ALEYA

ALEYA
Pelarian Tata



Makin lama perut nya makin membesar. Tata pun makin gencar melakukan upaya bunuh diri. Kali ini dia berhasil menyayat nadinya di kamar mandi.


Dia dilarikam ke rumah sakit. Untung saja nyawa nya masih tertolong. Dokter dengan cepat melakukan tindakan. Dia dibawa ke kamar perawatan. Dia cukup banyak kehilangam darah. Dokter mengkhawatirkan keadaan janinnya.


"Nyonya harus banyak istirahat demi bayu yang anda kandung. Anak itu tak berdosa",


ucap seorang perawat yang membantu memasangkan infus di tangannya.


"Aku tak menginginkan anak ini. Lebih baik dia mati"


"Jangan begitu. Anak adalah anugrah dari Tuhan. Anda harus menjaganya dengan baik"


"Kamu sepertinya bukan orang sini?"


"Iya, saya juga dari Indonesia, saya berkerja disini sebagai perawat kontrak"


"Kamu bisa menolongku?"


"Eeh... "


"Aku ingin pulang. Aku tak mau disini. Tolong aku"


"Aduh, aku tak berani nyonya. Aku tak mau berurusan dengan tuan Simon. Dia saudagar besar di negara ini. Pengaruhnya sangat kuat"


"Aku mohon. Tolong aku. Bebaskan aku dari sini"


Berkali-kali setiap perawat itu datang Tata selalu memohon untuk menolongnya. Semula perawat itu tidak mengindahkannya namun akhirnya timbulah rasa iba sesama perempuan. Akhirnya mereka menyusun rencana.


******


Para penjaga menemukan perawat itu terluka kepalanya dan tergeletak tak sadarkan diri dilantak ruang perwatan. Dan Tata sudah tak berada di tempat tidurnya.


"Apa kalian bilang??!!! Perempuan itu menghilang?"


"Benar, tuan"


"Aku tak mau tahu. Temukan dia hidup atau mati!"


"Cari dia sampai dapat!!!"


"Baik, Tuan!"


Simon mengerahkan banyak orang untuk mencari Tata kesetiap sudut negara. Bagaimanapun caranya Tata harus dia dapatkan kembali.


Usaha Tata yang dibantu pihak KBRI tidak sia-sia. Dia berhasil menggugat cerai suaminya dan dipulangkan denga pengawalan KBRI sampai ke kampungnya.


******


Dirumah dia tak mendapatkan seorang pun disana. Menurut pengakuan tetangga, Bapaknya sudah meninggal dunia empat bulan yang lalu akibat minuman keras.


Sampai melahirkan Tata mendapat pendampingan dari dinas sosial setempat dan juga pengawalan dari pihak berwajib. KBRI bekerja sama dgn kepolisian Singapura memblokade jalan masuk Simob ke Indonesia. Dan mereka juga yang membantu proses perceraian Tata dan Simon atas permintaan Tata.


"Ibu yakin akan bercerai dengan suami?", tanya petugas dinas sosial didampingi pihak KBRI.


"Yakin, mbak. Saya sangat yakin"


"Bagaimana nasib anak ini kelak?"


"Terserah mau diapakan. Jika bapaknya mau mengambilnya silakan. Atau dimasukan saja ke panti asuhan"


"Maaf bu, selama masih ada orang tuanya kami tidak bisa melakukan hal itu. Dan anak yang berusia dibawah tujuh belas tahun hak asuh akan di titik beratkan pada ibunya. Apalagi anak ini baru berusia satu minggu"


Tata terdiam dia enggan membesarkan anak itu. Seorang anak perempuan cantik berkulit putih seperti seorang China namun bermata besar. Perpaduan yang cantik antara kedua orang tuanya.


Seorang bibi angkat Tata membantu dia mengurus bayi itu. Tata pun masih terkena syndrom baby blues.


"Siapa nama anak ini, Ta?"


"Terserah saja. Aku tak perduli mau di panggil apa anak itu"


"Jangan begitu, Tata. Bagaimanapun juga dia anakmu. Anak kandung mu. Dia berhak atas kasih sayang mu"


"Anak yang tidak pernah aku inginkan"


"Terserah apa katamu. Anak ini bukan anak haram. Anak ini anak hasil pernikahan yang sah dimata hukum. Anak kandungmu sendiri. Belajarlah untuk menyayanginya"


"Aku benci anak ini"


"Yang kau benci adalah bapaknya. Bukan anak ini. Lihatlah ! Anakmu adalag anak perempuan yang cantik. Kulitnya putih. Matanya indah. Bagaimana kalau kita beri nama Aleya Fallisa Fang. Nama bapak nya harus tetap disandingnya"


Tata tak memberi respon apapun. Dia tak perduli dengan apapun kata bibi angkatnya. Baginya anak itu adalah anak pembawa sial dalam hidupnya, anak yang tak pernah dia harapkan kehadirannya. Anak yang merusak masa depannya. Begitulah bisikan setan yang merusak pikiran Tata.


******