ALEYA

ALEYA
Ejekan Anak-anak Kampung



Bertahun-tahun lamanya Tata masih membenamkan dirinya dalam kebenciannya pada putri kandungnya. Bahkan setelah kematian Bi Nah satu tahun lalu, kebencian Tata semakin tak terkontrol. Aleya kini sudah berusia enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang periang dan cantik. Kulit putih dan matanya yang agak kecil dari anak lokal umumnya merupakan warisan dari Papinya serta rambutnya yang indah adalah warisan dari maminya.


Sebagai anak kecil pada umumnya dia senang sekali bermain, namun dia tak mempunyai seorang teman pun. Anak-anak kampung sebayanya tidak mau mendekatinya. Mungkin itu efek doktrin orang tua mereka yang menjauhi Tata dan keluarganya.


Sehari-hari Aleya hanya bermain sendiri di halaman rumahnya. Dengan boneka lusuh pemberian Bi Nah pada saat dia berulang tahun yang ketiga. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Aleya merayakan ulang tahunnya. Bi Nah membuatkannya tumpeng dan memberikannya sebuah boneka sebagai hadiah.


"Cia .... Kamu jangan kemana-mana ya, aku akan mengambilkan kamu makanana", ucapnya pada Cia, boneka kesayangannya.


Aleya pergi kebelakang mengambil sepiring nasi putih dan sepotong telur goreng. Aleya meletakkan piring dan gelas berisi air putih di hadapan Cia.


"Hayoo... Buka mulutmu, makan yang banyak ya ... Aaaaa...."


Aleya seolah-olah menyuapi bonekanya lalu memasukkan suapan itu pada bonekanya, kemudian memakannya sendiri.


"Hei lihat, anak itu gila...!!!", teriak anak-anak lain yang lewat.


"Dia memberi makan dan bicara sendiri pada bonekanya. Dia gila. ..?!!"


Hahahahhaha....


Mereka melempari Aleya dengan sebuah batu dan mengenai piring yang dipegangnya. Nasi baru satu suap dimakannya itu tumpah dan jatuh ketanah. Mereka berlarian sambil tertawa meledek. Aleya hanya diam. Lea mengambil nasi yang terjatuh itu lalu membersihkannya. Memakannya kembali dengan hati yang sangat sedih.


Sedih, tapi tidak menangis. Dia juga tidak mengadu pada maminya. Tidak berani. Karena jika dia mengadu, bukanlah pembelaan yang dia dapatkan. Melainkan pukulan dan makian.


Baginya lebih baik diam dan tak bicara pada siapapun itu lebih baik. Menghabiskan hari-harinya bersama Cia dihalaman depan rumahnya.


******


"Apa yang kamu lakukan disitu?"


"Kamu pikir sekarang sudah jam berapa. Apa hidupmu hanya kamu habiskan untuk bermain, haaa...!!!", bentak Tata.


Aleya terdiam. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Kerjakan pekerjaan mu!!"


"Lea sudah masak nasi sama telor tadi. Punya mami Lea simpan didalam lemari makan. Lea juga sudah menyapu rumah dan mencuci piring, Mi"


"Pergi kedapur dan masakkan air panas untukku mandi. Cepat ..!!!"


Aleya buru-buru kedapur mengambil panci dan mengisinya dengan air. Memutar knop kompor gas dan meletakkan panci berisi air itu diatasnya. Setelah mendidih dia memasukkannya kedalam bak mandi dan mencampurnya dengan air dingin. Setelah merasa cukup hangatnya dia memanggil maminya dikamar.


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk ...


"Air panasnya sudah siap, Mi?!"


"Gorengkan aku ikan dan buat sambal. Habis mandi aku mau makan"


"Baik, Mi"


Dia melihat kedalam kulkas didapur. Lalu mengambil ikan dan menggorengnya. Dengan trampil Aleya mengiling cabe, bawang dan tomat untuk dijadikannya sambal. Setelah siap dia meletakkannya diatas meja makan. Aleya menyusun piring makan, segelas air putih dan sebuah mangkuk berisi air kobokan. Lalu dia kembali kekamarnya untuk beristirahat.


Selesai mandi Tata langsung melahab semua makanan yang telah tersaji. Lalu meletakkan piring nya begitu saja diatas meja. Aleya lah yang nanti akan membereskan dan mencuci semua peralatan makan itu seorang diri.


******