
Simon sudah siap dengan stelan jasnya. Lalu dia pergi tanpa berkata apapun pada Tata. Dua body guard itu tetap berada didepan pintu.
"Jangan biarkan dia kabur dari sini"
"Baik, Tuan"
Bllaaaammm....
Simon menutup pintunya dengan kasar. Tata terdiam dalam apartemen besar itu sendirian. Berada dinegeri asing seorang diri membuatnya sangat depresi.
Hari-hari nya hanya di habiskan dalam kurungan dan lamunan. Dan saat Simon pulang dia pun harus melayani nafsu suami nya itu. Lama-lama hatinya mulai mendingin dia seperti manusia es tanpa aura kehidupan. Tak ada lagi senyuman di wajahnya. Hanya menatap nanar pada sekitarnya.
Tata menghabiskan waktu nya selama dua tahun dengan tekanan batin yang teramat sangat.
******
Praaaang ...
Gelas yang dipegang nya pecah dan berhamburan dilantai. Simon menghentikan makannya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Cepat bereskan atau kamu akan rasakan akibatnya!", Simon menarik rambut Tata yang terikat tinggi.
Tata mengumpulkan pecahan itu lalu menyapunya. Tubuhnya merasa dingin dan berputar-putar. Ada sesuatu diperutnya seperti akan keluar. Buru-buru dia menuju wastafel dan memuntahkannya disana.
Kepalanya terasa amat berat dan berputar-putar, dia merasa dunia ini sangat gelap dan ... Bruggg ... Jatuh tak sadarkan diri. Simon yang melihat itu berteriak pada para penjaga. Mereka mengangkat tubuh Tata dan membaringkannya ditempat tidur.
"Panggil kan dokter sekarang!"
"Baik, Tuan!"
Kedua penjaga itu segera menghubungi dokter langganan keluarga. Tak lama Tata sadarkam diri. Namun kepala nya masih pusing dan perutnya mual.
"Ada apa dengan mu, bodoh? Aku kira kamu mati tadi"
Tata hanya memelototi Simon. Kata-katanya selalu kasar padanya.
"Ada apa? Kamu tak terima ucapanku?"
Tok.... Tok....
Cekreeeeekkk
"Selamat siang tuan Simon"
"Baik, tuan!"
Dokter segera memeriksa keadaan Tata. Dia sangat teliti, tak mau ada kesalahan, jika tidak akan mengerikan akibatnya jika berurusan dengan Tuan Simon.
"Bagaimana?"
"Maaf Tuan, sebenarnya Nyonya ini tidak sakit. Tapi untuk lebih akuratnya sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk memastikannya"
"Maksudmu?"
"Menurut pemeriksaan saya, Nyonya Tata sedang mengandung"
Simon terkejut mendengarnya. Tata pun tak kalah shock mendengar ucapan dokter tadi.
"Apa kamu bilang dokter?!", teriak Tata.
"Aku hamil?!"
"Benar, Nyonya!?"
"Aku tak mau. Gugurkan anak ini dokter"
Dokter itu terkejut bukan main mendengar permintaan pasien. Simon mendekat ke arahnya dan mencengkram wajah Tata dengan telapak tanganya yang kuat. Tata meringis kesakitan.
"Apa katamu!! Apa maksud ucapanmu tadi"
"Aku jijik sama kamu. Aku tak mau mengandung anak mu. Aku benci dia."
Tata memukul-mukul perutnya. Simon menarik rambutnya agar Tata berhenti melakukan hal itu. Dan ... Plaaak... Tamparan melayang di wajah Tata.
"Sekali lagi kau lakukan itu, kubunuh kamu!!"
"Aku tak perduli. Asalkan anak ini ikut mati bersama ku. Aku tak ingin melihatnya. Aku benci dia"
"Katakan sekali lagi!!"
Kaki Simon mendorong wajah Tata hingga ke sudut tempat tidur. Tata menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak menginginkan anak itu. Bahkan untuk membayangkan kalau dia akan memiliki anak dari laki-laki yang sangat d bencinya.
Tata terdiam d kamarnya. Pandang matanya kosong, hatinya begitu hampa. Setan-setan mulai membisikinya.
"Jemputlah maut mu, kamu akan terbebas dari penderitaan ini"
******