
Simon menyeret tangan Tata memasuki lift apartemen. Menuju lantai delapan apartemen mewah nomor satu di Singapura. Sampai didepan kamar 815 dua orang bodyguard yang berdiri didepan pintu memberi hormat pada Simon.
Simon membuka pintu dan menarik Tata masuk kedalam. Simon melepas tuxedonya lalu melepas kemejanya. Tubuh bagian atasnya terlihat jelas. Dada bidang Simon terlihat jelas, juga otot-ototnya nya terbentuk dengan latihan fitnes rutinnya Tata menundukkan pandanganya, jantungnya berdetak dua puluh lima ribu kali lebih cepat.
"Rapikan pakaianku!!", Simon melempar kemeja dan tuxedonya pada Tata.
Lalu dia menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setengah jam kemudian dia keluar dengan baju mandinya.
"Hei, segera bersihkan dirimu. Aku tak mau tidur dengan perempuan berbau tak sedap!"
Simon menuju lemari pakaian dan melemparkan sepotong lingerie minimalis pada Tata. Tata memperhatikan baju yang diberikan. Ya, Tuhan. .. kenapa harus memakai baju seperti ini. Tata terdiam.
"Kau sudah tuli?!", bentak simon.
Tata bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Kucuran air dari shower yang membasahi dari ujung kepala ke ujung kakinya membuat dirinya segar dan nyaman. Sedikit nya bisa membuatnya rilex sementara.
Tata keluar dari kamar mandi mamakai baju tadi dengan sepotong handuk yang menutupi dadanya. Simon yang sedang menonton televisi dengan volume yang sangat besar memandang kearah Tata.
Dia menarik dan melemparkan handuk yang menutupi tubuh Tata kelantai.
"Ambilkan aku bir!"
Tata menuju mini bar yang ada di pojok ruangan. Mengambil sebuah gelas dan sebotol bir. Lalu membawa nya kepada Simon. Simon menghabiskan hampir setangah botol minuman beralkohol itu. Matanya sudah merah. Sepertinya dia mabuk berat.
Simon melirik pada Tata dengan pandangan penuh hawa nafsu. Tata perlahan menggeser duduknya. Dia mencoba menghindari Simon yang terlihat seperti seekor singa yang siap menerkam mangsa nya.
Dengan sigap Simon menarik tangan Tata yang hendak berdiri dari duduknya. Tanpa basa-basi lagi Simon melancarkan seranganya pada Tata. Perempuan itu berusaha berontak sekuat tenaganya. Namun hasilnya sia-sia, tenaga dan tubuh Simon jauh lebih kuat darinya. Dia seperti menguliti Tata, melemparkan semua pakaiannya kelantai. Tata tak kuasa melawannya, dia hanya bisa menangisi dirinya sendiri.
Simon tak memberi kesempatan pada Tata untuk melawan. Dia melakukannya dengan gagah sampai malam telah larut. Lalu mengulanginya lagi sampai matahari terbit. Tata duduk di lantai disudut kamar, semalaman dia tidak bisa tidur. Menutupi tubuhnya dengan selembar selimut. Simon membuatnya bekerja keras semalaman.
Malam pertamanya dihabiskan bersama laki-laki yang menjadi suaminya, suami yang tak dicintainya. Suami yang membeli tubuhnya dengan sekoper uang. Dia sendiri merasa jijik melihat tubuhnya yang sudah "kotor". Tidak ada kelembutan yang dia rasakan saat itu, hanya nafsu liar Simon yang melahap tubuhnya.
Matahari sudah tinggi namun Simon masih terlelap dalam tidurnya. Tata menatap seluruh ruangan itu dengan pandangan nanar.
Dia tak akan pernah melupakan semua yang sudah terjadi. Bapak kandungnya tega menjuak anaknya sendiri. Rasa sakit di hati Tata makin meradang.
"Hei..!!", teriak Simon padanya.
Tata tersadar dari lamunannya lalu menoleh ke arah Simon.
"Buatkan aku sarapan!"
Tata menatap tajam pada Simon yang tak pernah lembut jika bicara padanya. Semua ucapannya berarti perintah.
"Kami tak dengar!!"
Simon menarik tangan Tata sehingga selimut yang menutupi tubuhnya jatuh kelantai. Simon mendorongnya kedinding. Merapatkan tubuhnya kehadapan Tata. Dan lagi-lagi dia melakukan hal yang sama. Tata hanya diam, airmatanya tak bisa lagi mengalir. Membiarkan saja apa yang Simon lakukan pada dirinya.
Mereka berdua tergeletak diatas tempat tidur. Simon mencolek Tata menggunakan kakinya.
"Sarapanku, cepat!!"
"Jangan sampai aku marah!"
Dengan susah payah Tata bangun dari tidurnya. Lalu menuju kamar mandi. Mebasuh wajah dan membersihkan dirinya. Tak lama dia menuju dapur dan menyiapkan beberapa potong sandwich dan segelas jus jeruk. Meletakkanya dalam tampah dan membawakannya pada Simon.
******
Saat dia kembali kekamar Simon sudah kembali tertidur. Tata menepuk lengan Simon untuk membangunkannya. Simon membuka matanya.
"Sarapanmu sudah siap", ucap Tata hati-hati.
Dia membawakannya dihadapan Simon. Dia melahap semua makanan itu sampai habis. Sepertinya dia kehabisan tenaga dan membuatnya sangat lapar.
******