ALEYA

ALEYA
Si Bayi Lucu



Aleya Fallisa Fang tumbuh sehat, tubuh nya gemuk dan putih. dia baru berumur delapan bulan. Membuat siapa saja gemes melihatnya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Semua orang suka padanya. Namun Tata tetap tidak perduli dengan bayinya. Suara tangisannya memecah seisi rumah. Tata masih bermalas-malasan diatas tempat tidurnya. Sementara Aleya tergeletak dilantai. Bermain sendiri. Entah apa yang membuat dia menangis.


Tata menutup telinganya dengan bantal, berharap tangis Aleya tidak didengarnya. Namun tangisan itu makin lama semakin kencang. Akhirnya Tata turun dari tidurnya dan menghampiri bayinya.


"Hai... apa yang kamu lakukan. Berisik sekali"


Aleya bayi terdiam melihat mami nya datang. Dia tersenyum dan merangkak mendekati maminya. Tata menggeser tempat duduknya. Dia enggan didekati bayi mungil itu.


"Menjauh kamu dariku, aku tak ingin dekat denganmu"


Semakin Tata menjauh, semakin Aleya mendekat. Mungkin dia mengira mami nya mengajaknya bermain. Semakin girang dia mengejar Tata. Namun Tata semakin kesal melihatnya. Dia mengangkat anak itu dan mendudukkan nya dihadapannya denga. kasar.


"Dengar anak kecil, aku tidak mengajakmu bermain. Jadi duduk dan diamlah disini. Aku mau tidur. Jangan sampai aku dengar lagi suaramu"


Tata kembali ke atas kasur dan mencoba untuk tidur. Kepalanya terasa sakit. Sudah beberapa hari dia tidak bisa tidur. Namun baru saja hendak memejamkan mata. Aleya sudah menjerit dan menangis lagi.


"Aku bilang diaaammm....!!!"


Cekreeeeekkk. ..


"Ada apa ini, Tata"


"Bi, tolong diamkan anak itu kepalaku sakit"


Untung saja bibi angkatnya datang dengan cepat. Dia mengambil Aleya dan membawanya keluar. Rupanya Aleya merasa lapar. Setelah disuapi dan diberikan sebolot susu, Aleya dimandikan. Barulah dia diam dan tertidur.


******


Cekreeeeekkk ...


Bi Nah datang membopong Aleya yang sudah terlelap. Dia meletakkan Aleya disebelah Tata. Tata bangun dan menggeser duduknya.


"Kenapa anak ini, Bi"


"Aku sedang tidak enak badan, Bi. Kepala ku sakit. Sudah beberapa hari ini badanku tak enak"


Bi Nah memegang kepala Tata. Suhu tubuhnya agak tinggi.


"Astaga, kamu demam, Ta. Lebih baik kamu segera berobat. Biar tidak menular pada bayimu"


"Aku sudah meminta Mak Ijah kesini untuk mengurutku. Tapi tumben sekali dia terlambat"


Tok.. tok....


Suara pintu depan diketuk seseorang. Bi Nah keluar dan melihat nya. Rupanya Mak Ijah, tukang urut kampung yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Ayo masuk, Mak. Tata sudah menunggu mu dari tadi"


""Baiklah. Maaf aku sedikit terlambat. Maklum menunggu cucu ku pulang dari pasar dulu. Baru aku kemari"


cekreeeeekkk ...


"Kenapa kamu, Nak?", tanya Mak Ijah.


"Badanku rasa tak enak, Mak. Sudah beberapa hari ini aku tak bisa tidur"


"Kamu agak demam rupanya. Nanti Mak buatkan obat herbal. Minum lah biar demammu turun. Kalau tidak, kasihan bayi mu. Nanti bisa tertular"


Bi Nah membawakan kain sarung dan sepiring kecil minyak zaitun. Tata menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan sarung ,lalu kembali kekamar dan berbaring. Mak Ijah mulai memijat seluruh tubuhnya dengan minyak zaitun. Bi Nah membawa Aleya kerumah nya. Satu jam lebih mak Ijah memijatnya. Lalu Mak Ijah menuju dapur, dia mengambil rempah dan daun pandan yang ada di dapur lalu merebusnya dengan sedikit gula aren.


Mak Ijah memberikannya pada Tata. Dalam segejap rasa hangat rempah mengalir dari kerongkongan menuju perut. Tak lama Mak Ijah pulang, Tata akhirnya bisa terlelap seorang diri dikamarnya.


******