
Elnera Bromlight.
Wanita tua berpenampilan muda yang memimpin Demon Punisher Organization. Dia sudah berusia ratusan tahun karena efek skill yang menghentikan penuaan dan memberi umur panjang. Sekarang telah menembus Rank 9 yang mana tingkat tersebut sudah mendekati pemimpin kekaisaran.
Seseorang mungkin berpikir "Dia adalah gadis lemah dan imut, aku harus melindunginya" padahal Elnera sendiri bisa menghancurkannya dalam sekali tatapan. Sudah banyak orang terjebak karena penampilan Elnera, dan tidak ada satupun dari mereka yang berakhir dengan bahagia. Semuanya mengalami nasib buruk, bahkan yang paling buruk telah binasa sampai tidak meninggalkan satupun debu.
"Adzkiel Zero," ucap Elnera dengan penuh ketertarikan.
Adzkiel Zero menjadi Demon Punisher satu tahun yang lalu. Menunjukkan bakat yang lebih unggul dibandingkan Demon Punisher yang lain. Lalu dalam waktu yang relatif singkat berhasil dipromosikan menjadi Demon Punisher Rank 3.
Itu memang bukan sesuatu yang sangat mengejutkan sebab banyak orang lain yang lebih berbakat darinya. Akan tetapi, hal yang paling menarik perhatian Elnera adalah fakta bahwa Adzkiel memiliki Curse.
Sebuah Curse juga tidak akan menarik perhatian Elnera kecuali Curse tersebut memang benar-benar langka. Curse yang dimiliki Adzkiel tidak hanya memblokir Blessings, tetapi juga menghambat perkembangannya hingga 70% dari keseluruhan.
Lalu, bagaimana seseorang yang memiliki kutukan paling terkutuk bisa mencapai prestasi yang tidak biasa? Dan bayangkan jika Adzkiel tidak memiliki Curse tersebut, seberapa jauh kekuatannya akan berkembang?
"Anak yang menarik. Tidak salah aku mengundangnya."
Saat memeriksa data Demon Punisher yang berprestasi beberapa hari lalu, Elnera tidak menemukan banyak bakat memuaskan di Rank 4 ke atas. Dia kemudian bereksperimen dengan meminta data Demon Punisher Rank 3 lalu menemukan Adzkiel Zero yang menarik perhatian.
Undangan lantas dikirimkan dan secara kebetulan mereka bertemu beberapa saat lalu. Elnera memanfaatkan pertemuan itu untuk memastikan sendiri kutukan yang menimpa diri Adzkiel. Setelah melihatnya, Elnera yakin bahwa kutukan itu adalah yang paling terkutuk.
Merasa penasaran dengan asal-usul anak muda itu, Elnera memutuskan untuk mencari tahu latar belakangnya.
"Retum." Elnera memanggil.
Retum adalah kelompok intelijen khusus yang dibentuk Elnera untuk mencari seluruh informasi di berbagai belahan dunia. Mereka adalah pion yang sangat setia, rela mengorbankan nyawa demi mencari informasi dan selalu mengorbankan nyawa untuk menjaga informasi.
Salah satu anggota Retum menanggapi dengan muncul di sisi Elnera seperti hantu, "Iya, Nona?"
"Temukan asal-usul Demon Punisher Rank 3 yang bernama Adzkiel Zero. Aku ingin informasi ini didapatkan secepatnya, mengerti?"
Retum mengangguk, "Mengerti, Nona." Lalu berlutut dan menghilang dalam sekejap mata.
Elnera mengarah ke arah meja dan melihat beberapa kertas yang diletakkan di sana. Saat melihat kertas yang menjadi rekam jejak kegagalannya di masa lampau ia seketika merasa kesal dan menggemertakan gigi.
"Penghinaan ini, akan segera aku bayar tuntas."
.....
.....
Hari pelaksanaan upacara pun tiba. Acara diselenggarakan di aula utama markas pusat. Itu tidak sulit untuk menemukan aula utama karena begitu memasuki wilayah markas pusat, yang pertama kali terlihat adalah bangunan aula yang besar dan megah.
Di dalam aula yang luas, sudah tersedia ratusan sampai ribuan kursi yang menghadap ke arah panggung. Kursi prioritas lebih diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki pengaruh dan kekuatan besar. Sedangkan semakin ke belakang maka pengaruh dan kekuatan nya akan semakin kecil.
"Silakan untuk bersantai terlebih dulu, Tuan dan Nona. Nikmati perjamuannya sampai acara dimulai," sambut penerima tamu.
Adzkiel yang pada dasarnya Demon Punisher Rank 3 seharusnya tidak memiliki kualifikasi untuk duduk di manapun. Tetapi surat undangan resmi yang diberikan telah membiarkannya duduk di kursi paling belakang bersama Lynn. Sementara Dreig yang berada di Rank 6 dan memiliki pengaruh yang cukup besar berada di barisan kedua setelah barisan pertama.
"Lynn sedikit gugup," cetus Lynn dengan pandangan menunduk.
"Apa orang-orang mengganggumu?" tanya Adzkiel di samping kirinya.
"Bukan itu!" Lynn menggelengkan kepala kuat lalu berkata jujur,"Lynn hanya sedikit tertekan berada di antara orang-orang kuat seperti mereka."
Adzkiel memandang luas ke seluruh area di aula. Memang tempat yang luas itu dipenuhi oleh orang-orang terkuat yang memiliki pengaruh besar di seluruh kekaisaran-- atau bahkan di seluruh dunia. Bagi Adzkiel dan Lynn yang belum memenuhi kualifikasi, memang sangat wajar untuk merasa gugup dan tidak percaya diri.
"Tidak apa-apa selama kita tidak menimbulkan masalah. Benar kan?" Adzkiel mencoba menenangkan. Meskipun dia sendiri tidak pernah menurunkan kewaspadaan sekalipun.
"Baiklah, Lynn tidak akan menimbulkan masalah."
Pembukaan acara pun dimulai. Elnera Bromlight selaku pemimpin tertinggi Demon Punisher menaiki podium untuk menyampaikan pidato. Berbeda dari sebelumnya, Elnera yang berada di atas podium terlihat memancarkan wibawa dan aura yang sangat kuat. Sangat jelas itu dilakukan dengan tujuan menunjukkan kepribadian dan kekuatan yang mendominasi.
"Sebagai Master Demon Punisher Organization, aku mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh tamu undangan yang terhormat dalam acara yang membahagiakan ini," serunya lantang.
Semua orang memerhatikan pidato dengan seksama, kecuali Adzkiel yang lebih mementingkan mencari informasi. Dia menghafal sebanyak mungkin karakteristik orang-orang yang hadir sambil sesekali mendengarkan pidato karena mungkin terdapat informasi yang bagus dalam pidato tersebut.
"Duke Vermilion, seperti apa orangnya?" benak Adzkiel menerka-nerka.
Seorang bangsawan tinggi dan memiliki kekuatan besar pastilah orang yang sangat diberkati. Sejak lahir dia sudah mendapatkan kasta bangsawan, dan sekarang dia mendapatkan kekuatan yang tidak semua orang bisa menggapainya. Siapa yang tidak penasaran dengan orang terberkati semacam itu?
"Aku tidak memiliki kata lain untuk diucapkan. Sekarang kita mulai acara utamanya, yaitu penyerahan tanda kehormatan kepada Duke Vermilion yang telah mencapai Rank 8 Demon Punisher!" seru Elnera menggema di seluruh aula.
Tepukkan tangan terdengar dari semua orang. Diikuti oleh sosok Duke Vermilion yang menaiki panggung dengan gerakan yang berwibawa dan menunjukkan kebanggaan tinggi. Orang-orang menahan napas mereka karena ini adalah momen yang paling inti dan menegangkan dari keseluruhan acara.
"Duke Vermilion, aku sudah mengetahuinya," gumam Adzkiel.
Duke Vermilion adalah pria maskulin lain yang terlihat hampir seumuran dengan Dreig, tapi mungkin sedikit lebih tua dari Dreig. Memiliki ciri rambut merah menyala yang merupakan identitas utama keluarga Vermilion. Rambutnya di sisir rapi ke belakang dan wajahnya memiliki sorot mata yang tajam seperti elang. Dia berpakaian cukup mencolok dengan jas putih dan jubah merah membara di punggung.
"Lynn tidak mengerti, mengapa bangsawan menyukai pakaian berwarna terang dan mencolok seperti itu?"
Adzkiel tersenyum tipis. "Benar, mungkin mereka menggunakan ciri khas yang unik agar lebih mudah dikenal?"
Manusia cenderung lebih mudah mengingat orang yang memiliki kekuatan, pengaruh, dan reputasi yang besar. Tetapi selain dari ketiga hal tersebut, mereka juga mudah untuk mengingat orang dengan penampilan yang unik.
"Anak muda, menurutmu apakah menarik untuk bertarung dari jarak aman seperti para Elementalist?" Seorang kakek tua tertarik dengan topik yang dibahas lalu memutuskan untuk ikut dalam pembicaraan.
Kakek tua itu bertanya demikian karena Duke Vermilion adalah seorang Elementalist. Faktanya, tidak peduli seberapa banyak pun usaha orang-orang di luar Elementalist yang meningkatkan kekuatan, mereka hanya bisa mencapai Rank 8, itu seperti sebuah aturan tak tertulis yang telah melekat dalam diri setiap orang di seluruh dunia.
Sedikit termenung oleh pertanyaan tiba-tiba sang kakek, Adzkiel dengan hati-hati menjawab, "Tidak, tapi keadaan menuntut kita agar berpikir realistis."
Demon Punisher adalah pekerjaan berbahaya yang paling berisiko. Mereka senantiasa mempertaruhkan hidup serta dapat kehilangan hidup setiap saat. Tentunya keinginan untuk bertahan hidup manusia menjadi lebih besar, dan mereka cenderung memilih sesuatu yang lebih memberikan rasa aman.
"Itu jawaban yang menarik, Anak muda." Kakek tua itu menelisik seluruh tubuh Adzkiel melalui matanya dan menarik kesimpulan,"Apa kau menggunakan pedang?"
"Aku menggunakan pedang," balas Adzkiel.
Kakek tua itu merasa semakin tertarik, "Aku merasakannya, Anak muda. Kau juga menggunakan katana bukan?"
Katana?
"Apa itu Katana?"
Kakek tua menjelaskan sambil memperagakan, "Itu adalah pedang kecil yang panjang dan memiliki bilah sedikit melengkung. Katana hanya diproduksi secara khusus di wilayah timur, khususnya kota tempat tinggal ku, Kota Errach."
Penjelasan kakek tua sedikit mengejutkan. Zero adalah pedang berwarna hitam yang memiliki bilah kecil dan sedikit melengkung-- dengan kata lain ciri-ciri Zero dengan pedang yang disebut katana itu serupa. Apakah Zero mengambil bentuk sesuatu yang berasal dari wilayah timur? Itu tidak mustahil.
"Ah, persis seperti itu."
"Maka itu adalah katana." Kakek tua merasa semakin bersemangat, "Teknik pembuatan katana sudah mulai memudar, sekarang sangat sulit untuk mendapatkan katana yang berkualitas. Kualitas yang menurun dan penguasaan yang sulit menjadikan katana semakin tidak diminati, bahkan di wilayah timur sekalipun. Kakek tua ini terkejut seorang anak muda sepertimu memilih katana sebagai senjata."
"Mungkin karena takdir?" Adzkiel menjawab asal karena tidak terlalu fokus pada pembicaraan dengan kakek tua.
"Ya, pasti ini adalah takdir. Anak muda, meski seperti ini, kakek memiliki kemampuan cukup baik dalam menggunakan katana. Jika kamu tidak keberatan, datanglah kapan-kapan ke kota Errach, kakek tua ini akan membimbing mu sebisa mungkin."
"???"
Adzkiel seketika merenungkan tawaran sang kakek dengan serius. Seseorang baru saja menawarkan bimbingan dalam menggunakan katana kepadanya. Sebuah kesempatan yang bagus bagi Adzkiel yang selama ini mempelajari cara menggunakan katana seorang diri. Bahkan seluruh tekniknya adalah teknik original yang diciptakan oleh Adzkiel setelah melihat teknik orang lain. Meski begitu, dasar-dasar yang digunakan Adzkiel belum cukup kokoh sebagai pondasi.
Jika perkataan kakek tua memang benar, seharusnya dia lebih berpengalaman dalam menggunakan katana. Akan sangat bagus jika Adzkiel bisa belajar beberapa hal dasar yang bisa memperkuat pondasinya.
"Siapa nama Kakek?"
"Um? Kakek tua ini bernama Zangetsu Raizen."
"Terima kasih. Aku sudah lama mencari seseorang untuk meminta bimbingan, tidak menyangka akan menemukan seseorang yang menawarkan nya di sini."
"Hahaha, sudah pasti ini adalah takdir seperti yang kau katakan. Anak muda, suasana hatiku sedang bagus, apa ada yang ingin kau tanyakan?" Kakek tua itu tersenyum cerah.
Seketika tawaran itu mengingatkan Adzkiel pada satu hal yang paling penting, "Apa kakek tau skill yang bisa menghasilkan ledakkan besar dari kejauhan? Jika bukan skill, mungkin Demonic Beast yang memiliki kemampuan sama, apapun itu."
Saat menanyakannya, ekspresi dan suasana hati Adzkiel benar-benar berubah. Seperti seseorang yang berambisi untuk mencapai sesuatu.
Kakek tua itu menyadarinya, lalu sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan. Setelah beberapa saat, dia membisikkan sesuatu ke telinga Adzkiel seolah informasi yang diberikan adalah rahasia.
"Maaf, ini agak sensitif. Aku mengetahuinya dan orang yang memiliki kemampuan itu sedang menerima penghargaan di sini. Skill terkuatnya adalah Extinction Inferno yang mampu meledakkan sesuatu dari jarak yang jauh."
Adzkiel menegang mendengar jawaban yang tidak terduga. Seseorang yang menerima penghargaan? Berarti itu adalah Duke Vermilion.
"Akhirnya, akhirnya setelah bertahun-tahun aku menemukan petunjuk. Duke Vermilion? Aku akan memastikan apakah kau memang berhubungan dengan itu!" tegas Adzkiel dalam benaknya.
"Hei Nak, ada apa?" Kakek itu merasakan sesuatu yang salah.
"Ah, tidak apa-apa, aku hanya sedikit melamun barusan," terang Adzkiel tersenyum canggung.
"Kakek tidak tau alasan dibalik pertanyaan mu, tetapi jika itu adalah sesuatu yang sangat ambisius, ingatlah untuk selalu berhati-hati. Ngomong-ngomong, siapa namamu Anak muda?"
"Kakek bisa memanggilku Adzkiel, Adzkiel Zero."
"Adzkiel ya? Baiklah, kehadiranmu sangat ditunggu di kota Errach, Anak muda."
"Ya, aku pasti segera mengunjungi kota Errach."
"Pasti! Untuk bertambah kuat," tekad Adzkiel dalam hati.
Adzkiel terlarut dalam pikiran sampai tidak menyadari bahwa acara penyerahan tanda kehormatan sudah selesai. Elnera kemudian mengatakan kepada seluruh tamu undangan untuk tetap tinggal di tempat karena pesta perayaan akan segera dimulai.
Pelayan-pelayan yang luar biasa datang dan mempersiapkan segalanya. Dalam sekejap mata, aula yang sebelumnya formal disulap menjadi aula tempat berpesta. Meja-meja dengan makanan yang sangat banyak disediakan di setiap sisi. Lalu, lampu penerangan pun menjadi lebih cerah dan berwarna.
Lynn memandang makanan-makanan itu dengan buas. Lalu dengan sedikit konfirmasi dan izin dari Adzkiel, Lynn langsung berlari menghampiri makanan dan menikmati makanan tersebut.
Zangetsu Raizen juga hendak beranjak pergi, dia berkata kepada Adzkiel, "Sepertinya harus pergi, terima kasih obrolan yang menyenangkannya, Anak muda."
Adzkiel mengangguk, "Aku juga berterima kasih, berhati-hati lah."
Adzkiel berdiri di tempat yang lenggang sambil melihat punggung Zangetsu yang semakin jauh. Kakek tua itu cukup misterius, informasi darinya juga belum tentu benar. Namun dalam situasi yang buntu, lebih baik ada petunjuk semu agar Adzkiel terus bergerak maju.
Dari kejauhan Dreig melihat Adzkiel berdiri sendiri. Sebagai teman satu nasib, dia tidak bisa membiarkannya dan memutuskan untuk datang menghampiri, "Yoo, tampaknya kau tidak bisa berbaur ya?"
"???"
Adzkiel mengalihkan pandangan dan sedikit merasa lega ketika mengetahui itu adalah Dreig, "Huh, kau rupanya."
"Hahaha, dasar pendiam menyedihkan. Bukankah sekarang kau menyadari hanya aku satu-satunya orang lain yang peduli padamu?"
"Heh, bukankah kau juga sama? Tidak ada banyak orang yang ingin dekat denganmu kan?" balas Adzkiel menohok.
Dreig tersenyum kaku mendapat balasan yang tepat sasaran, "Sial, kata-katamu memang tajam sepertiku."
Adzkiel terdiam sesaat lalu berkata dengan nada rendah, "Ketua Dreig, aku ingin menanyakan satu hal."
Adzkiel penasaran dengan identitas kakek tua yang berbicara dengannya. Jika dilihat sekilas memang terlihat seperti kakek tua biasa, tetapi ia sadar bahwa kakek tua itu setidaknya memiliki kekuatan di atas Rank 5.
"Jangan sungkan kawan, tanyakanlah."
"Apa kau mengenal seorang kakek tua bernama Zangetsu Raizen?" tanya Adzkiel serius.
Mengikuti ekspresi Adzkiel, Dreig menjadi sedikit serius, "Zangetsu Raizen? Hanya ada satu orang terkenal yang memiliki nama itu. Dia adalah ketua markas cabang kota Errach. Kenapa dengannya?"
"Ketua markas cabang?" Adzkiel memutar mata tak percaya lalu menjelaskan, "Kakek tua itu berbicara denganku."
Dreig terkejut melebihi keterkejutan Adzkiel saat mengetahui Zangetsu adalah ketua markas cabang.
"Tidak mungkin! Dia adalah Kakek Tua sensitif yang sangat sulit didekati. Jangankan berbicara dengannya, aku tidak bisa mendekat sedikitpun karena matanya seakan-akan ingin menghabisi ku!"
Hati Dreig dipenuhi oleh perasaan sedih. Kawan yang selama ini dianggap memiliki nasib yang sama, ternyata mengalami nasib yang berbeda.
"Sial, dasar kau pengkhianat!"