
Sabana Calguna membentang seluas 1.500.000 km² dari cakrawala timur ke cakrawala barat. Sabana Calguna tidak dihuni oleh manusia karena rentan terhadap kemunculan Dimensional Rift dan Demonic Beast, dan merupakan tempat berbahaya yang diklasifikasikan sebagai zona kuning di seluruh kekaisaran.
Tim investigasi Demon Punisher cabang terdekat telah mendeteksi terbentuknya Dimensional Rift berukuran kecil yang memunculkan sekelompok Demonic Beast Rank 3 bernama Chaetes Corgemi. Demonic Beast bertubuh antelop berukuran raksasa ini memiliki dua tanduk yang sangat tajam. Panjang tubuhnya mencapai enam meter dengan tinggi empat meter. Kulitnya sangat tebal, keras, dan lentur-- sebuah pertahanan alami yang sulit tertembus. Meski berukuran raksasa, kecepatan dan kelincahan Chaetes Corgemi tidak bisa diremehkan. Mereka juga akan semakin merepotkan ketika menyerang secara berkelompok.
Sebuah regu Demon Punisher telah dikirim untuk memusnahkan kelompok Chaetes Corgemi. Mereka menemukan Chaetes Corgemi berada di titik pusat sabana serta bergerak maju menuju arah timur mendekati pemukiman manusia.
Regu Demon Punisher mengikuti pergerakan Chaetes Corgemi dengan sembunyi-sembunyi. Mereka menunggu waktu yang tepat ketika Chaetes Corgemi berada di titik yang tepat. Rencananya, mereka hendak memisahkan Chaetes Corgemi satu sama lain lalu menghabisinya satu per satu.
"Sudah waktunya berpencar membentuk tim dua orang!" perintah sang Leader.
Regu Demon Punisher yang terdiri dari sebelas orang terbagi menjadi lima tim. Setiap tim bertugas untuk memancing satu Chaetes Corgemi dan mengalahkannya. Sementara itu, sang Leader memiliki tugas untuk melawan jenis alpha dari Chaetes Corgemi seorang diri.
Melihat seluruh tim sudah melaksanakan tugasnya, sang Leader berlari dengan cepat untuk memancing Chaetes Corgemi Alpha. Dia menghunus Greatsword sambil berlari dan menatap mangsa dengan buas.
"Saatnya menari!"
Menggunakan Skill miliknya, sang Leader menerjang dengan kecepatan tinggi. Dia menyerang sang Alpha di bagian perut dan berhasil menjatuhkannya. Sang Leader muncul di sisi yang berlawanan, lalu berbalik ke belakang untuk melihat kondisi musuh.
Chaetes Corgemi Alpha bangkit. Pertahanannya begitu luar biasa sehingga serangan sang Leader hanya meninggalkan luka gores di kulit. Sang Leader tersenyum karena sudah menduga serangan tunggal takkan berarti apapun.
"Sudah sewajarnya ini tidak berakhir dengan mudah."
Sang Leader bernama Beriga, seorang pria berusia empat puluh tahun yang memiliki tubuh kekar dan besar. Di antara manusia lain, Beriga adalah sosok yang abnormal karena ukuran tubuhnya. Tetapi di hadapan Chaetes Corgemi Alpha yang bahkan lebih besar daripada yang lain, Beriga tampak kecil dan mungil.
"Haaaa!!"
Dua sosok besar itu seketika saling menerjang. Tidak disangka, Chaetes Corgemi Alpha mampu mengimbangi kecepatan Beriga. Serangan beruntun Beriga berhasil ditangkis menggunakan tanduknya. Setelah beradu serangan, Chaetes Corgemi Alpha kemudian menghempaskan Beriga hingga terlempar sejauh puluhan meter.
Beriga memutar tubuh di udara, lalu mendarat di atas tanah menggunakan Greatsword sebagai tumpuan. Serangan demi serangan yang beradu dengan Chaetes Corgemi Alpha memberikan dampak yang buruk. Dalam hal kekuatan, Beriga kalah jauh, dan dalam hal kecepatan, mereka sudah setara. Jelas ini merupakan posisi yang tidak menguntungkan.
"Brengsek. Aku tidak mengira akan dipojokkan."
Beriga adalah Demon Punisher Rank 3 yang merupakan veteran dalam pertempuran melawan Demonic Beast. Namun kekuatannya tersendat, tidak bisa berkembang sejak beberapa tahun yang lalu. Beriga sudah mencoba untuk berlatih sekuat mungkin, tapi sesuatu yang menyebabkan kebuntuan tidak membiarkannya bertambah kuat.
"Sial! Seharusnya aku bisa menang mudah jika tidak memiliki penyakit terkutuk ini!"
Chaetes Corgemi Alpha tidak membiarkan kesempatan terlewat begitu saja. Saat pikiran Beriga terdistraksi oleh penyesalan, Chaetes Corgemi Alpha sudah bergerak dan muncul di belakang Beriga.
Mengetahui hal itu, Beriga mencoba untuk memposisikan Greatsword sebagai tameng pelindung. Akan tetapi, tanduk Chaetes Corgemi Alpha yang mampu merobek baja menghancurkan pedang itu dalam sekali hempasan. Sekali lagi Beriga terhempas, namun dalam keadaan yang lebih parah.
"Kugh. Serangannya terlalu berat!" Beriga kehilangan fokus. Dia mencoba melihat ke arah yang lain dan menemukan fakta bahwa yang lain pun terlihat kesulitan. "Ini memalukan, kita bahkan tidak bisa membasmi Demonic Beast Rank 3!"
[Leader Beriga! Markas cabang memerintahkan kita untuk mundur! Kemungkinan menang kita sudah mendekati nol!]
Itu adalah transmisi suara dari anggota regunya yang berasal dari artefak kuno dalam zirah. Mereka memberitahukan Beriga untuk mundur karena markas cabang sudah tidak melihat lagi kemungkinan untuk menang. Markas cabang mengamati pertempuran mereka menggunakan artefak yang sama.
"Aku tahu itu! Perintahkan seluruhnya untuk mengambil langkah mundur, sekarang juga!" seru Beriga.
Sesaat setelah Beriga mengeluarkan perintah untuk mundur, transmisi suara kembali datang tapi bukan dari anggota regu, melainkan dari markas cabang. Mereka memberitahukan kepada Beriga bahwa regu tidak perlu untuk mundur karena bantuan sudah datang.
Regu yang dipimpin Beriga sedang berlari sekuat tenaga sambil dikejar oleh kelompok Chaetes Corgemi. Dari enam Chaetes Corgemi yang ditargetkan, hanya satu yang berhasil dikalahkan. Meski begitu, mereka tidak bisa mengambil material dari Chaetes Corgemi yang terbunuh karena situasi yang tidak memungkinkan.
[Kami tahu, tapi dia sudah ada di sana]
Beriga menegang mendengar pernyataan tak bertanggung jawab itu, "Dia?! Siapa yang kau maksud dia?! Apa kau ingin mengatakan padaku bantuan yang datang hanya satu orang? Apa kau gila?!"
Regu Beriga kemudian melihat sosok berpakaian hitam di jalur pelarian mereka. Sosok itu adalah seorang pemuda berambut hitam dan bermata merah. Dia menggenggam sebuah pedang yang unik. Bilah pedang itu cenderung berukuran kecil dan tipis, serta sedikit melengkung. Pedang itu sendiri berwarna hitam, dan mengeluarkan aura misterius.
[Benar, bantuannya hanya satu orang. Adzkiel Zero-- Demon Punisher Rank 3 yang baru-baru ini dipromosikan]
Semua orang di regu Beriga mengetahui nama yang dikatakan oleh markas cabang. Adzkiel Zero, seorang pemuda yang baru berusia delapan belas tahun, satu tahun lalu bergabung dengan Demon Punisher, dalam waktu singkat dipromosikan menjadi Demon Punisher Rank 3, dan yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa dirinya terkutuk karena tidak bisa menerima berkah.
"Bodoh! Mengapa kalian mengirim seorang pemula untuk menjadi bantuan?" Beriga masih memprotes pada markas cabang.
Regu Beriga kemudian melewatinya. Sosok itu sama sekali tidak bergeming, bahkan menatap mereka pun tidak. Setelah cukup jauh, mereka merasa penasaran sehingga memutuskan untuk berbalik dan melihat.
Sementara itu, Adzkiel mengibaskan pedang sebagai pemanasan. Matanya menangkap lima sosok Chaetes Corgemi yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Empat berukuran biasa, dan satu berukuran lebih besar. Adzkiel mengamati area yang ditempati oleh seluruh Chaetes Corgemi, dan ketika mendapatkan jawaban yang sesuai harapan, Adzkiel menyarungkan kembali pedangnya.
"Fuh..."
Ketika jarak Chaetes Corgemi tersisa beberapa ratus meter, Adzkiel memasang kuda-kuda sambil menggenggam pedang yang belum terhunus. Chaetes Corgemi kemudian memasuki zona serangan-- Adzkiel sedikit menghunus pedang dan menggunakan skillnya untuk menyerang.
Adzkiel memandang dunia sebagai sesuatu yang bergerak sangat lambat. Satu-satunya hal yang berjalan normal adalah Adzkiel. Dia berlari, menebas, menebas, menebas, dan menebas, mengulangi sebanyak ratusan kali. Tidak peduli apakah itu Chaetes Corgemi, atau sebuah rumput yang tak berdosa, semuanya berakhir dalam tebasan yang dilancarkan oleh Adzkiel.
Saat denting suara yang dihasilkan ketika Adzkiel menyarungkan pedang bergema, maka saat itu dunia berjalan normal kembali.
"Shadowless Slash."
Chaetes Corgemi secara tiba-tiba terkoyak oleh ratusan tebasan pedang yang bahkan tidak mereka sadari kapan itu dilancarkan. Dalam satu detik pandangan orang lain, Chaetes Corgemi yang menjadi sebuah masalah berhasil dimusnahkan.
Beriga dan semua orang mematung dalam kebingungan. Beberapa detik sebelumnya, Chaetes Corgemi masih menerjang dengan ganas, tapi dalam satu detik kemudian, mereka terkoyak dan binasa begitu saja? Sangat tidak masuk akal!
[Kami rasa, dia lebih dari cukup]
Transmisi suara dari markas terdengar seperti ejekan bagi Beriga dan regu, tapi itu memang wajar karena musuh yang tidak bisa dikalahkan oleh satu regu malah dihabisi dengan mudah oleh satu orang.
"Diam! Orang itu hanya abnormal!"
Regu Beriga memutuskan untuk menjadi tim pembersih pada akhirnya. Mereka hanya mengambil satu Chaetes Corgemi sesuai dengan yang dikalahkan, dan menyerahkan sisanya kepada Adzkiel Zero yang telah menyelamatkan mereka.
Saat Adzkiel Zero hendak pergi, Beriga menanyakan satu hal, "Hei Nak, apa kau baik-baik saja?"
Adzkiel Zero sedikit membulatkan mata. Dirinya yang tak banyak bicara kemudian membuka suara, "Tidak ada hubungannya denganmu." Lalu pergi dengan tak acuh.
Beriga mengerutkan dahi atas respon yang dingin. Sedikit merasa kesal, tapi karena itu pula sekarang Beriga yakin bahwa dibalik kekuatan Adzkiel Zero terdapat sesuatu yang menyakitkan.
"Hah... anak muda seharusnya menikmati hidup," desah Beriga seraya pergi ke arah yang berlawanan.