya.


"Apa sih mau mu?!"


"Lea boleh tidak main di kebun?"


"Pergilah! Kamu pikir aku perduli dengan mu. Pergilah kemanapun kamu pergi. Keneraka sekalipun aku tak perduli"


Mata Aleya berbinar. Dia tak tahu apa maksud maminya, yang dia tahu hanya dia diperbolehkan bermain di kebun belakang. Dia berlari menuju pintu depan lalu menuju halaman belakang rumah.


Dia asyik bermain di kebun yang tidak jauh dari rumahnya bersama boneka usang kesayangannya. Tanpa sadar kaki-kaki kecilnya terus melangkah sampai menuju aliran sungai kecil di ujung kampung. Naluri kanak-kanak nya membawa dia bermain di aliran air yang tak begitu deras. Jiwa nya merasa bebas, melampiaskan kekekangan hatinya yang selama ini terbelenggu.


Memainkan kaki dan tangannya didalam aliran air lalu meloncati satu persatu batu yang ada di kali itu. Tiba-tiba ...


Bruug ...


Kakinya terpeset batu yang berlumut dan licin. Dia terjatuh kedalam aliran sungai. Tubuh kecilnya tak mampu menahan guliran air sungai itu.


Byuur ...


Seseorang menyelamatkannya dan membawanya naik ke tepi sungai. Aleya yang sudah tak sadarkan diri dibawanya ketempat yang lebih rimbun. Cukup bayak air yang terminum olehnya. Setelah terbatuk-batuk dan memuntahkan semua air yang terminum itu Aleya sadar dari pingsannya.


"Kamu tidak apa-apa, Adik kecil?"


Aleya masih diam. Menatap sosok laki-laki yang ada dihadapannya dengan ketakutan. Tangan dan kakinya dingin. Laki-laki itu membalurkan minyak kayu putih yang dibawanya ketangan dan kaki Aleya. Sejenak kemudian Aleya merasakan hangat pada seluruh tubuhnya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Lea, baik-baik saja"


"Namamu Lea"


"Ya, Aleya"


"Nama yang cantik. Secantik orangnya. Oiya, nama kakak Azam ..."


"Kak Azam, bukan orang sini. Lea baru melihat Kak Azam"


"Iya, Kak Azam dari kampung sebelah. Kakak baru pulang dari kota"


"Kamu bisa berjalan?"


Aleya mencoba mengangkat tubuhnya, menginjakkan kaki nya perlahan diatas tanah. Namun dia meringis kesakitan. Kakinya terlilir. Azam menggendong nya. Lalu mengantarkan pulang.


"Lea, bisa pulang sendiri, Kak"


"Bagaimana caranya kamu pulang sendiri sedangkam kakimu terlilir begitu"


"Tidak apa-apa. Nanti mami marah. Kakak pulang saja"


"Mana mungkin mami mu marah melihat keadaan mu seperti ini"


Azam memaksa mengantarkan Lea pulang. Dia terkejut saat mengetahui kalau rumah yang mereka tuju adalah rumah yang sangat dia kenal. Rumah Tata. Aleya turun dari gendongan Azam. Lalu berjalan terseok-seok menahan sakit kakinya.


"Ini rumah mu?"


"Ya .. "


Azam hanya berdiri didepan pintu, dia terbengong menatap rumah itu. Aleya masuk dan membuka pintu rumahnya perlahan. Tata yang melihat anaknya pulang sudah hampir malam itu menjadi murka. Dia berteriak memaki-maki Aleya dan memukulnya menggunakan sapu yang dibawanya.


"Kemana saja kamu anak nakal?! Aku sudah bosan menunggumu. Kau lihat nanti apa hukumanmu"


"Maafkan Lea, Mami. Lea tak akan mengulanginya lagi. Ampun mami"


Permohonan ampun Lea tak membuat Tata mereda. Dia semakin murka. Azam mengenali sekali suara perempuan itu dari luar rumah. Dia nekat menerobos masuk kedalam rumah. Tata terkejut melihat siapa yang masuk. Begitu pula Azam. Pandangan mereka bertemu. Saling bertukar kata-kata melalui pandangan mata. Azam lalu membantu Aleya bangun. Tubuhnya penuh luka memar.


"Apa yang kamu lakukan pada anak ini, Ta. Kamu bisa membunuhnya kalau begini caranya"


"Aku tak perduli kalau anak itu mati sekalipun"


"Ada apa ini? Ada apa denganmu, Ta. Kamu sama sekali bukan Tata yang aku kenal dulu"


"Tata yang kamu kenal dulu sudah mati, Kak. Pergilah kamu dari sini. Aku tak butuh nasehatmu. Aku tak butuh kehadiranmu sekarang. Pergi!!!"


"Tata tenangkan dirimu"


Azam memeluk Tata. Perempuan itu tak melakukan perlawanan saat laki-laki yang pernah dirindukannya dulu itu memeluk tubuh rapuhnya. Sapu yang dipegangnya pun terlepas. Dia hanya bisa menangis tersedu.


Mata Aleya masih basah dengan airmata. Dia melihat maminya dipeluk oleh laki-laki yang tadi menolongnya.


"Mami ...", panggilnya.


Tata tersadar lalu pergi kekamar dan mengurung diri disana. Dia menumpahkan tangisnya di bantal. Sesak rasa didadanya melihat apa yang terjadi hari ini. Dia mengutuki semua nasib yang menimpanya bertahun-tahun ini. Kemalangan yang menyelimuti hidupnya.


******