
"Aku pulang." Adzkiel membuka pintu ruangan.
Memasuki pandangan adalah seorang gadis muda berambut hitam yang memiliki iris mata merah muda. Gadis itu sedang duduk di kursi belakang meja sambil mendekap kedua tangan. Ekspresinya terlihat kesal dengan mengembungkan sebelah pipi.
"Memaksakan diri lagi?" tanyanya ketus.
Adzkiel mengabaikan sikap ketus itu lalu duduk di kursi yang lain. Dia memerhatikan sang gadis dengan seksama lalu bertanya, "Ashly?"
Adzkiel tidak tahu siapa gadis yang sedang berbicara sehingga menebak dengan asal. Meski kejadian yang sama telah berulang kali, Adzkiel tidak pernah benar-benar bisa menebak nama gadis yang bersamanya secara akurat.
"Bukan Ashly, tapi Lynn."
Merasa telah salah menebak dan itu bukan hal yang baik, Adzkiel mengalihkan pandangan pada sebuah kotak merah di atas meja. Apakah itu adalah sesuatu yang diminta sebelum pergi melaksanakan misi? Adzkiel menunjuknya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apa isinya adalah makanan kesukaan ku?"
Lynn tidak merespon. Dia bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah Adzkiel. Setelah itu berhenti tepat di hadapan Adzkiel yang sedang duduk dan menatap tajam sambil mendekap tangan.
"Jangan mengalihkan topik! Tuan benar-benar memaksakan diri lagi kan?"
Adzkiel menghela napas lelah. Lynn adalah gadis yang keras kepala dan memiliki rasa penasaran tinggi. Tidak mungkin untuk menghindar dari pertanyaan gadis semacam itu. Tidak ada pilihan selain berkata jujur.
"Hanya sedikit," jawab Adzkiel tenang.
Lynn tampak menggemertakan gigi. Tampak sekali dia ingin berkata-kata lebih jauh. Dia ingin menaruh perhatian yang lebih, tapi rasanya percuma saja mengatakan hal itu pada Adzkiel, sosok yang sudah hampir kehilangan perasaan. Sosok yang bahkan tidak bisa mengerti perasaan orang di sekitarnya.
"Tuan berbohong lagi." gumam Lynn dengan wajah suram. "Terserah, Lynn tidak akan mengatakan ini lagi."
Lynn dengan langkah kecewa memasuki kamar, meninggalkan Adzkiel seorang diri. Adzkiel melihat itu sebagai hal yang normal. Lynn adalah gadis baik yang pengertian, sayang sekali gadis sebaik itu harus berhadapan dengannya yang tidak berperasaan.
"..."
Adzkiel membuka kotak merah di atas meja, memunculkan seporsi makanan favoritnya yang terbuat dari olahan daging. Adzkiel tidak menyangka Lynn benar-benar membeli sesuatu yang dia inginkan sebelum melaksanakan misi. Meskipun gadis itu sering mengomel, tidak bisa disangkal bahwa dia memiliki rasa perhatian tinggi.
"Selamat makan," ucap Adzkiel lalu menyantap makanan dengan lahap.
Rasa dari makanan favoritnya memang tidak pernah mengecewakan. Perasaan lelah setelah bekerja dan efek samping penggunaan Shadowless Slash terasa seperti banyak berkurang. Adzkiel pun menghabiskan makanan itu dalam waktu yang singkat.
Adzkiel mengambil handuk lalu pergi mandi untuk membersihkan tubuh. Saat keluar setelah mandi, dia melihat gadis berambut hitam yang memiliki iris mata biru sedang duduk memandangi dokumen di atas meja tempat Lynn sebelumnya duduk.
Gadis itu memiliki wajah yang sama dengan Lynn, tapi iris mata dan kesan yang dipancarkan sangat jauh berbeda. Jika Lynn adalah gadis yang bawel, keras kepala, dan seringkali tidak bisa jujur pada diri sendiri, maka yang duduk di sana sekarang adalah seorang gadis pendiam, penurut, dan seorang pemalu.
Adzkiel melirik sejenak lalu bertanya, "Raidenzart?"
Gadis itu seperti tersentak mendengar suara yang tiba-tiba muncul. Dia sedikit melihat ke arah Adzkiel lalu tersenyum kaku,"Ini Ashly, Kak Adzkiel."
Adzkiel berpikir, mungkin mulai hari ini dia harus menghafal setiap karakter dan ciri-ciri dari mereka. Seperti Lynn adalah gadis yang memiliki iris mata merah muda, sering mengomel, keras kepala, dan tidak bisa jujur. Lalu Ashly adalah gadis yang memiliki iris mata biru, tak banyak bicara, lebih penurut, dan seorang pemalu. Kemudian selain dari dua ciri-ciri itu, sudah pasti adalah Raidenzart yang sangat jarang untuk muncul.
"Lynn tertidur?" tanya Adzkiel penasaran.
"I-Iya, dia adalah yang paling tidak bisa jujur dari kami. Mungkin sifatnya memang keras dan menyebalkan, tapi dia adalah gadis yang baik. Kak Adzkiel jangan membencinya, ya?"
Adzkiel mengangguk. Sekalipun Lynn sering mengomel, tidak pernah tersirat pemikiran untuk membencinya. Justru karena keberadaan mereka Adzkiel merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, dia tidak merasa terlalu kesepian dengan berbagi kehidupan dengan seseorang yang mengalami nasib yang serupa.
Adzkiel duduk di kursi lalu membaca buku catatan. Itu adalah buku yang berisi catatan tentang berbagai macam misi yang telah dikerjakan. Salah satu dari misi itu berkaitan dengan Ashlynn Raidenzart, putri dari kerajaan yang dihancurkan oleh Demonic Beast satu tahun yang lalu.
Ashlynn Raidenzart mengalami insiden yang begitu membekas di hatinya. Sebagai bentuk perlindungan psikologi, kepribadiannya terpecah menjadi tiga sosok. Raidenzart adalah sosok mereka yang asli sesaat sebelum mengalami insiden. Namun karena itu pula, Raidenzart lebih memilih untuk bersembunyi dan hanya muncul di waktu yang sangat khusus.
Adzkiel membuka lembaran baru setelah sedikit bernostalgia dengan misi yang berhubungan dengan mereka bertiga. Di lembaran baru itu, dia menuliskan misi yang baru saja dilakukan, yaitu membantu regu lain dalam pemusnahan Chaetes Corgemi.
Dalam rangka untuk menemukan petunjuk, Adzkiel selalu mencatat sekecil apapun informasi baru yang didapatkan. Bahkan dia memiliki informasi tentang Demonic Beast yang pernah dilawan, mulai dari gambar bentuk, kekuatan, dan karakteristik unik mereka secara mendetail.
Setelah semuanya tercatat, Adzkiel menutup buku dan memejamkan mata. Dia mengingat kenangan buruk delapan tahun lalu. Sejak saat itu dia terus mencari berbagai petunjuk, tapi tidak ada satupun jejak yang ditemukan. Apakah itu Demonic Beast? Atau manusia? Yang jelas itu bukanlah sebuah kecelakaan.
"Argh." Adzkiel mengerang kesakitan.
Ashly yang duduk cukup dekat menyadari itu. Dia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman penenang yang disebut kopi, lalu menyuguhkan kopi tersebut kepada Adzkiel.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Kak Adzkiel," ucap Ashly khawatir.
Meskipun memiliki beberapa sifat yang berbeda, tetapi siapapun itu, baik Ashly, Lynn, ataupun Raidenzart, mereka sangat peduli terhadap Adzkiel. Mereka sangat mengetahui bahwa kekuatan Adzkiel memiliki efek samping yang besar. Ditambah, Adzkiel memiliki kutukan yang tidak memungkinkan nya untuk mendapat berkah, padahal berkah adalah salah satu sumber kekuatan manusia untuk memperkuat skill yang mereka miliki.
"Terima kasih, mungkin setelah ini aku akan beristirahat." Adzkiel meminum kopi tersebut dan memutuskan pergi ke kamar untuk tidur.
Kini hanya tersisa Ashly seorang diri. Dia menaikkan bahu dan menghela napas panjang. Bagaimanapun, ekspresinya terlihat benar-benar khawatir dengan kondisi Adzkiel yang akhir-akhir ini selalu memaksakan diri.
"Huff ... Kak Adzkiel menggunakan Shadowless Slash lagi," keluh Ashly.
Shadowless Slash adalah skill pedang yang memaksimalkan potensi tubuh ke titik maksimal. Karena efek yang begitu dahsyat dan mematikan, serangan balik yang disebabkan juga tidak kalah mematikan. Itu berdampak sangat buruk pada kesehatan dan sedikit demi sedikit memangkas umur penggunanya.
Ashly tidak bisa fokus karena merasa bimbang. "Apa Kak Adzkiel tidak memikirkan kami ya?"
Segera dia menampar pelan kedua pipi seraya membuang jauh-jauh pemikiran. Adzkiel tetaplah Adzkiel, dia adalah sosok yang telah memberi mereka kehidupan baru. Apapun yang menjadi keputusan Adzkiel, mereka akan mengikutinya. Oleh karena itu, tidak baik untuk membuang waktu, sekarang adalah saat yang tepat untuk menunjukkan kegunaan.
"Oke, Ashly akan bekerja keras!"
.....