
Di Mansion Dervangiel malam itu terasa sangat sunyi. Kesunyian yang membuat makhluk hidup berpikir bahwa waktu telah berhenti. Cahaya rembulan menelisik melalui sela-sela jendela kamar; bersamaan dengan hembus angin yang menyelinap seperti seorang pencuri. Angin berhembus sedikit memecahkan keheningan, menyampaikan rasa dingin alam bebas menuju tubuh seorang anak kecil yang sedang berbaring di atas kasur.
Berbekal selimut beludru yang tebal, sang anak tidak terlalu memedulikan angin yang menerpa. Mimpi yang indah telah mengalihkannya dari dunia nyata tanpa harus mengkhawatirkan apapun yang terjadi di sekitar. Senyum polos khas anak kecil tersirat di wajah, sepertinya sang anak sedang mengalami mimpi yang menyenangkan.
Malam tidak begitu kejam untuk membangunkan anak yang tertidur pulas. Namun malam tidak bisa berbuat apa-apa ketika pintu kamar didobrak secara paksa dari luar-- menyebabkan kebisingan sehingga anak tersebut perlahan sadar dari mimpi indahnya.
Pria tua berpakaian butler bersama perempuan berseragam pelayan memasuki kamar. Tersirat di mata mereka perasaan cemas, panik, takut, dan berbagai emosi negatif lain. Tatapan mereka terpaku pada satu hal-- sang anak yang baru saja terbangun dari tidur.
"Nak Adzkiel, ayo pergi!" seru Butler itu tergesa-gesa.
Sang anak menggosok mata, lalu memiringkan kepala sambil menatap butler dengan pandangan yang sarat akan kebingungan. Mengapa mereka mendobrak pintu? Mengapa mereka mengatakan pergi di malam hari? Mengapa mereka tidak terlihat baik?
"Kakek Ru, ada apa?" sahut Anak itu.
Butler tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab, hanya mengisyaratkan sebuah telunjuk di depan bibir agar sang anak tidak menimbulkan kegaduhan. Sang anak diraih kemudian dipangku untuk dibawa pergi oleh Butler melalui jendela kamar. Mereka melompat melalui jendela-- meninggalkan beberapa pelayan wanita yang melambaikan tangan pada sang anak sambil tersenyum sedih.
Butler mendarat mulus di atas tanah. Jelas butler tersebut adalah seorang yang terampil karena tidak mungkin melompat dari lantai tiga mansion tanpa terluka jika tanpa kemampuan dan pengalaman. Namun-- apa yang membuat butler berpengalaman sepertinya memperlihatkan ekspresi itu?
"Kakek, kenapa kita keluar dari jendela? Kenapa kakak Feli dan lainnya keliatan sedih?" tanya sang anak tetap penasaran dengan keadaan.
Butler ingin menjawab rasa penasaran sang anak-- tapi tiba-tiba sebuah ledakan yang diikuti oleh jeritan dan rintihan terdengar dari arah mansion. Tepatnya, arah kamar di mana sang anak tertidur sebelumnya.
Kilatan cahaya menyilaukan seketika membutakan pandangan, diikuti oleh ledakan dahsyat yang memporak-porandakan seluruh mansion. Dampak ledakan menghasilkan gelombang kejut yang melemparkan puing-puing bangunan. Malangnya, beberapa puing yang terhempas bergerak cepat ke arah Butler yang sedang berlari membawa sang anak.
Dalam keadaan normal, seharusnya Butler dapat menghindarinya dengan mudah, tetapi seorang anak mungil membatasi pergerakannya. Jika Butler memaksakan, maka anak mungil tersebut akan terluka, atau mungkin terlepas dari genggaman.
Mengetahui tidak ada lagi pilihan lain, Butler memposisikan diri sebagai perisai daging untuk melindungi sang anak. Menjaga sang anak adalah satu-satunya tugas terakhir yang harus dia laksanakan.
"Nak Adzkiel, hiduplah dengan bahagia," pinta sang Butler dengan senyum hangat.
Anak itu tidak mengerti. Otak polosnya belum mampu untuk menilai sesuatu yang terjadi dengan pasti. Namun sesuatu yang berat kemudian menabrak; membuat mereka terhempas sejauh belasan meter.
Butler merintih merasakan tulang punggung yang remuk. Tanpa bisa menahan, sang Butler langsung memuntahkan darah. Kesadarannya sudah berada di ujung tanduk, tapi tugasnya dalam melindungi sang anak belum tuntas. Butler dengan gagah berani memeluk sang anak agar tidak ada satupun dampak ledakan yang melukai anak tersebut.
Pecahan kaca besar menggores kepala, namun Butler tetap tegak mempertahankan posisi. Sebuah batang besi panjang menusuk punggung, tetapi butler masih tetap melakukan yang terbaik. Sampai akhirnya karena menerima luka yang bertubi-tubi, Butler sudah tidak mampu menahan. Butler tumbang kemudian menghembuskan napas terakhirnya sambil memeluk sang anak yang sudah mulai menangis.
Anak itu-- Adzkiel merangkak keluar dari pelukan Butler yang sudah tidak bernyawa. Tubuh orang dewasa yang berat membuatnya kesulitan, tapi dengan usaha keras dirinya berhasil melepaskan diri.
Adzkiel memandang tak percaya pada tubuh Butler yang sudah memucat dan membiru. Tak ada lagi hembusan nafas dan kehangatan; semuanya telah berhenti dan mendingin.
Teriakan seorang anak kecil yang menangis histeris begitu menyayat hati. Air mata mengalir deras, menyatu bersama dengan darah yang menggenang di atas tanah. Lama-kelamaan air mata itu terkuras habis, mengering hingga tangisannya tidak meneteskan air lagi.
"Kenapa ... kenapa ...?!!"
Adzkiel tahu bahwa Kakek Ru-- Butler yang selama ini mengasuh dan melatihnya telah tiada. Tapi, mengapa bisa jadi seperti ini? Mengapa sesuatu yang mengerikan menimpa orang-orang? Meski sedikit, hanya sedikit, Adzkiel berharap bahwa setidaknya yang lain berhasil selamat.
"Kakak Feli?" lirihnya kehabisan suara.
Adzkiel perlahan bangkit, kemudian berjalan terhuyung-huyung dengan setitik kecil harapan. Tak peduli kaki menembus duri, tak peduli sekitar terbakar api, tak peduli rasa sakit yang menyelimuti diri, Adzkiel terus menatap lurus, mencari mereka-mereka yang terkait dengannya-- berharap mereka baik-baik saja.
Orang berkata; semakin muda mental seseorang maka semakin naif mereka-- maka semakin mudah pula mental mereka dihancurkan. Lantas, bagaimana dengan Adzkiel? Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, terbiasa hidup damai dan dipenuhi senyuman, menghadapi situasi yang bahkan orang-orang dewasa pun akan gila ketika mengalami hal serupa?
Harapan Adzkiel tidak lebih daripada harapan semu. Semua orang tahu tidak mungkin keluarganya bisa bertahan dari ledakan dahsyat semacam itu. Dan ketika Adzkiel sadar akan kenyataannya, maka di saat itulah akhirnya.
"Tidak..."
Mengetahui bahwa mereka yang dikenalnya sudah berubah menjadi tubuh tak bernyawa yang dihanguskan oleh api membara membuat mentalnya seketika runtuh. Adzkiel sekali lagi berteriak histeris. Dia menangis sejadi-jadinya hingga mengeluarkan air mata darah, dan bukan lagi air mata biasa.
"Kakak Feli..."
Puncaknya adalah ketika Adzkiel melihat dua lengan yang saling berpegangan. Di jari manis kedua lengan itu, melingkar sepasang cincin yang sangat diketahui oleh Adzkiel. Itu adalah cincin pernikahan dari kedua orang tua Adzkiel, yang berarti kedua lengan adalah satu-satunya yang tersisa dari sosok Ayah dan Ibunya.
"Ayah...? Ibu...?"
Adzkiel sudah kehilangan tenaga. Dia menggusur tubuh untuk meraih kedua lengan itu, lalu memeluknya dengan erat. Adzkiel masih menangis, meneteskan air mata darah yang tentu terasa sangat menyakitkan. Tapi kesakitan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan sakitnya perasaan kehilangan.
Saat Adzkiel hampir kehilangan akal karena rasa sakit secara fisik dan mental, emosinya tiba-tiba terpicu. Apakah itu sedih? Tidak, itu adalah amarah. Apakah itu keputusasaan? Tidak, itu adalah dendam.
Jika yang merenggut itu semua adalah Demonic Beast, Adzkiel bersumpah akan melenyapkan seluruh Demonic Beast di dunia.
Jika yang merenggut itu semua adalah manusia, atau sekelompok dari mereka, Adzkiel bersumpah akan membalaskan dendam dan mengirim mereka kepada penyiksaan yang lebih menyakitkan daripada kematian.
Jika yang merenggut itu semua adalah kecelakaan, Adzkiel bersumpah akan menantang para dewa yang berkuasa atas takdir dunia. Apapun itu yang menyebabkan semua ini terjadi, Adzkiel akan membalaskan dendamnya.
"Aaaaarrghhhh!!!"
Adzkiel memancarkan semburan Mana dalam jumlah besar sebelum akhirnya kehilangan tenaga dan terkulai tak berdaya. Perlahan kesadaran Adzkiel pun memudar, dirinya lantas pingsan di tengah-tengah kekacauan.