
“Hipertiroid ? “ Matt membeo setelah charles membacakan informasi untuknya . Ya , setelah kejadian itu Charles terpontang-panting mencari semua informasi terhadap Billa .
“Ah , kita lupakan dulu masalah ini . Ada informasi yang lebih penting , tuan . Mengenai cctv yang anda minta “
Matt membalikkan kursi yang singgasananya menghadap charles . “Katakan” ucapnya selidik .
“ ucapkan atau berikan ? “
Dahi itu mengkerut “ maksudnya ? “ sungguh Matt kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh charles .
“ oh iya aku baru ingat meskipun kau pandai di semua bidang namun nilai bahasamu jelek . “ ejek charles dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali . “ kau sudah bosan berkerja ? Apa ada perusahaan baru yang merekrutmu ,huh ?” Matt melempar pena yang ada didekatnya dengan sekuat tenaga . Charles memang suka mencampur aduk antara pribadi dan kerjaan .
Diluar dugaan , Dengan sigap charles malah menghindari lemparan pena itu .
Mata itu terbelalak “ apa . Apa itu tadi ? Kau menghindari penaku , kau mau mati rupanya “ Tanpa berfikir panjang Matt bergerak berdiri dan berjalan cepat menuju Charles . tau maut akan datang cepat-cepat charles mengeluarkan USB dari saku mantelnya .
“ lupakan , aku minta maaf tuan . “ ucapnya cepat dan menghalangi wajahnya dengan menaikan USB itu sampai di depan mata Matt .
Berhasil . Mata Matt berhasil teralihkan pada USB yang ada dihadapannya .
“ lihatlah dulu agar anda paham tuan “
Setelah beberapa puluh menit lamanya menonton cctv yang di dapatkan oleh Charles , Matt malah tersenyum .
“ Matt siapkan mobil , aku harus menemui wanita ini “
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Uap aroma terapi itu menguar diudara , membuat siapa saja yang menghirupnya menjadi rilex tak terhingga . Suasana rumah sakit memang khas . Detik demi detik berjalan dengan lancar , namun Billa masih enggan untuk menyadarkan diri .
Linda yang terduduk di sofa ruangan ini perlahan mulai menemui titik bosan , sesekali ia melirik kearah Billa berharap jika ada pergerakan dalam beberapa waktu dekat .
Sesuai harapan , Billa mengerjapkan mata .
‘Tuhan , aku akan menjadi penganut yang taat ‘
Linda meloncat ketika mendapati hal tersebut , tanpa berfikir ia langsung duduk disamping kasur yang bersisa , memegangi erat tangan sahabatnya itu . Jantungnya berdetak tak karuan seperti akan berkencan dengan aktor korea saja .
Perlahan namun pasti , mata itu terbuka . Meskipun awalnya terlihat hanya mengerjap beberapa kali , atas usahanya yang gigih akhirnya Billa berhasil siuman dengan total .
“ BILLA ! Syukurlah kau sudah sadar , ya tuhan terima kasih atas mukjizat yang telah engkau berikan “ Linda berteriak histeris tiada henti sambil memuji-muji nama tuhan . Memeluk Billa dengan erat .
“ le-lepaskan bodoh , aku bisa pingsan untuk yang kedua kalinya . “ Billa menepuk ringan punggung Linda .
“Aku hanya bersyukur kau sudah sadar , Billa . Bukankah aku teman yang baik untukmu ?” Ujarnya sambil menepuk dadanya sendiri
“ ya ya , lihatlah . Kau membanggakan dirimu sendiri seolah kau sudah menungguiku berjam-jam lamanya “ Billa benar-benar tak habis fikir oleh sahabatnya itu .
“Ada apa dengan reaksi menjijikan yang kau tampakkan barusan ,huh ? Aku memang menungguimu “ Linda kembali ke sofa untuk menjaga jarak , ia tak bisa selalu dekat dengan Billa karena ia akan selalu memeluk Billa .
Suasana hening sesaat , sibuk dengan fikiran masing-masing .
“Billa , kenapa kau bisa pingsan ? Kau tau aku sangat mencemaskanmu ketika pihak rumah sakit menelponku tadi “ mata itu mulai berkaca-kaca menahan tangis .
“Belum , aku belum bertemu dengannya“ ucap Linda setengah menggelengkan kepala
“Baiklah jika begitu tak usah temui dokternya , oke . Dokter terlalu sibuk jika hanya sekedar mendengarkan ocehanmu “ Billa tersenyum hangat , memberikan energi positif kedalam fikiran linda . Seolah mengatakan bahwa hal ini bukanlah hal yang besar .
“Emm Linda , jika bukan kau yang membawaku kemari , lalu siapa ?” pertanyaan yang cukup bodoh , siapa lagi kalau bukan para panitia . Kau berharap siapa ? Pangeran berkuda putih .
Linda menatap Billa sejenak , lalu terkejut bukan main . “ astaga , aku baru ingat . Aku ingin bertanya padamu ,Billa .jawab aku dengan jujur “
Apa ini , ia belum pulih sepenuhnya . Dan sekarang sudah diterjang oleh sederet pertanyaan ?
“ jangan menjawabku dengan memberikan sebuah pertanyaan ,Linda . Apakah kau tau tata krama ? “ sial , ia menjadi emosional jika membahas tata krama . itu mengingatkan ia pada kedua orang tuanya .
“ baiklah aku mengerti . oh , yang membawamu kesini si dosen muda , Albert Ruben Salvatore “ Linda tersenyum lebar , menangkupkan kedua tangannya dan mata yang berbinar-binar , berbanding terbalik dengan reaksi yang ditunjukan oleh Billa . “ dan ia sendiri yang menggendongmu ,kau tau Billa ,kau sedang tranding topik saat ini “ ujarnya perlahan setengah membisik .
“ Albert - mak-maksudku Mr.Salvatore ? Membawaku dengan cara menggendongku ? “ Teriaknya tanpa pikir panjang . Wahh ini sangat mengejutkan , bukan ? Setelah apa yang ia lakukan , ternyata ia masih punya hati untuk membawanya kerumah sakit ,Luar biasa !
“ ASTAGA , ada apa denganmu ? “ Linda mengucek kedua telinganya akibat teriakan sahabatnya itu .
“ ah , dan kau tau apa yang suster katakan padaku ? Ia berkata bahwa Albert maksudku Mr.Salvatore bukanlah walimu..”
“Memang bukan “ potong Billa
“ tak bisakah tak memotong pembicaraanku ? Kau tau tata krama ? Astaga anak-anak jaman sekarang “ Linda berekspresi seolah ia sangat tertekan sekarang . Billa hanya tersenyum dan tangannya mulai mengupas jeruk yang ada di nakas .
“ aku lanjutkan , Mr.Salvatore berkata bahwa ia bukan walimu , tapi ia adalah calon suamimu . Aku ulangi bahwa ia adalah CA-LON SUA-MI MU . Sampai disini nona Salsabilla Ardiantoro, apakah ada yang ingin kau jelaskan padaku ?”
Billa terkejut bukan kepalang ,calon suami ? Apa itu calon suami ? Sejenis hewan purba yang bisa bertelur , huh ? Nafasnya tercekat tak mau masuk dan keluar . Oh , rupanya sang buah jerukpun tak sudi untuk masuk kedalam lambungnya ketika mendengar nama orang gila itu .
“Air “ Billa menepuk-nepuk tangan Linda
“Apa”
“A-air” Billa menunjuk-nunjuk lehernya . Ya , karena Linda berotak udang ,masih saja belum paham apa yang di kode oleh Billa . Ketika Billa mengangkat jeruknya barulah ia paham jika Billa sedang tesedak .
Setelah minum air seperti kesetanan , Billa memilih untuk diam dan tidur . Meninggalkan Linda dengan sejuta rasa penasarannya . Sudah berkali-kali Linda membujuk tapi berkali-kali itu jugalah Billa berpura untuk tuli dan tidur .
“ baiklah , aku akan pergi . Kita ada kelas hari ini , akan aku bawakan absenmu . Kemungkinan sore nanti kau bisa pulang . Ceritanya jika kau sudah pulang saja . Telpon aku jika membutuhkan sesuatu .oke “ Billa menatap Linda dengan penuh haru ,
“Terima kasih , aku akan menelponmu “
Setelah kepergian Linda , Billa kembali membenarkan diri untuk mencari posisi tidur yang nikmat semenjak kejadian di club sampai semalam , baru hari ini ia bisa istirahat dengan sangat tenang .
Pas . Ia sudah mendapatkan posisinya .
Selanjutnya tinggal memejamkan mata .
Namun tiba-tiba , suara pintu terbuka
Billa membiarkannya saja , mungkin dokter yang akan mengecek vitalitas tubuhnya , jadi tak apa bukan jika sambil menutup mata . Namun suara kaki itu berhenti tepat di bawah kakinya , tak ada pergerakan , Biarkan saja .
“ Istirahatmu nyenyak Rose ? Atau harus ku panggil Salsabilla Ardiantoro ,hm ?” Suara bariton itu berhasil membuka paksa matanya .