ALEYA

ALEYA
Cibiran, Cacian dan Cemooh



Tata enggan membawa Aleya untuk berobat. Semalam badannya agak panas. Dia membawanya ke dokter di kota. Perjalanan cukup jauh. Menaiki kendaraan umum. Bi Nah menemaninya. Repot sekali memawa bayi berumur sepuluh bulan yang sedang sakit.


"Bagaimana ini, Tata? Aleya badannya panas sekali. Demam nya tidak turun juga. Kita bawa saja dia ke dokter di Kota. Kasihan jangan dibiarkan anak seperti ini"


"Repot Bi, biarkan saja lah. Kasih saja dia susu. Nanti juga turun demamnya"


"Jangan seperti itu, Tata. Kasihan anakmu. Kalau sudah dua hari begini demamnya tidak turun juga, kita harus membawanya ke dokter"


"Untuk apa, Bi?"


"Eeh... Kenapa kamu bilang untuk apa? Apa kamu tidak mengkhawatirkan keadaan anak mu?"


"Aku malas, Bi. Aku malas mendengarkan omongan orang!"


"Jangan perdulikan kata orang. Bersiaplah. Kita berangkat sekarang?!"


Tata ogah-ogahan menuruti kata-kata Bi Nah. Dia malas sekali keluar rumah. Sepanjang perjalanan Tata tak banyak bicara. Aleya pun tak rewel walaupun harus naik turun kendaraan umum.


"Antriannya panjang sekali", gumam Tata


"Sabar. Ini demi kesembuhan anakmu"


Antrian di poli anak cukup ramai. Tata menidurkan Aleya di kursi tunggu. Dia menyandarkan kepalanya lebih dalam dikursi tunggu.


"Tata... ", seseorang memanggil namanya


Tata menoleh


"Kamu sudah pulang dari Singapura? Ini anak mu?"


"Hmmm..."


"Aku dengar kamu dicampakkan oleh suami mu ya. Ya, ampun Tata. Kasihan sekali"


Hahahahhaah...


Tata bangun dari tempat duduknya. Ingin rasanya dia menyumpal mulut kedua orang itu. Tapi Bi Nah menahan tanggannya. Dia benci sekali mendengar tawa mengejek dari orang-orang itu.


"Kenapa Bibi menahanku, biar aku bungkam mulut mereka"


"Kamu tak perlu meladeni mulut mereka, Ta. Fokus saja pada anakmu. Biarkan saja mereka. Nanti juga diam sendiri"


Tak lama perawat memanggil nama Aleya. Mereka pun masuk menemui dokter. Dokter mengatakan bahwa Aleya hanya terkena flu biasa. Setelah menebus obat mereka kembali pulang kerumah.


******


"Dia itu anak hasil hubungan terlarang. Tata kan kawin lari dengan pengusaha asal Singapura demi mendapatkan harta"


"Dia dijual ayahnya, tapi dia akhirnya dicampakkan oleh saudagar kaya itu. Anaknya di buang begitu saja. Jangan-jangan dia kerja sebagai wanita penghibur di Singapura"


Tata kesal sekali mendengar semua tudingan dan ghibahan orang-orang terhadapnya. Bukan hanya para tetangga, teman-teman sekolahnya dulu, bahkan dari pihak keluarga juga menganggapnya sebagai perempuan murahan yang menjual dirinya kepada saudagar asing demi sejumlah uang. Walaupun semua itu tidak sepenuhnya salah, namun hatinya tetap tak bisa menerima semua itu. Dia seperti seseorang yang tak menerima takdir yang terjadi pada dirinya. Seringkali kemarahannya itu dilimpahkan pada bayi tak berdosa itu. Bi Nah selalu mencoba menyabarkan hati Tata.


"Anak mu tak bersalah, Ta. Dia tak berhak menerima semua amarahmu itu. Dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu orang tuanya"


"Aku tak menginginkan anak itu, Bi. Aku bencu anak itu"


"Dengan alasan apa kamu membencinya?"


"Karena dia anak tak diharapkan. Anak haram. Aku tak menghendaki nya"


"Tata ... !!! Jaga ucapanmu. Anak itu anak mu. Anak yang lahir dari pernikahanmu yang sah dengan mantan suamimu. Ingatlah walaupun kamu membenci bapaknya, anak itu tidak bersalah. Dia tak bisa memilih untuk dilahirkan dimana"


Tat tak mendengar ucapan Bi Nah. Dia masuk kekamarnya dan menutup pintunya. Bi Nah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tata.


******