
Tata dibawa Tuan Simon kesebuah apartemen mewah di Singapura. Apartemen termewah yang ada di Singapura, fasilitas yang tersedia disana sangat lengkap plus dua orang bodyguard didapan pintu nya.
"Sabarlah disini, sayang. Aku akan segera menyelesaikan urusan pernikahan kita"
"Aku mohon, lepaskan aku. Aku ingin pulang"
"Tidak ada yang bisa lepas dari tangan ku, kamu sudah jadi milikku, jangan macam-macam dengan ku"
Tata hanya bisa menangis. Dia berada dalam sebuah situasi yang tak bisa dia kendalikan, ibarat dalam sebuah sangkar emas, apartemen mewah dengan fasilitas lengkap nomor satu di Singapura, tapi jiwa nya terkekang. Jiwanya tak bebas.
******
Tiga hari kemudian assiten Huang datang padanya dengan membawa sebuah gaun mewah berwarna putih gading. Serta seperangkat perhiasan bertahtakan berlian. Lalu tiga orang make up artis ternama dari Singapura.
"Selamat siang, nona Tata. Saya datang membawakan gaun pernikahan anda beserta make up artist terbaik di Singapura. Harap anda bersiap-siap karena pernikahan akan dilaksanakan siang ini"
"Aku tidak mau, aku mau pulang!"
"Maaf, nona. Bersikaplah bijaksana. Jangan mempermalukan Tuan Simon di hadapan tamu-tamunya nanti. Saya akan tunggu diluar. Permisi"
Dalam waktu satu jam Tata sudah siap dengan gaun pernikahan dangan riasan wajah yang sangat cocok dengan gaun dan wajah mungilnya.
"Silakan ikut saya, nona"
"Kita pergi kemana?"
"Tempat dilangsungkannya pernikahan anda"
"Bagaimana dengan istri Tuan Simon? Bukankah dia sudah menikah. Dan di Singapura hanya mengakui pernikahan monogami?!"
"Anda benar, nona. Tuan Simon sudah menceraikan istri pertama beliau, nyonya Clara"
"Apa cerai?"
Huang diam saja. Dia tetap duduk manis di kursi samping kemudi. Tata duduk di kursi belakang sendirian.
Tata tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah dan meratapi nasibnya. Mengutuki perbuatan Bapaknya itu. Tata hanya diam mematung saat pernikahan di langsungkan dengan dihadiri dua orang saksi itu.
******
Setelah selesai pernikahan Tuan Simon membawa Tata kesebuah restoran mewah dengan privat roomnya. Mereka mengadakan private dinner.
"Aku tidak lapar"
Tuan Simon meletakkan ganpu dan pisaunya dengan kasar. Matanya melotot.
"Aku tidak mau tidur dengan bangkai busuk yang mati kelaparan. Habiskan makananmu!!"
"Kenapa Tuan menceraikan istri anda?"
"Simpel saja. Aku bosan dengan perempuan tua cerewet itu. Aku mencari kesenangan yang baru"
Katanya sambil menyeringai pada Tata. Tata menundukkan kepalanya. Tangannya bergetar ketakutan. Dia paham apa maksud dari laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Rasa makanan direstoran mewah sama sekali tak bisa Tata nikmati. Kerongkongan nya sama sekali tak merasakan apa yang ditelannya. Semua terasa hambar semuanya, bercampur dengan airmatanya yang mengalir dikedua pipinya.
******
Bagaikan lepas dari kandang macam masuk ke mulut buaya, itulah penggambaran nasibnya saat ini. Dia memang lepas dari siksaan Bapak kandungnya, namun dia harus merasakan "penjualan anak" yang berkedok dalam neraka pernikahan yang dijalaninya ini.
Demi mendapatkan uang yang banyak untuk berjudi, Bapak tega menjual dirinya pada saudagar kaya raya dan membuangnya ke negeri yang asing.
"Tak ada seorang pun yang bisa melepaskan aku dari kekangan neraka ini. Ya, Tuhan ... apakah aku akan berada disini seumur hidupku?"
Tuan Simon yang berdiri di hadapannya membuat lamunannya buyar. Dia menatap penuh rasa takut pada laki-laki yang kini menjadi suaminya itu. Atau paling tidak dia menyebutnya sebagai suami tak diinginkannya.
"Bangun!!"
"Eeh... "
"Apa kami tak mendengar ucapan ku?!"
Dengan kasar Tuan Simon menarik tangan Tata. Memegang pipi perempuan itu dengan tangganya dengan kasar. Sehingga Tata menyeringai kesakitan.
"Jangan pernah membantah perintah ku!!"
Tuan Simon menghempaskan Tata hingga dia jatuh terduduk dikursinya. Airmatanya mengalir lagi dipipinya. Tangannya bergetar hebat, rasa dingin menjalar disekujur tubuhnya. Dingin bukan karena AC ruangan, namun karena dia merasa seluruh darahnya berhenti mengalir karena ketakutannya.
******