Adzkiel Zero

Adzkiel Zero
Ch. 3



Ketukan di pintu kamar terdengar, secara alami membangunkan Adzkiel dari tidur yang nyaman. Sambil terhuyung setengah sadar, Adzkiel membuka pintu kamar lalu mendapati Lynn sedang berdiri di depan pintu. Lynn menggenggam sebuah kertas di tangan dan terlihat ingin menyampaikan sesuatu.


Adzkiel tidak tahu apa yang diinginkan oleh Lynn dengan membangunkannya di hari libur. Apakah Adzkiel melakukan sesuatu yang salah sehingga Lynn akan mengomelinya lagi? Tapi bukankah sejak sebulan lalu Lynn tidak mengomel seperti biasa? Adzkiel merasa cukup khawatir dengan keadaan aneh ini.


"Ada apa, Lynn?" tanya Adzkiel sambil menguap.


Lynn tidak langsung menjawab melainkan memberi kertas yang berada di genggaman kepada Adzkiel. Kertas itu masih tergulung dengan sebuah segel yang tidak asing. Segel itu adalah milik Demon Punisher Organization yang menaungi seluruh Demon Punisher di dunia. Fakta bahwa surat tersebut disegel menggunakan simbol organisasi memberi arti bahwa surat tersebut asli dan resmi.


"Surat resmi? Kapan ini datang?" tanya Adzkiel penasaran karena semalam surat ini belum ada.


Lynn dengan singkat menjawab, "Barusan."


Gadis yang sedang merajuk itu kemudian pergi meninggalkan Adzkiel yang seketika menghela napas. Sejak melawan Chaetes Corgemi, sikap Lynn benar-benar tidak seperti biasa, dia tidak pernah mengomel lagi. Rumah memang menjadi lebih tenang, tapi Adzkiel merasa itu adalah kemunduran karena sesuatu telah menghilang.


"Baiklah, kita pikirkan Lynn nanti. Mari kita lihat apa yang markas pusat katakan," ucap Adzkiel seraya menutup kamar lalu duduk di atas kasur membaca surat dari Demon Punisher Organization.


Setelah mencermati dengan seksama isi surat yang diberikan, Adzkiel memahami maksudnya. Kurang lebih, isi surat tersebut berupa undangan dari markas pusat kepada seluruh regu Demon Punisher yang berprestasi untuk menghadiri upacara kenaikan Rank Duke Vermilion. Duke Vermilion yang sebelumnya berada di Rank 7 sekarang menjadi seseorang di Rank 8. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan.


"Duke Vermilion? Aku tidak punya banyak informasi tentang dia," gumam Adzkiel.


Keberadaan Rank 8 memang istimewa. Rata-rata kekuatan Demon Punisher di seluruh dunia berada di antara Rank 3 - 4, sementara di atasnya sudah termasuk orang-orang berbakat. Adzkiel sendiri masih diklasifikasikan sebagai Demon Punisher Rank 3, mungkin jika memaksakan diri bisa setara dengan Demon Punisher Rank 4, tetapi itu adalah batas tertingginya. Lebih dari itu maka kematian lah yang menunggu.


"???"


Dalam surat tersebut dicantumkan bahwa regu 'Zero' lah yang diundang. Dengan kata lain, Adzkiel tidak bisa menghadiri undangan sendirian. Adzkiel terdaftar sebagai leader dari regu Zero yang memiliki satu anggota. Benar sekali, satu-satunya anggota itu adalah Ashlynn Raidenzart. Alasan mengapa Ashlynn Raidenzart tidak pernah mengikuti misi karena Adzkiel melarangnya untuk ikut sebab terlalu berbahaya.


"Huff..."


Adzkiel memutuskan untuk pergi mandi. Beberapa saat kemudian dia keluar lalu mengenakan pakaian mewah berwarna hitam dengan corak kemerahan. Setelah semuanya dirasa siap, Adzkiel keluar dari kamar dan menghampiri Lynn yang sedang bekerja.


"Panggilan darurat dari markas pusat ya? Kalau begitu tolong berhati-hati," ucap Lynn tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian. Jelas sekali dia masih merajuk karena masalah yang terjadi sebulan yang lalu.


Padahal sejak saat itu, Adzkiel mencoba untuk lebih menahan diri dengan hanya menerima misi-misi di bawah Rank 3. Adzkiel juga tidak pernah menggunakan Shadowless Slash lagi, tapi bukan perempuan namanya kalau tidak suka memperpanjang masalah.


"Markas pusat mengundang Zero. Yakin tidak mau ikut?" terang Adzkiel seraya menunjukkan isi surat.


Lynn terdiam dengan bibir yang sedikit bergetar. Entah hanya perasaan Adzkiel atau bukan, tetapi gadis itu tampaknya merasa senang?


"Ma-mau bagaimana lagi, terpaksa Lynn harus bergerak huh?" responnya sambil memalingkan muka, berusaha menjaga harga diri dengan menahan ekspresi gembira yang hampir tumpah di wajahnya.


Adzkiel tersenyum hangat melihat sikap biasa Lynn yang telah kembali. Bagaimanapun, di saat seperti ini yang terbaik untuk merespon mereka adalah diam dan mengangguk. Ikuti saja apa yang mereka inginkan selama itu tidak merugikan.


"Um. Kita akan pergi sebentar lagi, segera lah bersiap. Aku akan menunggumu," ujar Adzkiel seraya duduk lalu membuka catatan pribadinya untuk menunggu.


Tercatat di sana, progres dalam meningkatkan Rank sedikit terhambat karena Adzkiel tidak bisa leluasa menggunakan seluruh kekuatan. Seperti halnya orang lain, Adzkiel memiliki skill pribadi yang bernama Shadowless Sword. Itu adalah skill unik tipe weapon master yang memungkinkan seseorang mengikat kontrak dengan senjata spesial-- dalam kasus ini Adzkiel telah mengikat kontrak dengan pedang hitam yang diberi nama Zero.


Sampai detik ini, Adzkiel tidak bisa mengendalikan kekuatan Zero. Tubuhnya yang terkena curse sangat terbebani oleh efek samping penggunaan Zero. Demi mengatasi masalah ini, Adzkiel telah mencari berbagai macam informasi dan hanya menemukan dua kemungkinan untuk menghilangkan efek samping penggunaan Zero.


Kemungkinan yang pertama adalah dengan meminum ramuan legendaris The Fountain of Birth yang hanya bisa dibuat oleh para Nature Spirit legendaris. Ramuan tersebut dapat memulihkan jiwa, menyembuhkan segala macam penyakit, dan menghilangkan kutukan.


Kemungkinan yang kedua adalah dengan menaklukkan Zero sepenuhnya. Sekarang kontrak antara Adzkiel dan Zero masih sebatas peminjam kekuatan; bukan pemilik kekuatan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menaklukkan Zero secara penuh agar tidak ada lagi efek samping buruk yang disebabkan.


Sekarang dua kemungkinan itu hampir mustahil untuk menjadi nyata. Adzkiel tidak mengetahui keberadaan Nature Spirit legendaris untuk kemungkinan pertama, sedangkan kekuatannya jelas belum mumpuni untuk kemungkinan kedua.


Pada akhirnya, Adzkiel merasa pusing karena terus menemui jalan buntu tanpa menemukan titik temu. Dia lantas menutup buku catatan sambil memijat kening yang terasa panas.


"Benar-benar buntu."


Lynn kemudian keluar dari kamar setelah selesai mempersiapkan segalanya. Dia mengganti pakaian dengan atasan sebuah dress putih dan bawahan celana hitam yang longgar. Tidak lupa, dia juga menggunakan sepatu hitam biasa yang nyaman digunakan untuk perjalanan.


Melihat Adzkiel yang sedang kesulitan, Lynn lantas bertanya dengan cemas, "Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja? Tuan tidak memaksakan diri lagi 'kan?"


Adzkiel bangkit dari duduknya lalu berjalan melewati Lynn. Di saat yang bersamaan, dia menyentil dahi Lynn sambil berkata, "Tidak ada apa-apa, ayo pergi."


Lynn mengeluarkan suara "ouch" sembari memegang keningnya yang sedikit sakit. Dia tidak berkomentar apapun karena merasa senang alih-alih marah. Dia pun mengikuti langkah Adzkiel dengan patuh seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


Mereka segera tiba di markas Demon Punisher cabang kota Alterium. Tujuan mereka adalah Ibukota Kekaisaran, yaitu Selfirus yang memiliki jarak sekitar 2500 kilometer. Akan memakan waktu yang sangat lama jika harus menggunakan jalur biasa. Beruntung terdapat sistem teleportasi menggunakan artefak kuno yang memungkinkan perjalanan jauh ditempuh hanya dalam beberapa detik, namun sebagai gantinya biaya yang dikeluarkan juga tentu sangat mahal.


"Bukankah biaya teleportasi sekali jalan itu sangat mahal?" Lynn mengkhawatirkan kondisi keuangan mereka.


Adzkiel mengetahui itu dengan baik. Namun karena perjalanan mereka kali ini secara khusus diundang oleh markas pusat, seharusnya perjalanan pulang pergi tidak akan memakan biaya. Lagipula mereka menggunakan gerbang milik Demon Punisher Organization, bukan gerbang teleportasi milik pemerintah Kekaisaran Sapphirus.


"Tenang saja, perjalanan ini gratis."


"Benarkah? Baguslah! Sayang sekali jika harus menghamburkan uang untuk melakukan teleportasi."


Lynn bertugas mengatur keuangan. Bisa dibilang tidak ada yang lebih tahu kondisi keuangan mereka selain dari Lynn itu sendiri. Hadiah dari misi Demon Punisher itu lumayan sedikit jika masih di bawah Rank 4. Pembagian material juga seringkali tidak menguntungkan yang berakhir pada kondisi keuangan yang mengenaskan.


Misi memusnahkan Chaetes Corgemi satu bulan yang lalu mendapatkan lumayan banyak keuntungan dari pembagian material. Tetapi, Lynn memutuskan untuk menyimpan hasil tersebut untuk berjaga-jaga apabila suatu saat mereka benar-benar tidak bisa menghasilkan uang lagi.


"Jika dipikir-pikir, bukankah aku yang mengatur keuangan regu seperti seorang istri yang mengatur keuangan rumah tangga?"


Lynn tersentak, merasa malu dengan pikiran. "Eh, kok aku mikirnya ke situ?!" ucap Lynn dengan wajah memerah.


Adzkiel menyadari sesuatu yang janggal dengan gerak-gerik gadis yang mengikutinya. Tapi demi keamanan karena gadis itu baru saja membuka hati, Adzkiel memutuskan untuk mengabaikan dalam diam.


Mereka pun memasuki markas cabang. Suasana di markas terlihat seperti biasa, penuh oleh Demon Punisher yang memiliki berbagai macam penampilan. Ada beberapa yang berotot kekar, bertubuh besar dan berwajah sangar. Ada beberapa yang seperti ksatria dengan paras yang rupawan. Ada juga yang sok misterius dengan mengenakan jubah dan tudung yang menutupi kepala. Serta ada juga beberapa yang berpenampilan unik. Mereka adalah Demon Punisher yang berasal dari berbagai macam kalangan.


Mungkin karena sering melakukan pertempuran bersama, Demon Punisher adalah satu-satunya tempat di mana bangsawan tidak memedulikan perbedaan kasta. Meskipun, ada beberapa pihak yang masih memiliki jiwa kebangsawanan yang menjijikkan itu tapi setidaknya tidak separah kehidupan bangsawan yang asli.


Adzkiel berjalan memotong beberapa kerumunan orang yang sedang duduk bersantai. Mereka secara alami mengalihkan perhatiannya, terutama para laki-laki yang memandang Lynn dengan ekspresi kagum.


"Hoi, siapa wanita cantik itu?" bisik seseorang.


"Aku tidak tahu, mungkin pendatang baru?" bisik seorang yang lain.


"Kok bisa-bisanya dia berjalan bersama si Adzkiel yang suram itu?" bisik yang lain menimpali.


"Hehe, wanita cantik, sangat sayang untuk dilewatkan," ungkap seseorang dalam bisikan.


Terganggu oleh tatapan yang tidak ramah, Lynn mulai mendekat pada Adzkiel. Kehadiran banyak tatapan entah mengapa sedikit memicu trauma masa lalu yang dimiliki oleh Lynn.


Adzkiel berdecak karena merasa kesal. Dalam sekejap, dia memandang satu per satu orang yang memiliki perkataan busuk sambil menunjukkan niat membunuh. Orang-orang itu seketika bergetar merasakan niat membunuh yang begitu kental. Mereka yang memandang seketika menunduk dan mengalihkan pandangan dan pembicaraan.


"Su-sudahlah, wanita secantik itu mana mau denganku kan?" bisik seseorang.


"I-Iya, benar."


"Li-lihat, sepertinya dia akan menebasku jika berbicara lebih jauh," bisik yang lain.


"Sudah-sudah, mari kita ganti topik," usul yang lain dalam bisikan.


Adzkiel dan Lynn sampai di depan meja penerimaan. Di belakang sana duduk seorang laki-laki paruh baya berotot kekar dengan wajah yang berwibawa. Dia tampak seperti pria maskulin yang memiliki pengalaman bertarung yang luar biasa.


"Yo, Bung. Sepertinya kau menarik perhatian orang-orang lagi ya?" ucapnya tak acuh.


Adzkiel berekspresi masam, "Mereka yang menggangguku."


Pria itu memerhatikan mereka berdua lalu berkata seolah mengerti sesuatu, "Oh, melindungi kekasihmu ya? Memang baik, tapi niat membunuhmu itu berbahaya. Kau bisa saja membunuh karyawan ku yang lemah."


Adzkiel tidak bergeming dengan lelucon yang dilontarkan oleh pria itu karena sudah terbiasa dengannya yang asal bicara. Namun bagi Lynn, itu adalah sesuatu yang sangat memalukan hingga menyebabkan pipinya merah merona.


"Jangan berkata sembarangan, Ketua Dreig. Lynn tidak terbiasa dengan leluconmu," protes Adzkiel pada pria itu.


Dreig hanya tertawa dan malah menambah situasi menjadi runyam, "Apa kau mengatakan hubungan kalian bukan lelucon? Berarti kalian adalah suami istri!" serunya menarik perhatian orang-orang.


Lynn sudah tidak kuat dengan rasa malu sehingga dirinya pingsan. Adzkiel dengan sigap menangkap tubuhnya agat tidak terjatuh, lalu memandang sinis pada Dreig yang menyebabkan hal itu.


"Aku harap kau berhenti," ancam Adzkiel.


Dreig adalah ketua markas cabang yang berada di Rank 6, namun tatapan sinis dan tajam dari Adzkiel bahkan sempat menggetarkan hatinya. Dia tidak bisa berkomentar apapun selain mengatakan bahwa tatapan pemuda dihadapannya benar-benar gila.


"Ugh, maafkan aku."


"Lupakan." Adzkiel menopang tubuh Lynn selagi dia membicarakan urusan dengan Dreig. "Aku penasaran apa Ketua juga menerima surat undangan?" tanya Adzkiel.


Dreig menjawab serius, "Tentu, seluruh Ketua cabang juga diundang oleh markas pusat. Dan... jangan bilang padaku bahwa kau juga mendapat undangannya?"


Adzkiel mengangguk, "Benar, aku mendapatkan undangan."


Dreig menatap tidak percaya, "Serius? Hadeh, sepertinya markas pusat mulai menaruh mata padamu. Bahkan di tempat ini, hanya beberapa orang di Rank 4 yang mendapatkan undangan. Aku tak menyangka Rank 3 sepertimu mendapatkannya juga."


"Entahlah, padahal akhir-akhir ini aku tidak menyebabkan keributan apapun," jawab Adzkiel heran.


Sebagai satu-satunya orang yang dekat dengan Adzkiel di markas cabang, Dreig sedikit memahami masalah dan keresahan yang dialami pemuda tersebut. Meskipun, Dreig tidak tahu sumber masalah itu datangnya dari mana.


"Yah!" Dreig bangkit dari duduknya lalu mengajak Adzkiel ke ruangan yang lebih pribadi. "Karena sudah begini, sebaiknya kita membicarakan ini di tempat yang lebih aman."


Adzkiel menggendong tubuh Lynn sambil mengikuti Dreig dari belakang. "Menurutmu apa ini tidak akan jadi masalah?"


"Hm? Masalah maksudmu?" Dreig tidak mengerti.


"Mungkin akan ada permasalahan karena Rank 3 mengikuti upacara?"


Dreig tertawa, "Aku tidak bisa menjamin itu takkan terjadi."


"Maksudmu?"


"Maksudku, mereka bisa jadi tidak memedulikannya, tapi bisa jadi juga memedulikannya. Semua bergantung pada keberuntungan mu sendiri."


Dreig membuka pintu lalu memasuki ruang tamu yang didominasi oleh warna putih. Banyak ornamen-ornamen mewah sebagai hiasan seperti zirah emas di ujung ruangan, lukisan perang di dinding, patung kecil dari porselen di meja, serta masih banyak yang lain.


Dreig duduk dan mempersilakan Adzkiel untuk duduk juga. "Yah, jadi begitulah."


Adzkiel menurunkan Lynn dengan hati-hati lalu membuatnya duduk di sofa. Gadis itu tampaknya tidak mudah terdistraksi oleh guncangan karena belum kunjung sadar juga.


"Jadi aku harus bersembunyi agar tidak mengundang masalah yang tidak perlu?" Adzkiel duduk di samping Lynn.


"Tepat sekali," Dreig menjawab santai, tapi dengan segera mengeluarkan ekspresi serius. "Tapi aku tahu kau bukan orang yang suka memikirkan hal sepele, jadi apa alasannya?"


"Kau tau ..." Adzkiel memandang Lynn dengan tatapan bermasalah. "Itu hanya ketika aku sendiri."


Dreig membulatkan mata lalu menghela napas, "Oh begitu, aku paham maksudmu."


Dreig menepuk kedua tangan yang seketika itu mendapatkan respon dari para pelayan. Para pelayan itu langsung memasuki ruang tamu seakan dari awal sudah menunggu di luar.


"Aku ingin minuman yang berenergi. Bagaimana denganmu, Adzkiel?"


"Ah? Mungkin itu kopi, aku menyukainya."


"Nah, kalian mendengarnya? Sajikan juga beberapa camilan yang enak."


Pelayan itu menerima perintah dan langsung pergi. Adzkiel sedikit terkagum dengan cara pelayan yang bergerak cepat dan efisien. Mungkinkah itu adalah pelayan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun?


"Oh benar, soal gerbang teleportasi. Mungkin baru bisa digunakan sekitar sore," terang Dreig dengan wajah kewalahan.


"Ada masalah?"


"Tidak, itu lebih tepat jika dibilang banyak masalah. Kau tau kami sedang disibukkan oleh kemunculan banyak Demonic Beast. Karena penggunaan yang terlalu sering, akhirnya gerbang teleportasi mengalami masalah. Memperbaiki artefak kuno sangat memakan banyak biaya dan tenaga, markas cabang ini hampir kehabisan sumber daya!"


Adzkiel tidak tahu harus merespon bagaimana tapi dia hanya berkata, "Aku turut berduka cita."


"Sial, berbicara padamu memang menyebalkan, tapi pada akhirnya aku tidak memiliki orang lain," ringis Dreig sambil mengepalkan tangan.


"Tidak akan terjadi jika kau menghilangkan kebiasaan asal bicaramu."


Pelayan-pelayan pun datang membawa minuman yang mereka pesan. Beberapa pelayan lain membawa berbagai macam camilan yang terasa cukup asing bagi Adzkiel. Dreig dan Adzkiel berhenti sejenak untuk menikmati minuman dan camilan yang disediakan.


Pembicaraan kedua orang itu kemudian berlanjut dengan berbagai macam topik yang acak. Mereka terus berbicara sampai akhirnya berhenti ketika Lynn sadar, dan dia telah berubah menjadi Ashly.