Adzkiel Zero

Adzkiel Zero
Ch. 7



Mansion Utama Tosteruna.


Putri semata wayang keluarga konglomerat Tosteruna-- Kierin Tosteruna dikenal sebagai anak jenius. Sejak kecil Ia menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam belajar. Kierin mampu menulis, membaca, dan menghitung sejak usia lima tahun, lalu di usia ke sepuluh berhasil mengelola sebagian bisnis keluarganya.


Tentu mengelola bisnis bukanlah hal yang mudah. Keluarga Tosteruna juga tidak mungkin memberikan hak pengelolaan tanpa mengetahui kapasitas yang dimiliki Kierin. Mereka telah menilai dari berbagai macam tes dan pengamatan bahwa Kierin lebih dari mampu untuk mengelola bisnis. Oleh karena itu, secara resmi Kierin ditunjuk sebagai pewaris sah dari keluarga konglomerat Tosteruna.


Adapun tidak banyak orang yang tau, bahwa Kierin sempat mengalami sebuah insiden, tepatnya insiden yang terjadi enam tahun lalu. Kejadiannya ketika ia berusia sembilan tahun, Kierin yang sedang melakukan perjalanan di serang oleh kelompok tak dikenal. Mereka adalah perampok yang mengincar Kierin untuk dijadikan sandera agar mereka bisa meminta uang sebanyak-banyaknya dari keluarga Tosteruna.


Kierin sempat diculik oleh kelompok tersebut, dan seluruh pengawal yang menjaganya dihabisi tanpa tersisa. Akan tetapi, suatu malam kelompok itu bertemu dengan seorang anak misterius. Mereka mengira anak tersebut sedang tersesat dan hendak membawanya pergi untuk dijual. Namun siapa yang menyangka, bahwa anak itu malah menyelamatkan beberapa orang yang diculik termasuk Kierin Tosteruna.


Kierin tidak bisa mengingat bagaimana penampilan anak itu, kondisi yang kelaparan membuat Kierin tidak bisa melihat dengan baik. Akan tetapi, Kierin sempat memberikan kode transmisi Mana sebelum anak itu pergi sambil mengatakan agar anak itu menghubunginya suatu saat nanti.


Kemudian setelahnya terungkap bahwa para pengawal yang menjaga Kierin sebagian kecil merupakan pengkhianat. Sejak awal mereka bukan orang baik, mereka adalah perampok yang menyamar demi mendapat kesempatan untuk melakukan penculikan.


Pada akhirnya insiden penculikan itu membuat Kierin waspada, sampai membuatnya tidak mempercayai bawahan kecuali bawahan tersebut terikat skill kontrak perjanjian. Sebuah insiden menyedihkan tetapi memiliki hikmah bahwa insiden tersebut yang mendewasakan anak jenius keluarga Tosteruna.


"Leis." Kierin memanggil pelayan.


"Nona?" sahut pelayan itu.


Memiliki penampilan muda berambut perak, sang pelayan tampak seperti laki-laki dingin yang duduk di atas kuda putih. Alih-alih menjadi seorang pangeran, sosok sepertinya malah menjadi seorang pelayan. Apakah itu salah? Tidak juga, semua orang berhak memilih pekerjaan mereka, tanpa terkecuali dia yang memilih untuk mengabdikan diri pada keluarga yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Berikan aku artefak itu," ucap Kierin meminta.


Seperti yang diharapkan dari pewaris sah keluarga Tosteruna, meski sedang dilanda kegalauan tetapi dia tetap mempertahankan fokusnya untuk membaca dan menandatangani berbagai macam dokumen yang ada. Leis diam-diam memandang kagum seraya bergerak efisien untuk mengambilkan barang yang dimaksud.


"Ini, Nona." Leis dengan sigap memberikan artefak kuno itu.


"Terima kasih," ucap Kierin.


Tubuh kecil yang dibalut oleh dress panjang berwarna abu, rambut emas yang panjangnya melebihi pinggang, serta iris mata yang sejalan dengan warna rambutnya-- membuat Kierin tampak seperti putri bermahkota emas.


"Nona, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Leis merasa terganggu dengan suatu hal.


"Apa itu Leis? Sebaiknya bukan pertanyaan tidak penting."


"Begini, Nona. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda, tetapi sudah sangat lama sejak Anda terus-menerus memeriksa artefak kuno itu. Saya merasa terganggu karena sepertinya itu juga mengganggu Anda. Apa yang membuat Nona begitu mengharapkan komunikasi dari seseorang yang bahkan tidak diketahui?"


Kierin menghentikan pekerjaan sejenak. Dia tipikal orang yang tidak suka diganggu ketika bekerja, tetapi dia juga bukan orang yang suka mengabaikan orang lain. Sambil menaikkan bahu lalu menghela napas panjang, Kierin mencoba memberi pelayannya pemahaman.


"Hutang budi ini menggangguku. Sebagai pebisnis aku tidak ingin punya hutang budi kepada siapapun, itu hanya akan membuatku merasa bersalah, bersalah, dan bersalah. Pebisnis harus menyelesaikan urusan layaknya pebisnis. Dia memberiku sesuatu, aku juga harus memberinya sesuatu. Itu adalah kode etika dalam berbisnis."


Leis tampaknya paham dan merasa menyesal telah meragukan, "Baiklah, maafkan kebodohan saya, Nona."


"Tidak apa, setelah mengucapkan terima kasih, aku berjanji tidak akan merasa terganggu lagi."


_______________________


_______________________


Beberapa hari setelah kembali ke kota Alterium, Adzkiel mengikuti misi pembasmian Demonic Beast Rank 4 yang bernama Cascornis. Ini adalah Demonic Beast bertubuh kalajengking yang memiliki kulit keras, kaki super tajam, ekor beracun mematikan, dan kekuatan untuk menyimpan serta menembakkan gelombang panas.


Dimensional Rift yang memunculkan target berada di Gurun Pasir Lacturus yang sangat gersang dan panas. Kondisi yang sangat ekstrim meningkatkan tingkat kesulitan misi hingga Rank 5 meskipun Demonic Beast yang menjadi target hanya berada di Rank 4.


Gurun Pasir Lacturus berada di barat kota Alterium dan timur kota Lefaen yang artinya mereka berada di antara dua kota besar. Keberadaan Demonic Beast di antara dua kota besar tidak bisa dibiarkan karena bisa menjadi ancaman yang serius di masa depan.


Ada empat regu yang diperintahkan oleh markas cabang kota Alterium untuk membasmi Cascornis. Regu pertama adalah Heaven's Sign, regu kedua adalah Lazy Soul, regu ketiga adalah Dating Terrors, dan regu terakhir adalah Zero.


Setiap regu ditugaskan untuk membasmi dua Cascornis kecuali regu Zero yang hanya ditugaskan untuk membasmi satu Cascornis. Mengapa demikian? Karena regu Zero hanya berisikan dua anggota sementara anggota regu lain berisi empat sampai enam orang anggota. Cascornis juga hanya berjumlah tujuh sehingga pembagian tugas ini adalah yang paling masuk akal.


Seluruh regu kemudian dikirimkan menuju sejumlah titik yang berada di Gurun Pasir Lacturus. Area yang ditempati Cascornis dijadikan titik pusat yang dikelilingi oleh regu Heaven's Sign (Utara), Lazy Soul (Barat), Dating Terrors (Selatan), dan Zero (Timur).


Adzkiel berada di sisi timur, mengawasi pergerakan sambil menunggu regu-regu lain mengambil bagian. Bersama Lynn, Adzkiel merasa sedikit khawatir karena ini adalah misi pertama mereka sebagai regu.


"Jangan memaksakan diri, tetaplah menembak dari jarak aman, oke?"


"Em, oke."


Lynn terlihat sedikit gugup di pertempuran pertamanya. Itu tidak mengherankan mengingat selama ini dia hanya berkutat di meja kerja dan mengurusi lembaran dokumen yang tidak berbahaya-- tetapi dengan cara yang lain itu sangat memusingkan.


"Tidak perlu cemas, aku akan melindungimu."


Adzkiel tidak akan membiarkan Lynn dalam bahaya. Itu juga menjadi alasan mengapa selama ini dia selalu mengerjakan misi seorang diri. Tetapi pada misi kali ini, Lynn yang keras kepala bersikukuh untuk ikut mengerjakan misi dengan alasan mengawasi agar Adzkiel tidak memaksakan diri.


"Setelah dipikir, aku menyesal tidak memaksanya untuk tetap tinggal," lirih Adzkiel dalam hati.


"Ya, kami di sini. Bagaimana situasinya?" jawab Adzkiel sambil tetap memerhatikan Cascornis yang belum melakukan gerakan.


"Masih aman." Transmisi suara dilanjutkan,"Kami akan menyerang sebentar lagi, begitu melihat adanya pergerakan dari Cascornis, cobalah untuk memancing salah satu dari mereka."


"Maka aku akan melakukannya," ucap Adzkiel mengonfirmasi.


Transmisi suara diputuskan. Adzkiel mulai melakukan persiapan sebelum memulai pertempuran. Lynn juga melakukan beberapa persiapan karena dia ditugaskan sebagai penyerang dari belakang.


"Saat aku memberi aba-aba, cobalah untuk menembak Cascornis paling dekat." Adzkiel menginstruksikan Lynn dengan hati-hati, "Setelah pertempuran dimulai, barisan belakang akan menjadi sangat berbahaya ketika Demonic Beast menyadari keberadaan dan ancaman dari barisan belakang. Demonic Beast itu akan mengincarmu jika serangan yang dilancarkan terlalu agresif, untuk itu tetaplah menyerang dengan tempo yang sudah ditentukan, mengerti?"


"Lynn tidak akan mengecewakan, Tuan."


"Bagus, kalau begitu," Adzkiel berbalik ke arah Cascornis karena menyadari bahwa regu lain sudah mulai menyerang, "Tembak!"


Menggunakan busur Mana, Lynn menembak Cascornis yang berada sangat jauh dari mereka. Efek khusus busur Mana membuat anak panah yang ditembakkan tetap berada di jalurnya dan tidak mengalami penurunan kecepatan sehingga dalam beberapa saat kemudian, serangan itu berhasil mengenai Cascornis; memancingnya ke arah mereka.


"Tembakan yang bagus," puji Adzkiel sambil menyentil dahi Lynn.


Adzkiel lantas berlari menerjang ke arah Cascornis yang sama-sama bergerak ke arahnya. Setelah berada di titik temu, mereka saling menyerang dengan senjata masing-masing-- Adzkiel dengan pedangnya dan Cascornis dengan kaki tajamnya.


Adzkiel tidak menggunakan katana di misi ini karena tidak bisa menemukan katana yang berkualitas di kota Alterium, sedangkan menggunakan Zero akan sangat berisiko ketika melawan musuh yang berada di Rank lebih tinggi. Karena itu, efektivitas serangan Adzkiel tidak terlalu bagus, dia tidak bisa menembus pertahanan kulit Cascornis yang kuat.


Adzkiel beberapa kali menebas kaki Cascornis tapi tidak berhasil meninggalkan luka yang berarti. Tindakannya hanya membuat Cascornis menjadi semakin ganas karena merasa diprovokasi.


"Sial, aku tidak bisa menggunakan Shadowless Slash."


Lynn sedang memantau dari jarak jauh, kondisi tubuh juga sedang tidak memungkinkan, dan di sisi lain, dia belum pernah menggunakan Shadowless Slash dengan Long-Sword. Ketiga alasan itu hanya akan menambah risiko ketika memaksakan diri untuk memakai Shadowless Slash.


Adzkiel mundur beberapa ratus langkah lalu memberi perintah kepada Lynn untuk menembak. Lynn kemudian menembak tepat mengenai mata Cascornis yang lemah terhadap serangan.


"Aku harus mengandalkan Lynn huh? Ini akan menjadi pertarungan yang lama."


Cascornis merasa kesakitan. Satu tembakan secara mengejutkan mengalihkan perhatian nya ke arah Lynn, tetapi dengan cepat itu dialihkan kembali oleh Adzkiel yang sudah menyerang bertubi-tubi.


Adzkiel menggenggam Long-Sword dengan erat lalu menyerang dengan gerakan membelit-belit kaki Cascornis. Fokusnya saat ini adalah mengalihkan perhatian Cascornis sehingga Lynn dapat menembak dengan aman tanpa harus ditargetkan.


"Sekarang tembak lagi!" perintah Adzkiel melalui transmisi suara.


Lynn menembak dengan kekuatan beberapa kali lebih kuat dari sebelumnya. Adzkiel secara alami menghindar sebelum anak panah yang terbuat dari Mana itu mengenai Cascornis dan meledak. Cascornis menggeliat kesakitan lalu mencari sumber tembakan dan menemukannya.


"Sial, ini buruk."


Cascornis mengarahkan serangan gelombang panas ke arah Lynn lalu menembaknya. Adzkiel dengan panik memerintahkan Lynn agar berlari dari tempatnya berdiri. Lynn berusaha sebaik mungkin untuk berlari, tetapi tembakan memberikan dampak serangan yang terlalu besar sehingga Lynn terhempas oleh ledakan.


"Lynn!"


Adzkiel berlari menghampiri Lynn dengan kecepatan penuh. Terlihat dari kejauhan Lynn tersungkur oleh gelombang panas dengan beberapa luka bakar di kulitnya.


"Lynn, kau tidak apa-apa?!" Adzkiel merasa panik.


Lynn terbatuk, "T-Tidak apa-apa, hanya sedikit luka ringan karena Lynn ceroboh."


Adzkiel masih bersyukur itu bukan luka yang berat, "Minumlah ramuan penyembuh lalu cari tempat yang aman."


"Ta-tapi, Lynn masih bisa membantu!"


"Lynn, ini bukan waktunya berdebat. Carilah tempat yang aman, biarkan aku menanganinya." Adzkiel meyakinkan Lynn dan memerintahkannya, "Sekarang, pergilah!"


Cascornis menerjang dengan cepat dan menghantam tempat mereka berada dengan ekornya yang beracun. Adzkiel dan Lynn menghindarinya lalu mereka melihat dampak serangan, dan itu terlihat sangat mengerikan karena tanah membusuk oleh racun yang sangat korosif.


"Lynn, aku akan memberimu aba-aba ketika waktunya tepat. Saat waktunya tiba, gunakan seluruh kekuatanmu dan binasakan dia," Adzkiel memberitahu lewat transmisi suara.


"Mengerti, Tuan!"


Adzkiel melapisi tubuh dan pedang dengan Mana yang pekat. Secara perlahan mulai memusatkan sebagian Mana pada bilah pedang. Lalu dalam beberapa tebasan, dia melepaskan seluruh Mana yang terkumpul itu menjadi bilah serangan jarak jauh.


Bilah serangan jarak jauh menjadi sesuatu yang tidak terlihat. Kemudian tanpa disadari, itu menimbulkan banyak luka pada Cascornis yang bahkan tidak menyadari kenapa dirinya bisa terluka.


Ini adalah serangan yang dipelajari Adzkiel ketika latih tanding melawan Dreig. Namun karena Mananya tidak cukup untuk mengeluarkan efek yang mencolok, dia malah memberikan efek khusus yang memungkinkan bilah serangan menjadi senyap, tidak terlihat, dan sulit untuk dideteksi.


Adzkiel sendiri menamainya dengan, "Ghostly Shadow Blade."


Tidak sekuat milik Dreig, tetapi karena efek khusus yang unik, itu menjadi sesuatu yang cukup berbahaya untuk musuhnya. Cascornis menjadi semakin marah dan kali ini dia memasuki mode tempur skala penuh.