After This Night

After This Night
Bertemu



“ pulang dan bermimpilah Mr.Salvatore “ ucap Billa mantap sambil menatap rendah lelaki itu . “ dan bisakah kau menyingkirkan tubuhmu yang hina ini , tuan ? Sebentar lagi acara akan dimulai , saya harus bersiap “


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matt beberapa kali melirik jam tangan mahalnya , sudah hampir 20 menit namun MC belum memasuki panggung . Rasa jenuh dan kesal mulai melingkupi dirinya . Jika saja aura bisa dilihat dengan mata telanjang , tentu saja hitam pekat sudah mendominasi sebagian dirinya . Uh , menakutkan .


‘ apakah Charles membohongiku ‘


Fikiran Matt terlalu mengada-ngada rupanya .


Meskipun ia duduk di jajaran bangku eksekitif , bukan berarti ia tidak bisa mendengar keluh kesah para petinggi atas kelalaian ini . Ya mereka memang sungguh lalai , bagaiamana mungkin Matt bisa memberikan kepercayaan pendidikan pada universitas seperti ini , sedangkan untuk urusan waktu saja mereka sangat santai . Apakah mereka tak tau bahwa sebagian dari jajaran eksekutif ini adalah orang yang sangat menjunjung tinggi waktu ?


Ini sudah ketiga kalinya Matt membuka dan menutup kembali kancing jas yang sedang ia gunakan ‘ Ah dimana wanita itu ‘ desak Matt .


Tak berselang lama Rektor muda kebanggaan Navy university memasuki aula dan duduk disamping Matt , dengan senyum ramah ia sedikit menunduk dan duduk disebelah Matt . ‘ dia yang selalu menyulitkan ,Billa ? ‘ Matt hanya melirik sekilas dan mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan .


Kelewat bosan , Dironggohnya ponsel didalam saku celana dasar itu kemudian mendial nomor dan menunggu panggilan . Ketika panggilan tersambung ia berdiri sejenak dan mencari tempat yang sedikit sunyi untuk berbicara .


“ halo , boss . Ada yang kau butuhkan “


“Charles , aku ingin bertanya “


“Akan ku catat boss , silahkan “


“ kenapa otakku selalu berbicara barusan ?”


“ ... “


“ mereka seperti mengajakku berbicara , memberikan pendapat dan ... kenapa kau tidak menjawabku ? “ tanya Matt dengan nada sedikit kebingungan .


“ apakah kita harus ke psikiater , boss ?”


“ KAU FIKIR AKU GILA ? Kau saja yang pergi kesana ! ah , kau membohongiku ? “ tanyanya sembarang dengan teriakan yang tercekat di tenggorokannya .


“ pertanyaan apa lagi ini dan bagaimana mungkin aku membohongimu , boss . Kau adalah pusat kehidupanku . Harta karunku , permata intanku “


“Lalu kenapa dia belum terlihat ? Apa mungkin dia telat ? “


Matt yang sedang asik berfikir dikejutkan dengan Seorang wanita mengetuk-ketuk ujung microphone yang berarti meminta perhatian para petinggi disana . Sejurus kemudian Matt sudah mengerti jika MC sudah menduduki posisinya .


“ it’s time to play , Baby Bill “ ucapnya sambil memberikan senyum yang tiada tara .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Selanjutnya , mari kita dengarkan pidato singkat dari pendonasi tertinggi di Navy University dalam beberapa tahun terakhir oleh Poernomo Group yang di hadiri langsung oleh sang CEO , kita sambut bersama-sama Tuan Matius Gerald Poernomo . “


Suara yang bersemangat itu sebenarnya sangatlah berbanding terbalik dengan kondisi Billa saat ini . Tekanan demi tekanan terus dia dapatkan beberapa jam terakhir . Senyuman cantik itu benar-benar menipu .


Selama di podium , Albert tak henti-hentinya menyerang Billa dengan terus menatapnya tanpa ragu .Billa pun sangat yakin Tubuh yang masih belum bisa ia kondisikan sepenuhnya ini akan tumbang jika ia mendapat hantaman sekali lagi .


Deburan tepuk tangan membuat riah seluruh aula . Para penjilat yang berlomba-lomba untuk mengambil perhatian sang raja . Billa hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah para binatang berdasi itu .


Ketika melihat pergerakan yang ditunggu , lelaki itu berdiri dengan gagahnya . Wajah yang dibuat searogan mungkin , berusaha untuk menguarkan kharisma yang memabukkan .


Billa terdiam , ia tidak bisa berfikir jelas saat ini sebab gangguan kecemasannya tapi yang terpenting ia sedikit paham dengan wajah lelaki yang berjalan mendekati podiumnya .


Ketika mereka bertemu , mereka saling melempar senyum hangat seolah tak pernah terjadi apapun .


Jujur saja ini sangat menghina harga diri sang Matius Gerald Poernomo . Bagaimana mungkin wanita itu bertindak seolah biasa saja sedangkan ia masih mengingat dengan jelas semuanya ?


“Terima kasih nona Rose , ah maksudku ...” suara Matt sedikit berbisik namun cukup bisa didengar oleh Billa . Kata-kata yang menggantung itu sangat menjengkelkan . “ ah , maksudku nona Salsabilla Ardiantoro , apakah aku benar ? “


Billa hanya bisa membelalakkan mata , BENAR ! Ini adalah lelaki yang dikerjainya waktu itu . Perlahan kakinya bertahap untuk mundur , wajah yang dibuat setenang mungkin pun hancur sudah . Kaki yang sudah bertahan sedari tadi seperti jelly sekarang .


Tak ada pilihan lain , tubuhnya memaksakan ia untuk beristirahat saat itu juga , melupakan beban yang ia pendam beberapa jam terakhir .


Brukkk


Tubuh kecil nan ramping itu ambruk di depan Matt dan semua petinggi Navy . Semua orang terkejut , sesaat kemudian beberapa panitia langsung menelpon ambulance . Matt yang juga terkejut cuma mematung melihat mata indah itu tertutup sempurna .


Matt baru akan duduk dan menyentuh Billa langsung didorong mundur oleh sang rektor , Albert . Albert sangat panik , bahkan ia tak memperdulikan siapa yang sedang ia dorong hingga terjatuh .


Albert dengan sigap langsung membawa Billa keluar ruangan sambil sedikit berlari di gendongannya . Tubuh yang kecil cukup ringan untuk dibawa oleh lelaki tegap seperti Albert


Matt baru tersadar ketika Billa yang sudah ditelan oleh pintu keluar . Kenapa ia juga ikut panik ? Apakah ia terlalu terkejut hingga wanita itu seperti ini ? Apakah Billa berpura-pura lagi ? Ahhh fikirannya benar-benar membutuhkan jawaban .


Charles . Ya , Charles !


Matt turun dari panggung , menelpon charles , didering ketiga telfonnya diangkat .


“Hall..”


“Cepat cek cctv dimana Billa , apa yang ia lakukan , semua . Semuanya . Aku tunggu paling lambat tengah malam ini , CEPAT “


Matt memotong pembicaraan charles dan berbicara ngos-ngosan . Charles yang kebinggungan hanya menjawab patuh . Ia tau ,Matt sedang tak ingin di bantah saat ini .


‘ sial , kerumah sakit mana mereka pergi ‘


Matt terlihat celangak-celinguk melihat parkiran Albert yang sudah kosong . Ia mengacak rambutnya frustasi . LAGI ,Ia kehilangan jejak wanita itu . Namun , setidaknya ia tau tempat berlabuh Billa sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Albert sangat pontang-panting ikut mendorong para petugas mendorong tempat tidur pasien itu . Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Tanganndan kaki wanita itu sangat dingin tak tertolong . Wajah yang ikut sedikit memucat semakin mempercarah keadaan .


Ia berhenti di ruang perawatan , ia mungkin akan keras kepala jika saja seorang dokter tidak memberinya pengertiian tentang prosedur rumah sakit itu . “ tolong dokter , tolong selamatkan calon istri saya “ mohonnya sambil memegang tangan dokter itu .


Setelah berhasil ditenangkan , Albert diarahkan oleh seorang suster untuk mengurus administrasi . Albert mengisi semua formulir data diri Billa dengan cepat .


“ tuan , apakah kau wali atau saudara sang pasien ?” Ujar sang suster dengan senyum sumringah


“ oh bukan , saya calon suaminya suster “ Albert berbicara dengan sangat percaya diri


Sang suster hanya tersenyum kecut mendengar jawaban sang lelaki . Ah , dalam sekali pandang saja sang suster langsung jatuh hati . Bagaimana sang pasien tidak cinta mati dengan lelaki sempurna didepannya ini ?


Melihat reaksi yang suster menyentil hati Albert , “ kenapa suster ? Apakah aku tidak termasuk kategori tampan sehingga anda sedikit tak terima jika aku adalah calon suaminya , huh ? Sepertinya rumah sakit sangat sepi akhir-akhir ini ya “ ia memberi jeda dan seolah melirik kiri dan kanan ruang rumah sakit , “ sampai-sampai suster seperti anda masih bisa mengomentari kehidupan pasien “ ia mendorong formulir itu sembari mencari mata sang suster untuk ditatap setajam mungkin .


Reflek saja sang suster salah tingkah dan terdiam , detik selanjutnya wajah Albert melembut dan memberi sedikit tersenyum lalu langsung meninggalkan layanan administrasi itu . Ia tak membutuh jawaban , ia hanya tak suka jika tak ada yang setuju ketika ia disandingkan dengan Billa .