Adzkiel Zero

Adzkiel Zero
Ch. 6



Markas pusat dipenuhi oleh tempat-tempat menakjubkan. Setiap tempat memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan mumpuni. Salah satunya adalah arena latihan luas yang memiliki sistem simulasi tingkat tinggi. Segala macam pertempuran di dalam arena dianggap sebuah simulasi, dan begitu pertempuran berakhir, maka seluruh efek samping pertempuran akan dihilangkan seperti keajaiban.


Tempat semacam itu membangkitkan semangat bertarung dalam diri Dreig. Apalagi selama ini dia belum pernah mendapatkan kesempatan untuk melawan Adzkiel. Situasi tersebut membuat Dreig mengajukan tantangan, "Bagaimana kalau kita bertarung di arena latihan?"


Demon Punisher Rank 6 menantang seorang Demon Punisher Rank 3 sudah cukup membuat orang berpikir bahwa itu adalah lelucon. Menantang orang yang lebih lemah dapat merendahkan harga diri Dreig di mata orang lain. Akan tetapi, siapa yang peduli dengan mata busuk mereka? Dreig hanya ingin berlatih dengan sahabatnya!


"Kau bercanda? Apa ini caramu membalas dendam?" Adzkiel tampak curiga.


"Apa maksudmu? Aku hanya ingin merasakan kemampuan Rookie yang baru-baru ini naik daun," terang Dreig jujur.


Meskipun kemenangan adalah hal yang tidak mungkin, tetapi kesempatan bagus tidak boleh dibuang percuma. Adzkiel memiliki beberapa pengalaman melawan Demonic Beast, tetapi tidak memiliki banyak pengalaman melawan sesama manusia. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan teknik berpedang dan strategi melawan manusia.


Adzkiel mengepalkan tangan dan menerima tantangan, "Baiklah, tunjukkan jalannya."


Dreig senang, "Bagus, sekarang ikuti aku!"


Mereka pergi ke arena latihan, diikuti oleh Lynn yang berlari tergesa-gesa karena tertinggal di belakang. Lynn berjalan dengan mulut mengunyah makanan yang secara alami membuatnya terlihat seperti anak kecil.


Adzkiel merasa tidak habis pikir, "Bagaimana bisa kau memakan sesuatu yang manis sebanyak itu?"


Lynn tersenyum malu, "Hehe, perempuan memang suka makanan manis, jadi Lynn tidak bisa menghindarinya."


Itu mengingatkan Adzkiel pada Ashly dan Raidenzart, mereka cenderung lebih dewasa, tapi apa sama-sama menyukai makanan manis?


"Apa Ashly dan Raidenzart juga sama?"


"Mungkin?"


Jawaban yang tidak meyakinkan. Mereka bertiga sebenarnya satu orang yang sama, tapi bahkan Lynn tidak mengetahui dengan baik kepribadiannya yang lain.


"Dasar aneh," ucap Adzkiel spontan. "Yah, apa kau mendapatkan seorang teman atau semacamnya?"


Tidak seperti Dreig dan Adzkiel yang memiliki sedikit masalah dalam berinteraksi dengan orang lain, Lynn seharusnya bisa berbaur dengan mudah. Lynn memiliki penampilan yang baik, dan meskipun sedikit tidak terbiasa berbicara dengan orang, itu bukan masalah yang berarti baginya.


"Tidak. Para perempuan di sana entah mengapa hanya berkumpul dengan orang-orang yang terlihat berpengaruh? Mereka pasti sedang membangun hubungan baik demi masa depan."


Itu mudah ditebak. Siapa yang tidak mau melewatkan kesempatan emas untuk membangun relasi? Daripada membangun pertemanan dengan sembarang orang, mereka cenderung memilih orang berpengaruh yang meyakinkan.


"Benarkah? Biarkan saja. Tidak perlu terburu-buru mencari seorang teman," Adzkiel berusaha menghibur Lynn yang tidak merasa sedih.


"Kenapa Tuan mengatakannya? Lynn tidak sedang mencari teman."


Meskipun Lynn menghabiskan hampir seluruh waktunya di pesta dengan makan-makan, tetapi dia dengan percaya diri menggunakan telinga sepenuhnya untuk mencari informasi. Memuaskan perut dan melaksanakan tugas, bukankah itu melempar dua burung dengan satu batu?


"Nah, inilah tempatnya." Dreig berhenti.


Mereka tiba di suatu bangunan besar yang berbentuk oval, terlihat seperti tanah lapang luas yang dikelilingi oleh bangunan itu sendiri.


"Sebuah arena?" Lynn tidak tahu mengapa mereka kemari.


"Dreig menantangku bertarung," ungkap Adzkiel kewalahan.


"Itu benar. Adzkiel masih lemah, tidak boleh bermalas-malasan. Aku dengan baik hati akan mengajarinya beberapa hal," ucap Dreig dengan sombong.


Lynn merasa khawatir dengan itu. Lebih tepatnya, dia khawatir Adzkiel menjadi lebih serius dalam pertarungan dan berakhir menggunakan Shadowless Slash.


"Ingat jangan memaksakan diri!" seru Lynn menuntut.


"Tenang saja, Dreig tidak punya kualifikasi sedikitpun," balas Adzkiel sambil menyindir.


Adzkiel lalu pergi memasuki arena bersama dengan Dreig. Mereka berdua memasuki area persiapan. Di sana tersedia berbagai macam peralatan yang mendukung untuk pertarungan; seperti zirah, senjata, dan bahkan sebuah kacamata?


"Itu adalah kacamata anti debu."


"Bukankah ini tidak berguna?"


Pertarungan yang sesungguhnya selalu dipenuhi dengan hal-hal yang mengganggu, tanpa terkecuali debu. Sedangkan latihan bertujuan untuk membiasakan diri dalam pertarungan. Jika sebuah debu bisa membuat mereka melemah lalu apa artinya pelatihan?


"Jangan tanya aku, markas pusat yang menyediakan."


Lagipula begitu memasuki arena mereka akan memasuki mode simulasi. Seharusnya jika debu memasuki mata dan mengganggu, maka mereka hanya perlu keluar lalu masalah pun selesai.


"Kau menggunakan pedang kan?" tanya Dreig sambil melihat berbagai macam jenis senjata pedang.


"Ya, tapi ..." Adzkiel tidak bisa menemukan jenis katana di manapun."Tidak ada satupun yang sama dengan Zero."


Dreig mengambil dua Long-Sword lalu melemparkan salah satunya pada Adzkiel, "Pedangmu memang unik. Tidak ada lagi yang benar-benar bisa menggunakan pedang seperti itu kecuali kau dan Zangetsu."


"Yah, kurasa kau benar."


Mustahil untuk menggunakan Zero dalam pelatihan. Alih-alih meningkatkan kekuatan, itu hanya akan menambah beban pada tubuhnya. Maka untuk sementara tidak masalah menggunakan Long-Sword. Itu dapat memberikannya pengalaman menggunakan jenis pedang yang berbeda, dan akan bermanfaat ketika ia harus benar-benar melepaskan Zero.


"Sekarang waktunya meminta izin pada penjaga," ucap Dreig seraya pergi meninggalkan Adzkiel sementara waktu.


Situasi yang tenang dan hening mengingatkan kembali pada perkataan Zangetsu. Benarkah Duke Vermilion adalah dalang dibalik semuanya? Jika memang benar, apa motifnya dan mengapa keluarga yang hidup damai seperti mereka dimusnahkan dengan kejam oleh seorang Duke?


Selama hidup dalam pengembaraan, Adzkiel banyak bertanya tentang keluarga Dervangiel kepada orang-orang secara acak, tetapi mereka bahkan tidak mengenal siapa itu keluarga Dervangiel. Jika memang begitu, seharusnya keluarga biasa dan tidak terkenal seperti mereka tidak pernah menyebabkan masalah yang menyinggung Duke atau bahkan kekaisaran kan?


"Mungkinkah kekaisaran juga terlibat?" gumam Adzkiel merenung.


Itu tidak mustahil, tapi kemungkinannya kecil. Membinasakan keluarga kecil secara langsung dan tanpa penjelasan bukanlah gaya kekaisaran yang terhormat. Ada kemungkinan mereka menggunakan pengecualian dalam kasus ini, tetapi hal apa yang telah dilakukan keluarga Dervangiel sampai membuat kekaisaran berbuat demikian? Itu terasa tidak masuk akal.


Adzkiel juga memikirkan berbagai macam variabel lain seperti kemungkinan adanya pihak lain yang melakukan adu domba. Bisa saja dalang sebenarnya adalah pihak di luar Duke Vermilion dan membuat semua kejadian seolah diakibatkan oleh Duke Vermilion. Tapi kembali lagi, hanya keluarga tidak terkenal yang menjadi sasaran. Jangankan membuat reputasi Duke Vermilion menjadi buruk, mereka bahkan tidak berhasil membuat satu pihak pun menyadari kehancuran keluarga Dervangiel!


"Sial, aku sudah menemukan petunjuk tapi memikirkannya membuat kepalaku sakit," lirih Adzkiel memegang kepalanya.


Dreig kembali lalu menyadari ada sesuatu yang aneh, "Hei Bung, mengapa wajahmu terlihat menyeramkan?"


Adzkiel menarik diri dari perenungan, "Oh? Aku hanya sedang memikirkan strategi melawan mu. Lalu, bagaimana dengan izinnya?"


Dreig tidak mungkin percaya itu, "Tentu saja aku mendapatkannya. Begini juga aku adalah ketua dari markas cabang tahu?"


"Oke, mari bergegas."


.....


.....


.....


Di arena latihan yang luas, sudah berdiri dua orang yang saling berhadapan dalam jarak seratus meter antara satu dengan yang lain. Sementara di sisi kursi penonton terdapat beberapa orang yang menyaksikan, termasuk Lynn yang memandang dengan sedikit cemas.


Adzkiel menggenggam Long-Sword dengan perasaan tidak biasa. Meskipun ukuran dan bilah pedang hampir sama, tetapi itu tidak memberikan perasaan yang sama seperti katana. Kuda-kuda yang dipakai khusus untuk katana juga menjadi tidak efektif, sehingga membuat Adzkiel terpaksa berdiri dan menggenggam pedang seperti seorang amatir.


"Kau siap? Tidak ada orang yang memberikan aba-aba untuk mulai, jadi aku akan menghitung sampa tiga," seru Dreig dari kejauhan.


Adzkiel mengangguk.


"Sepertinya kau kesulitan? Aku akan memberimu satu kali kesempatan untuk membiasakan diri. Setelah itu baru kita melakukan pertarungan yang sedikit serius."


Adzkiel hanya mengangguk.


"Baiklah, aku anggap kau siap. Maka satu, dua, tiga, dan mulai!!"


Dreig membiarkan Adzkiel menyerang terlebih dulu. Adzkiel lantas menerjang cepat dengan gerakan yang amatir. Sesaat setelah mendekat kepada Dreig, Adzkiel menebas secara asal-asalan yang membuat Dreig dapat menangkis semuanya dengan mudah tanpa harus menggerakkan kaki satu inci pun.


Para penonton yang menyaksikan mengharapkan pertarungan kelas tinggi, tetapi apa yang mereka lihat adalah pertarungan antara seorang ahli yang mempermainkan pemula. Mereka mulai kehilangan minat dan meninggalkan arena dengan sedikit mencemooh Adzkiel.


"Dasar bodoh. Kalian tidak mengerti kan? Adzkiel sengaja melakukan itu. Mengembalikan gaya bertarung ke titik nol untuk mempelajari gaya bertarung baru. Bagaimana aku harus mengatakannya, dia jenius sehingga bisa memikirkan cara ini," teliti Dreig sambil bertarung.


Dreig mengeluarkan sedikit kekuatan dan menyerang balik, secara dramatis itu membuat Adzkiel terpukul mundur cukup jauh. Adzkiel terjatuh lalu bangkit kembali dengan sikap yang berbeda jauh.


"Hoo, apa kau sudah cukup membiasakan diri?" Dreig menyadarinya.


Kuda-kuda Adzkiel mulai terbentuk. Caranya dalam menggenggam pedang juga sudah berbeda. Tidak ada lagi sikap amatir yang ditunjukkan-- membuktikan bahwa tingkat adaptasi Adzkiel benar-benar tinggi.


"Maaf merepotkan mu, tapi terima kasih."


Adzkiel mulai memahami cara menggunakan Long-Sword. Pedang itu memiliki dua sisi tajam yang memungkinkan terciptanya lebih banyak serangan kejutan. Jika katana lebih mementingkan kesempurnaan teknik, maka Long-Sword dapat digunakan untuk melakukan serangan yang variatif.


"Tolong sedikit serius," ujar Adzkiel.


Kemampuan dasar semua orang yang menggunakan senjata adalah menyelimuti tubuh dan senjata dengan Mana. Itu secara drastis akan memperkuat fisik, serta mengembangkan senjata agar lebih kuat dalam pertarungan.


Faktanya, Rank Demon Punisher juga didasarkan pada Mana. Semakin besar kapasitas Mana seseorang maka semakin tinggi pula Ranknya. Itu secara tidak langsung mengatakan bahwa Mana adalah yang terpenting karena tanpa Mana skill menjadi tak berguna.


"Tentu saja dengan senang hati, kawan."


Mereka berdua mulai menyelimuti tubuh dan senjata masing-masing menggunakan Mana. Terlihat bahwa kapasitas Mana Dreig jauh lebih besar daripada kapasitas Mana Adzkiel. Namun dalam hal efisiensi penggunaan, Adzkiel jauh lebih baik.


Mengesampingkan skill bawaan, Dreig akan kalah telak jika berada di Rank yang sama dengan Adzkiel. Itu karena penggunaan Mana Adzkiel yang efisien memungkinkan nya untuk bertahan lebih lama dalam pertarungan.


"Kalau begitu giliranku!" seru Dreig menyerang maju.


Dalam sekejap dia sudah berada di belakang Adzkiel dan menebaskan pedangnya secara diagonal. Adzkiel memutar tubuhnya, menggunakan dengan baik kuda-kuda lalu memblokir serangan dengan tebasan diagonal dari arah yang berbeda.


Mereka berdua sedikit terpukul mundur, tapi dengan cepat kembali beradu serangan. Kali ini Dreig datang dengan serangan menusuk. Adzkiel tidak terbiasa dengan itu sehingga memilih untuk menghindarinya sambil beberapa kali menyerang balik ketika mendapatkan kesempatan.


"Luar biasa, seharusnya dengan kemampuan ini tidak lama lagi bagimu untuk menerobos Rank 5!" Dreig memuji.


Adzkiel tersenyum kecut. Meskipun sedikit dapat mengimbangi dalam setiap serangan, tetapi terasa jelas bahwa Dreig belum serius. Adzkiel juga menjadi satu-satunya pihak yang mulai kehabisan Mana dan merasa kelelahan dalam pertarungan.


"Tunjukkan padaku sesuatu yang bagus," tantang Adzkiel sambil menebas, lalu mundur beberapa puluh langkah.


Dreig mengibaskan pedang lalu bertanya, "Apa kau ingin mempelajari teknik baru?"


"Tidak. Aku tidak sebagus itu untuk bisa menyalin teknik orang lain. Aku hanya akan belajar dan mengembangkan teknikku sendiri," jelas Adzkiel sambil merendahkan dirinya.


Bagaimanapun, Dreig memaki dalam hati, "Brengsek kecil. Bukankah itu jauh lebih hebat daripada hanya sekedar menyalin? Ada apa dengan otakmu!"


Dreig menaikkan bahu lalu menghela napas. Dia memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan khusus. Sebuah teknik yang cukup sulit untuk dipelajari karena membutuhkan konsentrasi tinggi di tengah pertarungan.


Seseorang harus bisa memusatkan sejumlah Mana pada bilah senjata hingga mencapai titik tertinggi, lalu dalam sekali hentakan melepaskannya sekaligus. Dengan kata lain, serangan ini akan menghasilkan tebasan energi yang terkonsentrasi. Sebuah serangan jarak jauh yang seringkali digunakan untuk melawan musuh yang tidak bisa dijangkau oleh bilah senjata yang pendek.


"High Density Energy Slash," ucap Dreig sambil menebaskan pedangnya secara horizontal.


Mana yang terkonsentrasi tinggi membentuk sebuah bilah serangan yang melesat dengan kecepatan tinggi. Serangan itu berlangsung sangat cepat hingga Adzkiel yang sudah bersiap bahkan tidak sempat untuk bereaksi.


Serangan itu dengan keras mengenai Adzkiel dan mendorongnya hingga ujung arena. Dampak yang sangat kritis memicu mekanisme keselamatan arena. Adzkiel yang sepersekian detik mengalami hilang kesadaran seketika disembuhkan dan dipaksa keluar dari arena pertarungan.


Begitu tersadar, Adzkiel mengumpat karena tidak sempat bereaksi, "Sialan, apa-apaan itu?"